Tolong Aku SuamiKu

Tolong Aku SuamiKu
Teman Dalam Selimut


__ADS_3

"Ayo tidur Mas, sudah malam," ucap Alcenna. Padahal jam baru menunjukkan pukul 21.30 wib.


Eddyson hanya senyum melihat istrinya cari alasan. "Ya ayolah tidur. Penting sekarang mas punya teman dalam selimut."


"Mana ada orang bilang teman dalam selimut, yang ada musuh dalam selimut," protes Alcenn. Eddyson hanya senyum simpul.


Mereka mulai masuk dalam selimut. Alcenna menghadap kelangit-langit kamar. Eddyson mngganjal kepalanya dengan tangan kirinya. Dia menghadap pada Alcenna. Memperhatikan Alcenna yang hanya asyik memandang langit-langit kamarnya.


"Apa ada? ada yang kamu pikirkan?" tanya Eddyson.


"Iya." Alcenna menghela napas.


"Apa? Ceritalah,"


"Anak."


"Anak siapa?" tanya Eddyson. Sebenarnya dia sempat geregetan melihat cara ngomong Alcenna yang suka ambigu.


"Anak kitalah Mas."


"Habis irit sekali kata-kata mu sayang," ucap Eddyson memencet hidung Alcenna.


"Apa kita coba saja program bayi tabung itu,secarakan Mas gak melarat," gurau Alcenna sambil nyindir Eddyson suka sekali menggunakan kata itu dulu.


Eddyson tergelak. Dia sadar kalau lagi disindir. "Sabar sayang. Nanti saja kalau kita sudah berusaha maksimal baru jalan itu kita coba. Doa dan usaha saja kita dulu."


"Iya, Alcenn yakin bisa hamil tanpa harus proses bayi tabung," ucap Alcenna.


"Nah kamu saja sudah yakin, jadi sabar saja."


"Iya ya Mas, ini saja masih belum coba sudah patah semangat."


"Makanya jangan patah semangat, kita mulai dari olahraga malam dan pagi hari. Mas yakin berhasil. Kita juga banyak doa dan sedekah. Ok sayang,"canda mau Eddyson.


Alcenna menoleh dengan senyum yang dimengerti oleh suaminya. Mereka berolahraga tapi bukan di kolam renang yang kata Alcenna gaya orang kaya. Namun didalam selimut.


"Asyikkan sayang kalau saling ikhlas?" tanya Eddyson serius. Alcenna mengangguk kecil.


"Ulang atau tidur ni?" tanya Eddyson masih memeluk sayang istrinya.


"Ulang ... dalam mimpi Mas saja," ucap Alcenna jengah. Dia masih saja malu jika Eddyson menggodanya. Dia merasa jauh beda saat hidup bersama mantannya. Hatinya ringan, senang dan selalu merasa berbunga-bunga. Eddyson begitu bisa mengerti dirinya.


"Kalau gitu kita mandi apa wudhu saja dulu?" tanya Eddyson.


"Alcenn mandi sajalah Mas, keringatan. Biar segar jadi nyaman tidurnya."


"Pergilah, atau mau sama-sama?" tawar Eddyson serius.


"Ndaklah Mas. Nanti Mas curang!"


Eddyson geleng-geleng kepala mendengar tuduhan tak beralasan istrinya.


Mereka gantian mandi, lalu tidur dengan nyaman dalam pelukan suami yang sangat mencintainya.


****


"Pagi Ma, Ibu, Pa, dan adikku tersayang," sapa Alcenna dengan kebahagiaan yang tidak bisa ditutupi.


"Duhhh senang kali sepertinya putri kita Dek," goda mama Ningrum.


"Iya Mbak. Senang hati ini rasanya Mbak. Semoga kita bisa dapat momongan ya Mbak," ujar Ibu tiba-tiba berkata yang dulunya tidak pernah terucap dari bibirnya.

__ADS_1


Semua berkata, "Aamiin."


Mereka makan pagi dan merencanakan untuk liburan honeymoon. Mereka sepakat ke korea saja. Mengikuti maunya pengantin baru.


"Alcenn balik kekamar duluan ya Ma, Bu," pamit Alcenna. Mama mengedipkan mata dan ibunya hanya mengangguk.


"Eheem ... gak ajak Mas ni?" goda Eddyson seakan tak pernah puas.


"Tidak yaa Mas, Alcenn mau nelfon kak Robby dan Putri. Suruh mempersiapkan. Bisakan mereka libur Mas?" tanya Alcenn penuh harap. Alcenn tak bisa bersuka cita tanpa membawa mereka yang ada dimasa sulitnya.


"Bisa, Putri kan bukan staff biasa dan Robby apa yang tidak bisa bagi dia," jawab Eddyson.


Alcenna menuju kamarnya. Eddyson walau di tertawakan semua pasang muka masa bodoh. Dia mengikuti Alcenna.


Dikamar ....


"Sayang apa gak sebaiknya kita usaha dulu untuk mendapatkan buah hati kita?" ucap Eddyson. Dia berharap ucapannya menjadi doa yang terkabul.


"Iya Mas, oke," jawab Alcenna memberikan lampu hijau.


"Istri Mas yang solehah," peluk Eddyson dan mencium sambil membaca doa untuk istrinya. Mereka memulai misinya dengan saling menerima. Alcenna merasa dia semakin yakin akan mendapatkan dan menghadirkan buah hati mereka.


