
Malam hari ....
"Maaf baru bisa datang." Alcenna melihat wajah penuh rasa bersalah.
"Tak apa, aku paham. Kita ini cuma anak buah orang. Tidak mungkin kita yang mengatur." Alcenna berusaha membuat agar dia tidak merasa bersalah.
"Tadi kamu tidak mengangkat telepon, abang menelpon Azarine dan sudah banyak mendengar ceritanya. Abang juga baru tahu ayah dan ibu ke sini,dan kamu mengidap batu ginjal. Abang benar minta maaf tidak bisa menemani kamu. Di saat-saat kamu membutuhkannya."
"Ada yang lain yang menemani aku bang, bahkan dia juga yang menanggung semua biaya ini. Aku mesti ngomong dari mana sama kamu bang ...." Alcenna hanya bisa berkata-kata dalam hati.
"Kenapa kamu diam?"
"Aku hanya berpikir, ke mana abang sampai tidak memberi kabar!" Ada sedikit rasa penasaran.
"Abang sibuk, mengurus tagihan dan laporan luar kota." Alcenna hanya diam, dia merasa sedikit ganjil saja. Dia lebih memilih tidak membahas itu sekarang.
"Ada masalah atau masih ada yang sakit?" Arzon seperti merasakan ada yang tak beres melihat Alcenna diam.
"Tak ada yang sakit Bang, tapi ada masalah." Walau sedang di rumah sakit Alcenna sudah tak sabar membahas rencana pernikahan.
Arzon sudah meminta izin agar bisa menjaga malam ini. Kebetulan sekali, Alcenna juga ingin cerita dan bahas pernikahan. Alcenna nekat mengabari bosnya untuk tidak usah datang malam ini karena Arzon akan menemani.
"Masalah apa?" Lanjut Arzon kemudian.
"Aku ada masalah lain Bang, jika kita memperlama pernikahan kita. Jadi aku ingin kita menikah secepatnya." Alcenna tidak berputar-putar dalam menyampaikan. Namun menjadi sebuah bom bagi Arzon.
"Kenapa tiba-tiba di saat sakit kamu membahas yang begini? Apa tidak bisa menunggu keluar dari sini?" Terdengar nada protes darinya. Hal itu membuat dada Alcenna terasa sesak dan panas.
"Apa benar Abang mencintai aku?"
"Kurang apa abang Cen?" Bukan jawaban yang diberikan Arzon, tetapi balik bertanya.
"Mau tahu Abang kurang apa? Abang kurang tegas dan mengulur waktu."
"Cen ... abang tak ingin kita ribut di sini karena tiba-tiba Alcen membahas pernikahan." Nada bicaranya sedikit tinggi dan seperti tidak senang mendengar Alcenna membahas pernikahan di rumah sakit ini.
Walau memang terasa aneh, setidaknya Arzon bertanya alasan dibalik Alcenna mengajak menikah secara mendadak. Namun Arzon malah bersuara sedikit tinggi. Itu membuat Alcenna mulai tak tenang.
"Alcen bukan ngajak ribut Bang. Abang sekarang kenapa jadi menyebalkan begini! Tak ada enaknya diajak berkomunikasi. Aku malas ngomong sama kamu Bang. Pulang saja sana kamu!" Alcenna sudah tersulut emosi sejak nada bicara Arzon mulai meninggi.
__ADS_1
"Alcen ... kamu jangan keras hati gak tentu arah. Abang bilang nanti kita bahas setelah pulang, kenapa harus di sini!" Alcenna memang keras hati, dia tidak sabar untuk mendapatkan jawaban. Dia terlalu pusing dengan semua yang terjadi. Sayangnya Arzon kurang peka dan tak mau mengerti.
"Siapa yang keras hati haa! Apa beda di sana dengan di sini atau di mana saja. Semakin hari Abang semakin membosankan, tidak seperti Arzon yang aku kenal dulu. Pergilah dari sini, pikirkan kapan kau akan menikahi aku atau aku akan memilih orang lain!" Nada Alcenna semakin tidak terkontrol. Dilema di hatinya, ditambah kekasih yang menyalahkan dan tidak bisa diajak berbicara baik-baik membuat Alcenna bertambah pusing.
"Apa maksud kau Alcenna!" Dia pun mulai tersulut emosi dan menggunakan kata kau. Ini pertama kalinya. Membuat Alcenna bertambah sakit hati di tengah rasa gelisah yang sedang melanda hatinya.
"Pergi! Aku tak mau kau jaga malam ini! Kalau kau maupun, kau boleh pergi selamanya dari hidupku. Aku capek! Biar aku cari jalan hidupku sendiri, tanpamu!" Alcenna menahan tangisnya.
"Alceenaa!" Arzon entah sedang menghadapi masalah apa, dia seperti ikut kalap.
"Pergii! Aku bilang pergi kau dari sini! Biarkan aku sendiri. Aku tak mau hidup dengan pria egois!" Alcenna berteriak tertahan dan karena di kamar VIP, tidak begitu ada yang terganggu mendengar teriakannya. Jika adapun Alcenna tidak berpikir jauh.
Arzon melangkah pergi. Alcenna terguguh dalam tangisnya. Alcenna merasa benci padanya namun juga cinta di saat bersamaan. Alcenna sedih ketika dia memilih pergi dari pada menanyakan baik-baik pada gadis itu, kenapa tiba-tiba mengajaknya menikah.
"Aku benci padamu Bang. Aku memang salah telah jatuh cinta padamu. Aku muak dengan semua ini ... hiks... hiksss ... hikssss...."
