
Setelah mantan istri Arzon selesai masa nifas. Alcenna mulai menanyakan kapan surat cerai secara hukum akan diurus. Alcenna sudah berniat untuk menikah. Dia mulai lelah dengan hubungan tanpa ikatan sah. Dia tak nyaman bertemu setiap hari di luar atau menyambut Arzon di rumah lalu melepasnya pulang. Walau Arzon telah tinggal di rumah Melfa.
Sesuai syarat yang diajukan ayah Alcenna, baru boleh menikah setelah ada surat cerai dari Pengadilan Agama. Itu berati ayah tidak akan mengizinkan Alcenna menikah secara siri.
Alcenna juga tidak mempunyai niat untuk menikah siri, karena dia tak ingin kehilangan haknya dimata hukum, jika sesuatu yang tidak diinginkan terjadi dalam rumah tangganya.
Bukan Alcenna tak mau berpikir positifnya, tetapi dalam hidup hal buruk juga harus dia prediksikan bisa saja terjadi. Andai dia menikah siri, masalah yang dipikirkan akan timbul adalah jika kelak memiliki anak dengannya, Alcenna akan kesulitan mengurus aktanya. Itu kerugian utama yang akan dia alami. Bisa jadi alasan itu juga yang dipikirkan oleh ayahnya.
"Kapan lagi mau diurus Bang?" kata Alcenna pada suatu sore, setelah pulang kerja. Ini sudah tiga bulan mantan istrinya lepas melahirkan.
"Iya tunggu abang ada dananya." Arzon selalu memberikan alasan itu.
"Kapan ada dananya?" Alcenna mulai sensi membicarakan soal gugatan cerai secara hukum untuk mantan istri Arzon. Pasalnya dia terkesan lambat untuk mengurus mengajukan gugatan cerai tersebut.
"Ini sudah kesekian kalinya Alcen tanya pada Abang. Jangan membuatku bosan dengan masalah ini." Alcenna mulai tidak sabaran dalam menghadapinya.
"Sabar kenapa?" Dia yang biasanya tidak pernah meninggikan suaranya mulai pandai berkeras pada Alcenna dan itu kontan menyulut amarah Alcenna.
"Apa yang mau aku sabarkan, jangan banyak alasan denganku. Jika mau menolak katakan saja. Aku masih bisa mundur baik-baik." Alcenna mulai berkata kasar.
"Baik-baik sedikit ngomongnya bisa gak?" Lelaki itu terdengar kesal dan menahan amarahnya.
"Baik-baik katamu? Kurang baik apa aku selama ini. Aku cuma minta kepastian, kapan semua ini selesai. Jika kau tak bisa menyelesaikan dengannya ... aku rasa lebih baik kita saja yang selesai sampai di sini. Aku tidak mau membuang waktu sia-sia seperti bersama mantanku dulu!" Darah Alcenna sudah mendidih dan sudah tak bisa mengontrol dirinya. Dia mulai membawa-bawa masa lalunya juga.
Alcenna pada dasarnya memang bukanlah gadis yang penyabar dan dia juga gadis yang pembosan. Alcenna bosan dengan tiada kepastian dari Arzon. Apalagi pengalaman masa lalunya, mengajarkan padanya untuk tidak melarutkan sebuah masalah terlalu lama.
"Jangan bawa masa lalumu pada hubungan kita." Arzon terpancing emosi.
"Jadi? Hanya kau yang boleh punya masa lalu?" Masa laluku setidaknya tidak berdampak banyak pada kau!" Alcenna tak surut.
"Jadi sekarang apa maumu?" Arzon juga terlihat gelap mata, karena Alcenna tidak pernah memakai 'kau' dalam penyebutan padanya.
Mendengar pertanyaan Arzon, Alcenna menjawab, "Ok, aku mau kita selesai sampai di sini!"
Setelah mengatakan selesai sampai di sini tanpa menunggu jawaban yang keluar dari mulut lelaki itu, Alcenna telah memilih keluar dari warung siomay tersebut dan menaiki angkutan kota lalu pulang. Arzon hanya diam dan tak mengejarnya.
Alcenna mandi dan memilih istirahat lebih cepat. Alcenna tidur membawa kedongkolan dalam hatinya. Alcenna merasa sakit hati ketika Arzon bersuara keras. Dia merasa semua hanya akan sama seperti saat bersama Ardhan.
