
Setelah sampai di sebuah hotel bintang tiga, Ardhan memarkirkan motor di parkiran luar dari hotel.
"Tunggu di sini atau mau ikut?" Alcenna baru menangkap samar godaan Ardhan.
"Di sini saja, aku tidak akan menerima ajakan, takut khilaf dan terjadi yang diinginkan," kata Alcenna tetap serius. Membuat Ardhan akhirnya tertawa kecil.
Dari luar parkiran tidak terlalu luas dan kaca tebal pintu hotel tembus pandang. Alcenna bisa melihat Ardhan masuk ke lobi hotel dan mendekati meja resepsionis.
Lalu tak lama kemudian dia menuju ke arah Alcenna dan bertanya, "Kita mau ke mana dulu?"
"Tak capek? Kalau capek istirahat saja dulu besok pagi masih bisa ketemuan. Lagian ini sudah mau maghrib," Alcenna memilih untuk pulang lebih dahulu.
"Kalau ke rumahmu boleh?" tanya Ardhan serius menatap manik mata Alcenna.
"Boleh saja, tetapi jangan bahas kalau ada yang menguras air mata," katanya asal saja, dan Ardhan sedikit terhenyak. Alcenna melihat namun tak menggubris.
"Kasih alamat, nanti malam aku nyusul ke rumah dan sekarang aku istirahat dulu kalau begitu."
"Ok, aku pulang dulu." Alcenna pamit dan memutar kunci kontak motornya.
"Hati-hati."
"Ya."
***
Jam 19.30 WIB
"Jadi ke rumah? Alcenna memutuskan mengontak duluan.
"Ini sudah di jalan arah ke rumahmu, palingan 10 menitan lagi sampai," ujarnya.
"Tidak sulit mencari alamatnya?"
"Tidak, dulukan sekolah di kota ini, masih hapal sedikit seluk-beluk di sini."
Tak lama dia sampai dan Alcenna mempersilakan dia masuk, adik-adiknya sudah pada masuk ke kamar.
Apalagi Azarine setelah Alcenna mengatakan Ardhan mau ke rumah dia mengatakan, "Ohhh popeye jadi melamar."
Dia sengaja menggoda kakaknya, tetapi kakaknya menjawab, "Entah melamar entah mau putus." Lagi-lagi Alcenna asal bicara saja.
Alcenna keluar dengan segelas teh hangat dan beberapa potong kue basah yang dia beli ketika hendak pulang tadi.
__ADS_1
"Minumlah." Alcenna menawarkan dengan singkat.
"Jutek amat," kata Ardhan sambil menatap Alcenna penuh arti.
"Biasa saja perasaan."
Setelah Alcenna timbang-timbang lagi saat di kamar mandi menyegarkan diri. Dia ingin membahas di rumah saja. Dia lebih merasa nyaman dan adik-adiknya juga tak ikut campur andai kakaknya tak bercerita.
"Iya, nanti saja ... tidak mengusir cepat pulangkan?" senyum manis terbit di bibirnya mengurangi kecanggungan yang diciptakan Alcenna.
"Mana pula ada niat macam itu ... sudah makan? Kalau belum ayo aku temani makan. Aku lagi tak selera makan." Obrolan Alcenna terasa semakin lancar.
"Kenapa tidak selera makan, mau disuapi?" dia masih saja menggoda gadis itu.
"Tak usah ahh, takut kebiasaan, nanti tak ada yang tukang suapi lagi ... kekasih masih jauh dirantau orang ... entah kapan menepi dan kembali lagi." Walau dengan nada candaan, Alcenna sengaja menikamnya dengan kata-kata menyindir.
Dia tertawa dan menampakkan barisan gigi-gigi putih bersih yang berjajar rapi. Lalu katanya, "Masih sakit hati ceritanya?"
"Iya, masih sakit hati ... tetapi kemarin ketika tidak ada kabar dan tiba-tiba dapat telepon, orangnya sudah di Jakarta saja. Karena sekarang sudah di sini, pergi ke mana sakit hati itupun terlupa tanya. Ke Jepang dia kali." Bibir tipis Alcenna cuap-cuap panjang lebar dengan tak lupa memasukan kalimat sindiran.
Ardhan mengulum senyum simpul, dan tak berniat membalas sindiran Alcenna. Lalu dia memandang dengan serius dan menatap lama. Seperti ada yang tersirat untuk dikatakan pada Alcenna tetapi gagal.
Tak kunjung Ardhan bersuara dari pada hati Alcenna yang ketar-ketir, belum penasaran yang segunung. Alcenna memutuskan bersuara duluan. "Jangan pandangi lama-lama loh, nanti tidak jadi bisa mutusin dan berpikir jernih." Seulas senyum manis Alcenna suguhkan di wajah cerianya..
Tanda-tanda dia akan berbicara belum juga."Sepertinya kita bahas di rumah ini saja, tenang dan nyaman lagi." Kembali Alcenna memancing percakapan. Alcenna semakin yakin melihat sikap Ardhan yang sedikit gelisah.
"Hmmmm ... mau bahas yang mana satu ini? Bahas menikah atau lima bulan lebih menghilang?" ucap Ardhan dengan suara beratnya.
Alcenna diam sejenak, menimbang yang mana mau dibahas, tapi dia berpikir, untuk apa bahas yang sudah lewat. Dengan dia datang lebih baik membahas masa depan. Hati kecil Alcenna memutuskan.
"Bahas masa depan sajalah, yang lalu mau dibahas pun sudah terjadi," katanya terkesan bijak.
