
Jika Eddyson dan Alcenna tidur nyenyak malam ini, tidak dengan Shinta. Hatinya seakan banyak kuman yang membuat dia sakit hati sendiri.
Wajar dia salah paham. Namun yang tak wajar dia masih harus peduli mantannya selingkuh atau tidak dulunya. Seharusnya dia mencari tahu dari dulu. Bukan sekarang saat ikatan sudah tidak lagi tersemat.
Suaminya bukan tidak tahu Shinta gelisah sejak pulang dari mall tadi. Namun Shinta selalu mengelak jika ditanya. Bagi dia dari pada memicu ribut lebih baik dia mengalah.
Lagi-lagi manusia makhluk yang serakah. Begitu juga Shinta, dulu ketika dia tidak mendapatkan suami yang mau mengerti dirinya. Dia meminta cerai dengan egoisnya. Alasannya pada orang jika dia ingin memberikan suaminya kebahagiaan karena dia merasa bersalah dengan meninggalnya anak mereka. Kini ketika mendapatkan suami yang sudah mau mengerti dirinya, dia sibuk ingin tahu soal mantan suaminya.
Shinta mencari cara, agar bisa bertemu Alcenna. Dia ingin membuat perhitungan tanpa dia tahu ada apa mereka di masa lalu. Pikirannya tiba-tiba menjadi tertutup kabut hitam. Dia hanya menyalakan Alcenna penyebab retaknya rumah tangga dia. Penyebab Eddyson bersikap lebih dingin padanya.
Sakit jiwa memang. Itulah manusia kalau sudah di kuasai nafsu setan. Dia melemparkan semua kesalahan dan kekesalan pada istri Eddyson. Jiwanya jadi lebih gelap ketika ingat ayahnya diusir paksa dari ibu kota karena memata-matai Eddyson.
Jika dulu hatinya menerima ayahnya yang salah, kini dia melemparkan kesalahan itu lagi-lagi pada Alcenna. Hatinya sakit, jiwanya meronta. Matanya tak mau terpejam. Pikirannya hanya ingin cepat pagi.
*****
Pagi hari....
Dua wanita paruh baya sudah menyiapi sarapan untuk Eddyson. Eddyson sengaja memakai jasa art dua orang. Selain karena Alcenna tidak terima jika wanita muda, Eddyson tak ingin art-nya yang sudah paruh baya kesulitan mengurus semuanya dan melalaikan memperhatikan Alcenna. Walau mereka bekerja hanya sampai Eddyson pulang. Alcenna tiga bulan pertama memang benar-benar tak berdaya.
Eddyson sudah ketularan sifat Alcenna. Dia tidak betah ada orang asing di dalam rumahnya. Namun kini dia tidak mau Alcenn bekerja terlalu keras perihal kerja rumah.
Siapa bilang Eddyson tidak pernah marah. Eddyson juga hanya manusia biasa. Hanya saja marahnya tidak berlarut. Eddyson sempat marah saat Alcenna bekeras tidak mau memakai jasa art lagi, saat morning sickness-nya mulai berkurang di usia kandungannya sekarang.
Eddyson bahkan mendiamkan Alcenna saat itu. Alcenna akhirnya mengalah. Benar juga kata suaminya, anak dalam kandungannya lebih berharga dari apapun.
"Mas berangkat kerja ya, kamu jangan banyak ulah," peringat Eddyson. Maksudnya jangan banyak ulah, jangan banyak beraktifitas dulu. Sampai kandungannya kuat.
"Oke Pa, kami mau tiduran cantik saja. Yakan Nak?" Alcenna mengajak anaknya berbicara dan mengelus perutnya dengan sayang.
Eddyson mencium dahi dan pipi Alcenna. Baru dia mencium perut Alcenna. Mencium anaknya. Perasaan inilah yang sangat disukai Alcenna. Suaminya tetap menciumnya lebih dulu. Dia merasa bukan hanya sekedar mesin produksi seperti yang dirasakan oleh beberapa wanita yang bertebaran dimuka bumi ini dengan status sama seperti dirinya. Status istri. Suami hanya menginginkan anak keturunannya tanpa memperdulikan perasaan istrinya.
__ADS_1
"Bawa mama tidur ya Nak, dengarkan papa. Agar mama dan anak-anak papa sehat-sehat," ucap Eddyson diperut Alcenna.
"Iya Pa, kami bobok cantik nanti sudah Papa berangkat kerja. Hati-hati Mas," ucap Alcenna menyalim tangan suaminya.
****
Jam Menunjukkan pukul sepuluh pagi. Tidak payah bagi Shinta untuk mencari tahu di mana rumah Eddyson. Dia kini berada di depan rumah Eddyson. Melihat rumah Eddyson bersama Alcenna, rasa irinya semakin menjadi. Wanita itu menjadi gelap mata dan lupa pada perjanjian yang dibuatnya.
Tiba-tiba rumah Alcenna diketuk. Bibi Asih membukakan pintu.
"Maaf, cari siapa Bu?" sapa bi asih sopan.
