
Azarine terus mengikuti. Dia melihat Eddyson menggapai punggung Arzon dengan begitu percaya diri. Sampai dia begitu yakin kalau dia tidak salah orang.
"Apa saya salah mengenali orang?" tanya Eddyson yang begitu terdengar di telinga Azarine. Azarine kini berdiri dibalik tiang rumah sakit.
"Tidak."
"Kebetulan bertemu kembali, mari kita bicara. Layaknya bicara pria dewasa!" ucap Eddyson tegas.
Arzon tidak punya pilihan lain. Dia memang menyusul ke kamar Alcenna. Niat hatinya ingin ikut masuk ketika perawat itu membuka pintu. Namun dia bisa melihat ada sosok lain yang tidak dia tahu siapa pada awalnya. Dia putar arah ketika pintu terbuka lebar. Dia masih ragu-ragu. Kini dia tahu siapa pria itu. Dia masih mengingat dengan jelas.
Eddyson mengajak duduk dibangku di luar kantin. Eddyson memesan dua minuman dingin ketika pelayan kantin datang. Dia yakin butuh minuman dingin untuk menyegarkan tenggorokan mereka. Azarine diposisi yang aman. Dia hanya berdiri dibalik tiang rumah sakit tersebut. Dia bisa mendengar dengan jelas tanpa perlu diketahui.
"Saya tidak perlu basa-basi. Saya tidak pernah mengontak Alcenna sepanjang pernikahannya dengan anda. Seperti yang dia minta ketika anda melamarnya." Eddyson mengucapkan to the point.
"Ohhh, jadi kalian memang tidak pernah saling komunikasi?" tanya Arzon sinis.
"Kita tidak usah saling sinis. Niat saya mengejar anda saat melihat sepintas anda tadi, hanya untuk menjelaskan supaya tiada kesalahan pahaman diantara anda dan Alcenna. Saya tidak ingin anda memandang rendah Alcenna!" ucap Eddyson dengan tajam.
Arzon yang masih mengingat ucapan-ucapan Alcenna malam itu, menjadi sedikit tawar rasa amarahnya. Dia berniat mendengarkan penjelasan Eddyson.
"Lalu apa yang ingin anda bicarakan?" tanya Arzon.
"Saya tidak sengaja bertemu Alcenna kembali setelah tujuh bulan dia di Bekasi. Dia bekerja di pabrik pakaian jadi. Saya awalnya mendapat kabar dari temannya, Putri. Pasti anda juga kenal?" ucap Eddyson. Arzon mengangguk.
"Lalu saya mencari tahu apa yang terjadi. Saya menemukan Alcenna yang terpuruk dan bersikap dingin pada lingkungannya. Saya memang memaksa dia pindah ke Jakarta dan memutuskan kerjanya."
Arzon mendengarkan tanpa komentar. Merasa Arzon terus mendengarkan, Eddyson kembali berkata," Saya, orang kepercayaan saya, Putri dan Sammy terus berusaha memulihkan Alcenna. Asal anda tahu, Alcenna yang datang pada saya dan menginginkan mengurus perceraiannya. Ketika awal kami katakan dia harus mau bercerita masa lalunya, kami terkejut ternyata Alcenna seakan trauma ...." Eddyson menjedah. Dia mengusap mukanya. Arzon juga. Dia tahu pasti Eddyson tidak berbohong. Itulah yang dia liat pada malam itu.
Eddyson melanjutkan, "Melihat dia tetap tidur namun berurai air mata dan mengeluarkan titik peluh sehingga bajunya lembab. Saya tidak sanggup memaksanya. Saya dan Robby akhirnya memutuskan melalui jasa pengacara. Namun ternyata anda mempersulit dia sekali lagi. Jujur saja, tadi awalnya saya ingin meninju muka anda! Namun Alcenna pasti akan kecewa dengan saya ketika mengetahuinya. Maka saya mengajak anda bicara secara pria dewasa saja!" tak bisa dipungkiri terselip nada geram Eddyson.
__ADS_1
"Jadi anda sudah tahukan, bukan saya yang merusak rumah tangga anda dan bukan Alcenna juga yang merusak rumah tangganya karena saya!" tekan Eddyson.
Arzon yang sudah berjanji untuk ikhlas setelah melihat sikap Alcenna di hotel malam itu, dia tak membantah satupun omongan Eddyson. Arzon justru melihat betapa mantan bos Alcenna peduli dan mencintai Alcenna. Arzon akan mengalah. Walau dulu dia tidak bisa membuat Alcenna bahagia kini dia akan memberikan kebahagiaan itu dengan cara melepaskan Alcenna dengan ikhlas ditangan pria yang bisa membuat dia bahagia.
"Saya tahu saya salah. Saya menyesal. Saya mempersulit dia awalnya ingin kembali mengajaknya rujuk. Namun sekali lagi saya turutkan ego saya. Malam itu saya melihat sikap Alcenna yang begitu terluka oleh saya. Sejak malam itu saya memutuskan ikhlas. Hanya saja saya tidak sangka anda orang yang mencintainya. Saya kira yang bernama Robby itu." Arzon berkata dengan tulus dan Eddyson bisa rasakan.