"Uhhh tak ada guna pacaran lama-lama, kalau juga tak bisa serius. Jodoh juga bukan aku yang atur. Setidaknya, aku berusaha untuk keluar dari lingkaran dosa, dengan pacaran-pacaran hanya menumpuk dosa."
Alcenna sudah siap jika Arzon memang menyetujui keputusan dia semalam.
***
Seminggu sudah saling diam sejak kejadian sore itu. Alcenna memang sempat kehilangan dan merasa ada yang hilang selama seminggu ini. Arzon tak ada memberi kabar, Alcenna meyakinkan diri, Arzon memang memilih menyelesaikan hubungan mereka.
__ADS_1
Di tengah kekosongan yang dirasa jiwa Alcenna, bosnya menawarkan untuk mengikuti pelatihan, 'Meningkatkan kinerja sebagai pemimpin' selama seminggu ke Jakarta.
Alcenna tentu tidak menolak sebab semua biaya di tanggung perusahaan bahkan dia diberi uang saku lebih dari perusahaan dan uang pribadi bosnya sendiri. Alcenna berpikir, tidak perlu menyesali semua yang terjadi. Walau perjuangan selama ini terasa sia-sia baginya. Alcenna tak mau terpuruk dua kali.
Alcenna mendapatkan dana pribadi juga dari bosnya, karena ada cerita tersendiri. Saat ditawarkan Alcenna terlihat sangat berminat akan tawaran manis bosnya, tetapi dia juga terlihat ragu.
"Kamu berminat? Lagian ada manfaatnya padamu, tidak sekarang, suatu hari nanti," ucap bosnya. Alcenna sedang menuju supermarket-supermarket bersama bosnya.
"Minat Pak, cuma ...." Alcenna terlihat ragu meneruskan ucapannya.
"Ada masalah? Katakan terus terang. Saya tak suka membuang waktu," kata bosnya dengan jutek dan menilik dalam wajah Alcenna. Alcenna sudah terbiasa dengan sikap bosnya. Alcenna tahu hati bosnya baik.
"Aku tidak punya uang banyak lagi di tabungan Pak. Aku takut hanya mengandalkan uang dari kantor saja tidak cukup di sana Pak."
Alcenna memang tidak punya tabungan lagi, uangnya telah dia berikan pada Arzon dulu untuk modal dan belum diganti.
"Ohhh karena itu. Nanti saya bantu dengan dana saya. Tetapi potong gaji ya jika melebihi target yang saya bantu."
"Iya Pak, makasih yaa Pak." Alcenna memberi senyum tercantiknya untuk kebaikan hati bosnya."
"Hmm baik dan sayangkan saya sama kamu."
"Iya Pak, tapi jangan ungkit begitu, hilang pahalanya nanti."
"Siiip tentu Pak, lagian kalau soal sayang, saya baik dan sayang juga sama Bapak. Terbukti apa yang Bapak minta saya turutikan selama ini?" Alcenna berani bercanda dengan bosnya karena di luar jam istirahat kantor, atau sedang pergi survei bersama ke supermarket seperti siang ini.
Di kantor Alcenna tak berani, bosnya saja ngebossy sekali. Di luar kantor, bosnya juga yang suka mengajak dan mengajarkan Alcenna bercanda. Maka Alcenna berani.
"Ohh ya, kamu yakin apa yang saya minta kamu turuti?" Pancing bosnya.
"Bapak bisa lihat sendiri. Selama ini apa pernah Alcen menolak Bapak?" Alcenna salah dalam pengucapannya. Seharusnya dia menambahkan kata 'perintah' setelah kata 'menolak'. Kesempatan ini dijadikan momen bulan-bulanan bosnya.
"Kalau saya minta cintamu bagaimana?" ujar bosnya kemudian.
"Ya tak bisalah Pak," kata Alcenna santai.
"Kenapa gak bisa? Katanya tak pernah menolak. Lagian kamu juga single."
"Aku memang single, nah Bapak masa mau doble-doble. Bapak punya ibuk ... mana mau aku dicakar ibuk gara-gara Bapak menduakannya," kata Alcenna sambil nyengir kuda poni.
"Saya sudah lama suka dengan kamu loh Cen." Terdengar seperti pernyataan cinta di telinga Alcenna yang lagi menjomblo. Namun Alcenna tahu si bos lagi mengusili dirinya.
