Tolong Aku SuamiKu

Tolong Aku SuamiKu
Akad Nikah.


__ADS_3

"Aku terima nikah dan kawinnya ... bla...bla..."


Akad nikah terdengar begitu terdengar syahdu terdengar di sebuah mesjid besar di kota ini. Seorang wanita menitikkan air mata bahagianya. Cinta serta pengorbanannya tidak sia-sia. Bertahun dia memendam cintanya akhirnya kekasih hatinya kembali dengan mengucapkan ijab kabul sekali lagi.


Ya, wanita itu adalah Lili mantan istri dari Adhan Barra. Ardhan memutuskan tidak mengejar cintanya. Ardhan mulai berpikir mungkin itu hanya sebuah obsesi atau pun memang cinta sejatinya. Namun hanya akan sia-sia mencari manusia di bumi yang begini luas.


Ucapan tajam adiknya di sore hari itu mengubah sudut pandangnya.


"Kak! Bukan aku mau ikut campur! Namun mau sampai kapan kakak membuang-buang waktu! Anakmu akan semakin besar dan kak Lili juga sangat mencintaimu!" teriak Tiara.


"Kakak mencintai Alcenna, hanya Alcenna! " teriaknya tak kalah keras pada Tiara.


"Iya Ara tahu, tapi apa kakak sudah berpikir panjang, bagaimana kalau Alcenn tidak mencintai Kakak lagi, bahkan sudah bahagia dengan pria lain?"


"Kakak akan tetap mencarinya!" Ardhan bersikeras.


"Bumi seluas ini mau ke mana Kakak cari, hanya dengan info yang tidak banyak soal Alcenna. Lepaskan dia Kak, jangan terlalu terobsesi padanya. Jika Kakak memang mencintai dia cukup Kakak berdoa untuk kebahagian dia. Kakak juga harus bahagia. Ada anakmu Kak yang nyata-nyata butuh cinta-kasihmu." Ardhan terdiam.


Satu sisi dia membenarkan ucapan Tiara, disisi lain egonya meronta ingin mendapatkan wanita masa lalunya.


"Mulai ini ke atas, aku tak akan ikut campur urusan kakak! Namun satu yang harus Kakak tahu, kak Lili wanita dan aku wanita! Apa kau hanya sayang ke wanita itu saja kak? tidak pernah menyayangi aku adikmu?" tanya sendu Tiara.


"Apa maksud perkataanmu Dek!"


"Aku mungkin akan bernasib sama dengan kak Lili kelak! Buah dari perbuatanmu tidak mau peduli pada perasaan anakmu dan ibu dari anakmu Kak!" Tiara keluar dari rumah abangnya tanpa menoleh lagi.


Dhuaaaar.... serasa ada bom yang meledak di kepala Ardhan. Dia memang pria yang egois. Dulu dia yang menyia-nyiakan cinta seorang gadis, lalu membuang cinta seorang istri. Kini dia ingin membuat adik yang dia sayangi menderita suatu saat kelak.

__ADS_1


"Akhhhh aku pria yang begitu egois dan tidak tahu terima kasih," ucapnya. Dia menyugar rambutnya dengan dua tangannya. Dia terduduk di sofa dengan menyandarkan kepalanya dibantalan kepala sofa.


Besok harinya setelah memikir masak-masak langkahnya, Ardhan datang ke rumah orang tua Lili. Lili memang kembali tinggal di sana sejak dia tahu dia mengandung buah hatinya bersama Ardhan.


Ardhan mengetuk pintu dan mengucap salam. Papi Lili yang keluar. Dia terkejut melihat kedatangan menantunya.


"Ada apa lagi? Bukankah kau sudah melepasnya demi wanita tak tahu diri itu!" ucap sarkas mertuanya dan menghujat Alcenna.


"Jangan salahkan dia, jika anda mau mengkaji salah sekarang, saya dan anak anda yang bersalah!" ucap Ardhan sinis melihat sikap mertuanya.


"Sekarang saya hanya ingin bertemu Lili, jika anda tidak menerima saya jangan menyesal untuk ke depannya," ucap Ardhan dingin. Kini dia yang arogant pada mertuanya.


"Kau ___" makian yang ingin dilontarkan oleh mertuanya terpotonng.


Ardhan langsung menyelah, "Jika aku sudah memutar badan, mengemis darahpun anda untuk anak cucu anda jangan harap aku akan menerimanya," ucapan Ardhan terdengar makin arogant.


Lili awalnya ingin membukakan pintu. Namun papinya sudah duluan. Awalnya dia ingin berbalik dan menuju kekamar lagi. Namun mendengar suara yang mengisi relung hatinya dia tetap berdiri tak jauh di belakang papinya.


