Tolong Aku SuamiKu

Tolong Aku SuamiKu
Membingungkan.


__ADS_3

Setelah Putri pulang. Alcenna berbaring menenangkan hati yang merasa tak enak mendengar cerita Putri. Alcenna merasa ada yang aneh dengan Arzon. Dia menenangkan hati sebelum memikirkan langkah apa yang akan diambil untuk mencari kebenaran.


"Bang ... lagi apa?" Dia berusaha menelfon Arzon setelah isya.


"Lagi santai saja, gimana? Yakin abang gak perlu ke rumah?" Alcenna memang meneleponnya setelah Putri pulang, untuk tidak ke rumah dengan alasan ingin istirahat. Padahal ia ingin menenangkan diri, tetapi kata-kata Putri terus terngiang.


"Yakin ... tapi ...." sengaja Alcenna memberi jedah untuk mendengar di sekeliling Arzon . Mana tahu mendengar suara yang membuktikan siapa dirinya.


Karena Alcenna tak kunjung bersuara, Arzon bertanya "Tapi apa Cen? Gak ada yang sakit?" Terdengar nada merisaukan dirinya.


"Ada yang sakit Bang .... " lagi-lagi dia tak menyelesaikan kalimat untuk mendengar suara lain di seberang telepon.


"Apa yang sakit? Pinggangnya sakit lagi? Alcen kenapa, dari tadi kok terputus-putus bicaranya?" Keheranan mulai membentang di suaranya dan pertanyaan mulai bertubi-tubi.


"Satu-satu tanyakan Bang, aku jadi bingung mau jawab yang mananya." Alcenna bingung bukan cara menjawabnya tapi pikirannya terpecah, antara menyelidiki dan mendengar pertanyaan Arzon. Bagaimanapun dia mencari cara memastikan status kekasihnya.


"Abang yang bingung dengar Alcen, dari tadi Alcen banyak menjedah pembicaraan." Akhirnya dia sadar, gadis itu banyak memberikan jedah dalam berbicara.


"Maaf Bang, Alcen kurang fokus," katanya mengelak dan membuat alasan.


"Ada yang mengganggu pikiran Alcen?" katanya dengan nada yang lembut. Nada yang mampu membuat Alcenna luluh kalau tidak karena rasa penasaran yang menggunung.


"Jujur, iya Bang!" tegasnya.


"Tentang apa? Status abang lagi?" Dia feeling sepertinya apa yang ingin Alcenna sampaikan.


"Ehem ...." Alcenna hanya berdehem.


Terdengar dia membuang napas dengan kasar. Entah emosi, entah dia bingung, gadis itu tak tahu pasti karena tak melihat langsung raut wajahnya.


Untuk sementara dia diam dan Alcenna tak mendesaknya. Alcenna sengaja memberinya sedikit waktu untuk berpikir.


"Susah ya kalau ukuran seusia abang ini untuk membuat orang percaya kalau abang belum menikah," katanya kemudian.


Alcenna kehabisan kata-kata. Seolah-olah tak ada kepercayaan dalam hati untuknya. Jika dia segitu tak percaya, kenapa masih melanjutkan hubungan ini dengannya. Bukankah dalam suatu hubungan dilandasi pengertian dan kepercayaan. Alcenna melandasi dengan kecurigaan melulu.


"Maaf ...." hanya itu yang sanggup Alcenna katakan.


"Tak perlu minta maaf, abang yang salah, tidak bisa membuat Alcen percaya. Apa yang harus abang lakukan agar Alcen tidak selalu mencurigai abang?" Kata-katanya semakin membuat Alcenna merasa bersalah. Tapi kata-kata Putri tadi sore lebih membuat bersalah jika tidak bisa memastikannya.


Teringat perkataan Putri tadi sore, tentang apakah sudah mengenal keluarganya atau belum, membuat Alcenna mendapatkan ide. "Bagaimana kalau Abang, mengenalkan Alcen pada keluarga Abang?" Pinta Alcenna.


"Baik ... tapi di kota ini keluarga abang hanya punya adik. Ibu dan ayah abang di kampung."

__ADS_1


"Adik?? Kandung??" tanyanya menegaskan status hubungan kekeluargaan.


"Kandung," katanya.


"Baik ... kapan Abang bisa mengenalkan Alcen pada adik Abang?"


"Besok sore bisa, kalau Alcen mau kita ke rumahnya," katanya tanpa ada sedikitpun keraguan.


