
Di kamar Eddyson dan Alcenna ....
Eddyson dan Alcenna duduk dipinggir ranjang sambil berhadapan. Alcenna memandang Eddyson dengan dalam.
"Kenapa sayang?"
"Seperti mimpi rasanya, bos arogant jadi suami Alcenn," ucap Alcenna serius.
Namun Eddyson jalan pikirnya mulai tidak lurus. "Supaya gak mimpi ayo kita coba olahraga sore dulu sayang, gimana?" pancing Eddyson. Alcenna bersemu merah. Itu cukup menafsirkan bagi Eddyson, Alcenna tidak menolak dirinya.
Eddyson mendekat dan memeluk Alcenna dalam dekapannya yang hangat. Eddyson merasa tubuh Alcenna gemetar, dia merasakan lengan Alcenna yang dipegangnya menjadi sedikit basah. Menandakan Alcenna berkeringat. Dia hanya diam tanpa membalas pelukan Eddyson. Eddyson mengangkat dagu Alcenna, "Ada apa sayang? Kamu belum siap?"
Alcenna bimbang, di satu sisi dia takut menyakiti hati suaminya namun di satu sisi dia masih belum siap. Alcenna menyangka dia hanya trauma satu hal. Kini dia baru menyadari jika dia merasa hubungan suami-istri hanya merupakan kewajiban, tak lebih. Dia merasa tersiksa membayangkan harus melayani suami tanpa dia siap atau tidak.
Eddyson melihat kebimbangan dipancaran bola mata Alcenna, raut muka Alcenna juga menggambarkan kebimbangannya. Eddyson sangat paham jika Alcenna mulai ada yang salah dengan pemahaman dirinya. Eddyson melepaskan pelukannya. Dia merasa Alcenna tersentak bingung.
Eddyson mengangkat Alcenna dan meletakan Alcenna bersandar pada kepala ranjangnya. Dia meluruskan kaki Alcenna. Lalu dia duduk di samping Alcenna dengan menarik lembut kepala Alcenna dan merengkuh bersandar di dadanya.
Dengan sambil membelai lembut rambut Alcenna. Eddyson sengaja tidak menatap Alcenna. Dia tidak ingin mereka-reka, dia ingin jawaban yang pasti dari mulut Alcenna. Eddyson berharap dengan tidak menatap mata Alcenna, hanya memeluk memberikan Alcenna rasa nyaman dan Alcenna bisa jujur padanya.Eddyson bertanya, "Ada masalah apa sayang?"
"Mas tak marah?" tanyanya pelan.
"Apa pernah Mas marah sepanjang Mas kenal dan bersama denganmu?" ucap Eddyson terus memberikan Alcenna dukungan dengan sentuhan ringan di rambut dan bahu Alcenna.
"Tak pernah sih," jawabnya masih dengan suara yang pelan.
"Makanya, cerita sama Mas, biar Mas paham. Jadi kita tidak salah paham dan jika kita salah paham akan berlanjut-lanjut sayang dan itu akan buruk pada akhirnya."
Alcenna masih diam, dan Eddyson bertanya dengan pelan, "Alcenn ada masalah soal pemikiran hubungan intim atau dengan hubungan intim itu sendiri?" Eddyson merubah arah pertanyaan mencari tahu alasan Alcenna menolak secara tidak sadar.
"Pemikiran Mas," akhirnya dia beranikan untuk terus terang. Benar kata suaminya. Jika salah paham nantinya akan bertambah rumit.
"Ada masalah yang tak enak juga dulunya?" kata Eddyson dengan sabar. Alcenna mengangguk.
"Mas tidak desak Alcenna untuk menceritakan, jika Alcenn mau mas dengarkan jika tidak mas tidak paksa ...." Eddyson sengaja menjedah omongannya. Dia ingin melihat reaksi Alcenna sebentar. Alcenna masih diam dalam pelukan Eddyson.
