
"Apa yang sakit Bang?" Tanya Alcenna suatu malam melihat suaminya gelisah.
"Tak ada, abang hanya ingin minta maaf pada Alcenn, abang sudah banyak menyakiti Alcenn," ucap suaminya.
"Sudahlah Bang, pada dasarnya kita saling cinta tapi entah kenapa kita saling menyakiti. Alcenn juga minta maaf pada Abang. Alcenn masih pelawan pada Abang," ucap Alcenna.
"Cenn, jika suatu hari abang tak bisa menemankan dan bersama Alcenn lagi. Abang minta jangan bersedih dan carilah pengganti Abang yang bisa buat bahagia."
"Apalah ngomongnya, pamali ahh," Alcenna cemberut.
"Abangkan ngasih tahu saja, namanya kita hidup ini pastikan mati. Tak perlu ditakuti gitu."
"Bukan takut Bang, gamang," ucap Alceena.
"Sudahlah tidur kita lagi," kata suaminya.
Pagi hari, Alcenna merasa dingin menusuk ke tulang punggungnya. Matanya masih sangat mengantuk dan berat untuk dibuka, namun tangan yang memeluk pinggangnya dan tubuh yang menyandar di punggungnya terasa berat. Alcenna berusaha menggeser tangan suaminya yang memeluk pinggangnya.
Alcenna duduk, seketika dia merasa hawa dingin hilang dari punggungnya. Alcenna sudah sadar sepenuhnya dari tidurnya. Alcenna menyadari jika tangan suaminya begitu dingin. Alcenna langsung bergerak memegang tubuh suaminya. Tubuh suaminya ikut tergolek telentang saat Alcenn mendorong hendak membangunkannya.
"Bang ... ohh Bang ...." Alcenna menggoyang tubuh suaminya. Tak ada respon apapun. Dia mulai panik, ketika berulang kali tak bisa membangunkan suaminya. Dia melihat tak ada pergerakan napas suaminya.
"Tidaaaak ... tidaaak ... Abang banguuun," Alcenn histeris melihat tubuh kaku suaminya.
"Jangan tinggalkan aku Bang, Toloooong ... tolong suamiku," teriakan Alcenna menggema di pagi Buta.
Alcenna masih menangis pilu, dia masih histeris. Alcenna tak mendengar tetangganya yang memanggil dan menggedor pintu rumahnya. Alcenna hanya menangis sambil memeluk tubuh dingin suaminya.
"Bangun Bang, banguuun, jangan tinggalkan Alcenna. Alcenna minta maaf suka kasar sama Abang," ratapnya sambil terus memeluk suaminya. Padahal meratap sangat tidak dibolehkan dalam ajaran agamanya, namun itu yang kini, dia lakukan.
Tetangga akhirnya mendobrak pintu rumahnya, karena tak kunjung dibuka sementara tangisan Alcenna semakin kuat.
"Innalillahiwainailaihirojiun," ucap tetangganya yang menambah tangisan pilu dari Alcenna.
"Tidak Bang, tidak, jangan buat seperti ini pada Alcenn. Ampunkan Alcenn Bang," dia semakin kuat memeluk tubuh suaminya, ketika seseorang tetangga hendak menarik tubuhnya.
"Sabar Nak, sabar. Bawa istighfar," suara seorang ibu yang entah siapa. Karena Alcenn tidak peduli dengan sekitarnya. Akhirnya dia ditarik paksa.
Alcenn berjalan gontai, kini dia berjalan di samping keranda yang diusung. Keranda yang berisi jenazah suaminya.
Alcenna melihat tubuh suaminya di keluarkan dari keranda lalu dimasukan ke liang kubur. Alcenna kembali menangis pilu, saat kubur suaminya mulai ditimbun dengan tanah. Alcenna menjerit, dia pingsan.
