
"Salah?" katanya dengan nada yang menurut Alcenna sangat menyebalkan.
"Ihhh apa-apaan sih Pak. Menyebalkan saja deh." Alcenna masih menekan suaranya, agar tak berteriak senyaring tadi.
"Bagi saya menyenangkan," jawab bosnya.
"Buang waktu, buang energi, buang biaya!" Alcenna tetap menekan dan memelankan intonasi suaranya dari yang tadi. Masih dengan nada tak senang.
"Untuk kamu, memang waktu saya banyak terbuang. Tentang biaya, saya banyak uang, apa salahnya saya buang-buang, buat gadis yang tidak cerdas EQ-nya! Beda sama cowokmu, untuk biaya cerai saja tidak punya," katanya dengan nada sombong yang tak ditutupi.
Bos yang biasanya menjaga image, jadi menyebalkan. "Kalau Bapak mau nelpon mengajak berantem nanti saja, ketika saya sudah sampai di hotel. Saya mau jalan sama teman saya."
"Pasti saya telfon kamu kembali, awas kalau kamu tidak mengangkat telfon. Saya susul besok pagi kamu ke Jakarta." Dia langsung mematikan telepon.
"Uffh." Alcenna hanya membuang napas kasar.
"Siapa?" Ardhan menanyakan.
"Bosku," jawabnya jujur.
"Naksir ya bosnya," tanya Ardhan.
"Iya tuh sepertinya," kata Alcenna jujur.
"Jauh berubah, mainnya sekarang sama bos." Walau nadanya bercanda tetap membuat Alcenna tidak senang.
"Mau mengajak perang juga nampaknya!" Alcenna menjadikan dia sasaran kekesalan.
"Maaf, aku hanya bercanda." Ardhan berkata pelan.
"Tak usah komen kalau tak tahu masalah. Buat orang jadi badmood saja!!"
Alcenna meninggalkan Ardhan begitu saja. Ardhan terbengong beberapa saat. Dia kembali melihat sisi Alcenna yang tak pernah dilihatnya, di matanya Alcenna jauh berubah.
Dia mengejar dan menarik tangan Alcenna. "Tunggu sebentar, aku bayar baju ini dulu," ucap Ardhan. Alcenna mengalah dan menunggunya. Alcenna juga takut pulang sendiri walau sepertinya memang dia dimata-matai oleh orang suruhan bosnya.
Di dalam taksi Alcenna hanya diam saja. Lalu, "Maafin aku Cen ... aku benar hanya bercanda. Tak ada niat aku ikut campur urusanmu. Kamu sudah mau berkomunikasi begini sama aku saja, sudah buat aku senang. Lagian aku tetap percaya padamu, aku tahu siapa dirimu." Ardhan begitu ingin Alcenna tak salah paham.
Alcenna melirik ke arah Ardhan, di sana Alcenna temui manik mata sendu dari Ardhan. Namun sikap Ardhan tetap hangat. Alcenna tak tahu apa yang dia pikirkan, sehingga sering menjumpai mata yang sendu saat saling bertatapan. Rasa kesal Alcenna tiba-tiba sirna.
__ADS_1
"Ya aku juga minta maaf. Aku emosi pada bosku, terbawa kepadamu." Alcenna sportif mengakui dia juga salah.
"Sebagai teman, kalau boleh tahu kenapa emosi sama bosmu?" Mendengar kata sebagai teman membuat Alcenna semakin melunak. Walau dalam masalah dengan kekasih hati. Alcenna tak ingin bermain api dan memberi harapan palsu pada siapapun. Termasuk pada Ardhan.
Alcenna menceritakan dari mulai bosnya bergurau sampai dia menyatakan perasaannya dengan serius. Lalu dia yang memata-matai, sampai dia yang mulai selalu ingin tahu dan selalu kontak yang tidak urusan kerja.
Tak terasa sudah sampai di hotel. Mereka memilih duduk di lobi sebentar, untuk melanjutkan cerita Alcenna yang belum usai. Bagaimanapun Alcenna perlu pandangan seseorang lelaki. Jika pandangan Putri akan lebih kurang darinya yang mendahulukan perasaan.
"Bagaimana menurutmu? Aku sih tak terlalu menganggap serius perasaannya karena dia sudah katakan, dia pakai logika juga dalam mencintaiku." Alcenna ingin mendengar pendapatnya. Pendapat mantan yang seharusnya tidak boleh dipercaya.Tetapi Alcenna percaya.
"Sekarang sih, masih bisa pakai logika, tetapi tidak bisa kita pungkiri juga, kadangkan cinta itu bisa buta. Ketika cinta buta mana jalan logika kita lagi," kata Ardhan serius memberi masukannya.
Deghh ... jantung Alcenna jadi berdetak tidak normal. Mendengar kata cinta buta. Bukankah bosnya juga mengatakan, dia hanya cinta buta sama Arzon. "Apakah kini logikaku tak jalan?" batinnya.
"Cen ... kenapa melamun?" Dia menyenggol punggung tangan Alcenna selayang.
Alcenna hanya menatapnya bengong. Pikirannya sempat terbang, mendengar Ardhan mengatakan cinta buta dan membawa jiwa Alcenna sejenak terpikir ke Arzon.
"Ti_tidak ada," katanya gelagapan.
