
Siang ini Alcenna berkumpul bertiga dengan teman SMA.
"Cenn, aku tu selalu cemburu pada suamiku," akhirnya topik mereka sampai pada kata 'cemburu' tepatnya cemburu ke suami.
"Aku juga dulu dulu gitu, Fi. Cuma kalau kamu kenapa harus susah hati. Suamimu kerja kantoran, bisa telfon kantornya."
"Iya ya, gak ke pikir selama ini, " ucap Sofi.
"Tapi kata suamiku, itu bukan cemburu tapi curiga, hahaaa," kata Alcenna dengan tertawa.
"Iya sih, suamimu benar."
"Terus masih cemburu dan curiga juga sekarang?" tanya Alcenna kemudian.
"Aku sudah setahun ini gak lagi, mu?" tanya Safa.
"Tak gitu kalilah."
"Berarti masih." Kata temannya membuat Alcenna menyengir.
"Ohhh tahu aku sekarang!" kata sofi penuh tekanan.
"Tahu apa?" kata Alcenna dan Safa serentak.
"Ternyata itu cara kerja iblis. Cemburu itu akal-akalan iblis. Agar kita bercerai."
"Iya tuh, aku ni gak pernah cemburu dulu mantan-mantanku. Sejak nikah kuat rasa cemburu bercokol di hatiku," ucap Sofi.
"Rasai sekarang, dah tahu aku jurus kau iblis, tak akan aku cemburu buta pada suamiku lagi. Aku akan pakai logikaku." Sofi masih ngomong sendiri sudah seperti orang stres saja.
" Ya, besok usah cemburu buta juga lagi," kata Safa.
Mereka lalu tertawa-tawa. Safa sambil menggiling bumbu rujak, sementara Alcenna dan Sofi mengupas buah.
Cerita cemburu buta habis, tema mereka tiba tiba berganti cerita istri kedua. Dan itu lagi-lagi Sofi yang buka cerita. Jantung Alcenna sedikit berdegub kencang. Masalahnya mereka masih tidak tahu menahu Alcenna punya anak tiri.
"Aku paling benci sama ibu tiri aku," kata Sofi yang membuat Alcenna melongo. Alcenna tidak pernah tahu jika ayah mereka menikah lagi.
"Jadi maksudmu ayahmu pernah nikah lagi?" tanya Alcenna.
"Iya, dulu waktu kami masih kecil-kecil."
"Jadi ayah masih istri dua?" tanya Alcenna.
"Cuma dua tahunan sama istri mudanya. Terus di tinggal ayah. Bagaimana pun cantik molek istri kedua, tetap akan kembali ke istri tuanya," ucap Sofi.
"Jadi kalau ada istri tua yang ditinggal demi istri kedua gimana tuh?" pancing Alcenna.
"Hebat dan mantap itu wanita dan bisa jadi kena guna-guna," kata Sofi lagi.
"Anaknya ikut mak tirinya, gimana tuh, apa kena guna-guna kalau gitu."
"Ohhh baik berarti ibu tirinya, pantas aja gak di tinggal, gak sama kek ibu tiri kami. Cuma mau sama ayah kami saja. Maka gak bertahan lama," Sofi masih mendominasi pembicaraan.
__ADS_1
"Ngomong-ngomong kapanmu berangkat study S2, ke mana?" tanya Alcenna pada Sofi.
"Dalam bulan ini juga, ke Malaysia. Harusnya tahun lalu, tapi gak ada biaya."
"Alhamdulillah, bisa suatu saat lihat negeri seberang kita ya Fa," ucap Alcenna.
"Aku gak bisa pisah sama suamiku," balas Safa.
"Hmmm lebai deh," Alcenna mengejek.
"Ehhh gak percayamu, tanya sama Sofi. Suamiku itu manja, apa-apa diurusi."
"Ehhh sudah sama Tuhan ya, kalau aku dapat kek suamimu bisa nangis darahlah aku, tak lama minta pisah," gurau Alcenna.
"Heleeeh, tak macam suamiku-pun sudah sering minta pisahpun," ucap Safa balas ngejek. Alcenna cuma bisa garuk-garuk kepala.
"Apa cerita soal anak Cenn? Sudah berobat ke mana saja? " tanya Safa yang juga belum mempunyai anak di usia tiga tahun pernikahannya.
"Sudah, sudah banyak pula dokter yang menikmati diriku," ucap Alcenna sambil bercanda.
"Heleeeh, banyak yang lain lebih menarik darimu yang mau di nikmati," ucap Safa membalas.
