Tolong Aku SuamiKu

Tolong Aku SuamiKu
Eddyson di Hukum


__ADS_3

Eddyson sampai dan mengucapkan salam. Dia melihat istrinya sudah ceria bergurau dengan papa-mamanya. Namun ketika melihat dia senyum istrinya sirna. Eddyson merasa jantungnya diremas.


Eddyson datang mendekati istrinya yang lagi duduk berdampingan dengan mamanya. Sementara papanya terlihat santai di sofa satunya.


"Maafi mas sayang. Tak ada niat mas untuk kasar padamu. Mas hanya emosi ke dia karena kasar padamu. Namun kamu yang jadi sasarannya," kata Eddyson memelas. Dia hilang semangat melihat istrinya dingin padanya. Hilang sudah kemanjaan istrinya yang sangat dia suka dalam hidupnya.


"Aku tak mau! Disini ada mama-papa kalau mau kembali padanya. Silahkan!" ketus Alcenna yang sudah pasti akting. Andai Eddyson tak fokus hanya pada wajah Alcenna, dia bisa melihat mamanya menahan senyum begitu juga papanya.


"Maafi mas sayang, apapun mas janji tak buat lagi. Mas akan kontrol emosi mas." Eddyson berjongkok dan memegang tangan Alcenna.


Eddyson persis seperti 'Son kecil' ketika kena marah mamanya. Wajah dan sikap memelas serta kata janjinya, mengingatkan mereka pada masa mudanya ketika anaknya melakukan kesalahan dan siap dihukum.


"Tak usah berjanji yang kita tidak bisa tepati!"


"Iya untuk yang satu ini, sekali lagi mas janji gak akan terulang. Jangan lakukan ini sayang. Mas benar gak semangat untuk menjalani hari-hari," katanya serius.


"Mas sudah bentak aku di depan anak, aku malu jika itu terjadi lagi!" ini Alcenna serius mengungkapkan hatinya.


"Tak akan mas lakukan lagi."


"Mas juga buat anak kita stres karena marah gak jelas," masih serius Alcenna nyampaikan isi hatinya.


"Ya, ya mas sadar. Maaf sayang maaf," ucapnya lembut dan penuh penyesalan.


Dia menunduk sambil memegang tangan Alcenna. Dia tidak tahu jika mereka sudah berkode-kode untuk menyudahi hukuman Eddyson. Eddyson di hukum dengan manis oleh mereka bertiga.


"Mas lepaskan tanganku!" kata Alcenna terakhir kali untuk menyudahi sandiwara hukumannya. Eddyson terkejut saat Alcenna benar menyentak tangannya. Tangan Eddyson yang tadi mengenggam tangan Alcenna, kini mencengkram pinggiran sofa dan diletakan didua sisi Alcenna.


"Maaas, aku sudah maafi kamu dari tadi. Itu hukuman karena sudah jahat padaku," katanya lalu dia menghambur dalam pelukan suaminya. Eddyson mendengar papa dan mamanya terpingkal. Dia sadar kalau sudah dikerjai Alcenna, papa dan mamanya.

__ADS_1


Senyum manisnya hadir dibibir indahnya. Eddyson lalu memilih duduk antara mama dan Alcenna. Dia berniat membalas secara halus dengan mamanya. Terbukti mamanya protes.


"Tega ya ngerjai mas, padahal dijalan mas sudah panik bagaimana cara membujuk kamu agar tidak terus marah."


"Mas juga tega marah gak jelas sama kami."


"Mas lapar loh."


"Kami juga lapar tadi, untuk nenek buatkan kita susu hangat ya Nak," ucap Alcenna senang.


"Sudah, bagaimana kalau kamu mandi dulu. Baru minum teh hangat," kata mamanya. Alcenna ikut mengangguk.


"Oke, papa mandi dulu ya sayang. Maafi papa marah sama mama anak-anak papa."


*****


Sudah seminggu berlalu dari kejadian Eddyson memarahi Alcenna. Namun sampai kini Robby seakan tak menemukan Shinta di Jakarta. Robby dan temannya sudah memantau rumah Shinta. Namun Shinta seakan tak pernah kembali.


Mereka terus memantau hingga suatu hari Robby dan temannya menemukan tulisan rumah itu dijual.


Robby coba menghubungi no disana berdalih akan melihat dan jika cocok akan membeli rumah itu. Hari ini mereka bertemu didepan rumah itu. Robby tidak mengenal lelaki yang sebagai pemilik rumah. Robby tetap berdua dengan teman pengacaranya. Aldrian.


"Maaf Pak, bapak ada hubungan apa sama pemilik rumah ini?"