__ADS_1
Kini semua pelayat telah pulang. Lalu ibu dan adiknya membawa Alceena pulang ke kampung. Alcenna hanya mengurung diri di kamar. Jika hari gelap dia keluar ke kebun belakang. Di sana ada sebuah bangku-bangku panjang untuk tempat biasa dia duduk bersama suaminya jika pulang kampung. Itupun suaminya yang membuat.
Alcenn duduk dan memandang ke langit, jiwanya terasa begitu sepi. Air matanya kembali mengalir.
"Abang, abang di mana, pulanglah Bang. Alcenn rindu Bang. Alcenn tak sanggup hidup tanpa Abang. Sepi, sepiii rasanya," dia terus memandang ke langit yang mulai gelap. Dia baru tahu rasanya sepi setelah kehilangan suaminya.
Abang, abang di mana, pulanglah Bang. Alcenn rindu Bang. Alcenn tak sanggup hidup tanpa Abang. Sepi, sepiii rasanya." Kalimat itu yang mampu dan terus diucapkan Alcenna. Air matanya terus mengucur.
"Alcenna ... Alcennaa ...." suara suaminya terdengar memanggil.
Abang, abang dimana. Alcenn rindu Bang. Alcenn tak sanggup hidup tanpa Abang. Sepi, sepiii rasanya, ucap Alcenna berdiri dari bangku dan mencari asal suara. Dia terus berputar di kebun belakang dan mencari suaminya.
"Alceen ... Alcenn ... hei, bangun sayang. Kamu mimpi apa sampai nangis terisak gini hmm?"
Alcenn yang tersadar langsung memeluk suaminya, "Huuuaaaahhh, Alcenn mimpi Abang meninggal." dia kembali menangis.
Suaminya memeluknya, baru mulai bicara setelah dirasa tangis Alcenna reda, "Lupa baca doa ya tadi?" tanya suaminya.
"Iya, Alcenna juga belum shalat isya, tadi siap magrib Alcenna ngantuk sekali."
"Abang mau banguni tadi gak sampai hati. Sudah dua kali abang senggol Alcenn tidak respon, seperti tidur orang mati," terang suaminya.
"Temankan ke kamar mandi Bang," ucap Alcenna takut. Masih teringat jelas jenazah yang dimasukan ke dalam kubur.
"Ayo Abang temani."
Alcenna lalu shalat isya, dia melanjutkan dengan tahajud dan witir. Barulah dia naik kembali ke tempat tidur.
Pagi ketika bangun, Alcenna masih teringat mimpinya. "Itukah yang akan kurasa jika di tinggal mati suamiku," gumam Alcenna sambil membuatkan teh hangat untuk suaminya.
"Apa Cenn?" tanya suaminya karena tidak begitu jelas terdengar gumaman istrinya.
"Alcenn masih ingat mimpi semalam Bang," Alcenn masih bergidik ngeri mengingatnya.
"Makanya jangan pelawan sama abang," gurau suaminya.
"Ya Abang, jangan suka nyebali," balas Alcenn.
"Tu kan, itu aja masih juga menjawab," ucap suaminya tanpa ada nada marah.
"Minum Bang, Abang mau ke mana hari ini?"
__ADS_1
"Ada yang minta uruskan surat tanah, abang mau ke kantor BPN," ucap suaminya.
Suami Alcenna sejak usahanya gulung tikar, kembali kerja serabutan. Sebenarnya percekcokan yang terjadi bukan karena ekonomi yang utama dalam rumah tangga Alcenna.
Alcenna tak pernah ribut jika suaminya pulang tidak mendapatkan dan membawa uang pulang. Alcenna tidak kekurangan uang karena ibunya selalu mengirimkan dan Sammy juga selalu tiap bulan mengirim Alcenna semenjak dia tahu usaha suami kakaknya gulung tikar.
***
Namun masalah seperti inilah yang membuat Alcenna ribut dan akhirnya mengeluarkan kata- kata pedas. Itulah salah satu kelemahan Alcenna, dia tidak pintar mengontrol emosinya. Dan hal itu semakin kuat ketika dia menikah.
