Tolong Aku SuamiKu

Tolong Aku SuamiKu
Kejutan Biasa Terasa Luar Biasa.


__ADS_3

Pagi ini suasana hati Eddyson sangat baik. Walau Eddyson belum sempat berbicara serius dengan kesayangannya.


Tok ... tok ... tok ....


"Masuk," ucap Eddyson. Hari ini dia menggunakan celana kain model slim fit, ditambah baju kemeja lengan panjang berwarna cream. Celana dan baju yang begitu pas di bodi membuat dia terlihat lebih menawan. Dia duduk bersandar di kursi eksekutifnya.


"Ada apa Dam?"


"Pak, bu Shinta dan ibunya mau bertemu Bapak."


"Bilang padanya, tak ada yang perlu dibicarakan!"


"Baik Pak."


"Rob, kamu di ruanganmu?"


"Iya Pak, ada apa?"


"Urus Shinta dengan ibunya, saya tidak ingin bertemu!"


"Baik Pak, saya akan ke sana."


"Katakan pada ibunya, saya akan sepakat mencabut tuntutan saya, jika pria itu mau menandatangani surat perjanjian dan meninggalkan Jakarta!"


"Ohh gitu Pak, ok."


"Adam bisa ke sini sebentar!"


"Iya Pak."


Adam pun datang ke ruang Eddyson.


"Apa agenda hari ini?"


"Tidak ada Pak, free."


"Oke, kalau gitu kamu yang hendle, kalau ada perlu telfon ke Robby saja ya, saya ada urusan pribadi."


"Siap Pak."


Eddyson berdiri, dan melangkahkan kakinya. Dia mengendarai mobilnya sendiri. Eddyson ingin berbicara serius dengan gadisnya. Walau masalah sedang diselesaikan satu persatu.


Eddyson berhenti di sebuah toko bunga, bunga rose berwarna orange menarik perhatiannya. Dia memesan, menunggu dan membayarnya. Dia meletakan dengan hati-hati di bangku belakang mobilnya.


Ke mana lagi tujuan Eddyson kalau tidak ke rumah Alcenna. Dia datang tanpa memberi tahu gadisnya. Dia ingin tahu apa yang dilakukan oleh gadisnya ketika jam 10 pagi ini.


Dia memarkirkan mobilnya. Alcenna mendengar sebuah mobil memasuki perkarangan rumahnya. Dia mengintip dari balik tirai jendelanya. Terlihat mobil Eddyson. Dia tersenyum dengan ceria. Membukakan pintu sebelum Eddyson mengetuk pintu.

__ADS_1


Eddyson tersenyum, "Apa kabar sayang?"


"Baik Mas," kata Alcenna, mukanya bersemu merah. Senyum Eddyson semakin lebar. Sungguh dia lebih suka melihat Alcenna yang sekarang dari pada gadis dulu. Alcenna yang tidak bisa dibuatnya merona malu.


Jiwa mudanya semakin aktif seiring hormon cintanya yang ikut aktif. Dia melihat Alcenna sudah rapi bahkan dia mencium wangi dari Alcenna. Entah itu dari sabun atau sampo yang jelas bukan bau parfum. Mereka menuju sofa tamu.


"Mau ke mana sudah rapi dan cantik begini?" tanya Eddyson sambil duduk di sofa. Eddyson tidak tahu jika Alcenna selalu tampil rapi. Alcenna sudah terbiasa untuk bersih dan rapi walau hanya di rumah. Dulu Alcenna melakukannya agar suaminya tidak merasa bosan jika dia berkutat dengan kerjaan rumah. Alcenna tidak ingin suaminya mencium bau bawang di badannya.


"Tak ada ke mana-mana," jawabnya lembut.


"Benar?" telisik Eddyson tidak percaya.


"Mmm," ucap Alcenna hanya mengatakan mmm.