Ufhh sungguh membingungkan rentetan cerita dan kejadian ini. Di satu sisi gadis itu meragukannya, akan tetapi di satu sisi gadis itu percaya dengannya, melihat bukti yang dia berikan. Entahlah ....


"Oke besok sore ya Bang ... jangan ingkar ... awas kalau ingkar!" katanya beruntun dan dengan nada sedikit mengancam.


"Iya ... abang janji. Ada lagi yang ingin Alcen katakan?" Nada lembutnya selalu membuat hati Alcenna berdebar senang dan seakan lupa dengan masalah yang ada.


"Tidak ada."


"Hmmm, jadi cuma mau mengintrogasi abang saja ni ceritanya?" katanya dengan nada pura-pura kesal. Alcenna tahu pasti dia tak akan kesal benaran.


"Iyaaa ...."


"Teganya dirimu sayang." Nada menggodanya mulai keluar.


"Biariiiin tega pada penasaran."


"Sudah."


"Kalau begitu ... tidurlah lagi, besok kalau benar sudah kuat kita ke rumah adik abang. Andai belum jangan dipaksa dulu, masih banyak hari lain kita bisa ke sana," katanya memberi pilihan.


Akan tetapi Alcenna tak ingin berlarut-larut dalam penasaran ini. "Sudah tak apa-apa. Kita pergi besok sore saja." Nadanya kekeh pada pendirian semula.


"Ok, sekarang tidurlah lagi."


"Iyaa. Daaahh Bang." Lalu Alcenna memutuskan sambungan telepon.


Alcenna meletakan ponsel sedikit jauh dari kepala dan mulai berbaring miring sambil mengambil guling dan memeluknya. Dia tak ingin terlalu banyak berpikir dan menyiksa otak atas masalah yang belum tahu iya apa tidaknya. Apalagi sudah ada solusi atas masalah itu.


***


Paginya Alcenna memutuskan istirahat sehari lagi dari kerjaan. Alcenna sudah mengantongi izin dari bosnya yang baik hati.


Adik-adiknya sudah berangkat melakukan aktivitasnya masing-masing. Setelah sarapan dan meminum obat, gadis itu putuskan berbaring cantik saja di kasur kesayangan.


Drtttt ... drtttt ... ponselnya bergetar. Dia melihat nama Putri yang tertera di sana. "Ya Put," jawabnya.

__ADS_1


"Kerja?"


"Gak Put ... sudah izin tadi."


"Ya sudah istirahatlah." Dia langsung memutuskan sambungan teleponnya. Dasar si Putri kebiasaannya tidak menunggu orang menjawab lagi.


Baru hendak meletakkan, ponsel kembali bergetar. Alcenna melihat kekasihnya yang menelepon. "Obatnya sudah diminum?" Begitu diangkat terdengar pertanyaan yang membosankan rasanya.


"Sudaah."


"Tak kerja? Masih sakit?"


"Tidak. tak sakit ... cuma pingin istirahat saja Bang. Sudah izin tadi, boleh kok." Alcenna cepat menjelaskan secara detail.


"Jadi sore?"


"Jadilah ... awas kalau Abang tak jadi!" Lagi-lagi gadis cantik itu mengancam.


"Kurusan abang sayang, kena ancam terus," katanya dengan nada sedih. Paling juga pura-pura saja.


"Hehehehe ...." Hanya dengan tawa Alcenna membalas pernyataannya.


"Abang kerja dulu ya, nanti siang mau abang antarkan makan siang atau Alcen pesan katering yang biasa dipesan?"


"Katering biasa Alcen saja Bang."


"Ok, sampai nanti."


"Ya."


***


Sore harinya dia datang menjemput setelah sejam sebelumnya dia meminta bersiap-siap. Alcenna hanya memakai bedak putih tabur dan memoles bibir dengan lip blam yang berwarna pink muda hampir sewarna dengan bibir tipisnya.


Alcenna memakai baju kasual dan celana jins biru muda yang sedikit pas body. Ketika dia melihat, Alcenna mendapatkan pujian. "Cantik sekali kamu sayang."


"Biasa juga cantik kok," katanya dengan percaya diri yang dibalasnya dengan menarik poni Alcenna dan tersenyum manis. Tapi tidak dengan sang gadis, "Sakiiit tahu Bang!"


"Hahaaa Alasan," kata Arzon menyentil kening Alcenna.


**//**


Manisnya senyummu sayang... buat aku terkapar indah 😂.

__ADS_1



__ADS_2