
Malam hari ....
Semua sudah berkumpul di ruang tamu. Sammy bisa melihat senyum manis kakaknya. Sammy mencuri waktu dan mendekati Eddyson.
"Pak, lama tak jumpa. Tak perlu ditanya, kabar Bapak pasti jauh lebih baik," ucap Sammy datar.
"Hahaha kamu sekarang sudah ada aura jadi bos besar ya. Dulu kamu sedikit urakan seperti kakakmu." Tawa Eddyson terdengar renyah.
"Bapak bisa saja, tak ada yang bisa aku lakukan untuk membalas kebaikan hati Bapak. Aku mewakilkan keluarga hanya bisa mengucapkan terima kasih banyak Pak, sudah nolong kakak keluar dari rasa terpuruknya."
"Saya lakukan semua demi diri saya sendiri. Kamu tahu persis bagaimana perasaan saya pada kakakmu. Jangan panggil bapak lagi, panggil mas saja. Jika kamu mau balas budi baik saya. Saya ingin mempunyai arti di mata kalian sekeluarga," ucapnya tulus namun misterius.
"Oke Mas, itu permintaan yang sangat mudah dikabulkan." Sammy nyengir.
"Kamu tidak sukar mengabulkan, kakakmu itu sulit," sudah seperti mengadu bos besar itu berucap pada Sammy.
"Mungkin masih terbawa karena Mas pernah jadi bosnya, sabar sajalah Mas."
"Kak Robby, kita berdua juga cerita yok Kak, orang pada asyik. Putri cuma asyik mainkan ponsel. Aku sendirian," jelas ucapan Alcenna nyindir Sammy dan Eddyson.
Robby langsung melotot melihat Alcenna. Maksudnya memberikan kode jangan sampai si mas pose membunuhnya di tempat. Namun Alcenna seolah mengabaikan. Alcenna hanya cengir kuda saja.
Eddyson langsung mendekati Alcenna dan duduk di sampingnya. Para jomblo mulai bersiap dengan adegan romantis yang bikin hati iri untuk para jomblo. Walau katanya adek, perhatian Eddyson sangat luar biasa. Itu yang mereka tahu.
"Kamu sudah pandai nyindir mas ya sayang?" ucapnya sambil memeluk bahu Alcenna. Nah kan benar bikin jomblo mati kutu.
Alcenna yang merasa pelukan Eddyson lebih untuk menguatkan hati bukan nafsu justru membuat hatinya hangat. Ada rasa haru hadir di lubuk hatinya. Mata indah Alceena malah mengeluarkan buliran-buliran hangat.
"Kenapa menangis, apa mas ada salah ucap?" tanya Eddyson dengan lembut.
__ADS_1
"Tak Mas, aku hanya merasa haru. Selama ini aku berjuang batin hanya sendiri. Sehingga aku lupa arti hidupku sendiri. Pelukan Mas sangat hangat. Membuat aku sadar bahwa aku harus kuat. Masih banyak orang yang sayang aku ketimbang membenci aku," ucap Alcenna di dengar semua penghuni ruang tamu.
"Baru namanya ADIK Eddyson. Adik Eddyson tidak boleh lemah!" Eddyson sengaja menekankan kata adik. Dia sudah siap mengubur cintanya pada gadis kesayangannya dan menganggap adik. Asal gadisnya bisa bahagia.
"Makasih Mas."
"Sammy ... kamu belum menikah juga? Mas rasa usia kamu sudah cukup mapan untuk menikah?" Eddyson mengalihkan pembicaraan.
"Mas, jangan aku yang ditanya. Tu kak Putri masih jomblo akut, hahahaa," Sammy tertawa berpuas diri. Putri jelas tidak terima dikatakan jomblo akut.
"Tu Kak Robby apa sudah menikah, perasaan sudah mau kepala tiga setengahlah," ucap Putri melirik Robby. Robby tersedak minuman kaleng yang sedang diteguknya.
Mereka tertawa begitu juga Alcenna. Tanpa Alcenna tahu. Eddyson memandang dia dengan dalam.
"Jadi Kak Robby juga jomblo?" Sammy seakan senang di atas penderitaan Robby. Dia dan Robby baru saling mengenal beberapa waktu lalu, itupun hanya say Hello. Namun kini Sammy serasa mempunyai abang, setelah Arzon yang sangat dihormati dan di sayangnya melukai dalam perasaan kakaknya.
"Kebanyakan lembur Sam," sindir Robby entah kepada siapa satu.
"Apa kamu liat mas, dia kan mas gaji!" sifat arogannya langsung kumat.
