
"Mau makan apa sayang?" ucap Eddyson santai. Alcenna hanya mengkode agar tidak bersikap berlebihan.
Eddyson bukan tidak paham, namun dia tak ingin Alcenna salah paham ataupun sedih. Tepatnya Edysson tak ingin gadisnya merasa cemburu dan tidak dianggap.
"Kenapa? Tidak usah dipikir, dia cuma bagian masa lalu. Kamu masa sekarang dan masa depan mas," ucap Eddyson membuat jantung meleleh mendengarnya.
Shinta dan Eddyson seakan tak saling mengenal. Alcenna merasa Shinta tidak mengenali dia lagi, karena perubahan Alcenna yang cukup drastis dalam penampilan. Alcenna yang dulunya tidak berhijab dan memakai baju pas bodi kini tertutup. Siapa yang tidak pangling. Shinta yang tidak ingat padanya jauh membuat Alcenna jauh lebih nyaman.
"Mas kenapa seperti orang asing dengan bu Shinta?" suara Alcenna terdengar hampir seperti orang berbisik.
"Dia yang takut kali sama calonnya. Makanya mas gak suka kita ada rahasia jadi gak salah paham dalam rumah tangga kita kelak," ucap Eddyson santai.
"Iya Mas, Alcenn setuju. Sepertinya bu Shinta tidak mengenaliku lagi Mas."
"Gimana mau kenal, gadis urakan jadi femi begini." Alcenna tersenyum. Dia merasa begitu tersanjung.
Sementara Eddyson dan Alcenna berinteraksi, Shinta memperhatikan diam-diam. Tak luput dari perhatian pria yang di samping Shinta.
"Ada apa? Mas perhatikan kamu selalu melihat kepasangan yang baru masuk tadi. Kamu kenal atau kamu senang melihat betapa serasinya mereka?"
"Menurut Mas mereka serasi?" tanya Shinta ingin tahu.
"Iya, yang satu tampan yang satu cantik. Prianya hangat wanitanya terlihat manja walau tidak begitu terlihat. Tapi mas bisa nebak wanitanya manja," ungkap jujur sang pria.
Shinta tiba-tiba menjadi cemburu, "Apa Mas suka wanita manja?"
Sang pria tersenyum. "Kamu cemburu?"
"Sedikit."
"Mas gak suka, wanita manja. Mas suka wanita dewasa seperti kamu."
"Yakin?"
"Yakin 100 persen."
"Mas mau tahu siapa dia?"
"Kamu kenal?"
"Dia mantan suamiku."
"Ohhh, jadi apa kamu cemburu melihatnya?" kini gantian pria tersebut yang merasa cemburu.
"Mas cemburu?" Senyumnya puas.
"Iya! Jika kamu merasa cemburu melihat mereka!" Shinta tertawa renyah.
"Aku tidak sedikitpun cemburu Mas. Aku hanya penasaran wanita mana yang mengisi hatinya, sehingga dia akhirnya menyelesaikan rumah tangga kami."
"Maksudmu dulu mantan suamimu selingkuh dengan wanita itu?"
"Aku tidak bilang begitu, aku juga tidak tahu pasti. Hanya dulu, dia selalu bertahan walau aku tahu dia tidak lagi mencintaiku. Tak lebih sebuah komitmen saja sebenarnya Mas rumah tangga kami, apalagi setelah anak kami meninggal, tapi malam itu dia begitu mantap ingin bercerai."
"Karena dia ingin hidup dengan wanita itu?"
"Bisa jadi. Aku sih bersyukur saja, aku bisa serius denganmu. Gak perlu selingkuh terus darinya."
"Kita tunggu surat ceraimu keluar, lalu kita menikah ya?" Shinta tiba-tiba dilamar.
"Kamu serius mau menikah?"
__ADS_1
"Aku serius. Ngomong-ngomong mantan suamimu bentuknya hangat gitu. Gak sangka ya kejam juga sampai ngusir orang tua kamu dari Jakarta ini."