Alcenna terus menangis di atas tempat tidur. Memeluk kedua lututnya ,dia membenamkan wajah di kedua lututnya. Dia terus tersedu sedan seorang diri di kamar rumah sakit ini.
Lalu Alcenna merasa seseorang merengkuh dia ke dalam pelukannya. Membawa wajahnya ke dada yang memeluk. Disela isak tangisnya, dia merasa hangat dan menenangkan hatinya. Alcenna bersyukur mengira Arzon kembali dan memeluk untuknya. Alcenna puaskan tangisnya dalam pelukan lelaki itu.
"Kenapa Bapak bisa di sini?" tanyanya masih terisak.
Bukannya menjawab, bosnya malah bertanya pada gadis itu, "Kenapa kamu menangis sendiri di sini?"
"Aku sedih Pak." Alcenna membuka diri pada bosnya.
"Kenapa sedih? Coba cerita," tanyanya lembut. Dia melepaskan pelukannya dan duduk berhadapan dengan Alcenna.
"Aku ingin membahas pernikahan bersamanya Pak. Aku tahu waktunya tidak tepat. Apa beda di sini atau di mana saja. Bagiku tak ada beda. Namun dia tidak senang dan aku tersulut emosiku sendiri Pak, dia juga. Aku mengusirnya karena sakit hati seakan dia tidak mau mengerti." Alcenna menceritakan tanpa dia tutupi lagi.
"Lalu kenapa kamu menangis? Apa karena dia pergi seperti yang kamu minta?"
"Aku kesal Pak, sakit hati diperlakukan seperti ini. Dulu dia tidak begitu, sekarang kenapa seperti makhluk menyebalkan?" Alcenna mengadukan pada bosnya yang merupakan rival Arzon secara tak langsung.
"Mungkin saja dia lagi lelah, banyak pikiran atau dia sedang ada masalah. Jangan terlalu dibawa hati dan membuat kamu menangis sedih. Saya tak suka melihat kamu menangis. Percuma semua yang saya lakukan, jika akhirnya kamu hanya terpuruk dalam kesedihan." Alcenna diam saja, apa yang dikatakan bosnya benar. Namun Alcenna heran kenapa dia bisa membela.
"Atau kamu lepaskan saja lelaki yang membuat kamu menangis."
__ADS_1
"Tadi bela sekarang malah jatuhi." Alcenna protes dengan masih sedikit terisak.
"Saya bukan membela, hanya memberikan gambaran kenapa dia bersikap begitu. Namun kalau kamu tidak bahagia untuk apa, belum lagi menikah sudah seakan nangis darah saja." Bosnya mulai mengejek.
Bosnya kembali berkata, "Perlu kamu ingat, lelaki yang suka membuat menangis ada lelaki yang tidak mencintai pasangannya."
Alcenna tak membalas perkataan bosnya, dia kemudian teringat kenapa bosnya ada di sini. Bukankah tadi dia sudah katakan akan ditemani Arzon. "Bapak kenapa bisa di sini?"
"Karena saya melangkahkan kaki saya ke sini," katanya dengan konyol.
"Maksud Ak___"
Dia memotong, "Saya hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja, siapa sangka disuguhkan pemandangan penuh tragedi dan sangat menarik," ejekannya kuat sekali.
"Dari kapan Bapak di sini?" tanya Alcenna curiga.
"Dari awal kamu bahas nikah. Dia benar, kenapa tiba-tiba? Apa kamu ingin menghindari saya Alcenna sayang?" Suara bosnya terdengar serius.
"Kalau iya, Bapak mau apa! Apa mau marah juga?" Alcenna sudah siap jika bosnya juga mengajak ribut.
"Hahahahaa ...." Dia tertawa lepas.
"Kenapa Bapak malah tertawa?"
"Saya ini bukan anak kecil seperti kamu Alcenna ... Gadis kemaren sore, sudah sok mau dewasa dan ngajak nikah pacarnya lalu marah ditinggal sendiri dan nangis," olok bosnya.
"Apa hubungan saya tanya tertawa sama jawaban Bapak." Alcenna terus mengejar jawaban dengan kesal.
"Yang saya ketawai ya itu, kamu itu masih kecil dan sudah sok mau menikah. Menikah juga niatnya menghindari pria dewasa yang tulus seperti saya," ejekannya masih dilakukannya dengan gencar. "Pacar kamu sama kekanakan seperti kamu."
"Maksud anda apa? Anda siapa?" Suara Arzon terdengar dari pintu seiring langkahnya mendekati mereka.
Alcenna sudah pasrah mereka saling bertemu. Alcenna tak mengira jika Arzon akan kembali. Tanpa merasa gentar, tanpa rasa bersalah. Bos Alcenna bangkit dan menyalami kekasih gadis itu sambil berkata, "Kenalkan saya Edysson. Saya mencintai kekasih anda sejauh ini!"
Alcenna melihat Arzon terperangah, sama dengan terperangah gadis itu mendengar ucapan Eddyson yang seakan menyiram bensin di tengah kobaran api.
"Maksud anda?" tanya Arzon. Ia belum paham sepenuhnya apa yang terjadi.
"Anda tahu kenapa kekasih anda tiba-tiba minta menikah sama kamu? Dia takut saya ajak menikah dan saya jadikan istri kedua." Jawaban Eddyson semakin membuat Alcenna stres karena kegilaannya mengakui di depan kekasihnya. Alcenna sudah pasrah sampai di mananya. Setidaknya dia tidak perlu repot menjelaskan alasannya mengajak menikah mendadak pada Arzon.
__ADS_1
**//**