
Alcenna berbaring indah sambil melamunkan serentet kisah yang terjadi. Seperti ada benang yang tak mau diputus walau sudah dia putuskan. Alcenna merasa bisa gila gara-gara mereka.
Cerita cintanya seolah berputar pada kasih yang tak bertepi. Ibarat kapal di laut lepas yang hilang arah. Berputar dari sisi satu ke sisi lain lalu kembali ke titik semula.
Hati manusia itu lemah. Begitu pun hati Alcenna. Dia seperti manusia plin-plan. Bukan seperti, tepatnya memang menjadi plin-plan. Diputus kekasih membuat dia ingin bermain api dengan mantan kekasih.
Capek hati capek pikiran, itulah yang dia rasa kini dalam hubungan percintaan yang tak ada kejelasan satupun. Jika dia manusia lemah, dia akan meratap pilu seperti beberapa gadis di usianya yang putus cinta. Hanya satu kekasih lalu menjadi setengah gila bahkan ada yang gila. Tidak dengan Alcenna.
Dia malah berkata, "Apa salah dan dosa yang telah aku lakukan Tuhan, sehingga jika aku berjalan di darat aku selalu tersandung di batu besar. Jika aku berjalan di air aku akan tenggelam dan jika aku berjalan di udara aku akan jatuh bebas lalu nyawa akan berpisah dari ragaku ... hikss... hikssss," kata batinnya hiperbola. Nyatanya dia tidak menangis begitu.
Alcenna Moswen bukanlah gadis melankolis, berlarut sedih, lalu tak bisa menapaki jalan hidup. No ... No ... itu bukan sifat Alcenna Moswen.
Patah tumbuh hilang berganti ... mati satu tumbuh dua itulah sifat dirinya. Gadis muda yang kata orang lagi labil mencari jati diri, tetapi dia tidak, dia sudah punya tujuan ketika tamat sekolah menengah pertama, apalagi ketika dia menginginkan sesuatu. Hanya saja nasib belum berpihak sepenuhnya padanya.
Dulu dia benci dirinya yang menganut paham mati satu tumbuh dua. Seolah dia bukan gadis setia dalam percintaan. Detik ini dia justru bersyukur, setidaknya dia masih bisa tersenyum menyambut mantan hadir di depan mata, tanpa harus menyiksa jiwa. Senyum manis kembali menghias bibirnya.
Tok ... tok ... tok ... terdengar pintu kamar diketuk. Alcenna bangkit dan mengintip di lubang pintu yang tersedia. Walau dia sudah bisa mengira siapa yang mengetuk, tak ayal membuat dia tersedak ludahnya sendiri.
Alcenna membuka pintu tanpa merapikan penampilan yang berantakan. Rambut jingkrak sana jingkrak sini karena berbaring indah tadi. Masa bodoh ... bodoh amatlah. Itulah pemikiran acuhnya.
"Loh belum mandi?" kata Ardhan, saat Alcenna melongok kepalanya.
"Belum ... kenapa?" tanya Alcenna.
"Masih capek ya?" tanya Ardhan.
"Gak juga tuh ... kenapa?"
"Gak lapar? Cari makan yuk?" Ajak Ardhan ramah.
"Hmmm bolehlah, tapi traktir ya?" kata Alcenna ambil kesempatan. Dia mulai berani memanfaatkan keadaan.
"Boleh." Irit sekali jawaban Ardhan.
"Ikhlas apa tidak?" tanya Alcenna lagi. Padahal dia tahu, Ardhan memang tipe begitu.
"Ikhlas, cepatlah."
"Aku mandi dulu. Sebentar saja, ngilangin gerah badan." Alcenna minta waktu untuk mandi biar segar jumpa mantan terindah. Menurut Alcenna yang lagi kumat gilanya.
"Oke, aku tunggu di lobi saja," Alcenna balas dengan mengangguk.
Tidak sampai 15 menit dia menyusul di lobi, dia hanya memakai bedak tabur dan lipglos saja. Alcenna melihat Ardhan sedang duduk manis sambil memainkan androidnya.
