Tolong Aku SuamiKu

Tolong Aku SuamiKu
Cemburu dan Iri Hati


__ADS_3

Lalu ibu mertuanya menarik lembut tangan Alcenna dan membawa ke ruang tamu. Azarine dan ibunya juga.


Di ruang tamu Alcenna membahas yang sudah terjadi, dan suaminya hanya diam. Lalu setelah itu ibu mertuanya berkata, "Biarkan saja kalau Rhania mau, dan lagi percaya kata ibu anak orang tidak akan jadi anak kita."


Alcenna tak terima sebenarnya perkataan ibu mertuanya. Dia yakin jika kita tulus dan sayang pada seorang anak, suatu hari dia akan mengerti.


Alcenna tidak ingin berdebat dengan ibu mertuanya. Alcenna hanya katakan satu hal, "Ibu boleh liat, aku yakin dia tak akan menyekolahkan Rhania. Apalagi jika tidak dikirim biaya. Bisa lihatkan Bu, mana ada yang beres sekolah anak-anaknya."


Akhirnya Rhania di panggil ke rumah ibu mertuanya. Sejak mamanya datang, dia memang tidak ada di dekat Alcenna bahkan tidak mau disapa kakaknya, Allya.


"Rhania mau ikut siapa, bunda atau mama?" tanya neneknya.


"Kata mama ikut mama saja Nek. Mama yang akan sekolahkan Rahnia dan Rhania dibelikan permen banyak oleh mama," ucapannya yang polos membuat Alcenna tersenyum simpul.


Alcenna meminta tolong ibu mertuanya, mengatakan pada mamanya tidak janji untuk mengirim biaya, dan dia bilang tidak masalah. Dia katakan dia sanggup karena sekarang dia punya usaha rumah makan.


Allya pun akhirnya tidak ikut pada Alcenna. Kakak suaminya memutuskan untuk mengajak Allya bersekolah di tempat dia mengajar. Kakak suaminya seorang guru SD. Awalnya Alcenna menolak, namun pikir ulang, benar juga kata kakak suaminya. Bagaimana kalau nanti Alcenna tak sanggup menyekolahkannya, karena suaminya lagi jadi pengangguran.


Jadi kakak suaminya dan ibu Alcenna berunding, untuk SD Allya sekolah di sini dan besok SMP baru di tempat ibu Alcenna. Awalnya Allya tidak mau untuk sekolah di kampung neneknya, dia berkeras ingin ikut Alcenna pulang. Alcenna pertimbangkan jika nanti Arzon tak sanggup, Allya akan semakin jauh terlambat menyelesaikan sekolahnya.


"Allya, dengar bunda ya Nak. Bukan bunda tidak mau Allya sekolah sama bunda, tapi Allya sudah liat sendirikan keadaan kita sekarang. Nanti tamat SD, Allya ikut bunda bisa sekolah sama nenek, nenekkan guru SMP. Anak guru setidaknya ada keringanan sedikit."


Allya memang anak yang pengertian, "Iya Bun, Allya paham. Nanti kalau sudah tamat jemput lagi ya Bun," ucapnya mengibakan hati Alcenna.


"Iya Nak, sabar ya. Kita harus jalani hidup ini dengan semangat. Semoga kesusahan yang Allya rasakan saat ini bisa jadi cambuk untuk sukses Allya di masa depan."


"Iya, dua tahun ini saja Allya di sini," kata ibu mertua Alcenna. Allya hanya mengangguk.


Ibu mertuanya lalu berkata, "Alcenn jangan pulang dulu ya kita jalan-jalan dulu lihat tempat wisata di kampung ibu, sambil silahturahmi ke rumah tetangga-tetangga," ucap ibu mertuanya merayu melupakan hasrat ingin pulangnya.


Lalu libur telah usai, ibu Alcenna harus kembali ke rutinitasnya. Mereka pamit pulang pada keluarga suaminya. Sementara mantan istri suaminya dan dua anaknya telah pulang sehari sebelum kepulangan Alcenna.


Ternyata pulang kampung yang pertama membuat Alcenna kehilangan anak yang bukan darah dagingnya yang hampir setahun ini mengisi hari-hariku. Namun ini jauh lebih baik jika dia memaksakan keadaan, yang dia sendiri tidak begitu stabil dalam mengelolah emosinya.

__ADS_1


***


Mereka kembali ke rutinitas sehari-hari. Suami Alcenna masih tetap kerja serabutan. Perselisihan terjadi lagi masalah anak. Penyebabnya, Hati Alcenna dikuasai cemburu dan iri hati melihat suami dan keluarganya tak pernah mempermasalahkan anak darinya.