Sebelum menjawab dia meminum tehnya beberapa teguk dengan gaya tenangnya. Di luar tenang, di dalam siapa yang tahu. Dalam samudera bisa di ukur, dalamnya hati siapa yang bisa menyelami.
"Alcen inginnya menikah cepat?" tanyanya.
"Maunya sih begitu, entah yang tanya," jawab Alcenna santai. Tepatnya berusaha untuk santai.
"Kalau kita tunda dulu bagaimana?" Ardhan mengajukan tawaran.
"Berapa lama lagi?" tanya Alcen semakin mulai tak enak hati.
"Sepertinya dalam tiga tahun ini. Kalau untuk menikah, aku mungkin belum bisa." Ardhan terdengar sangat berat mengatakannya.
__ADS_1
"Jadi?" Alcenna sudah bisa menebak ke mana arah pembicaraan janji lima bulan lalu, dan Alcenna sudah tak ada niat menanyakan alasannya.
"Jadi dari pada nanti Alcen menanti-nanti hanya membuang usia. Apalagi Alcen pernah bilang, tidak ingin menikah terlalu lama dan kalau dapat jangan lebih dari usia 25, bahkan ingin nikah di usia 24 tahun?" tanya Ardhan dengan lugas.
"Iya," jawab Alcenna hanya dengan satu kata saja.
"Makanya, selama lima bulan lebih itu jangan salah sangka. Aku hanya menimbang-nimbang di sela santai. Berpikir sudah siapkah aku menjadi seorang suami? Sudah bisakah aku membahagiakanmu?" Dia terdiam sejenak.
"Lalu?" Alcenna bertanya sesantai mungkin agar tidak terdengar seperti mendesak jalan pikiran Ardhan terlalu jauh.
"Jujur ... aku merindukanmu di setiap waktu santai, ya di waktu kerja aku bisa fokus dengan kerjaan. Tapi waktu istirahatku atau ketika kapal menepi di dermaga, aku gunakan untuk memikirkannya ...." Ardhan memberikan penjelasan.
"Jadi akhirnya hatimu belum siap?" Alcenna menyela dan menyimpulkan apa yang disampaikan Ardhan di awal tadi.
"Begitulah." Dia dengan jujur mengakuinya.
Ibarat pribahasa, sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. Ditanya masa depan, masa lalu pun terjawab sudah.
"Bagaimana kalau aku tunggu lima tahun lagi?" Alcenna coba bernegosiasi, jika para CEO bernegosiasi soal bisnis, gadis itu mencoba soal waktu, waktu pernikahan. Miris ....
"Aku tidak ingin menggantungkan terlalu lama, waktu tiga tahun itu saja sudah lama apalagi lima tahun. Kita tidak tahu hati siapa yang berubah duluan, bisa saja aku atau kamu."
"Bagaimana kalau sekarang aku katakan aku ada yang lain?" kata Alcenna dengan berani. Dia juga tak ingin seperti sedang selingkuh.
"Memang sudah ada yang lain tampak selama aku tidak kasih kabar?" Bukannya menjawab dia malah balik melemparkan Alcenna dengan pertanyaan.
"Maaf ... ada seseorang yang hadir dalam lima bulan ini. Dia memang rajin berkomunikasi, bahkan aku sudah sering bertemu dengannya. Lebih baik aku berkata jujur biar tidak ada beban di hati. Juga aku tidak ingin terdengar seperti selingkuh!"
Ardhan masih diam, Alcenna pun melanjutkan. "Tidak ada hubungan lebih dengannya, sampai saat ini murni hanya berteman." Lalu Alcenna menceritakan dengan singkat awal bertemu.
"Kalau dia serius lebih baik terima dia, dari pada menunggu aku yang tidak ada kepastian. Jangan buang waktu percuma," katanya dengan nada bicara yang begitu teratur dan lembut. Walau terdengar lembut tapi serasa ada anak panah dihujamkan ke dada Alcenna dan menembus ke jantungnya. Perih ... sakit.
Alcenna tak menyangka, kekasih yang dia sayangi selama ini, sanggup memberikan dia izin secara tidak langsung pada lelaki lain. Rasanya tidak ada yang harus dia pertahankan lagi. Bagi Alcenna sudah cukup membuang waktu lima tahun ini.
"Baiklah kalau begitu keputusannya, aku terima. Karena hari sudah semakin malam, apa tidak sebaiknya kembali ke hotel dan beristirahat? Habiskan tehnya, makanlah roti itu dulu," ucap Alcenna dengan perlahan. Ardhan menuruti dengan meneguk habis air minumnya.
Setelah itu, "Aku permisi, maaf mungkin mengecewakan hatimu. Kuharap kita tak putus komunikasi. Jika ada kesulitan, hubungi aku. Jika aku masih bisa membantu apapun itu aku akan bantu untukmu." Kata janji yang sudah tidak Alcenna perlukan lagi.
Alcenna hanya mengangguk. Kering sudah air mata dirasa Alcenna. Kalimat itu yang cocok untuk tidak mengeluarkan air mata. Hati Alcenna sebenarnya hancur tetapi dia tak bisa menjabarkan perasaannya.
Alcenna mengantar dia ke depan pintu, lalu dia berbalik. "Angkatlah telepon seperti biasa saat aku menghubungi ... jangan sampai di reject."
Egois sekali permintaannya, tapi sekali lagi hanya anggukan yang Alcenna berikan. Alcenna tidak tahu, apa akan sanggup jika dia benar menghubungi. Dalam hati, lebih baik sampai di sini saja. Kita putus sampai di sini berakhir tanpa ada komunikasi lagi. Alcenna menutup pintu dan menuju kamar.
__ADS_1
**//**