"Siapa juga mau kerja sama mas kalau tak di gaji! Emang kak Robby tenaga sukarelawan apa." Robby terlihat tersenyum mendapatkan pembelaan dari gadis yang dianggapnya adik baru beberapa waktu yang lalu.
Mereka bergurau. Alcenna serasa mendapatkan arti hidup baru. Hati kecilnya bertekad akan keluar dari lubang hitam yang sesak dan gelap gulita.
"Makan yuk, mas lapar," kata Eddyson pada Alcenna.
"Ayolah," Alcenna berdiri dan di ikuti oleh Eddyson. Semua menyusul.
"Kamu buat apa Cenn?" Eddyson semakin sulit untuk memanggil Alcenn. Hati dan bibirnya hanya ingin memanggil sayang pada Alcenna. Namun dia tidak ingin salah langkah dan membuat Alcenna tidak nyaman.
__ADS_1
"Alcenn cuma buat ayam goreng mentega dan sambal pedas manis ikan mujair. Sambal goreng cabe saja ada. Sayurnya capcai. Mas suka?" kata Alcenna tiba-tiba melembut.
"Suka," ucap singkat Eddyson sambil menarik kursi meja makan. Tidak bisa Eddyson pungkiri, ada perasaan yang begitu dia rindukan. Kini itu hadir dari Alcenna.
Alcenna membantu Eddyson mengambilkan nasi dan lauk yang dia inginkan. Alcenna melakukan dengan lincah. Dia sudah terbiasa melayani suaminya. Alcenna melakukan itu semua untuk ucapan terima kasih. Hanya itu yang bisa lakukan saat ini.
Namun di hati Eddyson justru semakin berkembang rasa cintanya. Hal inilah yang tidak dia dapatkan dari sang istri, bersama belasan tahun. Kini orang yang dia cintai melakukan itu untuknya. Walau terkesan biasa namun luar biasa di mata seorang Eddyson. Betapa ingin hatinya untuk menjadikan Alcenna istrinya.
Mereka semua menikmati hidangan yang tersedia di atas meja makan walau tidak mewah. Meja makan kaca itu menjadi saksi rasa syukur mereka.
***
Jika Eddyson sibuk bahagia dengan gadisnya dan orang-orangnya. Di sebuah cafe seorang wanita yang tak lain istrinya sibuk dengan teman sosialitanya. Mereka sibuk membahas mulai yang berbau branded sampai berbau bandit.
Mereka duduk di sebuah kafe dengan ruangan yang memakai ac dan kursi sofa yang empuk. Dinding kaca pembatas ruangan VIP dengan ruangan biasa cukup tembus pandang melihat keluar namun tidak dari luar ke dalam. Mereka duduk berlima dengan gaya yang tidak terlalu mencolok. Menandakan mereka kelas sosialita yang tidak butuh pengakuan.
"Jadi kamu percaya Shin, kalau suamimu gak ada wanita idaman lain?" tanya satu teman nongkrongnya.
"Yakin Jeng, pria dingin dan kaku gitu siapa yang mau. Aku saja gak betah kalau dia gak berduit. Sekian belas tahun yang ada di otaknya kerja ... kerja ... dan kerja."
"Iya benar juga yang kamu bilang, suamimu dingin banget, sama kami aja dia sinis saja. Gak ada basa-basi dikit gitu," protes yang lain.
"Biar sajalah, sejak pindah di Jakarta ini dia lebih tenggelam sama dunia kerjanya. Aku ya senang saja. Pundi-pundiku nambah. Main luar negri hal mudah sekarang. Gak seperti dulu waktu cuma jadi orang suruhan, ujar Shinta.
Seakan tak bosan temannya menjadi iblis pemecah rumah tangga, "Jangan terlalu di abaikan Shin. Tar nyesal kamu, dia ada yang lain," ucap satu temannya yang lain.
Shinta hanya diam. "Bahas yang lain sajalah. Tak usah bahas para suami, yang ada tar badmood semua kita!" ucapnya.
Mereka tertawa. Mereka cukup tahu di antara suami mereka, suami Shinta yang paling dingin. Della yang cukup dekat betapa sering Shinta mengeluh dengan suaminya dan ingin pisah. Namun sejak suaminya punya perusahaan sendiri Della tak pernah mendengar Shinta mengeluh.
__ADS_1
Shinta senang dengan dunianya yang baru sekarang. Apalagi sejak anak semata wayangnya meninggal dunia tiga tahun lalu. Shinta tak pernah terlalu mengambil hati sikap suaminya. Baginya cukup ada uang dan ada teman-temannya.
**//**