
Keputusan menikah dengannya adalah keputusan Alcenna sendiri. Ayah-ibunya sudah menentang waktu itu. Eddyson dan Putri juga berulang kali meminta memikir ulang. Kini dia harus menerima hasil dari keras hatinya.
Alcenna tak pernah mengeluh pada ayah-ibunya, apa yang dirasakan. Walau kadang ayahnya ke kota. Tak pernah dia suguhkan perkelahiannya. Dia telan semua deritanya.
Ada ayahnya pernah menasehati, "*J*ika satu marah satu harus mengalah. Semua masalah lebih baik dibahas dengan kepala dingin. Tak ada rumah tangga yang tidak mempunyai masalah."
***
"Kak, aku pulang ya sama anak-anak ke kampung besok pagi, aku rindu pada ayah," ucap Azarine di suatu malam.
"Memangnya anak-anak mau ikut?"
"Mau ... ayah yang mengajak. Kata ayah pada mereka tadi 'atuk rindu sama kalian'."
Ayah Alcenna memang penyayang sama anak- anak. Setiap ayahnya ke kota, dia mengajak Rhania jalan pagi di sekitar perumahan. Sore hari terkadang ayah juga mengajak Rhania keliling kompleks memakai sepeda motor.
"Nanti pas pulang, bilang ke ayah, buatkan kakak rendang ayam campur nangka ya Dek," pinta Alcenna pada Azarine. Alcenna memang sangat menyukai masakan ayahnya, terutama rendang ayam campur nangka.
***
Paginya mereka berangkat dan tinggal kami bertiga di rumah ini. Sammy sudah bekerja sejak setahun belakangan ini. Dia bekerja sambil kuliah.
Alcenna juga ada memasukkan beberapa lamaran kerja. Dia ingin membantu perekonomian suaminya. Namun belum ada yang terpanggil. Adapun yang mau menerimanya bekerja selalu ada embel-embel belakangnya. Jika tidak jadi kekasih gelapnya atau diterima kerja jika mau keluar kota bersamanya.
Alcenna heran dengan sikap para bos kepadanya. Dia sempat berpikir, apakah wajahnya terlihat mesum. Jika tentang sikap, Alcenna tidak pernah kegenitan. Bahkan Alcenna jika baru dikenal terlihat jutek dan sedikit sombong.
Alcenna selalu cerita semua yang terjadi pada suaminya, tak ada rahasia. Arzon memutuskan melarang Alcenna tidak boleh bekerja. Alcenna meyakinkan dia akan mencari yang sesuai, namun Arzon tetap melarang.
Alcenna bingung, Arzon melarang Alcenna bekerja, tetapi Arzon sebaliknya tak juga mencari kerja tetap. Jika Alcenna bertanya, jawabannya selalu capek abang kerja terikat. Alcenna rasanya tidak mungkin memaksa yang punya badan jika tak mau.
__ADS_1
***
Dua hari Azarine di kampung, tiba-tiba dia mengabarkan ayah mereka masuk rumah sakit. Alcenna dan suaminya langsung pulang hari itu juga.
Perjalanan sungguh terasa lama bagi Alcenna. Dia ingin sekali cepat sampai. Seumur hidup ayahnya, ini kali pertama beliau masuk rumah sakit. Kelopak kiri matanya terasa berkedut. Walau banyak orang yang mengatakan tahayul, mitos dan apalah namanya. Bagi dia ini pertanda dia akan menangis.
Ketika akhirnya sampai di rumah sakit. Alcenna melihat ayahnya terbaring. Tangannya yang telah keriput ditusuk jarum infus. Alcenna memeluk ayahnya dan menangis. Alcenna sedih melihat ayah yang tak pernah bisa dia bahagiakan.
Ada sebersit rasa bersalah di dada Alcenna. Ayahnya mengusap rambut Alcenna. "Sudah jangan menangis. Ayah tidak apa," ucap ayahnya menenangkan putrinya.
Sehari di rumah sakit I, ayahnya pindahkan ke rumah sakit S karena pelayanan yang tidak memuaskan. Tak ada ansuran pada ayah, akhirnya Sammy pun diminta pulang oleh ibu mereka. Beruntung Sammy mendapat izin, apalagi dia sudah menjabat sebagai wakil kepala toko di sebuah toko pakaian ternama.
Kini hari ke tiga ayah di rumah sakit, dan hari ke dua di rumah sakit S. Ayah sudah mulai mau makan walau hanya bubur, itupun sedikit.
Hari ke empat Sammy izin pulang ke kota, karena tidak bisa lama meninggalkan kerjaannya. Namun terelak Sammy pulang,sorenya, kesehatan ayahnya memburuk, dan rumah sakit S merujuk ke sebuah rumah sakit di Kabupaten. Ayah Alcenna koma dan masuk ruang ICU di rumah sakit P. Alcenna masih tidak berpikir buruk, dia yakin ayahnya akan sembuh.
Sammy kembali dikabari dan berjanji akan berangkat besok pagi-pagi sekali. Alcenna pergi shalat ke mesjid dekat rumah sakit. Alcenna memohon pada Allah memberi kesembuhan pada ayahnya.
Ayahnya seperti kehilangan sebagian memori dari ingatan tentang kenangannya. Ayah Alcenna bertanya, "Ini siapa?" katanya pada ibu dan menunjuk suami Alcenna.
Pertanyaan ayahnya sempat membuat mereka terperangah. Namun Alcenna cepat menyadari mungkin yang diingat ayah saat dia masih sendiri. Mungkin ayah lupa anak sulungnya telah menikah.
