
"Kamu benar minta cerai sama suamimu?" tanya orang tua Shinta ketika Shinta datang."
"Iya Pi, aku lelah."
"Bisanya kamu hanya mikir lelah. Kamu mikir tidak, bagaimana cara menyambung hidup kamu. Sudah jadi bos besar malah kamu tinggali." Orang tuanya Shinta seakan tidak rela. Seakan suksesnya Eddyson karena anaknya.
"Aku sudah minta rumah, mobil dan dikasih duit setengah milyar Pi. Apalagi yang kurang."
"Tapi kamu tidak bisa lagi mau jalan ke mana saja!"
"Aku sudah bosan Pi, aku sudah puas. Aku ingin bahagia juga pi, bukan dari segi materi saja. Papi bilang enak pergi kemana-mana tanpa suami."
"Bullshit semua alasanmu itu. Kamu juga pernah hidup pas-pasan? Setiap sebentar kamu menelfon mamimu mengatakan ingin minta cerai!"
"Sudah Pi, mending aku pulang saja. Aku hanya ingin memberi tahu saja. Hargai juga keputusan aku Pi," ucap Shinta.
"Kamu minta tambah lagi sama suamimu sebelum jadi mantan, minta setengah milyar lagi. Suamimu sekarang sudah kaya!"
"Aku tidak mau Pi, aset yang dia beri sudah tinggi harganya. Aku tidak ingin berurusan lagi dengannya. Aku mengenal siapa dia Pi, dia memang bisa sangat baik pada seseorang namun jika di marah, sifatnya sangat kejam Pi, dia takkan segan menyengsarakan orang itu."
"Papi gak takut sama ancamanmu. Jika kamu tidak ingin, biar Papi yang mintakan padanya!"
"Aku sudah ingatkan Papi, aku sudah tanda tangani surat perjanjian. Jadi biarkan saja dia. Asal Papi tahu, aku tak pernah ikut membantu merintis usahanya. Dia hanya berusaha sendiri beserta jajarannya. Bukan aku. Aku sudah sangat bersyukur dia mau memberi aku rumah dan uang itu. Mobil pun sudah dia beri."
"Papi akan tetap meminta hakmu!"
"Sudahlah Pi, Shinta yang lebih tahu. Kita ini sudah di usia senja Pi. Bisa kumpul sama anak-cucu, kita sudah bahagia." Akhirnya sang mami Shinta ikut bicara.
"Mami diam sajalah, mami tahu apa selain ngurus rumah ini!" hardik suaminya dengan kasar. Terlihat maminya Shinta hanya menghela napas.
"Satu yang Papi harus tahu, aku yang bersalah dalam kematian anakku, tapi selama ini aku menutupi penyesalanku dengan menyalahkan dia. Aku yang pembangkang. Aku juga yang tidak mau mengerti dirinya. Ketika aku ingin mengerti aku sudah terlambat. Aku tahu pasti hatinya tidak untukku lagi. Untuk apa aku bertahan. Kami akan sama menderita."
"Maksudmu suamimu selingkuh?" tanya Papinya seakan mendapat celah.
"Aku tidak tahu pasti, karena aku tidak pernah begitu peduli padanya. Aku hanya memuaskan egoku selama ini. Cinta yang awalnya tulus di antara kami, aku salah gunakan. Aku tergiur dengan materi dan melupakan apa yang dia butuhkan dan inginkan. Aku tidak menyalahkan dia Pi. Ada atau tidak adanya wanita lain di sisinya. Aku sadar aku yang salah dalam hal ini."
"Ya sudahlah!" Papinya Shinta berkata penuh tekanan. Namun tersenyum samar yang tidak menjadi perhatian Shinta dan maminya.
***
Sebulan telah berlalu, Eddyson meninggalkan rumah lamanya. Sidangnya sudah mulai berjalan. Eddyson tidak pernah sekalipun berkunjung atau menjumpai Alcenna. Selalu Robby yang menjadi matanya.
