
satu tahun berlalu setelah Arzon mempunyai usaha sendiri ....
"Apa kabarmu Cenn?" Putri bertanya pada Alcenna suatu hari setelah begitu lama tidak pernah ada kontak.
"Aku baik Put, kamu gimana?" ucap Alcenna lesu. Hari-hari tetap saja berisi pertengkaran. Padahal ini sudah dua tahun pernikahannya.
"Kenapa lesu Cenn, siap apa kamu he?" kelakarnya.
"Siap menghajar kain aku Put," balas Alcenna mengatakan siap mencuci.
"Dah berapa lama ya gak ada komunikasi?" tanya Putri.
"Satu tahun mungkin, bisa jadi 10 tahun," ucap Alcenna hiperbola.
"Lebai. Maafi aku, bukan berniat mau melupai kamu. Aku sibuk menyusun skripsi dan sibuk penelitian. Aku pun pindah ke Jakarta karena papaku pindah tugas. Urusan yang begitu banyak tak sempat aku berpikir lain," terangnya.
"Sama maaf Put, aku sibuk ngurus keluarga. Tak ada banyak aku menelfon siapa-siapa, bahkan ibu akupun, ibuku yang sering duluan menelfonku," jelas Alcenna.
"Kamu bahagia Cenn?" tanya Putri hati-hati.
"Bahagia Put," Alcenna berbohong.
"Kapan-kapan mainlah ke Jakarta ya, nanti aku jemput."
"Iya nanti ya kalau sudah terlapang, sekarang masih susah bagi waktu."
"Bosmu ada nelfonmu?"
"Mantan bos ya ... tak ada dia nelfon sejak terakhir bertemu sebelum dia pindah. Sudah lupa kali. Baguslah seharusnya begitu lebih baik." Mulut Alcenna berkata demikian, namun ada kepedihan di hatinya. Benar semua yang dikatakan Eddyson.
"Ohhhh." Putri hanya ber'ohh' saja.
"Jadi di Jakarta, sudah kerja kamu Put?"
"Belum, aku fokus dulu ambil S2. Sebenarnya aku ada mau pamit samamu, ingat kok aku Cenn, tapi hp mu dua hari gak aktif. Pas berangkat aku gak sempat, ini baru ingat aku samamu Cenn."
"Tegamu, dah setahun baru ingat aku lagi. Kawan aku cuma sebiji pun!" teriak Alcenna kesal. Putri tertawa.
"Kamupun gak ada nelfon duluan, jangan bilang kamu sibuk galau? Ayooo ngaku," tembak Putri.
"Galau apa, mana ada. Macam tak kenal aku saja kamu. Ada aku galau lebih dari dua hari?" bohong Alcenna lagi.
"Sudah berapa anakmu Cen?"
"Empat," menyebutkan anak tirinya.
"Anak yang kamu lahirkan sayang?"
"Belum ada, belum ada rezeki disitu nampaknya Put, tapi aku sudah cek, sudah ke lima dokter dalam dua tahun ini," Jelasnya pada Putri.
"Lalu apa kata dokter?"
__ADS_1
"Cuma kelainan hormon katanya, jika diberi obat hormon, datang bulanku pada awalnya teratur, tapi ini semakin kacau pun. Sudah minum obatnya pun tak datang. Jadi aku malas lagi Put. Sudahlah dulu," ucapnya pasrah.
"Sabar ya Cenn, mungkin kamu stres gak sayang?"
"Bisa jadi," jawab Alcenna pendek.
"Bosan kali di rumah?"
"Kalau dibilang bosan tidak juga kok Put, aku malah menikmati kerja di rumah ini. Santai tak ada tekanan. Kalau capek aku bisa tidur-tiduran."
"Syukurlah kalau begitu."
"Ya sudah besok di sambung ya, aku janji gakkan ngilang lagi darimu, hehehe."
"Baguslah ada teman aku lagi."
Sejak menikah Alcenna malah tidak ada kontak dengan dunia luar. Dia seperti tenggelam dalam dunianya sendiri. Dunia yang memberikan dia banyak masalah.
Namun dia bertahan. Bagi Alcenna, pernikahan bukanlah sama seperti pacaran, tidak suka, tinggalkan, tidak cocok putuskan. Bukan seperti itu. Alcenna tidak merasa bodoh mempertahankan rumah tangganya. Banyak hal yang dia timbang, mulai dari agama sampai moralitas.
Alcenna juga menimbang nama baik ibunya. Baru dua tahun menikah sudah cerai, apa kata teman-teman ibunya nanti. Apa juga kata tetangga. Banyak alasan yang membuat Alcenna bertahan dalam neraka yang dia ciptakan sendiri.
***
suatu pagi ....
"Hallo ...." Alcenna mengangkat nomor telfon dari tanpa nama.
"Hallo, ini dari mamaknya Arzon," nadanya sungguh tidak ramah.
"Mamak sudah berapa kali menelfon suamimu, tapi suamimu terlalu banyak alasan, yang dia bilang lagi luar kotalah, ngorder baranglah, entah apalah lagi alasannya," ucapnya. Alcenna jadi sasaran kemarahannya.