"Ini bang Arzon, Yah, suami Alcenna."
Ayahnya terlihat sedikit bingung namun Alcenna menangkap kode dari suaminya, untuk tidak menjelaskan lebih lanjut dan membuat ayah berpikir lebih. Ayahnya bahkan bergurau, jika tadi perawat cantik itu yang membersihkan badan ayah dan menggantikan baju ayah.
Melihat ayah sudah banyak kemajuan, sore harinya aku pamit pada Ayah ingin mengantar anak-anak pulang, "Ayah, Alcenn tak apa ya malam ini pulang, sekalian antar anak-anak ke rumah, kasihan tidak bisa istirahat di sini."
"Iya, hati-hati ya Nak."
__ADS_1
Alcenna berdua Azarine pulang sore itu mengantar Allya dan Rhania pulang. Pagi mereka berencana balik ke rumah sakit dan menitipkan mereka pada anak angkat ibu Alcenna yang berada di samping rumah ibunya.
***
Pagi harinya Alcenna shock mendapat kabar dari ibu bahwa ayahnya kembali koma saat tengah malam. Ibunya tak ingin membuat kedua anaknya risau dan baru memberi kabar di pagi hari.
Saat Alcenna dan Azarine sudah sampai di RS, saudara ayah dan ibunya sebagian sudah di rumah sakit. Namun Alcenna tetap tak berpikiran ayahnya akan meninggalkan dia. Alcenna tetap yakin ayahnya akan sembuh.
Dengan berderai air mata Alcenna memohon pada dokter dan perawat jangan melepaskan dan usahakan terus yang terbaik untuk ayahnya. Ketika kakak mamanya meminta pada perawat untuk membuka alat bantu medis yang menempel di badan ayahnya. Alcenna tidak ikhlas.
"Tidak dokter, tidak ... jangan lakukan itu pada ayahku. Usahakan terus yang terbaik biar kami bantu dengan doa. Jangan lepaskan alat bantunya, kita hanya boleh berusaha. Aku tidak terima dokter menyerah di tengah jalan," ucap Alcenna pelan dengan menahan tangis.
Akhirnya dokter serta perawat tidak jadi menanggalkan alat bantu. Hari sudah mau maghrib. Alcenna, Sammy dan Azarine pergi ke mesjid di dekat rumah sakit, dan ibu serta suami Alcenna memilih shalat di mushola RS.
Di mesjid yang agung ini. Selepas shalat maghrib berjamaah, Alcenna menangis pilu mengangkat kedua telapak tangannya. Dia telah ikhlas jika ayahnya memang harus pergi. Alcenna tidak mau ayahnya kesulitan karena ketidak ikhlasannya melepaskan ayahnya.
Dengan masih penuh sedu-sedan, dia memohon pada Yang Esa, "Ya Allah ... Engkau zat Yang Maha Kuasa, tiada daya selain upaya Mu, tiada kuasa selain kuasa Mu. Aku sebenarnya belum ikhlas Engkau memanggil ayahku, aku belum bisa membahagiakan ayahku Ya Allah ... namun siapa aku ini Ya Allah, aku hanya hamba Mu yang lemah dan tak berdaya. Aku tidak berhak menentang takdir Mu Ya Allah. Kini Aku pasrah atas ketentuan Mu Ya Allah. Aku serahkan yang terbaik menurut Mu, aku ikhlas Ya Allah ... ikhlaaaas Ya Allah. Jika ayahku Engkau izinkan sembuh, maka sadarkan beliau Ya Tuhanku. Namun jika tidak, panggilah dia dengan tenang Ya Allah. Kurangi rasa sakitnya, ketika Engkau memanggilnya. Sungguh aku menyayanginya, ayah yang begitu sayang padaku, pada anak istrinya Ya Allah. Aamiin."
Alcenna mengusap telapak tangan ke wajahnya yang basah oleh air mata. Alcenna merasakan ponselnya bergetar dan ibu yang tenang meminta mereka ke sana, mengatakan ayahnya akan pergi. Ya Allah ....
Alcenna dan Azarin berlari cepat mengejar ke ruang ICU. Alcenna cuma melihat ada ibunya, Sammy dan Arzon. Entah ke mana keluarga ayah dan ibunya.
Alcenna cepat mengejar ke ranjang ayahnya. Dia berkata, "Ayah ... maafkan Alcenn tak bisa membahagiakan ayah. Ayah ... Alcenn sangat sayang pada ayah," katanya tanpa air mata lagi.
Alcenna melihat ayahnya, mengeluarkan air mata. Alcenna dan Sammy bergantian membimbing ayahnya mengucapkan dua kalimat syahadat. Tak selang lama terdengar bunyi mesin monitor ICU tanpa putus.Menandakan ayahnya sudah pergi selamanya. Di usia perkawinannya yang baru tujuh bulan.
Alcenna yang tadinya tabah akhirnya tak kuasa juga menahan sebak hatinya. Dia merasa dunianya runtuh seketika. Langit serasa menimpa kepalanya. Bumi serasa tidak terpijak lagi olehnya. Alcenna telah kehilangan ayahnya. Kehilangan suri-teladan dalam hidupnya.
"Ayah ... mungkin ayah hanya ingin kami yang di dekat ayah," ucapnya lirih mencium pipi ayahnya yang telah terbujur. Tak ada air mata, juga tak ada rasa di dada Alcenna. Dia mengira dia telah ikhlas, tetapi hatinya mati rasa seketika.
__ADS_1
**//**