Dari Robby juga, Eddyson tahu Alcenna sudah jarang bersedih. Dia fokus memikirkan rencananya ke depan setelah Eddyson memberikan modal. Kafe dan butik menjadi planning Robby, Putri dan Eddyson sendiri.
Siang ini Eddyson ada rencana makan di luar bersama relasi bisnisnya. Dia ditemani Robby.
"Pak, ada yang mau saya sampaikan pada Bapak," kata Robby tetap fokus menyetir.
__ADS_1
"Soal Alcenna?" kata bosnya. Robby terkadang gemas juga lihat bosnya. Isi kepalanya dan hari-hari hanya Alcenna, Alcenna dan Alcenna. Sudah tua bucinnya mengalahkan pasangan ABG.
"Bukan Pak, soal ayah bu Shinta."
"Kenapa dia?"
"Awalnya saya kira kebetulan saja jumpa mertua Ba___"
"Mantan Rob," potongnya cepat. Robby malas berdebat. Setahu dia mertua tidak ada jadi mantan, karena kedudukannya sama dengan orang tua. Ketika hubungan suami-istri terputus, maka yang menjadi mantan hanya istri /suami tersebut saja. Tapi tidak dengan mertua, menantu dan cucu. Tapi percuma berdebat itu sekarang. Ada hal yang lebih penting dibahas Robby.
"Iya Pak, ayah mantan istri Bapak memata-matai Bapak. Awalnya saya kira hanya kebetulan saya melihat dia disekitar kantor. Ketika kali kedua saya lihat, saya akhirnya mengupah orang untuk memata-matai balik, ternyata benar. Bapak yang dipantaunya."
Eddyson hanya tersenyum sinis, "Biar saja Rob. Biar waktu dan tenaganya habis. Aku sudah paham dengan sifatnya. Dia tak berpuas hati akan perpisahan aku dan anaknya. Ini hal yang jadi alasanku tidak mau menjumpai Alcenna. Aku tak ingin dia terlibat."
"Iya Pak aku jadi paham, setelah dapat info itu. Jadi kita biarkan saja Pak?"
"Biarkan saja, sampai sidang selesai. Jika dia nekat setelah itu. Aku tak segan membuat dia mendekam di bui! Aku sudah bosan selalu mengalah!"
"Ok Pak."
Mereka telah sampai di sebuah restaurants. "Hallo Pak, maaf lama menunggu," kata Eddyson berbasa-basi.
"Tidak Pak, kami juga baru saja sampai."
Mereka makan siang sambil berbicara bisnis. Setelah selesai makan, pembicaraan semakin serius.
Lalu seseorang dari relasinya mulai mempresentasikan proposal mereka. Eddyson dan Robby mendengarkan dengan seksama. Eddyson sengaja berbicara di luar kantor. Dia mencoba melebarkan sayapnya dari perusahaan Consumer Goods ke bidang sanggraloka.
"Oke saya dan wakil saya akan pelajari terlebih dahulu. Kasih kami waktu, secepatnya saya akan mengontak anda Pak," ucap Eddyson.
"Ok Pak, kami tunggu kabar baiknya."
***
"Saya diantar ke hotel saja Rob, biar pria tua itu puas hati." Eddyson masih tinggal di rumah kontrakan. Rumah yang ingin dia beli, sudah dapat, dia baru memanjarnya saja dan membayar dengan cara bertahap seperti kesepakatan.
Eddyson masuk ke sebuah kamar hotel dan meminta Robby menghandle pekerjaan. Eddyson lelah. Rindu dan pekerjaan membuat energinya terkuras. Dia ingin menjumpai gadis kesayangannya. Ingin mendengar tawa canda dan sindiran gadisnya. Namun ditahannya sebisa mungkin.
Di kamar hotel Eddyson mengontak Alcenna melalui vc, "Hallo sayang," godanya ketika wajah Alcenna muncul dilayar handphonenya.