"Hangat ya Mas bilang?"
"Tuh lihat."
"Hanya gadis itu yang bisa membuat mukanya hangat, sama aku sepanjang pernikahanku, mukanya hanya datar Mas, kaku!"
"Ohhh ...."
"Iya, soal Papi, biar sajalah Mas. Mas gak kenal Papiku. Dia suka arogant dan merong-rong aku. Itu mungkin mantan suamiku tambah gak respek denganku."
"Jadi itu alasanmu tidak mau mengenalkan aku pada ayahmu?"
"Iya, tak usah Mas. Aku bukan anak kecil lagi. Besok saja pas mau menikah, aku minta jadi wali, jika dia tidak mau aku bisa pakai wali hakim."
"Kamu gak sedih mereka meninggalkan Jakarta?"
"Sedih tu ya ada, cuma mantan suamiku gak akan bisa dilawan kalau sudah marah. Mas lihat wajahnya mandang gadis itu saja. Mas gak tahukan dingin dan tajamnya pandangan dia. Aku ke kantor saja tadi pagi gak diresponnya. Padahal selama ini dengan mami dia hormat. Sanggup dia nolak mami tadi pagi di kantor. Bahkan dia tidak menjawab telfon mami."
"Mungkin dengan tidak bertemu, cara yang baik bagi dia untuk tidak menyakiti Mamimu."
"Bisa jadi."
"Kamu benar tidak apa melihat kemesraan dia pada wanita itu?"
"Aku sedikitpun tidak cemburu. Aku senang dia bisa menemukan cintanya lagi. Aku juga sudah menemukan cintaku, kamu masa depanku sekarang," ucap Shinta yang membuat prianya tersenyum.
"Kalau begitu kenapa tidak kau hampiri?"
"Tak usah lagi Mas, biarlah kami seakan tak pernah saling mengenal. Jadi pasangan kami kelak tidak saling tersakiti. Apalagi sudah tidak ada pengikat diantara kami. Kami hanya orang asing kini." Nada Shinta terdengar santai.
Hati manusia memang tiada yang tahu. Hidup berpuluh tahun membangun rumah tangga siapa sangka hati terbagi dua. Sebuah keharmonisan tidak bisa di tilik dari satu sudut pandang.
"Jadi kapan Mas bisa telfon Ibu? Mas ingin mengucapkan terima kasih. Doa ibu dulu jadi kenyataan sekarang."
"Bukan doa, tapi kata," protes Alcenna.
"Sama saja itu, perkataan sama dengan doa," ucap Eddyson.
"Iya, suka hati tuan besar sajalah," gurau Alcenna. Eddyson tanpa sadar tergelak.
Tawanya yang cukup lepas masih bisa terdengar oleh Shinta dan pasangannya. Shinta benar tidak menyangka Eddyson bisa begitu lepas dalam tawanya pada wanita. Eddyson biasanya hanya tertawa bersama anaknya.
Alcenna dan Eddyson telah selesai makan.
"Mas, pulang yuk," Ajak Alcenna.
"Ayuklah." Mereka berdiri, Eddyson tanpa menoleh ke Shinta. Hanya Alcenna yang menoleh sepintas. Tepat saat Shinta melihat kepadanya. Alcenna tersenyum hangat, senyumnya seakan menular ke Shinta. Shinta membalas senyum Alcenna dan mengangguk ramah.
Alcenna akan membalas namun Eddyson keburu posesif pada Alcenna. Eddyson menyangka Alcenna memandang dan tersenyum pada pria lain. Dia sudah merangkul Alcenna dan mengajaknya keluar. Shinta hanya tersenyum simpul. Tidak pernah dilihatnya mantan suaminya seposesif itu. Namun bukan sifat Shinta yang suka penasaran. Dia mengabaikannya dan menganggap habis di tempat.