"Sikap Alcenna yang mana?" tanya Eddyson ingin tahu. Entah ada yang terlewat atau ada yang dirahasiakan Robby padanya.
"Seperti yang anda bilang. Alcenna memohon untuk menceraikannya dan mengatakan alasan dia bersikap seperti yang anda katakan."
"Jadi dia mengatakannya? Apa penyebabnya?" tanya Eddyson ingin tahu.
"Anda tidak tahu? Tanyakan saja pada Robby atau pengacara. Saya juga masih sedih mengingat semua ucapannya malam itu. Saya sesungguhnya sangat mencintai dia. Namun cara saya salah. Saya kira saya akan bisa hidup dengan anak-anak saya jika saya membela mereka. Nyatanya saya salah besar. Benar kata Alcenna, anak-anak akan punya hidupnya sendiri. Namun hidup saya bersama dia," ucap Arzon penuh kepedihan.
Azarine ikut mengeluarkan bulir-bulir air matanya. Eddyson jadi lebih melunak mendengar kesalahpahaman sepasang suami-istri yang sebentar lagi akan sah berpisah.
"Saya turut prihatin atas semuanya. Namun saya tidak bisa mengalah lagi pada anda, saya juga melewati masa yang sulit ketika berpisah dengannya. Saya juga telah kehilangan anak saya. Mantan istri saya sudah bahagia dengan pria lain," ucap Eddyson menjelaskan statusnya.
"Maksudnya anda sudah bercerai?" tanya Arzon.
"Ya saya sudah bercerai. Saya benar tidak bisa melepaskan Alcenna. Saya kini tak punya semangat hidup tanpanya! Hanya dia dari dulu yang saya cintai. Saya dulu juga mengorbankan dia hanya untuk mempertahankan rumah tangga saya yang sudah mulai ambruk. Saya hanya berani menawarkan dia sebagai istri kedua. Saya sangat menyesal, apalagi saat tahu dia begitu terluka oleh perbuatan anda."
Eddyson juga terdengar begitu penyesalan. Siapa sangka dibalik derita Alcenna begitu banyak penyesalan orang yang mencintainya. Allah itu tidak tidur. Kini para pria yang sempat mengisi hari dan hatinya menyadari kesalahan mereka.
"Saya sudah berjanji memberikan dia kebahagian dengan cara melepaskannya. Saya juga lihat betapa anda mengerti dirinya. Saya mengalah," ucap Arzon tulus.
"Terima kasih. Saya akan membahagiakan dia sampai titik darah saya yang terakhir. Anda tidak usah ragu itu," kata Eddyson yakin.
"Saya tahu."
__ADS_1
"Boleh saya tahu sesuatu?"
"Apa itu?" tanya Arzon.
"Anda mencintainya, kenapa anda tidak mencarinya?"
"Karena keegoisan semata. Saya juga terlalu percaya diri dia akan kembali pada saya suatu saat. Namun hancur saat saya menerima surat gugatan cerainya."
"Ohhh ...."
"Kalau gitu saya permisi." Arzon ingin berdiri namun Eddyson masih menahannya.
"Tunggu, apa anda yakin tidak berjumpa dengannya untuk terakhir kali. Saya akan membawa dia ke Jakarta jika sudah diperbolehkan pulang.
Arzon terlihat ragu. Namun sifat posesif Eddyson seakan terbang ketika melihat penyesalan yang dalam di wajah Arzon.
"Ayolah, saya temani. Agar tidak ada yang jadi beban bagi kita nanti. Sekalian ada ibu di kamar." ucap Eddyson bijaksana. Arzon menimbang, ada baiknya menyelesaikan ke akar-akarnya.
"Baiklah, saya juga ingin minta maaf pada ibu, tadi saat menyusul Azarine ke atas. Namun saya masih ragu-ragu. Tidak disangka mata tajam anda menangkap bayangan saya," ucap Arzon sedikit santai.
Azarine dibalik tembok hanya bisa menggaruk pelipisnya yang tiba-tiba gatal seakan banyak ulat bulu di mukanya. "Habislah aku akan disindir sama mas Eddyson," batin Azarine.
Mereka melangkah beriringan ke kamar Alcenna. Eddyson yang masuk duluan, dan berkata, "Sayang ada yang ingin berjumpa. Kamu tidak boleh bereaksi berlebihan. Biar kita bisa saling tenang menjalani hidup baru. OK!" Alcenna tidak boleh membantah kalau Eddyson sudah begitu. Berarti Eddyson sudah menjamin aman. Dia percaya pada calon suaminya.
"OK!" ucapnya yang hanya disenyumi sang ibu melihat interaksi mereka berdua.
"Masuklah," kata Eddyson. Pintu sengaja tidak dia tutup ketika dia masuk tadi.
**//**
__ADS_1