Walau dengan kesal mengunung di serang anak dan menantunya. Beliau kembali ke kebun belakang.


"Ada apa? masuklah?" ucap Lili hangat. Dia sangat senang dikunjungi oleh Ardhan. Ardhan yang mendengar suara hangat Lili, ikut menghilangkan panas hatinya karena sempat cekcok dengan mertuanya.


Ardhan mengikuti Lili dan duduk di kursi tamu. "Ada masalah apa?" tanya Lili lembut. Hatinya melembut melihat Ardhan mau datang ke rumahnya.


"Aku mau ngajak rujuk, kita punya anakkan?" katanya tanpa basa-basi. Ciri khas Ardhan Barra.


Lili sangat terkejut. "Kamu yakin?"

__ADS_1


"Aku yakin jika kamu yakin. Kamu tahukan aku memang belum bisa mencintaimu. Aku masih mencintai gadis itu. Namun mulai sekarang aku akan berusaha mencintaimu. Jika kamu bisa menerima kekurangan aku ini, mari kita rujuk."


"Baik aku mau. Aku akan mengerti dirimu." Lili sangat paham. Jika dia jual mahal atau menunda-nunda minta waktu berpikir, tak akan ada kesempatan kedua. Dia akan lebih ekstra sabar untuk meraih hati Ardhan. Setidaknya anaknya mendapat kasih sayang ayahnya.


"Mana anak itu?" tanyanya kaku.


"Sebentar aku panggilkan. Tadi dia sama mami di kamarnya." Lili melangkah pergi. Ardhan menarik napas kasar. Berat baginya dengan semua keputusan ini. Namun dia harus bisa menentukan sikap demi kebahagiaan banyak orang. Bukan hanya mengejar kebahagiaan dia seorang.


Lili kembali dengan membawa seorang bocah balita di dalam pangkuannya. Ardhan tertegun masih dengan posisi duduk. Dia seakan melihat potret dirinya sewaktu kanak-kanak.


Seakan tahu darah yang dia miliki adalah darah lelaki di depannya, sang anak yang merasa senang. Dia tersenyum dan berusaha menggapai-gapai wajah ayahnya. Ardhan masih membeku.


Lili memberikan bocah tersebut kepada ayahnya. Sang anak meraba-raba muka ayahnya yang penuh dengan jambang menambah ketampanan wajahnya.


Ardhan begitu takjub dan ada suatu perasaan asing di dalam dadanya. Rasa hangat menjalar di setiap pembuluh nadinya. Dia tersenyum dan mencium anaknya. Sibocah hanya terkekeh kegelian karena jambang ayahnya. Ardhan memeluk lembut anaknya. Si anak seakan begitu rindu pada pelukan ayahnya. Dia menyandarkan kepalanya dibahu ayahnya. Ardhan sekali lagi merasakan perasaan asing. Dia memandang Lili yang juga memandang dua jagoan yang sangat dicintai.


Pandangan Lili yang penuh kebahagiaan menjadi obat bagi hatinya yang kacau karena mengejar cinta yang tidak jelas. Hati Ardhan mulai sedikit melembut. Namun kata-katanya masih mahal untuk keluar dari bibirnya. Ardhan hanya memandang Lili dengan pandangan yang sulit di artikan.


Bagi Lili tak penting apa yang dipikirkan Ardhan. Cukup dia mengajak rujuk tadi sudah langkah yang besar yang dilakukannya. Lili tak akan membuang kesempatan itu. Dia akan terus memperjuangkan cintanya demi anaknya dan dirinya sendiri.


"Jadi kamu yakin dengan keputusanmu? Menerimaku dengan hatiku yang tidak utuh?" tanya Ardhan pasti.


"Ya, aku terima. Demi anak kita yang pertama." Lili juga tahan egonya. Padahal demi dirinya juga. Dia tak ingin Ardhan tahu perasaan yang sebenarnya. Biarlah waktu yang menjawab semua dari rasa cintanya.


Ardhan masih memangku anaknya. "Baiklah kalau iya kita akan menikah lagi secepatnya. Kita tinggal di rumahku yang akan jadi rumahmu juga dan anak kita," ucap Ardhan. Mendengar kata kita membuat Lili begitu bahagia.


"Terserah mana yang baik menurutmu," ujar Lili dengan menyimpan kebahagiannya.

__ADS_1


Hari itu Ardhan pamit dan menyiapkan semua urusan administrasi untuk menikah lagi pada mantan istrinya. Kini di mesjid inilah dia berada. Banyak senyum indah yang dilukiskan dari orang-orang yang mencintainya. Mulai dari keluarganya sampai anak-istrinya. Mami Lili juga tersenyum senang. Hanya papi Lili yang terlihat masih kesal. Namun tak ada yang peduli pada kekesalannya.


**//**


__ADS_2