
Alcenna pamit pada adik-adiknya dengan menceritakan singkat saja. Jelas adik-adiknya protes.
"Kakak sudah pikir panjang?" Sammy yang angkat bicara duluan sementara Azarine hanya melihatku dengan tatapan yang tidak Alcenna mengerti. Alcenna tak bisa banyak berpikir.
"Sudah Dek ... yang penting kakak pergi dulu minta restu ayah-ibunya. Soal yang lain nanti kita bahas dan jika ayah dan ibu tanya bilang kakak ada acara sama teman kakak," Alcenna berkata dengan lembut pada adik-adiknya.
Walau hatinya panas dengan kejadian ini, bukan sifat dia melampiaskan pada orang lain apalagi adik-adik tersayangnya.
"Baiklah Kak, kami percaya Kakak lebih paham dari kami soal hidup Kakak." Masih tetap Sammy yang buka suara. Itulah adik-adik Alcenna. Mereka sangat hormat dan menyayangi kakaknya. Mereka bisa menghargai apa yang kakaknya lakukan dan putuskan.
Rasanya tak sia-sia ayah gadis itu mengajarkan Alcenna untuk bisa menjadi kakak yang baik bagi mereka. Walau dulu Alcenna menerima hukuman atas kesalahan adik-adiknya. Kini dia paham apa maksud ayah, secara tidak langsung dia sudah berwibawa di mata mereka.
"Kakak pergi ya Dek, besok malam paling kakak sudah berangkat lagi ke sini. Ini duit kakak tinggali untuk makan, pesan katering seperti biasa atau beli nasi goreng saja nanti malam."
"Kak ... hati-hati ya dan cepat pulang ya Kak." Akhirnya Azarine buka suara dan terlihat mendung di matanya. Matanya berkaca-kaca melihat Alcenna.
Walau hati sang kakak terenyuh melihat kesedihan di raut wajah adiknya, tapi itu tak bisa memutuskan tekad Alcenna semula.
"Sudah jangan sedih dan cengeng, kakak bukan pergi perang, tapi pergi minta restu loh Dek ... iyakan Sammy?" kata Alcenna berusaha ceria sambil mengusap lembut rambutnya dan tak lupa minta bantuan Sammy menenangkan hati Azarine.
"Iya Dek tenang aja, percaya sama kak Alcen ... abang percaya sama kakak. Kak Alcen pasti tahu yang terbaik untuk dirinya dan kita." Sammy mengerti kode yang kakaknya berikan.
"Baiklah kakak berangkat dulu ya, itu taksi kakak sudah datang dan mungkin abang sudah menunggu di terminal bus, kakak sengaja gak izinkan dia ke rumah dulu untuk sementara ini. Assalamu'alaikum Dek."
"Wa'alaikumussalam .... "
Alcenna melangkah tanpa menoleh ke belakang, dia masuk ke taksi dan meminta mengantarkan ke terminal bus.
"Halo Cen ... di mana?"
"Aku masih di taksi, mu sudah di mana Bang?" Alcenna sudah pakai 'aku-aku' ke badan, pakai pula 'mu' dan ada pakai kata 'abang' lagi. Bicara gadis itu jadi sedikit kaku dan nadanya juga kurang bersahabat. Dia ingin melampiaskan semua ke Arzon.
"Ohhh, abang tunggu di sini ya." Walau nadanya tak ada yang enak didengar, nada suara dia tetap lembut pada Alcenna.
__ADS_1
"Di sini manaaa ... ngomong yang jelas!" Tak sengaja Alcenna melihat sopir taksi melihat ke spion mendengar nada yang tak bersahabat dan teriakan sedikit keras.
"Di terminal bis Cen. Tiketnya sudah abang beli." Terdengar nadanya yang sedikit kesal. Gadis itu sudah kelewat batas menguji kesabarannya. Namun itu kesalahan pria itu sendiri, kenapa memilih berbohong demi satu tujuan.
"Masa bodoh dan peduli apa dengan semuanya. Belum setimpal dengan apa yang dia dan istrinya lakukan padaku. Itu yang hatiku rasakan. Belum sesakit yang aku lakukan buat kalian berdua!" Dia bergumam kecil mengeluarkan umpatannya. Supir hanya melirik sekilas dari spion tengah.
Tak lama Alcenna sampai di terminal, Arzon sudah menunggu di dekat loket bus yang menuju ke kampung ibunya. Alcenna hanya membawa tas ransel yang berisi beberapa pakaian ganti. Seperti biasa dia tetap perhatian dan tas Alcenna telah diambil alih oleh Arzon.
Dia menggenggam tangan gadis itu menuju bangku yang disediakan untuk penumpang yang akan berangkat.
Alcenna tak menepiskan dan menerima genggaman tangannya walau dia tak ada rasa kehangatan di hatinya seperti biasa.
Alcenna diam mengikuti langkah kakinya dan baru melepaskan genggaman tangannya ketika sampai di bangku yang tersedia.