"Cuma minta mas, hilangkan apapun pikiran Alcenna dengan masa lalu Alcenn. Mas bukan dia. Bagi mas apapun itu keadaannya, mas akan dulukan perasaan Alcenn. Mas meminta pada Alcenn bukan menagih kewajiban Alcenna." Entah memang Eddyson feeling atau memang dia tahu apa pemikiran Alcenn, yang pasti Alcenna bereaksi diluar dugaannya.
Alcenna bangkit dan melepaskan diri dari dekapan suaminya. Dia menghadap ke arah Eddyson dengan kedua tangannya bertopang ke kasur dan dua kaki yang dilipat dengan bersilang. "Kalau bukan hanya kewajiban apa ada alasan lain Mas?"
Eddyson sedikit banyak jadi lebih paham pikiran istri manjanya. "Ada dan itu bukan sekedar alasan tapi lebih pada kenyataan. Hubungan suami istri itu untuk menyalurkan hasrat biologis yang pastinya. Namun itu juga untuk menunjukkan betapa Mas membutuhkan kamu dan sebaliknya kamu juga begitu. Ada yang juga untuk memiliki keturunan. Banyak hal bukan hanya sekedar kewajiban. Jadi pola pikir kamu itu salah gadis kencur," ucap Eddyson sambil menyentil dahi Alcenna.
Alcenna memegang dahinya. Walau tidak sakit. Alcenna melayangkan protesnya. "Jangan panggil gadis kencur lagi."
"Gimana mas tidak panggil begitu, pola pikir kamu saja macam anak kemaren sore," Eddyson mengacak rambut Alcenn dengan gemas. Dia harus banyak sabar melihat sikap dan sifat istrinya.
"Jadi Mas?" Alcenna bertanya tak jelas.
"Jadi apa sekarang nih, nanti mas salah duga pula," ucap Eddyson dengan jahil.
"Jadi emang bukan itu saja?"
"Bukan itu saja apa ni sayang? jelas-jelaslah," Eddyson masih mempermainkan gadisnya. Dia berharap dengan begitu Alcenna lebih terbuka karena terpancing emosi dikerjainya terus.
__ADS_1
"Iya, maksudnya Mas tu, mau minta olahraga bukan untuk kesenangan Mas sendiri!" Tepat dugaan Eddyson. Jika emosi istrinya lebih terbuka.
"Ya bukanlah sayang, masa mas mau senang sendiri. Mas maunya berdua sama kamulah. Sama-sama senang. Jika Alcenn lagi tidak mood katakan saja sama Mas. Kita saling terbuka sajalah sayang. Intinya kamu harus ingat mas tak akan pernah buat kamu tertekan."
" Iya Mas, makasi." Alcenna merasa hatinya begitu tenang. Dia harus bisa mengubah pola pikir yang salah. Agar bisa menggapai mimpinya. Alcenna ingin punya keturunan. Alcenna mencium sayang pipi suaminya.
"Undangan apa cuma ucapan ni sayang? gurau Eddyson lagi.
"Keduanya boleh?" ucap Alcenna dengan malu. Eddyson benar tidak tahan melihat kelakuan istrinya.
Dia meraih istrinya. "Tanggung sayang mau magrib. Siap magrib ya mas ladeni."
Eddyson sangat dewasa. Dia sengaja mengucapkan kalimat itu agar istrinya yang merasa meminta padanya. Jadi istrinya tidak tertekan. Eddyson tidak mau mengkaji masalah lalu istrinya. Cukup baginya Alcenna bisa menjadi dirinya sendiri dan menjadi miliknya.
"Mas, Alcenn sangat mencintaimu."
"Mas jangan tanya lagi sayang."
"Jawabnya kok tak nyambung gitu."
"Mas sangat mencintaimu sayang."
"Sebelum menanti magrib dan olahraga malam yang kata Alcenna dulu, Alcenn mau ke mana ni Honeymoonnya?"
"Seperti pengantin remaja saja Mas pakai honeymoon."