Mendengar pertanyaan Robby, lelaki itu sedkit kalut. Robby tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Robby cepat menutup pintu rumah, mereka mendesak lelaki tersebut.


"Apa yang bapak tahu! kami hanya ingin tahu kemana Shinta dan suaminya. Hanya ingin memastikan Shinta si empu rumah ini tidak mengganggu istri bos saya!"


"Mereka telah pindah. Jika itu yang bapak takutkan, saya yang jamin tidak akan terjadi."

__ADS_1


"Hanya orang mati yang bisa saya jamin tidak mengganggu Pak," ucap Aldrian lebih dingin dari Robby.


Lelaki itu ketakutan mendengar nada pria berjaket hitam tersebut. Dengan sisa keberaniannya dia bertanya, "Jadi ingin Bapak seperti apa. Saya hanya diminta untuk menjual rumah ini. Suaminya adalah sepupu saya."


"Kami ingin berjumpa Shinta dan suaminya sekali lagi. Kami janji bukan untuk menghancurkannya selagi dia tidak akan mengganggu kehidupan bos saya!" ucap Robby tegas.


"Baik, ikut saya."


Robby dan Aldrian akhirnya bisa menemui Shinta dan suaminya. Mereka pindah ke luar dari Jakarta. Mereka pindah ke Bandung. Shinta berjanji tidak akan ikut campur lagi dengan urusan Eddyson. Apalagi setelah Robby menjelaskan bahwa mereka baru bertemu kembali ketika Alcenna bekerja di Bekasi dan itu tanpa ada niat memiliki Alcenna. Robby mengatakan karena Shinta tak ingin lagi membangun rumah tangganya baru bosnya memutuskan mengejar Alcenna.


Shinta juga sudah tak berniat, dia baru merasa begitu mencintai suaminya ketika tahu dia mengganggu rumah tangga mantannya. Saat itu dia hampir di talak oleh suaminya. Shinta tak ingin itu terjadi, dia mengakui hanya karena iri hati bukan cinta pada mantan suaminya. Shinta tak ingin kehilangan suami yang selalu ada untuknya.


Dia pindah ke Bandung juga atas permintaan suaminya. Suaminya melihat Eddyson tidak bisa di dekati. Dia tak ingin Shinta berakhir di penjara. Suaminya mau membangun kembali rumah tangganya yang sempat goyang karena cemburu Shinta masih mengurusi rumah tangga mantannya, dengan syarat keluar dari Jakarta. Shinta setuju.


Robby yang sudah tahu dimana Shinta dan sudah dapat kepastian bahwa tidak tidak akan mengganggu istri bosnya yang sudah seperti adik baginya. Bisa bernapas lega dan menyampaikan pada Eddyson.


Kini hari-hari mereka jalani dalam damai. Kehamilan Alcenna semakin besar dan Alcenna semakin sulit bergerak. Eddyson selalu sabar. Alcenna tidak masuk rewel sebagai ibu hamil. Hanya saja beban perutnya yang besar membuat dia sulit beraktifitas terakhir ini. Dia hanya bangun dan berjalan didalam rumah atau di taman depan.


Sejak kehamilannya berusia lima bulan Alcenna sudah tak diizinkan kebelakang tanpa Eddyson. Eddyson tidak ingin ambil resiko Alcenna terpeleset dan jatuh kekolam tanpa ada yang tahu. Walau dengan bibi atau mamapun Eddyson tak izinkan.


Alcenna akan ditemani oleh Eddyson jika ingin berenang. Semakin besar kandungannya Alcenna semakin sering bergerak dengan cara berenang sebentar saja. Itupun hanya berjalan di dalam air yang dibimbing suaminya, atau hanya sekedar mengapungkan badannya saja. Agar nanti melahirkan dia tidak terlalu sulit.


Alcenna bukan tak dilarang oleh suaminya agar tak usah berenang lagi. Namun katanya saat itu, "Alcenna cuma ambil contoh saat ibunya nabi Isa akan melahirkan nabi Isa Mas. Di hamilnya yang makin besar dia hanya mengoyangkan pohon kurma. Dia melahirkan tanpa dibantu. Intinya selain ditolong Allah ya beliaukan juga banyak bergerak Mas." Sejak itu agenda Eddyson bertambah menemani Alcenna jalan pagi atau berenang, selain berenang didarat yang paling Eddyson suka. Istrinya juga tidak menolak.


Alcenna tak pernah membantah jika dilarang suaminya. Itu sebabnya Eddyson tidak pernah naik darah dengan Alcenna. Alcenna istri penurut seperti yang diidamkannya. Hanya kasus Shintalah dia membentak istrinya.


**//**


Aldrian

__ADS_1


Sipengacara cakep. 😍😍😍



__ADS_2