"Kamu mau pulang atau ada tujuan lain sayang?"
"Iya, kita coba lihat suatu lokasi yok Mas. Aku ada lihat katanya disewakan lahan kosong."
"Untuk apa sayang?"
"Aku mau buka usaha cucian mobil, jika Mas jadi carikan dan kasih modal."
"Bukannya butik atau kafe?" tanya Eddyson heran.
__ADS_1
"Cucian sajalah, kenapa Mas malu?"
"Malu kenapa?"
"Mana tahu karena gak bergengsi."
"Iya juga, tapi mas lebih ke alasan Alcenn yang ingin mas tahu."
"Enak jual jasa Mas, gak perlu mikir menu atau pun mikir mode yang seakan musiman saja. Ribet mikirnya. Jual jasa cukup mikir bagaimana pelayanan kita pada costumer."
Eddyson memikirkan ada benarnya juga ucapan Alcenna. Apalagi Alcenna yang terkenal suka simple dalam bertindak.
"Di butik atau kafe dingin loh," ucap Eddyson seakan mau meragukan keputusan Alcenn.
"Di situ bisa juga, Mas buati di samping kantor dan ruangan vip pakai Ac, pakai CCTV, " cengir Alcenn.
"Pemerasan kamu sayang," ucap Eddyson sambil fokus menyetir.
"Nantikan dibayar, kalau sudah stabil dan maju."
"Bayar pakai cintamu sajalah Cenn."
"Dengan senang hatilah kalau itu."
"Kalau begitu, gak usah lahan kosong itu."
"Mas ada tahu yang lain?"
"Mas punya kenalan, Suaminya memperkosa pembantunya dan hamil. Istrinya malu dengan teman-temannya. Ingin menjual usahanya dan akan pindah. Coba mas tanya. Mudahan ada reski Alcenn di sana."
Eddyson mencari tempat parkir dan menepikan mobilnya. Dia mengambil ponselnya dan menekan nomor seseorang. Setelah dia memastikan, Eddyson menutup telfonnya.
"Gimana Mas?"
"Masih ada, kita lihat dulu. Apa kamu dapat feelnya apa tidak. Nanti baru mas negokan."
Mereka menuju ke tempat yang dimaksud. Cucian itu terlihat ramai, Alcenna setuju.
"Besok mas urus sama Robby ya."
"Makasih Mas, tapi mas-kan baru mengeluarkan dana sebesar itu untuk bu Shinta. Jangan sampai terpakai dana perusahaan dan berimbas pada perusahaan yang sudah mas rintis susah payah."
"Tenang sayang, Mas gak akan pakai uang perusahaan."
"Iya, penting jangan karena nyenangi hati Alcenna mas berkorban sia-sia. Jadi istri Mas saja Alcenn juga sudah kaya dan senang," Alcenna tertawa bahagia.
"Ya bagus juga, jadi istri yang baik sajalah di rumah."
"Ya tak masalah juga, tapikan kalau usaha itu tidak harus ngorbani perhatian Alcenn ke Mas, Alcenn bisa ke sana jam Mas sibuk kantor. Kita bisa cari orang kepercayaan seperti Mas percaya pada kak Robby." Alcenna secara halus tetap ingin punya usaha sendiri.
"Iya Mas paham. Mas hanya cari tahu sejauh mana kamu ingin punya usaha sendiri."
"Gitu donk."
"Soal orang kepercayaan, kenapa harus bingung. Suruh Sammy saja bantu ngelolah."
"Ohhh iya ya Mas, dari pada di mall terus, dia akan dipindah tugaskan lagi."
"Itu juga mas pikir, kemarin mas sempat tanya lihat muka kusutnya. Katanya urusan kerja. Coba Alcenn yang tanya. Mas lupa pula bilang karena banyak hal yang diurus."
"Ok Mas, malam Alcenn tanya. Kita pulang ya."
__ADS_1
**//**