Suatu malam dia bertanya, "Apa Abang tidak menginginkan anak dariku?" ucapku tanpa basa-basi, ciri khas Alcenna kalau bertanya.


"Apa yang Alcenn bicarakan?" elak Arzon halus.


"Jawab saja, tak usah pakai tidak mengerti apa yang aku maksud," Alcenna langsung naik darah.


"Siapa yang bilang abang tak inginkan anak dari Alcenn," terangnya.


"Siapa tahu, nyatanya kalian semua tidak ada pernah menanyakan aku ini sudah hamil apa belum, iyakan?" Alcenna sibuk dengan pemikirannya sendiri.


Suaminya hanya diam namun dia seperti kereta api yang kehilangan rem, terus saja mencecar jawabannya, "Iyakan? Apa karena sudah punya banyak anak jadi sudah tak ingin, tapi aku ingin merasakan bagaimana jadi seorang ibu, tak perlu punya anak banyak seperti abang. Satupun jadilah," ucapnya.


"Besok abang carikan duitnya, kita coba ke dokter kandungan," putusnya kemudian.


"Gitukan enak jawabnya," ucap Alcenna lalu pergi tidur.


Hatinya selalu saja merasa sesak, entah apa yang dia rasakan pun, dia tak tahu. Yang dia tahu, dia ingin mengamuk dan selalu mencari kesalahan suaminya tanpa sebab jelas.


***


Seminggu setelah suaminya menjanjikan akan cek ke dokter, Arzon memenuhi janjinya. Malam hari di tempat praktek dokter kandungan, di sinilah kini mereka berada.


"Ibu Alcenna ...." panggil perawat ketika kini tiba gilirannya untuk cek up.


Alcenna dan suaminya lalu masuk ke ruangan praktek dokter. Suaminya bersalaman dengan dokter lalu duduk seperti dokter persilahkan.


"Silahkan, Pak, Bu ...."


"Terima kasih Dok," Suaminya yang menjawab.

__ADS_1


"Ada masalah apa Bu?" tanya dokter ke Alcenna.


"Saya sudah setahun menikah Dok, namun belum ada tanda-tanda hamil. Enam bulan belakangan ini pun datang bulan pun tak teratur Dok," keluh Alcenna.


"Baru juga setahun, orang ada yang sepuluh tahun belum punya anak," ucap dokter tidak dengan nada bercanda. Alcenna masa bodoh.


"Ya kalau bisa cepat diusahakan kenapa tidak Dok, lebih baik mengobati dari pada terlambat," jawab Alcenna.


"Tidak ada satupun yang harus dirisaukan, rahim Ibu bersih tidak ada penyakit di dalamnya. Hanya saja ibu kelainan hormon, mungkin karena faktor stres atau kecapekan. Ibu bekerja?" tanya dokter setelah melakukan pemeriksaan.


"Ya bekerjalah Dok, kalau tidak kerja siapa yang mau bereskan rumah," kata Alcenna asal. Alcenna tahu bukan itu maksud dokter. Namun dia masih merasa sedikit kesal dengan ucapan sang dokter tadi.


Alcenna melihat dokter hanya tersenyum melihat kesensiannya, diapun berkata, "Maksud saya, Ibu wanita karier?"


"Tidak lagi, jadi istri yang baik saja di rumah," Alcenna masih saja menjawab dengan sesuka hatinya.


"Ohhh baguslah, jadi Ibu bisa banyak istirahat dan tidak mudah stres," lanjut dokter menerangkan.


Dalam hatinya, "Bagus apanya, aku justru mudah stres sejak di rumah saja dari pada dulu waktu bekerja."


"Ada yang mau ditanyakan lagi?" tanya dokter lebih lanjut.


"Gak ada Dok. Bulan depan saja kalau cek up lagi, saya tanyanya," jawab Alcenna santai. Alcenna melihat dokter itu hanya tersenyum dan saat melirik suaminya juga tersenyum.


"Saya beri resep saja ya untuk menormalkan hormon Ibu, supaya datang bulan ibu lancar." Alcenna hanya mengangguk.


Mereka keluar dan menebus resep yang diberi dokter. Lalu kata suaminya, "Alcenn mau ke mana lagi? Langsung pulang atau mau makan dulu?"


"Makan sate ya Bang," katanya manja dan tiba- tiba moodnya jadi baik.


"Ayoklah," ajak suaminya lembut yang membuat hati Alcenna terasa nyaman.


**//**

__ADS_1


Bingung aku lihat sikap kamu Cenn, "ujar sang penulis 😁


__ADS_2