Namun kesopanan bi Asih tidak ada harganya. "Suruh Alcenna keluar!"
Tanggapan yang diberikan tamunya, malah membuat bi Asih tidak mau memanggil Alcenna. Tugas dia bukan hanya untuk rumah ini tapi lebih ke ibu majikannya. Eddyson meminta menjaga Alcenna.
"Ibu sedang tidur, ibu bisa kembali lagi nanti," masih dengan nada hormat dan santun bi Asih mengajak tamunya bicara.
Alcenna tidak takut pada Shinta, lebih dari kekacauan ini pernah dia hadapi apalagi kini Shinta hanya mantan bagi Eddyson.
"Ada apa Bi?"
Mendengar suara Alcenna, Shinta mendorong tubuh tua bi Asih. Sehingga terdorong dan tersandar di dinding pintu.
"Apa ibu lupa cara sopan santun kerumah orang?" ucap Alcenna tenang. Namun nadanya yang tenang menunjukkan dialah pemilik rumah ini.
"Jangan sombong kamu! kamu cuma anak buah suamiku!" katanya penuh amarah.
"Anda lupa Bu, dulu saya anak buahnya. Sekarang saya istrinya. Dia hanya mantan dan masa lalu dalam hidup anda!" ucap Alcenna masih dengan nada tenang. Namun nadanya juga terasa dalam.
"Kamu selingkuh dengannya. Kamu yang merebut dia dari saya," tuduhkan palsu dilontarkan Shinta.
__ADS_1
"Hahahaha ... apa anda sedang sakit jiwa Bu?"
"Lancang kamu Alcenna!"
"Panggil saya nyonya Eddyson! Saya bukan lagi anak buah dia. Saya juga tidak pernah selingkuh ataupun merebut dia dari anda! Anda jangan lupa Bu Shinta, anda yang melepaskan dia karena rumah dan uang setengah miliar! Kini apa anda iri hati melihat saya menikmati semua ini?" Alcenna berkata dengan kalimat demi kalimat yang penuh tekanan. Nada sinis telah keluar dari mulutnya.
"Maling mana ada yang ngaku! Aku akan buat perhitungan denganmu. Aku akan buat tuntutan atas kasus perselingkuhan. Kalian berdua akan bisa masuk bui!" Shinta mengancam Alcenna.
"Hahahahaaa...." tawa Alcenna pecah oleh ancaman konyol Shinta. Dia merasa ini hal paling konyol dalam hidupnya. Dituntut oleh mantan istri ketika dia sudah menjadi istri sah.
"Tertawalah kamu! besok kau akan melahirkan dipenjara!" Shinta masih mengancam Alcenna. Dia tak menyangka gadis yang ditemuinya dulu sekarang sudah jauh berubah.
"Hati-hati dengan perkataan dan sumpahmu Bu, bisa jadi itu menjadi bumerangmu sendiri!" ucap Alcenna dengan santai.
"Sekarang pergilah, saya diminta suami saya untuk istirahat. Menjaga buah hatinya, agar tidak terjadi seperti anak kalian yang malang. Akibat ulah keegoisan ibunya sendiri!" Desis Alcenna dengan kejam.
"Kau___" teriakan Shinta terhenti karena Alcenna telah balik berteriak.
"Keluar kau dari rumahku! kau jangan lupa Suamiku memegang surat perjanjianmu!" Alcenna berteriak mengingatkan Shinta. Eddyson telah cerita semuanya.
Shinta seperti melupakan sesuatu. Dia membeku mendengar teriakan Alcenna.
"Kau jangan lupa, ayah kau terusir dari kota ini. Apa kau juga ingin terusir atau lebih parah dari itu jika mengusik aku. Asal kau tahu, aku kesayangan dia dari dulu hingga sekarang. Jika aku mau aku menikah dengannya bertahun lalu. Namun tidak aku lakukan karena aku tidak kenal siapa kau sebenarnya. Jika aku tahu kau wanita tidak tahu malu dan tidak tahu terima kasih. Bertahun lalu aku terima pinangannya!" Alcenna membeberkannya. Dia muak dan tak perlu merasa berbaik hati lagi menjaga hati Shinta. Alcenna tidak lagi bersopan santun dengan Shinta.
Shinta semakin diam membeku. Dia benar-benar lupa jika ada perjanjian dengan Eddyson. Dia baru menyadari perkataan Eddyson malam terakhir mengajak dia berbaik dan akhirnya menegaskan tidak mengganggunya. Alcenna rupanya wanita yang merubahnya. Dia sudah memprediksikan hari ini akan terjadi.
Shinta merasa hidupnya akan tamat. Jika Alcenna mengadukan, habislah dia.
"Apa yang harus aku lakukan untuk menebus telah mengganggu waktumu?" tanya Shinta dengan nada bergetar. Rasa takut dan harga diri yang terluka berpadu."
"Tinggalkan rumahku sekarang juga, dan aku anggap hari ini tidak pernah ada terjadi!" desis Alcenna tajam.
__ADS_1
**//**