"Ada masalah apa Mak?"
"Rhania sama mamak, sudah seminggu di sini. Dia diantar sama mamanya. Kamu jemput sini anakmu. Mamak tak sanggup mengurusnya. Istri mamak keberatan," jelasnya.
"Oke Mak, aku telfon suamiku dulu minta izin keluar rumah," jawab Alcenna. Dia tersenyum sinis. Dia ingat bagaimana dulu soknya mamak keluarga suaminya dan mama Rhania mau mengurus anak.
"Telfonlah!" Sambungan telfon beliau putus tanpa salam.
Alcenna langsung menelfon suaminya. Ketika tersambung, "Assalaamu'alaikum Bang."
"Wa'alaikumussalam, ada apa Cenn?"
"Mamak Abang nelfon suruh jemput Rhania, dia diantar mamanya ke rumah Mamak Abang."
"Besok pagi saja kita jemput." Hari ini suaminya memang jadwal pulang dari luar kota.
"Oke, telfon sama Abang, jangan nanti aku juga yang salah di mata keluarga Abang."
"Ya, ya sudah Abang kerja dulu. Nanti abang telfon."
__ADS_1
***
Paginya mereka menjemput Rhania."Assalaamu'alaikum." suami Alcenna memberikan salam.
"Masuk," jawab mamaknya tanpa menjawab salam Arzon.
Rahnia duduk di dekat datuknya. Dia tersenyum canggung pada Alcenna. Mungkin karena setahun tidak bertemu.
"Ini Rhania, tidak di sekolahkan mamanya, kata mamanya kau gak ada ngasih biaya!"
"Aku sudah bilang hari itu, kalau anak mau sama dia urus sama dia, biayai!" ucap suami Alcenna berkeras pada mamaknya. Padahal itu ucapan Alcenna pada keluarga suaminya.
"Tapi kaukan bapaknya, ini tanggung jawab kau sebagai bapaknya!"
Suami Alcenna kehabisan kata-kata. Alcenna sudah muak melihat tingkah keluarga suaminya, akhirnya menjawab, "Tak usah mengkaji tanggung jawab suamiku Mak, bukankah di kampung dulu sudah jelas ceritanya! Dan lagi ini bukan harta yang anak Mamak punya, ini harta ibuku! Anak Mamak cuma makan gaji, yang untuk diri dan istrinya saja tidak cukup!" ucap Alcenna tajam.
"Kau__"
"Mak, cukup! Dia benar, dan jangan coba pernah melekatkan tangan pada istriku! Kemarin kalian semua yang sok mau membela mamanya. Kalau dia becus jadi ibu, tidak mungkin anaknya kocar-kacir.
"Ayo Nak kita pulang," kata Alcenna menarik pelan tangan Rhania untuk mengikuti duluan. Pamit pada datukmu dan ucapkan terima kasih karena sudah mau menampungmu sementara." Alcenna melontarkan senyum sinis.
***
Sore hari setelah Azarine memandikan Rhania, Alcenna membongkar baju yang dibawanya, Alcenna sungguh terkejut dan sakit hati.
"Bang, coba lihat ...."
"Kenapa Cenn?"
"Rhania, ke kamar ibu dulu ya Nak, pakai saja singlet sama rok pendek ini dulu ya, besok kita beli baju yang bagus. Minta pakaikan sama ibu kalau Rhania tidak bisa.
"Bisa Bun."
"Ya sudah pergi ke kamar ibu sebentar ya Nak." Dia mengangguk dan keluar.
Lalu Alcenna melihatkan sama suaminya, "Coba lihat baju apa yang dikasihnya ke aku, aku dulu membalikan Rhania padanya dengan baju-baju bagus yang baru aku belikan, karena bajunya banyak yang sudah tak pantas. Sekarang mana baju itu, ini baju zaman kapan sudah robek-robek begini. Satupun baju yang aku belikan tak ada!"
"Cari saja mana yang bisa dulu Cenn, hanya untuk dalam rumah saja."
"Iya tapi mana mungkin anak main dalam rumah saja."
"Kalau mau beli sekarang mana ada dana Cenn, abang harus bayar tagihan barang yang jatuh tempo."
"Duit untuk belanja rumah adakan?"
"Kalau untuk belanja rumah ada, sudah abang asingkan."
"Ya sudah itu saja kasih. Nanti Alcenn angsur saja belinya. Gak mungkin anak macam 'gembel' mau keluar," rutuk Alcenna.
"Ohh iya Bang, Alcenn minta maaf soal tadi ya. Tak ada niat Alcenn menjatuhkan harga diri Abang. Tapi biar Abang tak disalahkan orang kampung. Biar sajalah mereka pikir istri Abang yang kuasa. Aku juga selalu salah di mata mereka. Yang penting bagi aku keluargaku, Abang dan anak-anak."
__ADS_1
"Iya gak usah pikir, abang gak ada jadi soal."
**//**