
Suatu Pagi di kantor Eddyson ....
"Pak, kita perlu Alcenn untuk datang menjumpai mantan suaminya, sebelum sidang perceraiannya dilanjutkan," kata Robby dengan tenang.
"Maksudnya?"
"Mantan suaminya mempersulit, dia tidak mau menanda-tangani surat panggilan dan juga tidak akan pernah mau datang jika Alcenna tidak datang menjumpainya untuk terakhir kali."
"Dasar tak tahu malu laki-laki satu itu! Dia tidak tahu apapun tentang penderitaan istrinya. Dia malah mau menambahnya!" Eddyson terlihat menahan emosi.
"Saya bukan tidak mau mengerasi dia Pak, tapi ada bagusnya kita cerita ke Alcenna. Jangan nanti apa yang kita lakukan malah tidak berkenan di hatinya."
"Kamu benar Rob. Nanti malam kita coba bicarakan pada Alcenna."
"Bagusnya begitu Pak."
"Entah apa yang ingin dia utarakan pada Alcenna Pak."
"Iya bisa jadi. Nanti kita bahas."
"Ok Pak."
"Saya ada rapat dengan orang yang akan membuat resort. Saya pergi dengan Adam saja. Kamu yang hendle kalau ada urusan lainnya ya. Kerjaan kamu terlalu merangkap saya buat."
"Iya Pak, tak ada masalah."
"terima Kasih."
***
Malamnya mereka berempat sudah di rumah Alcenna. Kebetulan Sammy juga ada.
"Sam, sibuk?" tanya Eddyson di ruang tamu ketika Sammy hendak meninggalkan ruang tamu."
"Tidak juga Mas, ada apa?"
"Duduklah dulu, ada yang ingin kami bahas." Sammy pun duduk di samping Robby.
"Ada apa Mas?" tanya Alcenna.
"Kita tidak pakai emosi ya, kita cari jalan yang terbaik."
"Soal sidang?" tanya Alcenna yang mulai merasa ada yang tidak beres. Dia feeling soal sidangnya.
"Kamu benar."
"Dia mempersulit?"
"Ya."
Alcenna sudah tidak serapuh dulu. Dia sudah jauh lebih kuat dan tegar.
"Jadi baiknya bagaimana Mas?" tanyanya.
"Gimana bagusnya kata pengacara Rob?" Eddyson sengaja melibatkan Robby. Robby yang telah bersusah payah mengurus.
"Pengacara sudah menemui dia di kotanya. Namun dia menolak bercerai denganmu."
__ADS_1
"Apa yang diinginkannya Kak?" tanya Alcenna kalem. Putri sebenarnya sudah ingin meradang. Namun dia ingat kata bosnya yang tidak boleh pakai emosi.
"Dia ingin berjumpa denganmu, baru mau menandatangani surat gugatan itu," kata Robby.
"Mas ingin dengan cara kekerasan tapi kata Robby belum tentu kamu setuju. Mas dilema mengingat kejadian di apartemen Robby dengan kemarahan kamu jika nanti tidak sesuai dengan keinginamu," ucap Eddyson bimbang.
"Tidak usah takut Mas, tidak akan terjadi lagi."
"Jadi apa keputusanmu?"
"Kak Robby benar, jangan jalan itu. Dia punya anak bahkan mungkin sudah punya istri. Bagaimanapun anaknya tetap anak aku di mata Tuhan, walau aku bercerai dengan ayahnya, aku tak putus hubungan dalam agama dan aku tak ingin semua berbalik ke kita, bisa saja orang besok menekan kita juga. Kita jumpai saja Mas," kata Alcenn memutuskan.
"Kamu yakin?" Bukan Eddyson yang bertanya tapi Robby.
"Aku yakin Kak, tapi temani aku bisa?"
"Kenapa gak mas saja yang nemani? mas-kan sudah kenal juga dengannya." Eddyson protes tidak terima.
"Justru itu masalah, aku tak ingin dia menghalangi karena rasa tidak terima dia. Aku takutnya mas yang jadi tumbal kesalahan."
"Mas gak peduli disalahkannya," kata Eddyson dengan sengit.
"Mas jangan kekanakan deh, apa yang buat Mas tidak terima aku pergi dengan kak Robby? Mas cemburu??" Mereka hanya melihat Eddyson mengusap mukanya penuh frustasi.
"Kalau itu yang Mas pikir, apa mas tidak percaya dengan hatiku?" tanya Alcenna dengan lembut, namun intonasi suaranya cukup tajam.
"Aku akan marah kalau Mas cemburu buta! Mas pasti tahu juga kalau soal urusan kak Robby bisa lebih kejam dari Mas. Jadi soal keamanan aku juga aman ditangan kak Robby." Alcenna masih menjabarkan apa yang dia pikirkan.
"Iya Mas tahu," katanya tidak berdaya. Ingin Putri menyemburkan tawa mengejek. Seorang Eddyson benar tidak berdaya di bawah tekanan Alcenna. Namun Robby langsung memberi kode dengan meremas tangan Putri yang terletak disamping sisi tubuhnya. Putri menoleh. Dia paham dan menyimpan senyumnya.
"Trus apa masalahnya lagi?" desak Alcenna.
"Aku bisa bawa Putri kalau Mas kasih izin dia, Sammy tidak mungkin. Dia lagi sibuk menyiapakan kepindahannya, iya kan Dek?"
"Kakak benar Mas, bukan gak mau bantu, aku hanya anak buah orang. Banyak laporan yang aku siapkan sebelum pindah tugas."
"Iya, pergi sama Putri juga," ucapnya lega. Putri jelas tersenyum senang. Alcenna juga. Entah apa telepati orang tu berdua, Eddyson menyadari reaksi muka Putri dan Alcenna.
