Tolong Aku SuamiKu

Tolong Aku SuamiKu
Tolong Aku suamiku.


__ADS_3

Manusia hanya bisa berusaha dan berdoa, hasilnya di tangan Allah. Begitu juga dengan Arzon. Semakin hari usahanya semakin merosot lalu pada suatu hari usahanya bangkrut.


Kehidupan Alcenna kembali di guncang prahara, kuliah yang setengah jalan, Allya yang keluar dan pergi dari rumah tanpa pamit padanya. Suaminya yang mulai sibuk dengan temannya, kebohongan-kebohongan yang tak bisa Alcenna terima. Membuat Alcenna terpuruk.


Mereka mulai menciptakan dunia sendiri-sendiri. Alcenna sibuk dengan temannya dan suaminya juga sibuk bersama temannya. Namun dengan tertatih-tatih, Alcenna tetap bisa menamatkan kuliahnya. Dia mendapatkan beasiswa dan bantuan dari ibunya.


Suatu hari Alcenna sudah tidak kuat mendengar laporan Azarine, Rhania semakin besar selalu membuat ulah. Dilarang malah menjadi.


Alcenna yang juga tidak lagi harmonis dengan suaminya menjadi tidak tahan mendengarnya. Alcenna yakin itu wujud dari pemberontakan dia ingin kembali pada ibunya. Alcenna meluluskan keinginan Rhania. Alcenna mulai bosan.


"Aku sudah tidak kuat mendengar aduan Azarine, Azarine sendiri sudah kewalahan. Rhania sedikit pun tidak mau lagi mendengar perkataan Azarine. Aku mau kau kembalikan anak-anak pada mamanya, selama ini mamanya mau enak sendiri. Aku juga sekarang mau bebas," putus Alcenna.


"Terserahlah," ucap Arzon ketus. Alcenna tidak mau tahu, suaminya ikhlas atau tidak.


Alcenna menelfon ibunya, " Bu, Alcenn sudah putuskan biar Rhania dan Alif sama mamanya. Mamanya sudah kembali walau tanpa suaminya. Mungkin mereka lebih ingin hidup sama mamanya. Makanya mereka seakan memberontak agar dipulangkan."


"Tapi ...."


"Tak ada tapi-tapi Bu, maaf. Alcenna benar sudah tidak kuat. Biarkan saja mamanya yang urus. Kalau papanya mau kembali, itu jauh lebih bagus Bu. Alcenn jadi tidak perlu banyak berpikir. Alcenn lelah dengan semua ini Bu, Alcenn juga punya impian sendiri."


"Iyalah kalau begitu," kata ibunya setengah hati. Alcenna sadar dan sangat tahu, ibunya sangat menyayangi Rhania. Namun Rhania semakin tidak bisa diatur.


"Maafkan Alcenn Bu. Ada Azarine dekat Ibu?" tanya Alcenna.


"Ada."


"Hallo Dek, gini sajalah, bisa tolong antar anak- anak ke sini? Biar nanti diantar papanya atau siapalah ke tempat mamanya.


"Ok Kak," tak ada bantahan dari Azarine.


***


Sejak tak ada satupun yang ikut dengan Alcenna. Sikap suaminya semakin menjadi-jadi kepada Alcenna. Alcenna sedih. Dia berpikir, benar bahwa dia hanya dianggap baby sitter. Omongan kasar sering diterimanya. Tak punya darah daging menambah sedih hatinya.


Hingga suatu hari dia berkata, "Ini surat nikah kita ...." serah Alcenna.


"Untuk apa?" Suaminya bertanya.

__ADS_1


"Bawalah ke pengadilan agama, kalau aku yang menggugat nanti kau malu," ucap Alcenna.


"Kau ingin pisah?"


"Aku sudah tak kuat, aku bosan masalah dalam rumah tangga itu-itu saja, anak ke anak. Aku letih denganmu, aku letih dengan sikap keluargamu. Aku sadar aku bukan istri yang sempurna, aku bukan ibu yang baik bagi anak-anakmu. Aku ingin cari hidupku sendiri," kata Alcenna yakin.


"Kau menyesal?"


"Ya aku menyesal, sangat menyesal dengan yang telah kita lalui. Andai dulu aku tak memilihmu. Dari awal sudah banyak masalah kita."


"Aku yang menyesal seharusnya, gara-gara kau aku berdosa dengan anak-anakku!" ucap suaminya.


Ingin Alcenna menjerit, di mana lagi letak salahnya, jika dikatakan berdosa dia yang mengabaikan Alcenna.


"Jadi kau tidak merasa berdosa padaku. Aku yang sudah kau minta pada orang tuaku, aku yang kau ambil dengan nama Tuhanmu." Alcenna sudah tak ingin menangis.


Suaminya lalu memakai baju dan pergi meninggalkan Alcenna, jika dulu Alcenna menahan kini Alcenna hanya diam.


***


Namun Alcenna dilahirkan dari ayah-ibu yang berjiwa baik. Alcenna tak sampai hati. Dia tahu suaminya pasti belum makan. Dia tahu suaminya lebih baik menahan lapar dari pada meminta pada temannya. Dia tahu suaminya tak memegang uang sepeser pun. Dia sangat paham siapa suaminya.


"Sudah makan Bang?" tanya Alcenna dengan lembut menurunkan egonya.


"Belum," masih terdengar nada yang tak bersahabat dari suaminya.


"Ayo kita beli nasi, tadi ibu ada mengirim duit." Alcenna kini kembali disuport ibunya.