"Mas yakin, jika tiap malam kita saling memberikan maka kita akan diberi apa yang kita harapkan sayang," ucap Eddyson dengan penuh titik peluh di tubuhnya.


"Tiap malam? bilang saja ambil kesempatan!"


"Pagi malam lah biar lebih jelas ambil kesempatannya ...." ucap Eddyson terang-terangan.


"Oke tapi kalau capek tak boleh langgar ucapan semalam yaa??"


"Iyaa, aman."


"Satu lagi, puas-puaslah olahraga Mas sebelum Alcenn kewalahan ngurus anak Mas. Jika ada anak, apa masih mau ngalah ni?"


"Yakin tuh? banyak rumah tangga yang dingin karena ada anak diantara mereka. Awalnya istri tidak punya anak ingin punya anak kata suami, siap ada anak, bilang istri tak perhatian sibuk anak-anak saja!" Alcenna menyuarakan isi hatinya.


"Itu rumah tangga mereka bukan kita sayang, mas tak akan melakukan itu padamu. Percayalah. Bukannya sudah mas bilang kita harus saling mengisi?"


"Mmm ... baguslah bikin hati tenang dengarnya." gumam Alcenn.


"Makanya sekarang waktu kita masih berdua biar mas nikmati kamu seorang diri. Besok ada junior mas janji akan ngalah," ucap Eddyson dengan ssnyum misterius.


"Awas Mas, Alcenn mau mandi. Mau nelfon Putri." Alcenna cepat bangkit dan pergi kekamar mandi. Eddyson tersenyum puas. Hatinya sulit untuk dilukiskan.


"Mas janji akan membahagiakan kamu sayang. Tak akan mas biarkan kamu menderita batin lagi," gumam Eddyson. Dia menyusul Alcenna mandi.


*****


"Hallo Put, lagi apa?"


"Lagi berdiam diri dalam kamar," ucapnya santai.


"Tak jumpai kak Robby?"


"Ngapain?"


"weekend ...."


"Papi Mami mana?"


"Biasaaa sibuk urusan masing-masing," ucap Putri santai. Dia sudah terbiasa sendiri.

__ADS_1


"Jenuh ni?"


"Sedikit iya, tapi malas mau ganggu pengantin baru."


"Jangan ganggu akulah, aku lagi kerja keras buati kamu keponakan biar ada yang nyusahi mu lagi ... hahahaaa...."Alcenna tertawa bahagia.


"Dasaaar, pasti kamu yang godai bos jutek aku kan?? gurau Putri.


"Aku ini tetap wanita pemalu walau sudah dewasa. Lagian aku tak boleh buka cerita itu yaaa, tabuuu. Ganti topik saja!"


"Huuuh...."


"Kami mau ngajakmu dan kak Robby juga. Liburan sekalian honeymoon."


"Serius, kemana?"


"Koreaaa ...." teriak Alcenna yang hanya disenyumi Eddyson.


"Gak jadi ke paris gitu?"


"Tidak, habis duit suamiku nanti!"


"Peliiit," teriak Putri.


"Biariiin. Pergi ajak kak Robby saja, diakan juga banyak uang tuh. Kamu juga punya sahamkan di perusahaan bosmu?"


"Nikah dulu maunya," canda Putri.


"Nikahlah, biar aku yang sampaikan." Tawaran Alcenna hanya di bawa tertawa oleh Putri.


"Jadi kekorea ni?" tanya Putri.


"Iya donk, aku mau jumpai soong Jong-ki," ucap Alcenna bercanda.


"Berdua yaaa, aku juga suka dia."


"Tadi macam tak semangat diajak kesana." Mereka berdua memang begitu ngefans dengan duda keren itu.


Eddyson hanya mendengarkan percakapan dua sekawan itu. Macam tak ada pria lain yang lebih rupawan dimata mereka. Eddyson tidak posesif soal aktor. Dia cukup paham hanya sebatas menggemari.


"Ya sudah, aku telfon kak Robby dulu yaa."


"Ok."


"Mas, kamu yang ngajak kak Robby ya. Kalau Alcenn yang ajak akan banyak alasan mahkluk satu tuh," Alcenna mengerutu sendiri.


"Ok, tar Mas ajak."


"Jangan lupa ya, kita sudah janji loh sama mereka berdua."


"Iya sayang," ucap Eddyson.


Mereka akhirnya berbaring cantik saja. Alcenna merasa sedikit lelah. Eddyson bisa melihatnya.


"Tunggu sebentar ya, mas ke bawah dulu." Alcenna mengangguk dan dia meringkuk indah di ranjang pengantinnya.


Tak lama Eddyson kembali. Dia mengambil segelas air putih dan sebuah multivitamin. "Sayang, minum ini dulu. Maafi mas ya."


Alcenna bangun dari pembaringannya. Dia duduk dan menerima multivitamin yang diambil Eddyson. Alcenna meminumnya dan meletakan gelas kosongnya dinakas samping tempat tidurnya.


Dia memeluk Eddyson dengan penuh rasa sayang. Jangan merasa bersalah Mas. Alcenn suka kok," kata Alcenna bersemu merah. Dia meletakan kepalanya didada Eddyson menyembunyikan wajahnya. Eddyson mengecup puncak kepalanya. Dia berkata pada Alcenna, "Istirahatlah dulu ya, mas ada kerja dikit diruang kerja papa."

__ADS_1


"Iya Mas," ucap Alcenna. Alcenna mulai memejamkan mata dia ingin berlayar dipulau kapuknya.


**//**


__ADS_2