
Hari-hari dijalani dengan dua anak dalam hidupnya. Suasana yang harusnya masih pengantin baru-an kini di isi dengan mengurus anak. Walau tidak serepot mengurus anak bayi. Namun itu resiko dari pilihan Alcenna.
Tidak ada sesalan baginya tentang masalah anak. Dia hanya menyesali sikap suaminya yang ternyata jauh berbeda sebelum menikah. Selebihnya dia menikmati mulai dari kelucuan sampai kenakalan mereka. Kadang dia merasa lucu, dia yang dulunya hanya asyik dengan dunia sendiri tanpa sadar telah berubah asyik dengan dunia mereka. Dulunya yang suka bebas sekarang terkukung hanya dalam rumah.
Alcenna enjoy saja walau perselisihan kecil selalu ada antara dia dan suaminya. Namun penyebabnya bukan dari anak-anak. Semua perselisihan itu terjadi karena Alcenna selalu saja mencurigai suaminya berbohong. Setiap berselisih paham selalu kata cerai yang dia ucapkan. Namun suaminya tak pernah menjawab.
Pagi ini setelah suaminya pergi kerja, dan setelah pekerjaan rumah beres. Alcenna dan Allya mencoba membangun komunikasi yang lebih baik lagi. Rhania sibuk dengan main sendiri di kamar Azarine. Ini sudah hampir sebulan mereka tinggal bersama.
Alcenna iseng bertanya pada Allya, "Jadi waktu kalian diantar ke kantor papa, benar mama tak ada ngomongi ke papa?"
"Ndak ada Bun."
"Lalu apa kata mama kok sampai mau kalian ditinggal di sana?"
"Kata mama, "Kalian tunggu papa di sini sebentar ya, mama mau pergi cari kerja."
Mungkin iya mamanya mau pergi cari kerja dan mungkin sudah bicara via telfon. Tak guna dipikir yang sudah berlalu. Begitulah pikir Alcenna.
Lalu dia kembali bertanya, "Kata ibu yang kita jumpai waktu jemput baju tu adek pernah makan nasi basi, kok bisa?"
"Gak tahu Bun, mungkin adek pulang main langsung buka magic com, mama ada kadang gak masak."
"Ohhh ... Alcenna cuma mangut-mangut.
Lalu terdengar Allya bertanya dengan polosnya, "Kata warga di sana Bunda guna-gunai papa supaya mau sama Bunda."
Ingin Alcenna tertawa keras mendengar pertanyaan polos Allya, namun tidak mungkin dia lakukan. Alcenna menjawab, "Coba Allya pikir baik-baik ya, Allya bukan anak kecil seperti adek. Apa untungnya bunda mengguna-gunai papa Allya. Maaf, bukan mau merendahkan papa Allya, tapi apa yang papa Allya punya? harta tak punyakan selain kalian anak- anaknya." Allya terlihat mengangguk.
alcenna melanjutkan penjelasannya, "Kalau bunda memakai guna-guna, bagus bos bunda lagi yang bunda guna-gunai, dia punya banyak duit dan punya segalanya. Iya kan?"
"Iya juga ya Bun."
"Andai kamu tahu Nak, jika bunda mau tak perlu memakai guna-guna. Mantan bos bunda rela memberi apa saja karena cintanya." batin Alcenna nelangsa teringat sekilas mantan bos yang hampir tak pernah dia kenang dua bulan ini.
Cerita Allya lagi, "Dulu papa jarang pulang Bun, kami hanya sama mama. Kadang Allya dan kakak bantu orang ke pasar, baru nanti jajan karena di kasih uang sama orang yang nyuruh."
"Sejak kapan papa jarang pulang?" tanya Alcenna menyelidiki.
"Yang Allya ingat, dari Allya kelas dua SD. Papa sudah sering jarang di rumah."
"Jadi bukan karena aku, sebelum kenal akupun ternyata memang sudah jarang pulang. Hmmm rumah tangga yang aneh."
Alcenna tiba-tiba teringat sesuatu, "Allya kata papa sempat sekolah sama kakak mama, siapa Allya manggil kakak mama?"
"Mak wo, Bun."
"Nah kenapa Allya tidak lanjutkan sekolah dulu, kata papa Allya putus sekolah karena tak mau sekolah lagi di sana," Alcenna ingin tahu.
"Allya takut sama pak wo, Bun."
__ADS_1
"Suaminya mak wo?"
"Iya."
"Kenapa takut? Boleh bunda tahu?"
"Dia selalu peluk-peluk Allya, Bun."
"Loh kan tanda sayang." kata Alcenna mencoba berpikir positif.
"Ndak tahu Bun, Allya takut saja. Masalahnya lain rasanya Bun, pak wo tu melihat Allya, pokok Allya takut."
"Ohhh." Alcenna tak bisa berpikir jauh.
"Kakak sudah sekolah sama ibu di kampung," Mereka memanggil ibu pada kakak ayahnya.
"Baguslah," ucapannya terdengar sedikit sinis.
"Allya iri?" pancing Alcenna kembali, ingin tahu apa isi hati Allya.
"Iri Bun," Akunya jujur.
"Baguslah kalau ada rasa iri di hati Allya melihat kakak sudah sekolah, namun rasa iri Allya jadikan untuk penyemangat Allya agar bisa sekolah dan berhasil. Allya pahamkan?"
"Paham Bun."
"Kakak kok bisa Bun? Kakak juga telat 4 bulan harusnya Bun," tanyanya.