"Bisa tidak jangan menggoda mas pagi-pagi. Mas takut benar khilaf nanti," ucap Eddyson yang gemas karena Alcenna tidak membuka mulutnya. Hanya bergumam kecil saja.


"Ihhh siapa juga yang goda, Mas itu saja yang kutubnya ke negatif terus!" tekan Alcenna walau masih bersemu merah.


"Sayang buati Mas minum," ucap Eddyson.


"Oke," Alcenna berdiri menuju dapur. Eddyson keluar menuju mobilnya. Dia mengambil bunganya.



Dia menyusul Alcenna ke dapur, Alcenna yang sedang mengaduk pelan teh hangatnya, tidak menyadari Eddyson telah menyusulnya.


Alcenna berhenti mengaduk tehnya, dia berbalik dan dia terpana melihat pemandangan di depannya. Kejutan biasa jadi luar biasa di mata Alcenna.


"Mas ...." Hanya satu kata itu yang sanggup dia ucapkan. Mimpinya bertahun lalu justru terwujud ketika sudah melupakan ingin hal yang romantis. Dulu dia berharap ada momen begini dengan suaminya. Akhhh hati kecilnya sungguh terharu.


"Kamu suka kejutan mas sayang?" ucap Eddyson begitu mesra. Semutpun mendengarnya mungkin baper di dalam sarangnya.


"Mmm ... mmm," ucap Alcenna yang kembali membuat Eddyson gemas melihat cara baru Alcenna menjawab. Alcenna masih berdiri didekat meja kitchen setnya. Eddyson menghampiri dan memberikan pada Alcenna.


Alcenna menerima suka cita, air mata bahagianya hadir di pelupuk matanya. Bola matanya berkaca-kaca. Membuat wajahnya jadi lebih menarik di mata Eddyson. "Ufff, sungguh aku tak bisa menahan lebih lama," batinnya.


"Mas, makasih. Alcenn suka, Alcenn senang sekali. Mimpi ini pun ternyata cuma Mas yang bisa mewujudkannya." Alcenn meletak bunganya dengan hati-hati di samping teh hangat yang dibuatnya. Dia menghambur ke dalam pelukan Eddyson tanpa ragu.


Eddyson jelas tak menolak pelukan gadis kesayangannya. Eddyson merasa kembali menjadi pria muda dengan sikap Alcenna yang manja.


"Senang kesayangan mas?" bisiknya di telinga Alcenna.


"Alcenn senang Mas, makasih. Alcenna dulu menginginkan moment seperti ini." Tak puas-puas rasanya dia mengucapkan makasih.


Eddyson masih memeluk Alcenna, seolah dia juga tidak sanggup berpisah lagi dengan gadisnya. Namun dia ingat ada yang harus dia bicarakan dengan serius dengan gadisnya.


"Tehnya sudah siap sayang, mas ingin bicara sesuatu sama kamu," ucapnya lembut selembut perlakuannya pada Alcenna. Eddyson tidak mau mendorong Alcenna. Dia masih tetap memeluk Alcenna. Dia ingin Alcenna yang melepaskan pelukannya. Begitu halus perasaan Eddyson pada Alcenna.

__ADS_1


Alcenna yang tersandar dari rasa yang begitu bahagia, melepaskan diri dari pelukan Eddyson. Dia mengangguk. Dia mengambil tehnya dan menyusul langkah Eddyson ke ruang tamu.


Eddyson duduk dan meminta Alcenna duduk di sampingnya. Dengan melipat satu kakinya di atas sofa tamu, Eddyson duduk berhadapan dengan Alcenna yang menjuntaikan kedua kakinya.


Eddyson meremas lembut bahu Alcenna. Membuat getar aneh hadir kembali mengalirkan listrik ke urat syarafnya.


"Sayang, coba liat mata mas," pinta Eddyson lembut.


Alceena menengadah memandang Eddyson. Walau hawa panas tak bisa ditampik. Mukanya kembali merona. Eddyson kembali tersenyum melihat pemandangan itu.