"Yank, kok gak mau lagi angkat telfon adek, marah ya?" tulis sebuah pesan di ponsel suaminya.
Alcenna biasanya tidak pernah suka mengotak- atik ponsel suaminya, begitu juga suaminya. Namun pagi ini ketika hendak membuatkan minum untuk suaminya terdengar bunyi notifikasi masuk di ponsel suaminya. Suaminya lagi di kamar mandi.
Alcenna mengurungkan niat untuk keluar dari kamarnya, dia membuka ponsel suaminya dan melihat pesan itu. Alcenna menyalin nomor ponsel tersebut dan meletakan ponsel di tempat semula dengan menghapus pesan tersebut.
Alcenna yang capek beribut dengan suaminya, memilih menghubungi nomor itu melalui sms saja. "Maaf saya istrinya Arzon, ada hubungan apa antara kalian berdua? Jika kalian saling mencintai dan hubungan kalian sudah jauh kalian boleh menemui aku," tulis Alcenna terang-terangan.
"Mbak salah sambung kali, saya punya suami dan tidak mengenal yang namanya Arzon," balasnya.
Alcenna menganggap mungkin demikian, dan tidak memperpanjang. Namun dia masih penasaran, di lain waktu dia mengecek panggilan ponsel suaminya, di sana banyak tertera no sama, yang me-sms suaminya. Begitu banyak panggilan keluar dan panggilan masuk serta tak terjawab.
Alcenna tidak lagi sms, esoknya dia langsung menelfonnya. Berulang kali tidak kunjung di angkat, Alcenna akhirnya memutuskan sms.
"Kamu perempuan, aku perempuan. Aku sudah katakan jika kalian saling mencintai temui aku. Aku tidak akan menjambak kamu atau mempermalukan kamu. Bagiku pelakor hadir karena ada kesalahan kedua pihak. Aku mungkin juga bersalah dan sadar, aku mungkin bukan yang terbaik baginya. Makanya kamu bisa masuk di antara kami sebagai IBLIS. Jadi dari pada kamu jadi iblis mending temui aku. Aku relakan." tulis Alcenna.
"Kamu aneh kenapa kamu bisa dengan suka rela melepaskannya, apa kamu tidak cinta?" balas si wanita.
"Siapa yang tidak cinta pada suaminya, orang lain saja bisa mencintai suamiku. Tapi aku bukan perempuan bodoh yang mau menangis untuk lelaki yang tidak setia. Mataku boleh menangis untuk masalah yang lain, tapi tidak untuk laki-laki yang punya perempuan lain. Tak ada dalam kamusku. Paham! Jadi kalau mau kalian temui aku. Menikahlah kalian, tapi suruh kekasihmu ceraikan aku dulu."
Tak ada balasan. Malamnya ketika suaminya berbaik-baik padanya. Alcenna bertanya dengan tenang, "Siapa wanita yang sering Abang hubungi, dia juga ada sms dengan Abang."
Banyak kaum lelaki kalau terdesak malah marah, begitu juga dengan suami Alcenna, "Jadi kau mengotak- atik ponselku! Hebat kau ya, aku saja tidak pernah memegang ponselmu!"
"Santai ... gak usah marah, aku tak pernah melarang kau untuk melihat isi ponselku. Aku membuka ponselmu karena mengikuti detak hatiku. Siapa sangka hatiku benar. Aku juga tidak melarangmu mau cari yang lain. Jika dia bisa lebih baik untukmu dan anak-anakmu, it's oke. Aku cuma inginmu katakan, di mana salah aku apa kurang aku, jika aku salah aku akan berubah jika itu memang kesalahanku." Alcenna bagai tanpa beban mengatakan semuanya.
"Kasih aku waktu tiga hari!" kata suaminya lalu pergi meninggalkan Alcenna.
**//**
Sian kamu Cenn, kalau aku sudah minta cerai. Kamu manusia terbuat dari apa sih Cen?
__ADS_1