__ADS_1
"Jadi pergi?" Alcenna menegur karena tidak menyadari kehadirannya.
Dia menoleh dan memasukan androidnya ke kantong jaketnya. "Ayo."
Mereka pergi ke salah satu kafe yang menyediakan makanan Italia di Jaksel. Alcenna memilih kafe yang tidak terlalu besar tetapi interiornya cukup ramai. Sekali-sekali bolehlah memberi kesenangan pada cacing-cacing yang kelaparan memakai uang mantan. Alcenna begitu berniat memanfaatkan momen bersama mantannya.
"Pesan apa Cen?" Serasa kembali ke masa lalu, saat Alcenna mendengar dia bertanya mau apa. Tetapi masa lalu hanyalah masa lalu. Alcenna dan dia di masa kini.
"Spaghetti serta Pizza, minumnya ngikut kamu saja." Alcenna benar-benar akan menguras kantong mantan kalau begini.
Ardhan pun menyebutkan pesanan pada pramusaji dan setelah itu pramusaji dengan sopan meminta mereka untuk menanti.
Ardhan menatap mata Alcenna dengan dalam, jika dulu tatapannya sanggup membuat Alcenna meleleh dan tersipu malu. Kini semua itu biasa saja. Dia menikmati setiap skenario yang diberikan padanya.
"Kamu tambah cantik ya Cen." Alcenna tidak mendengar nada gombal di dalamnya. Murni pujian karena perubahan wajah gadis itu yang lebih dewasa dan matang.
"Kamu saja yang tambah jelek." Alcenna tidak ikut andil untuk memujinya. Jika Alcenna ingin berkata jujur, Ardhan juga terlihat lebih tampan dan dewasa. Alcenna tak akan membiarkan Ardhan besar kepala dan tak akan membiarkan dirinya jatuh untuk ketiga kalinya di tempat yang sama, di hati Ardhan.
"Boleh tanya sesuatu gak Cen?" Nadanya masih selalu penuh percaya diri.
"Tanya saja. Gratis."
"Gak pakai marah-marah ya?" Dia langsung membatas.
"Sudah ada pengganti aku Cen?" Akhirnya dia melancarkan jurusnya.
Pertanyaan yang sudah Alcenna tebak sebelum dia mengucapkan dan sudah Alcenna sediakan jawabannya. "Apa waktu bertahun-tahun lalu tidak membuat kamu benar-benar mengenal yang namanya Alcenna?" Gadis itu mengucapkan dengan nada yang santai tanpa tekanan.
"Entahlah ... mungkin iya mungkin juga aku salah, tapi Alcenna yang aku kenal dulu, tidak pandai cepat membuka hati untuk orang lain mengisi hari-harinya," katanya dengan yakin.
"Sepertinya kamu salah mengenal atau memang Alcenna yang kamu kenal sudah tidak ada. Mati bersama cintanya pada kekasih yang menolaknya." Masih dengan nada santai Alcenna berkata, namun dia memberi sindiran.
Alcenna melihat gurat kepedihan di matanya. Mungkin dia terluka dengan kalimat-kalimat pedas gadis itu, tetapi Itu jauh lebih baik, karena gadis tersebut tak ingin ada hubungan lebih. Cukup sebatas teman saja.
Pramusaji datang menghantarkan pesanan dan mempersilakan mereka menikmati hidangan. Alcenna tak lupa untuk mengucapkan terima kasih pada pramusaji.
"Makanlah dulu nanti kita jalan-jalan di kota ini." Dia mengajak tanpa bertanya Alcenna menyetujui apa tidak.
Alcenna tak segan menyantap hidangan di depannya. Seakan dia tidak makan berhari-hari. Sebenarnya bukan tidak makan berhari-hari, yang lebih tepat hampir jarang-jarang dia menikmati makan makanan ini. Alcenna melahap dengan santai penuh kenikmatan traktiran sang mantan.