"Bukan pengantin remaja saja, pangantin baru tepatnya. Lagian istri mas saja masih gadis kencur kalah sama remaja sekarang yang jauh dewasa dan banyak melakukan adegan dewasa. Mau ke mana?"
"Bawa semua ya?"
"Ibu, mama, papa, azarine, robby dan Putri. Mas kan janji sama Putri."
"Boleh juga. Selagi ibu libur," ucap Eddyson.
"Coba nanti pas makan malam Alcenn tanya mama dan papa. Kalau ibu sama Azarine jangan ditanya."
"Mas rasa mama dan papa pasti mau. Mama nempel saja sama kamu, macam dinding sama wallpaper." Alcenna menjulurkan sedikit lidahnya.
"Mancing juga nampaknya masih," ucap Eddyson gemas.
"Ke mana bagusnya ya Mas?"
"Mas terserah saja, asal sama kamu perginya," ucap Eddyson serius. Namun Alcenna malah tertawa.
"Halaaa pandai pula gombal dah tuapun," ejek Alcenna.
Eddyson mendekap Alcenna, dia berbisik di telinga Alcenna, "Mas masih kuat olahraga malam ini sampai 3 putaran sayang. Jangan nantang Mas bilang tua ya," Alcenna mencubit kuat paha Eddyson.
"Sakiit sayang, kamu ni memang ratu tega yaaa," ucap Eddyson sambil meringis.
"Rasain."
"Shalat yok sayang, sudah azan."
__ADS_1
"Mas harusnya shalat ke mesjid. Pria wajib melangkahkan kakinya kemesjid."
"Iya, besok di rumah kita mas shalatnya ke mesjid. Di sini jauh."
"Alasan," ucap Alcenna lembut.
***
Saat selesai makan malam, mereka berkumpul di ruang keluarga.
"Ma, Pa, Mas ajak kita berlibur," ucap Alcenna.
"Berlibur atau honeymoon?" tanya mama Ningrum.
"Rangkap sajalah Ma, biar hemat waktu."
"Kami gak diajak Kak?" cemberut Azarine.
"Adek sama Ibu pasti gak nolak, maka gak perlu kami ajak." Azarine tersenyum manis.
"Mama mau kok diajak, papa juga mau. Ya kan Pa?" mama mengasih kode keras untuk tidak menolak. Kontan membuat kami tertawa melihat cara mama Ningrum memaksa papa Hans.
"Hahaha, tidak berdaya jugakan Pa lawan mama?" ucap Eddyson.
"Ok, ke mana kita sayang?" tanya mama Ningrum pada Alcenna.
"Itu bingung Ma, ada ide Ma?"
"Kamu nurut aja Dek?" tanya mama Ningrum pada ibu Alcenna.
"Iyalah Mbak, aku tahunya rumah dan rumah sekolah," ucap ibu Alcenna tersenyum santai.
"Bagaiamana kalau ke korea?" kata Alcenna.
"Haa ke korea? Ngapain sayang, mau lihat song Joong-ki? tanya mama Ningrum.
"Ihhh tahu juga Mama yaa ...."
"Kok gak milih eropa sayang?" tanya Eddyson.
"Buang duit banyak saja, ke sana sajalah kita. Tujuannya kita kan bersama dan gak perlu pencitraan ya kan Pa?"
"Ehemm ... papa Hans terbatuk tidak disangka akan di senggol sama Alcenna. Namun tak urung papa Hans mengangguk tanda setuju.
"Oke, Ibu maukan?" tanya Alcenna. Ibu mengangguk.
"Kalau gitu kami olahraga malamlah dulu Pa," ucap Eddyson.
"Isss tak tahu malu Mas ini," protes Azarine.
"Kamu juga bukan muda lagi Rin, nikahlah lagi. Biar Mas carikan jodoh ya?" ucap Eddyson ngusili adik iparnya.
"Macam tak laku. Gak ahhh, Arin cari sendiri."
__ADS_1
Eddyson pamit dan menarik Alcenna.
**//**