"Kalian sibuk mau anak, aku malah KB," ucap Sofi.
"Kenapa malah KB?" tanya Alcenna.
"Iya siapkan S2 ini dulu, "jawab Sofi.
Puas makan rujak dan bergosip, dua mak rempong itupun pamit pulang. "Pulanglah kami lagi, sebentar lagi para suami kami pada pulang, mu enak sering jomblo," ujar Safa. Sifat Safa banyak mirip dengan Alcenna, terutama asal bicaranya.
"Enak apanya, tiap malam cuma berselimut benda mati dan peluk guling tak bernyawa," kata Alcenna konyol.
"Jadilah pada peluk batang pisang, yang lain pula muncul. Kira suamimu juga, rupa suami- suamian." Safa menakuti.
"Baik-baik kalau ngomong, aku bogem mentah mau. Jelas aku malam tidur sendiri," ucap Alcenna kesal. Safa hanya tertawa. Alcenna soal gaib-gaib itu ratunya penakut.
***
Malam harinya ....
"Lagi apa sayang?" tanya suami Alcenna.
"Lagi ngungsi Bang," jawabnya.
"Ngungsi ke mana, ada apa?" tanya suaminya terdengar panik.
"Ngungsi kamar Azarine, Abaaaang."
"Kenapa kamu takut? Cerita aneh-aneh ya tadi sama temanmu?" tebak suami Alcenna.
"Tidak."
"Hahaha ... bilang saja kamu yang penakut sayang."
__ADS_1
"Emang iya, gimana lagi." Pasrah Alcenna.
"Alcenn itu lucu, shalat rajin. Ngaji rajin. Penakut paling rajin," ucap suaminya masih tertawa. Alcenna merasa bahagia mendengar tawa dan gurauan suaminya.
"Beda hal itu Bang, shalat, mengaji amalan. Takut itu bawaan."
"Itu sudah shalat?"
"Sudah donk Bang, shalat itu tiang agama. Kalau tiangnya rapuh nanti pondasinya tidak kuat dan rumahnya mudah runtuh."
"Iya Ustazah, saya paham maksud anda. Ustazah cantik cepat tidur ya, biar subuhnya gak telat."
"Ok bos, selamat malam, Assalaamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam sayang."
Dunia terasa damai, aman dan tentram. Ssszhh... ssszhhhh... Alcenna pun berlayar ke alam mimpi. Tanpa siapapun yang boleh menumpang di kapalnya.
Alcenna memang sudah terlelap dalam mimpi indahnya. Namun suaminya masih terjaga, tiba-tiba mengenang masa lalunya bersama mantan istrinya.
"Bangun, kamu gak kerja?"
"Iya, baik-baik bisa gak banguni aku," Rutuk Arzon pada istrinya. Istrinya membangunkan dengan menyepak kakinya.
"Aku minta duit! " teriak istrinya saat Arzon memakai pakaian kerjanya.
"Kau bilang aku direktur yang punya banyak uang. Aku cuma karyawan biasa yang punya gaji bulanan. semua sudah aku serahkan pada kau tanpa aku ambil sepeserpun," Arzon berteriak tak kalah keras.
"Kau bilang cukup duit segitu he," maki istrinya.
"Itulah kau jadi istri gak pernah bersyukur, apa kurangnya kau lagi, tiap minggu kau foya-foya ke mall, anak tak ada yang beres pendidikannya." Maki suaminya kembali.
"Aku mau cari kerja juga!" ucap istrinya keras.
"Terserah kaulah." Arzon pun pergi tanpa sarapan atau pun sekedar minum.
Saat sarapan tak jauh dari rumahnya, Arzon bertemu dengan tetangganya, "Kemana saja lama tak nampak Ar?"
"Maklum Bang, bos sering nyuruh luar kota. Apa cerita Bang? Tambah sehat saja kelihatannya."
"Kebetulan jumpa kamu di sini. Abang ada niat juga mau telfon kamu. Abang bukan mau ikut campur urusanmu, tapi abang pribadi mulai jengah lihat sikap istrimu," ucap Dino.
"Kenapa dia Bang?" tanya Arzon yang tidak tahu-menahu.
"Dia suka pergi malam pulang pagi, diantar oleh orang seperti keturunan cina."
"Masa Bang?" ucap Arzon tak percaya.
"Kamu boleh tes, jika kamu tak pulang istrimu jarang pulang. Anak-anak sering dijaga oleh tetangga."
"Besoklah Bang, aku cari bukti."
**//**
__ADS_1