"Ya sudah ... ayo kita kembali ke kamar dulu, besok kita sambung. Pagi kita sudah harus bangun. Pagi aku tunggu di lobi ya, kita sama-sama berangkat ke tempat gedung pelatihannya." Ardhan bersikap bijak dan tidak menekan Alcenna lebih jauh. Dia berdiri dan mulai melangkahkan kaki. Alcenna mengikuti menuju kamar masing-masing.
Sampai di kamar, Alcenna mengganti baju tidur dan ke kamar mandi untuk menggosok gigi, lalu membasuh wajahnya dengan sabun khusus wajah.
Belum sempat dia berbaring, Alcenna mendengar ponselnya bergetar, si bos benar menelepon hampir larut malam begini. "Apa BOS?" Sengaja Alcenna tekankan kata 'bos.
"Sudah di kamar?" katanya seperti mengintimidasi diri Alcenna. Alcenna sempat memanyunkan bibirnya, sebelum menjawab.
"Emang suruhan Bapak tidak melapor?" katanya jutek.
Sebelum dia menjawab, terdengar tertawa lepas di seberang sana. "Lapor."
"Terus kenapa Bapak tanya."
"Dia cuma bisa lapor sampai kamu di lobi saja. Coba kamu mau ganti ponsel usangmu itu. Kalau kamu pakai android, saya bisa memastikan kamu di mananya."
"Enak saja Bapak bilang usang. Belikan kalau Bapak mau, Alcenn mana punya uang sebanyak itu." Alcenna asal bicara saja, tanpa ada maksud apapun.
Awal-awal android belum menjamur harganya memang masih sangat tinggi. Alcenna tak merasa begitu perlu dan terlalu memaksakan keadaan yang membuat hidupnya seperti pepatah, "Besar pasak pada tiang." Bisa teraniaya hidupnya, tetapi walau kini sudah banyak yang terjangkau dia tidak begitu berminat.
__ADS_1
"Besok cek rekening kamu, saya kirimkan. Beli yang kamu inginkan! Jadi saya juga tidak kesulitan jika ingin memastikan kamu bersama siapa!"
Alcenna tak terlalu peduli dengan perkataan bosnya. Dia justru memikirkan hal lain dan mengatakan, "Wow Bapak tahu nomor rekening saya?" Pertanyaan tak bermutu sekali sebenarnya yang dia lontarkan.
"Gampang bagi saya cari tahu rekening kamu. Makanya pakai android, jangan BBS melulu. Jadi ada kemajuan hidupmu, bukan malah mundur." Lagi-lagi bosnya sengaja memanaskan hati Alcenna.
"Hmmm sindir saja terus Pak."
"Memang niat saya begitu. Kalau kamu pakai android kamu bisa download aplikasi mobile banking. Bisa kamu cek malam ini sudah saya transfer 5 juta," katanya dengan nada sombong yang dibuat-buat.
"Bapak serius?" kata Alcenna tak percaya. Andai berani turun ke lobi, Alcenna ingin langsung cek ke boks Anjungan Tunai Mandiri di lobi hotel. Alcenna melihat lobi hotel tadi sudah mulai sepi saat dia duduk bersama Ardhan.
"Buat kamu apa yang tidak serius bagi saya."
"Hmmmm ...." Alcenna cuma mendehem saja menanggapi omongan bosnya.
"Kenapa?" tanya bosnya dengan nada curiga. Dia yakin Alcenna akan berkata aneh.
"Bapak tidak minta imbalan apapun bukan?" tanya Alcenna serius.
"Simpan imajinasi liarmu!"
"Ihhh siapa juga yang berimajinasi," kata Alcenna.
"Tidurlah kamu lagi, ingat baik-baik ikut pelatihan biayanya mahal. Kalau tidak ada hasilnya buat apa," katanya serius walau ada nada perintah yang kental di dalamnya.
"Oke Pak oke. Terima Kasih," kata Alcenna patuh. Biaya mahal dikata bos Alcenna tadi, karena sudah mengeluarkan duit banyak untuk Alcenna sampai di sini.
Alcenna menaruh ponselnya di atas nakas yang ada di samping ranjang. Selama ini cara pikir gadis itu memang sedikit salah. Dia merasa, tak harus mengikuti perkembangan zaman. Alasannya, tak ingin diperbudak benda tak bernyawa itu. Padahal tidak begitu adanya, semua kembali tergantung pada Individunya.
Ketika kawannya mulai Ber-facebook, Alcenna juga merasa tak ada manfaatnya. Messenger, WeeChat, WhatsApp, entah apalah lagi namanya, dia tak minat dan menolak semua yang berbau kemajuan elektronik. Baginya ponsel usangnya cukup bisa telepon dan smsan. Jika rindu ya obatnya hanya berjumpa itu prinsip dia, yang ternyata kini dia sadari sudah kuno.
***
Paginya sebelum pelatihan Alcenna cek saldonya, ternyata bosnya serius telah mentransfer uang yang dia katakan. Alcenna benar tak habis pikir. Tapi dia berniat akan mencicil mengembalikan uang bosnya.
Alcenna melihat Ardhan belum ada di lobi hotel, dia ingin sarapan menunggunya. Dia menelepon Ardhan dan berkata, "Halo di mana? Aku sudah di lobi."
"Iya Cen, tunggu di sana sebentar ya, ini baru mau jalan ke sana."
__ADS_1
Alcenna mencari tempat duduk dan menunggu dengan santai.
**//**