"Duduk di sini sebentar ya, abang cari minum sama snack untuk di jalan." Alcenna hanya diam saja tanpa menoleh padanya. Terdengar lelaki itu menghela nafas.
Kini Alcenna dan Arzon sudah berada di dalam bus. Tak ada satu katapun yang Alcenna ucapkan.
"Ngantuk? " Akhirnya dia bertanya pada Alcenna.
"Belum."
Alcenna kembali berdiam diri. Dia pun menyadari kalau gadis itu masih kesal. Alcenna hanya memandang keluar seakan ingin menembus pekatnya malam. Dia tidak bisa lagi berpikir jernih dengan semua yang terjadi. Pikirannya hanya satu, "Akan aku buat dia kehilangan suami, seperti keinginannya!"
Alcenna tidak tahu berapa lama tertidur. Tanpa dia sadari bus sudah mulai memasuki kota di mana ibu dan ayahnya tinggal sekaligus tanah kelahiran ibunya. Alcenna tersentak saat dia menepuk pelan pipinya untuk membangunkan gadis tersebut.
"Cen sudah sampai."
Alcenna melirik arloji tangannya, waktu menunjukan pukul 04.00 subuh. Mereka turun dari bus dan mencari tempat membersihkan diri. Untuk sampai ke kampung lelaki tersebut, harus menyambung memakai angkutan umum lagi.
***
__ADS_1
"Bu kenalkan ini Alcenna." Dia memperkenalkan gadis itu pada ibunya dan gadis itupun menyalami ibunya serta mencium punggung tangan beliau, sama seperti menyalami orang tuanya.
Alcenna duduk di lantai yang telah di beri tikar oleh beliau. Alcenna tak ingin berbasa-basi terlalu banyak. Alcenna sampaikan tujuan mereka datang mendadak.
"Bu ... kedatangan Alcen ke sini terus terang Alcen ingin minta restu Ibu. Jika Ibu merestui Alcen akan menikah dengan anak Ibu, tetapi jika tidak Alcen akan mundur." Alcenna berkata tanpa tandeng aling-aling.
Seakan tidak mau lagi berbasa-basi dan bertele-tele sampai kalimat yang harusnya laki-laki ucapkan menjadi gadis itu yang mengucapkan. Dia tak perduli dianggap tidak tahu malu yang dia pikirkan apa keputusan orang tua lelaki tersebut.
"Tapi Alcen tahu kalau dia punya anak?" Ibunya menyinggung perihal anaknya Arzon, cucu beliau.
"Alcen tahu Bu, soal itu Ibu tak usah khawatir. Jika Ibu restu kami akan menikah secepatnya dan anak-anak akan kami tanggung-jawabkan," kata Alcenna serius.
Dia memang berprinsip dosa orang tua bukan berati dosa anak. Jadi anak tak perlu menanggung derita atas kesalahan orang tuanya.
"Ibu sudah pasrah pada pernikahan mereka tidak sekali dua kali mereka mau bercerai, bahkan pernah sampai satu tahun Arzon tak pernah pulang ke rumah istri dan anaknya. Ibu meminta kepadanya untuk kembali pada istrinya. Sekarang mungkin jodoh mereka memang sudah habis. Ibu serahkan semua pada Yang Di Atas." Ibunya menjelaskan sedikit bagaimana gambaran rumah tangga anaknya.
"Ohhhh ... sebenarnya Alcen sudah memutuskan bang Arzon Bu, bahkan Alcen sudah minta maaf pada istrinya. Tapi wanita itu malah mempermalukan Alcen di komplek perumahan Bu. Jadi Alcen pikir kepalang basah bagus langsung menyebur, lagian kami juga saling mencintai Bu."
"Saling mencintai? Dulu mungkin iya aku mencintainya tapi sekarang kata-kata itu terdengar menggelikan diucapkan." Batin Alcenna.
Semua bukan lagi demi cinta dia perjuangkan, tetapi hanya demi memenuhi nafsu dan harga diri, harga diri yang terluka dibuat oleh pasangan suami-istri yang tidak bertanggung jawab pada ikrar mereka dan melimpahkan kesalahan pada gadis muda itu.
Mereka pikir mereka orang dewasa, tetapi siapa diri mereka yang seenaknya mempermainkan hati seseorang dan melukai harga diri seorang gadis yang masih dipenuhi gejolak dan berdarah panas.
**//**
Makin sensikan??? (Pastinya iya masa gak 😡) 😁🙏🙏
**Hanya saja aku sebagai penulis meminta, jika tidak terima dengan tulisan dan cerita ini ya mohon SKIP saja, setidaknya jangan memberikan bintang satu 😭. Salah aku apa coba, akukan menulis saja 😂
Cerita inipun aku dapat ide dari jalan hidup seseorang, dan aku kasih bocoran wanita itu masih hidup dengan suaminya dan mengurus anak suaminya 😇, namun aku hanya mengambil ide separoh saja dari jalan hidupnya. Biar sedikit dramatis.
Tetapi, aku tanpa para pembacaku hanya puing-puing yang tak berharga. MISS U 💝**
__ADS_1