Alcenna hanya mengkerucutkan bibirnya dan mengernyitkan dahinya. Tingkahnya yang seperti itu bisa membuat Eddyson terkekeh dan melupakan penat pikirannya.
"Mas benaran rindu sama kamu sayang," kata Eddyson tak lepas dari kata sayang.
"Tapi aku tidak Mas," kata Alcenna tanpa perasaan. Sebenarnya sejak sebulan Eddyson tak pernah menjumpainya, Alcenna seperti merasa ada yang kurang. Dia yang tercari-cari bayangan Eddyson tanpa sadar menimbulkan rasa lain di hatinya. Dia belum tahu apa itu sekedar penasaran atau dia mulai jatuh cinta, dan mulai melupakan kenangan pahitnya.
Alcenna yang pada dasarnya suka penasaran mulai bertanya, "Mas sibuk apaan sih?"
__ADS_1
"Carii kamu modal," ucapnya bercanda.
"Seriuslah, Mas bisa nelfon kapan saja tapi kok mucul langsung tak bisa?"
Eddyson kebingungan mau dari mana ceritanya, dia akhirnya berkata, "Kamu maukan dengarkan kata Mas?"
"Mau, kalau tak dosa nanti kata orang sudah tua tak didengar," ciri khas Alcenna nurut tapi tetap ada sindiran.
"Hahahaha ... ini yang Mas rindu dari kamu, sindiranmu selalu pedas. Bisa buat mas semangat."
"Jangan banyak cerita, ada apa?" Alcenna tak lupa rasa penasarannya.
"Tunggulah sampai mas selesaikan semuanya, nanti mas janji ceritakan semuanya padamu, fokus saja pada usaha yang mau Alcenn rintis."
"Hmmm ya laa, mudahan tak mati penasaranlah," kata Alcenn dengan mimik wajah yang lucu.
"Jangan matilah sayang, mas benaran bisa ikut mati," ucap Eddyson serius. Alcenna bisa melihatnya.
Alcenna yang dulunya trauma dengan kata mati, kini malah tersenyum melihat raut Eddyson. Ternyata kata mati juga tidak jadi mengerikan diucap jika jawaban yang diberikan sanggup menghangatkan hati. Hati Alcenna.
"Gayaaa lagi ...."
"Mas serius, mas belum lagi mendapatkan cintamu," ucap Eddyson hanya dengan bercanda-canda. Eddyson masih tak ingin membuat Alcenna tertekan.
Alcenna hanya tersenyum miring menanggapi gurauan Eddyson. Mereka bergurau-gurau hingga waktu sudah setengah jam berlalu. "Mas tutup telfonnya ya, mas mau istirahat sebentar. Sabarlah menjelang mas bisa temui kamu ya, nanti kita pergi berlibur dengan Putri dan Robby."
"Serius Mas?" kata Alcenna semangat tapi siap itu wajahnya jadi ragu.
"Kenapa wajahnya jadi gitu?"
"Tak enak sama Istri Mas," aku Alcenna jujur.
"Gak usah merasa bersalah gitu, Alcenn masih ingat waktu Alcenn di rumah sakit? Mas katakan, kamu tahu apa tentang saya! Ingat?
"Ingat."
"Besok mas cerita juga pada waktu kita jumpa,oke?"
"Iya deh Mas, hati-hati ya dan semoga mas sukses selalu," ucap tulus Alcenna. Perhatian dan ucapan Alcenna membuat Eddyson bahagia. Gadisnya memang bisa diandalkan.
"Aamiin, makasih atas perhatianmu ya Cenn."
"Mas jangan senang dulu, bukan perhatian itu tapi pengharapan. Kalau Mas tak sukses aku bagaimana mau minta modal, hahahaha." Alcenna tertawa ngakak. Eddyson ikut tergelak.
"Sudah Mas, selamat istirahat." Alcenna langsung memutus sambungan telfonnya.
Eddyson menjadi begitu bersemangat. Ternyata cinta bisa jadi penyemangat dan sekaligus kehancuran. Cinta oh cinta.
__ADS_1
**//**