Alcenna teringat Putri, yang sering mentraktir Alcenna makan beginian, itupun ya tidak sekaligus dua menu seperti ini. Bukan karena Putri tak mau membayarkan, Alcenna yang tak ingin memanfaatkan lebih kebaikan hati sahabatnya.
__ADS_1
Setelah menghabiskan pesan tadi, kini mereka sedang berkeliling di salah satu toko pakaian di mall ini. Ardhan meminta bantuan Alcenna untuk memilihkan salah satu baju yang akan dipakai saat pelatihan besok. Saat Ardhan di kamar pas, mencoba baju kemeja pilihan Alcenna, dia merasa ponselnya bergetar.
Awalnya dia mengira Arzon yang sms, ternyata bosnya. Ada rasa kecewa sedikit di hati Alcenna, ketika tahu itu bukan sms dari Arzon. Ternyata mulut mudah untuk mengatakan baik-baik saja, tidak dengan hati.
"Sudah tidur?" tanya bos Alcenna. Semakin berani saja bosnya sms di malam hari. Seperti tiada takut dia ketahuan dengan istrinya. Alcenna mengabaikan.
Panggilan malah masuk ke ponselnya. Alcenna tak mengangkatnya. Setelah dua panggilan tak terjawab, masuk kembali sebuah sms. "Angkat panggilan saya! Sudah punya nyali lebih? Mau saya pecat?"
"Hallooo .... "Sengaja Alcenna bersuara agak keras. Alcenna bukan takut ancaman dipecat, tetapi dia tahu persis bosnya tak akan menyerah. Daripada bikin rusuh, mending Alcenna memilih tidak mengabaikan.
"Apaan sih kamu Alcen, teriak-teriak membuat sakit gendang telinga saya saja." Bosnya setengah mengomel dan Alcenna terkikik puas.
"Bapak itu yang apaan, pakai telepon di malam hari. Apa tak takut kalau istri Bapak tahu?!" Alcenna berkata setelah selesai terkikik.
"Ngapain saya takut, yang biayai hidupnya saya." Mulai kumat sifat ngbossnya dan nada sombongnya.
"Ohhh jadi begitu. Kalau saya yang Bapak biayai maka juga akan semena-mena dengan saya juga?"
"Kamu bedalah ... kamu kesayangan hatiku." Percaya diri sekali bosnya berkata dan Alcenna hanya menganggap bosnya lagi menggombal.
"Gombal lelaki hidung belang dimulai!" katanya tanpa takut dia akan marah karena mengatai bosnya hidung belang. Bukannya marah, bosnya malah terkekeh. Aneh.
"Kamu di mana!" Uff dasar bos, menanya yang katanya kesayangan hati pun, masih dengan sifat ngeboss.
"Aku di mall Pak," kata Alcenna jujur.
"Ngapain kamu di mall?? Sama siapa?"
"Iss anehnya Bapak ini, di mall ya cuci-cuci mata saja, karena tak bisa shoping." Alcenna menjawab suka hatinya saja.
"Sama siapa?" Dia ingat juga menuntut jawaban yang belum Alcenna kasih.
"Teman."
"Teman apa teman?" Terdengar nada cemooh bosnya.
"Teman-temanan," kata Alcenna sambil memutar bola mata melihat sekeliling. Apa ada yang memperhatikan gerak-geriknya. Jangan-jangan dia mengawasi sampai ke sini," batin Alcenna.
Alcenna yang sedang celingak-celinguk dengan ponsel masih ditempelkan di telinga mendengar Ardhan menyapa, "Melihat siapa Cen?" Tiba-tiba Ardhan sudah di dekat Alcenna dan bertanya dengan suara beratnya.
"Ohhh temannya cowok yang berjaket hitam." Dengan penuh ejekan bosnya berkata menusuk pendengaran Alcenna.
Alcenna membuang napas kesal. Dan tak menggubris pertanyaan Ardhan. "Bapak benar memata-matai saya yaaa!!" Tanpa sadar teriakan lengking Alcenna, mengundang beberapa pasang mata yang merasa terganggu dengan suaranya.
**//**
__ADS_1