"Jangan bilang kalian ada rencana lain??" ucap Eddyson santai dan lembut. Baginya tidak masalah jika Alcenna bernostalgia dengan temannya. Dia percaya pada hati Alcenna.
"Hahahaha ... payah bohongi Mas ya," tawa Alcenna.
"Muka kalian tuh sudah bicara duluan," ucapnya penuh pengertian.
"Jadi boleh Pak?" tanya Putri.
"Boleh, tapi tidak soal pria lain!" tegasnya.
"Alcenna aman Pak, aku bolehlah Pak," kata Putri.
"Kamu juga tidak boleh, ada Robby yang harus kamu jaga hatinya!" kata Eddyson penuh rahasia.
"Eheeemm ...." Robby hanya sanggup mendehem.
"Alcenna dan Putri saling pandang. Mereka berdua yakin jika Robby tidak ada rasa pada Putri. Akan tetapi kenapa ucapan Eddyson penuh rahasia. Mereka tidak ambil pusing. Mereka berdua seakan punya pikiran yang sama. Bermain di kota yang telah lama mereka tinggali.
"Amankan Mas, lihat tuh wajah mereka berdua berseri-seri, tidak ada yang perlu diresahkan. Soal keamanan serahkan saja sama kak Robby dan temannya yang suka pakai jaket hitam itu!"
__ADS_1
Eddyson mendelik pada Sammy, dia tidak menyangka kalau Sammy tahu Robby ada teman yang membantunya jika diperlukan. Putri dan Alcenna tidak peduli mereka sudah asyik membahas agenda di kota lama mereka.
"Aku balik kamar ya Mas, Kak Robby. Aku titip dua makhluk unik itu yang ternyata mereka macam anak-anak juga kalau sudah ada rencana," Sindir Sammy. Putri sama Alcenna hanya memanyunkan bibir mereka. Eddyson gemas melihat kelakuan Alcenna.
"Ehemmm, asyik sekali kelihatan bahasannya. Mau ke mana saja?" tanya Eddyson tak bisa menghilangkan penasarannya.
"Mau jumpa Marya yang pastinya. Kami boleh tempat ibukan sehari saja Mas, jadi agak lama bawa Putrinya. Kak Robby sudah siap urusan soal sidang gak apa pulang dulu. Aku takut jumpa Arzon saja kalau sendiri."
"Ya boleh juga gitu, urus sidang dulu. Setelah itu terserah mau kemana asal pulang lagi ke Jakarta. Kepelukan Mas!" tegasnya.
"Siiip. Putri benar gak apa pulang lama Mas?"
"Tak apa, dia kan bos kecil di kantor Mas," kata Eddyson. Putri merasa tersindir.
"Benar gak apa ni Pak?"
"Kalau saya pribadi tak ada masalah. Kamu paling, telinga kamu yang sakit diomongi suka hati sesama rekan kerjamu. Kalau gosipi saya gak tegas sama kamu mana berani mereka."
"Ohhh itu cuek sajalah Pak, kalau Bapak benar gak terganggu. Saya penting happy dululah apalagi pergi sama Alcenna."
"Kamu benar tidak tahu Put, kenapa saya agak longgar sama kamu?" pancing Eddyson ingin tahu.
"Karena Alcenna," katanya sambil menunjuk Alcenna santai.
"Kamu pikir sehebat itu Alcenna?"
"Maksud Bapak?" tanya Putri. Alcenna merengut.
"Kenapa kamu merengut sayang, kalau bagi saya kamu hebat. Namun bukan itu saya longgar dengan yang namanya teman kamu urusan pekerjaan!"
"Jadi Maksud Mas apa?"
"Kamu tidak tahu kalau ayahmu ada 10% sahamnya di perusahaan saya."
"Ohhh.... gak tahu Pak, papi gak pernah bahas."
"Dan itu atas namamu!" Putri ternganga.
"Papi melakukan itu Pak?" Eddyson jadi yakin ada salah paham antara Putri dan Ayahnya. Eddyson menyadarinya setelah Alcenna cerita soal pribadi Putri.
"Iya, jauh sebelum kamu bekerja diperusahan saya. Ketika awal jumpa kamu dan tahu kamu bekerja di perusahaan saya, saya kira ayah kamu yang merekom. Hanya saya heran kenapa kamu hanya sebagai staff pemasaran. Saya baru tahu hari ini jika itu berarti murni usahamu sendiri."
"Bapak kan kenal papi juga, apa Bapak gak pernah bertanya pada papi? Papi tahu saya bekerja di perusahaan Bapak. Walau jawab papi hanya Ohhh saja."
"Saya tidak mungkin bertanya itu sama papimu. Kamukan tahu saya hanya dekat sebatas bisnis dan pemilik saham."
"Mas sih juga kaku sama orang lain!" ucap Alcenna.
"Berani sekarang ya ngatai Mas?"
"Perasaan dari dulu Alcenna gak takutlah Sama Mas, sekarang aja yang takut."
"Kenapa kamu jadi takut sama mas, mas tak ada keras sama kamu, tak ada paksa kamu...." ucap Eddyson bingung.
"Iyaaa, Alcenna hanya takut kehilangan Mas," ucapnya serius. Eddyson tertegun. Hatinya begitu bahagia. Akhirnya dia berhasil mendapatkan hati Alcenna setelah sekian banyak yang dilaluinya.
Putri dan Robby hanya memandang Alcenna dengan senyum. Mereka bahagia melihat Alcenna bahagia. Sungguh di dunia ini tak ada yang bisa membuat bahagia selain perasaan tulus seseorang.
__ADS_1
**//**