"Iya itu bunda tak paham, mungkin karena pesantren dan ibu ada kenalan masuknya." Alcenna memang tidak mengerti, kenapa Ayu bisa di sekolahkan oleh ibu papa Allya. Padahal benar kata Allya sudah telat empat bulan dari tahun ajaran baru.
"Apa Allya ingin sekolah sama ibu juga? Nyusul kakak?"
" Ndak Bun, Allya mau di sini saja," katanya.
"Kalau begitu sabar ya, setengah tahun ni main- main saja sama bunda dulu. Nanti ikut ngaji-ngaji saja di mesjid sama ibu, ibu ngajar ngaji dimesjid setiap siap maghrib."
Itulah sepenggal cerita Allya bersama Alcenna di siang hari ini.
***
Nasib tidak berpihak pada Alcenna dan Allya. Dua bulan setelah cerita Allya dan Alcenna, suaminya di PHK karena ada pengurangan karyawan di kantornya. Namanya termasuk salah satu dalam daftar yang di PHK.
Sore itu suami Alcenna pulang dengan wajah lesu. Alcenna pun bertanya setelah menyuguhkannya segelas teh hangat. "Abang kenapa? Ada masalah?"
"Abang di PHK Cenn," ucapnya yang membuat Alcenna terkejut.
Alcenna awalnya begitu panik, karena gaji suaminya dari bulan ke bulan hanya cukup untuk biaya hidup, tak ada sisa duit yang bisa ditabungkan. Sementara setelah menikah tabungan Alcenna yang tidak seberapa juga sudah habis.
Namun Alcenna percaya jika selagi mau berusaha maka akan ada jalan. Dia berkata pada suaminya, "Sudah jangan risau, mungkin reski kita hanya sampai di sini di perusahaan Abang sekarang."
__ADS_1
"Maafi Abang ya Cenn."
"Sudah, tak perlu minta maaf, kita jalani saja. Selagi kita mau berusaha akan ada jalan nantinya. Sekarang Abang mandi biar segar." Dia pun melangkah ke kamar dan pergi ke kamar mandi.
***
Setelah berhenti kerja, suami Alcenna seperti tidak ingin lagi mencari kerja di perusahaan. Dia lebih suka kerja yang tidak terikat lagi. Dia mulai bekerja serabutan. Alcenna membiarkan saja apa maunya. Walau tak jarang kadang dia pulang tanpa membawa uang. Tak ada keributan soal itu.
Alcenna tak merasa kesusahan, namun dia merasa kesusahan soal hatinya. Begitu sulit dia percaya pada suaminya kini. Curiganya tak pernah hilang, itu yang sering memancing keributan dalam rumah tangganya. Ditambah Alcenna mulai melihat keegoisan keluarga suaminya. Ada saja yang membuat Alcenna emosi, walau tak pernah dia lampiaskan pada anak-anak.
Mengingat orang tuanya, Alcenna merasa jauh beda terasa rumah tangganya dan orang tuanya. Alcenna dibesarkan tanpa keributan berpuluh tahun. Namun dia baru dua bulan ada saja yang diributkan. Ternyata jalan hidup itu memang berbeda. Dia berpikir sifat ayah-ibu akan menurun padanya. Namun sepertinya tidak, Alcenna bukan wanita yang lembut.
Alcenna akui, setiap berkelahi dia selalu minta cerai. "Ceraikan aku, aku mau kita cerai, lebih baik kita bercerai," kalimat itu saja yang dia lontarkan setiap berkelah. Alcenna salut lihat suaminya, tak pernah menjawab, dia hanya diam .
***
Suatu hari ....
"Hallo Bu," terdengar Arzon menjawab telfon dari ibunya.
..........
"Iya Bu, lihat nanti."
...........
"Iya."
Lalu sambungan telfon berakhir. Aku bertanya, "Ada apa?"
"Ibu suruh pulang ke kampung, Ayu katanya nangis. Anak-anak lain dilihat oleh orang tuanya sementara dia gak."
"Terus, tak bilang sama ibu. Abang tak kerja dan duit saja hampir tak memegang dari hari ke hari kalau tak diberi ibu.
"Ya kata ibu, Abang saja yang pergi sendiri," ucapnya membuat darahnya mendidih. Betapa egoisnya ternyata keluarga suaminya. Mereka tidak pernah bertanya bagaimana Alcenna mengurus anak-anak yang bersamanya.
"Jadi tetap mau pergi? Apa tidak bisa ibu memberi nasehat pada anakmu untuk bersabar dalam kondisi seperti ini."
"Ya maklum anak-anak," katanya membela anaknya.
"Aku tidak menyalahkan anakmu, aku menyesali sikap ibumu yang tidak bisa memberi pengertian pada anakmu. Dia kan yang memilih ikut ibumu, kenapa merengek sekarang. Bilang sama anakmu itu, adiknya juga harus sekolah sementara sekarang dia belum bisa sekolah! Lagian dulu juga kamu ke mana saja? Baru sekarang keluargamu heboh soal anak!"
Ini salah satu hal lagi yang membuat dada Alcenna nyeri. Jika mereka menelfon yang ditanya hanya cucu mereka, yang dibahas hanya masalah ayu. Tak pernah sekalipun mereka menanyakan Alcenna sehat atau sudahkah hamil. Alcenna hanya merasa sebagai baby sitter, bukan ibu sambung.
Kesedihan yang dia rasakan memicu rasa muaknya pada suaminya. Dia merasa Arzon juga tidak tegas dan berterus terang pada keluarganya. Alcenna semakin lelah dan ingin menyudahi pernikahan ini. Penyesalan dia semakin dalam.
**//**
__ADS_1