"Nantilah hujan," jawab suaminya dingin.


Alcenna yang juga menahan lapar karena menunggu suaminya, menjadi naik pitam. Mulut yang pada dasarnya bijak dan pedas, tidak bisa Alcenna kontrol. Darah seakan mengalir ke ubun-ubun dengan cepat. Hatinya yang panas tersulut amarah merambat ke seluruh pembuluh nadinya.


Kata-kata kurang pantaspun akhirnya meluncur, "Kau memang dasar suami tidak bertanggung jawab. jangankan untuk makan aku, untuk makan kau sendiri tidak bisa kau cari. Itu pula kau bilang kau berdosa pada anakmu gara-gara aku! Jika ada jangankah duit kau, duit orang tuakupun rela aku minta untuk biaya pendidikan anak-anak kau, terutama anak kau yang sok hebat pakai lari dari rumah aku. Sama siapa juga akhirnya kau mengemis, sama akukan. Apa salah aku, kau yang tidak mampu tapi aku yang kau salahkan atas kepergian Allya pada kakaknya. Kau biarkan dia pergi, tak bisakah kau ajarkan anakmu, tak perlu untuk sayang padaku, tahu terima kasih saja sudah cukup bagiku. Aku yang selalu salah di matamu yang tidak tahu soal kepergian anak kau. Kenapa keluargamu selalu menyalahkan aku. Jika ada yang harus disalahkan, itu kau, kau yang berbohong padaku!" Alcenna berteriak meluapkan emosi yang bercampur rasa lapar.


Dia tanpa pamit, keluar dengan motor maticnya menerobos hujan, hujan yang awalnya hanya gerimis menjadi deras seakan menemani tangisan Alcenna yang semakin deras.


Alcenna terus melarikan motornya dengan pelan, hatinya merintih, "Tolong aku ... suamiku. Jangan biarkan aku dalam derita duka nestapa. Engkau telah memintaku dengan orang tuaku. Mengambilku dengan nama Tuhan mu. Jangan limpahkan semua kesalahan ini padaku. Sungguh aku tak mampu lagi bertahan. Jika ada yang harus disalahkan, dirimu yang lebih bersalah. Aku sudah berusaha menjadi istri yang baik dan ibu yang penyayang bagi anak-anakmu, bahkan bukan darah dagingku. Tolong aku ... sudah aku korbankan segalanya untuk kebahagianmu dan anak-anakmu. Sampai aku lupa cara membahagiakan diriku sendiri. Kini air itu sudah melewati leherku. Aku tak sanggup, akankah kau biarkan aku tenggelam dalam dosa-dosaku. TOLONG AKU SUAMIKU ....," ratap Alcenna dalam hati dalam hujan yang mengguyur tubuhnya.

__ADS_1


Alcenna yang tertimpa air hujan mulai surut amarahnya. Jika kamu marah dalam posisi berdiri maka duduklah, jika masih marah berbaring, dan jika berbaring belum hilang, maka wudhu atau basuhlah muka. Maka marahmu akan hilang. Kini Alcenna sadar, benar perkataan Nabinya, Air hujan yang menimpah seluruh tubuhnya. Seakan mendinginkan hawa panas di tubuhnya.


Dia masih menangis, menangis karena telah berkata kasar pada suaminya. Seharusnya dia tidak terpancing amarah. Alcenna berhenti di sebuah rumah makan kecil, "Bang tolong bungkus dua nasinya, sambalnya ayam cabe."


"Oke Dek, kenapa hujan-hujan Dek?" sapa ramah Abang pembungkus nasi.


"Gak apa Bang, madamkan api amarah," ucap Alcenna yang sambil senyum, dikira bercanda oleh yang dengar.


"Makasih ya Bang," ucap Alcenna ketika selesai membayar pesanan.


"Yakin gak berteduh dulu Dek?"


"Tidak Bang, makasih."


Alcenna lalu juga berhenti di sebuah warung,dia membelikan suaminya susu kental manis. Sampai di rumah, dia melihat suaminya duduk termenung menyandarkan tubuhnya ke dinding ruang keluarga.


Alcenna masih diam, dia mengganti bajunya yang basah lalu dia membuatkan suaminya kopi susu panas. Alcenna juga meletakkan nasi di meja makan beralaskan piring. Dia menyusul suaminya.


"Makan yuk Bang, sudah aku belikan nasi," ucap Alcenna kembali lembut.


"Makanlah dulu, abang belum lapar," jawab suaminya pelan. Terlihat butiran bening mengalir di mata yang sudah merah.


Rasa sayang yang diikat ijab dan kabul masih tersisa. Dengan memeluk Alcenna berkata, "Maafkan kata-kataku ya Bang, Ayo kita makan dulu, Alcenna juga sudah buatkan Abang kopi susu, Abang pasti belum makan dari siang," ucap Alcenna juga berderai air mata. Lama dia memeluk dan sama menangis.


"Ayo, nanti minumamnya dingin," ucap Alcenna serak meredam tangisnya. Suaminya ikut berdiri ketika Alcenna menariknya. Alcenna membukakan nasi bungkusnya, dia menghapus sisa air mata di pipi suaminya. Dia mencium lembut pipi kanan suaminya.


**//**


...Maafkan aku sayang, sudah membuat mu menangis 😢😢...


...Aku juga menangis jika readers ku marah padaku karena membuat air mata mengalir di wajah tampanmu. 😭😭😜***...


...



...

__ADS_1


__ADS_2