"Kamu tahukan perasaan mas selama ini padamu. Dari dulu sampai sekarang perasaan mas tak berubah padamu. Mas sangat mencintai kamu sayang ...." ucap Eddyson begitu penuh perasaan. Sehingga getar cinta itu sampai ke hati Alcenna.


"Mas tahu dulu, mungkin hatimu berbagi. Mas juga salah dulu tidak begitu memperjuangkan kamu. Selain mas mengatakan mencintaimu mas juga minta maaf padamu soal masa lalu. Maafkan mas ya sayang," ucap Eddyson semakin mendayu-dayu telinga siapa saja yang mendengarnya.


Eddyson seakan tak butuh jawaban Alcenna, baginya cukup respon tubuh Alcenna yang dia rasakan sebagai jawabannya.


"Setelah, semua urusan kita selesai, mas ingin kamu menerima lamaran mas ya, menikahlah dengan Mas, kita bangun hidup baru. Apa kamu mau sayang?" tanya Eddyson serius.


Alcenna yang terlalu senang dan tidak menyangka akan pengakuan dan lamaran Eddyson yang sekaligus membuat dia diam membeku. Eddyson tahu bahwa tidak ada penolakan dari tubuh dan wajah Alcenna.


Hanya untuk memastikan dia bertanya, "Kamu mau hidup bersama mas sayang?"


Alcenna mengangguk, air matanya bahagia ikut keluar sebagai saksi cintanya yang berliku. Alcenna yakin, pria yang di depan tidak akan menyakitinya. Alcenna belum pernah sekalipun tersakiti oleh sikap dan kata-katanya. Justru Eddyson yang mungkin mengalami itu berulang kali, karena hati Alcenna dulu tidak sepenuhnya untuknya.


Eddyson yang melihat air mata Alcenna, melepaskan satu tangan yang mencengkeram lembut bahu Alcenna. Eddyson menyapu air mata Alcenna, apapun alasannya mas tak ingin kamu mengeluarkan air mata lagi. Cukup sudah air matamu yang bertahun lalu.


Alcenna hanya mengangguk. Alcenna sekali lagi melemparkan dirinya masuk ke dalam pelukan kokoh Eddyson. Sungguh Alcenna ingin membuang semua beban yang tersimpan di dadanya. Alcenna mempercayai hatinya pada pria dewasa di depannya. Kali ini dia yakin, tidak akan salah lagi.


"Terima kasih Mas, Alcenn janji akan jadi istri yang baik bagi Mas. Alcenn janji akan jadi istri yang setia buat Mas."


"Mas percaya itu tanpa kamu katakan sekalipun, mas sudah sangat tahu siapa kamu. Kamu adalah gadis mas yang keras hati dan bermartabat. Mas sangat cinta padamu, dulu, kini dan mas berdoa sampai ajal yang memisahkan kita," ucapnya sambil mengelus rambut gadisnya.


"Tapi boleh mas tanya satu padamu? Bukan soal masa lalumu!" tegas Eddyson ketika merasa Alcenna menegang di dalam pelukannya.


"Soal apa Mas?" kecil suara yang terdengar dari bibirnya.


"Dari tadi mas dengar hanya istri dan istri, apa Alcenn tidak ingin jadi ibu? Alcenn masih muda dan mas untuk ukuran lelaki juga belum tua. Ada apa sayang? jangan tutupi apapun lagi dari mas, berbagilah apapun sama mas," ucap Eddyson menenangkan gelisah hati Alcenna.


"Itu ....'


Eddyson menunggu dengan sabar ....


**//**


Readers juga harus menunggu dengan sabar yaaa.... maafkan daku readers yang tersayang 😂😂😘😘😘😍😍😍😍


jangan lupa bagi yang ikutan baper like and komen, vote juga lebih bagus apalagi rate bagi yang belum 😉😍 love u

__ADS_1


__ADS_2