"Iya tahu Pak ...." Alcenna mau membalas mengerjai bosnya juga.
"Jadi kamu sudah tahu?" tanya bosnya terdengar serius. Alcenna jadi bingung, bosnya serius apa masih bercanda.
__ADS_1
"Ya tahu donk Pak, kalau Bapak tak suka pasti Alcen sudah lama Bapak pecat." Alcenna masih saja membawanya dengan candaan. Bosnya pun tersenyum, Alcenna tahu bosnya suka mengusili jika dia minta ditemani kunjungan ke supermarket-supermarket.
"Kalau begitu kamu saya pecat saja ...." Bos Alcenna seperti sengaja menggantungkan kalimatnya.
"Ya Bapak pecat dari karyawan, jadi istri kedua Bapak gitu?" Alcenna sok pede saja, dan lagi Alcenna tak juga menganggap serius. Bosnya tertawa.
Sore sebelum pulang ke kantor, Alcenna ditraktir bosnya lagi untuk ngopi-ngopi setelah siang tadi diajak makan siang.
"Mau pesan apa Pak, Kak?" kata pramusaji menyodorkan tabel menu.
"Cen ... kamu mau pesan apa?" Sambil si bos menyodorkan buku menu kepada Alcenna.
Sambil membuka buku menu Alcenna berkata, "Pesan cowok ganteng bisa gak ya Kak? " pramusaji hanya tersenyum mendengar gurauan Alcenna. Terlihat bosnya mendelik. Alcenna tertawa kecil.
Alcenna setelah itu menyebutkan menu kepada pelayan kafe dan bosnya menyusul dengan menu yang sama seperti Alcenna pesan. Secangkir kopi berkrimer.
Setelah sang pelayan kafe pamit membuatkan pesanan, bos Alcenna kembali bertanya, "Cen ... kamu masih punya pacar?"
"Pacar tak punya Pak ... calon suami ada." Alcenna berbohong, dia teringat sudah seminggu Arzon mendiamkannya. Bahkan mungkin sudah menyelesaikan seperti ucapan Alcenna tempo hari saat marah.
"Mapan gak calon kamu itu? Kalau gak mending kamu sama saya saja Cen, saya tampan dan mapan lagi." Bos Alcenna membanggakan diri dengan narsisnya.
"Mapan sih mapan ... ganteng sih ganteng ... tapi punya orang ogah saya pak." Alcenna secara halus menolak. Alcenna mulai waspada jika pembicaraan ini serius. Kemaren tak pula pernah mereka membahas yang beginian.
Si bos Alcenna tertawa ngakak mendengar ucapan Alcenna, lalu dia bertanya. "Berapa beda usia kamu dan dia?"
"12 tahun Pak."
"Jauh juga jarak perbedaan usia kalian, berarti sebaya saya donk? Kalau begitu mending dengan saya sajalah kamu." Sebentuk senyum misterius hadir di bibir bos Alcenna. Alcenna tidak terlalu memperhatikan itu. Alcenna sibuk mengedarkan pandangannya.
"Apaan si Pak, dari tadi dengan Bapak melulu ... Bapak salah makan obat tadi pagi?" Alcenna mengembalikan pandangannya dan menatap bosnya. Dia terlihat mulai kesal.
"Mungkin juga ... selama ini saya tidak begitu memperhatikan kamu, ternyata kamu cantik, imut dan pintar lagi." Padahal bosnya tahu itu dari awal. Alcenna tidak bisa menduganya, apa serius atau masih mencandainya.
"Itulah Bapak, selama ini mengasih perintah melulu padaku dan teman-teman seperjuanganku, tak pernah Bapak perhatikan wajah cantik ini sudah cukup menderita Bapak perintahkan." Gurauan Alcenna sukses membuat bosnya kembali tertawa.
"Tapi kamu benaran cantik ...." Bosnya kembali memuji.
"Terima kasih Pak, lebih cantik lagi kalau dikasih bonus tiap bulan," kata Alcenna asal.
Tak lama berselang kopi pesanan datang. Pembicaraan yang tadi bercanda berganti topik menjadi serius. Mereka membahas pekerjaan dan soal keberangkatan ke Jakarta.
**//**
__ADS_1