Tolong Aku SuamiKu

Tolong Aku SuamiKu
Perasaan Alcenna


__ADS_3

Apartemen Robby ....


Putri dan Alcenna telah sampai lebih dulu. Robby meminta Putri lebih dulu membawa Alcenna ke apartemennya. Setelah mereka sampai baru Rooby memesan taksi seperti yang direncanakan.


Eddyson sengaja merencanakan ini. Jika pak tua itu mengikutinya sekalipun. Alcenna dan Putri sudah di dalam.


Robby membuka pintu apartemennya, dia sudah berpesan pada Putri tidak keluar setelah masuk ke apartemennya.


Putri sama Alcenna sedang bersantai nonton drama korea di ponsel masing-masing.


"Ehheeem ...." Deheman Eddyson memecahkan fokus mereka berdua. Mereka seakan gadis kembar yang kompak dengan gerakannya. Mereka sama-sama menaruhkan ponsel ke meja dan menoleh ke Eddyson dan Robby.


Setelah Eddyson dan Robby, Putri dan Alcenna kompak menawarkan minum pada orang yang berbeda.


"Mas mau di buati teh hangat?" kata Alcenna sementara Putri, "Kakak mau dibuati kopi?"


Mereka bukannya mendapatkan jawaban tapi malah mendapat tertawa dari Eddyson dan Robby.


"Benarkan kata saya Rob, mereka satu perangai. Maka betah dari jaman baholak berteman sampai sekarang." Robby hanya tersenyum misterius.


"Mau dibuati minum apa tidak" tanya Alcenna lagi.


"Mas mau, tapi sungkem dulu. Sudah lama gak ketemu reaksi apa ini?" protes Eddyson bersungut. Mereka hanya tersenyum simpul.


Alcenna mengalah, dia pun menyalim Eddyson dan berucap, "Belum juga dua bulan."


Eddyson sangat gemas dengan sindiran-sindiran Alcenna.


"Sepertinya hobby barumu nyindir mas ya?" kata Eddyson lembut tanpa ada nada kesal di dalamnya. Alcenna hanya senyum simpul.


Putri lalu beranjak ke dapur. Alasannya membuatkan Robby minum. Entah dia malas menyaksikan kemesraan dua manusia yang tidak ABG lagi. Robby menyusul seolah memberikan waktu, "Biar kakak bantu Putri."


Kini di ruang tamu hanya tinggal mereka berdua. Eddyson tidak bisa menutupi kerinduannya pada gadis kesayangan. Jika tidak ingat Alcenna tipikal yang pemarah. Ingin dia memeluk erat. Eddyson bersabar, dia akan mendapatkan Alcenna bagaimana pun caranya.


Manusia memang insan yang tamak dan tak pernah puas. Jika awalnya dia bisa ikhlas asal Alcenna bahagia kini dia berambisi juga untuk kebahagiaannya.


"Apa kabar sayang?" Akhirnya kalimat itu yang mewakili perasaannya. Eddyson mengucapkan tanpa ada godaan atau niat menjahili gadisnya. Tatapannya menghujam dalam ke bola mata Alcenna.


Alcenna tiba-tiba merasa canggung dengan kalimat itu. Debar di dadanya tidak bisa ditolaknya. Alcenna seperti gadis remaja, dia salah tingkah sendiri. Melihat pandangan Eddyson yang seakan begitu memujanya. Andai Alcenna lebih peka dari dulu, pandangan Eddyson tidak pernah berubah saat memandangnya.


Alcenna hanya tersenyum tipis menetralkan hatinya yang bergejolak. Eddyson bukan pria kemarin sore. Eddyson pria dewasa. Sikap Alcenna membuat dia memahami sesuatu. Eddyson merasa harapannya semakin besar pada Alcenna.


"Kenapa gadis mas, jadi kalem. Tumben? Apa mas ada salah?" Eddyson tidak ingin menyudutkan gadis kesayangannya.


"Tidak kok Mas, bukan itu maksudnya," jawab Alcenna makin ambigu dan tidak beraturan. Ingin rasanya Eddyson tergelak. Namun tak ada niat hatinya merusak hati gadisnya yang baru keluar dari cangkang yang gelap.


"Mas pinginnya kamu yang buati teh sayang, mas kangen sama teh kamu," usir Eddyson halus. Agar gadisnya bisa lebih tenang.

__ADS_1


"Ok Mas," ucap Alcenna dengan semangat seakan dapat angin segar. Eddyson tersenyum.


Sepeninggalan Alcenna, Eddyson menarik napas dengan kuat. Sungguh hatinya membuncah bahagia melebihi saat muda dia berkenalan dengan Shinta. Perasaan itu seakan penuh memenuhi rongga dadanya.


Di dapur ....


Robby duduk minum kopi dengan Putri. Robby melihat Alcenna gelisah, begitu juga Putri. Alcenna terlihat berulang kali menarik napas kuat dan mengembuskan dengan kasar.


"Ada apa Cenn?" tanya Robby heran. Robby mendekati Alcenna.


"Iya, ada apa Cenn?" kata Putri dengan lembut. Putri sedikit trauma melihat sikap gelisah Alcenna. Sungguh Putri tak ingin Alcenna mengalami hal yang menyusahkan hatinya. Putri meremas pelan bahu Alcenna.


"Aku merasa canggung, merasa grogi ketika mas menanyakan kabar dengan memakai kata sayang," ucap Alcenna dan dia menunduk.


Robby dan Putri saling pandang, mereka melempar senyum seakan mengerti apa yang terjadi dengan Alcenna, pada perasaan Alcenna.


"Kamu jatuh cinta berarti tuh?" ucap Robby pelan namun masih terdengar oleh Alcenna.


"Jatuh cinta Kak?" tanyanya seperti orang bodoh.


"Apa kamu tidak pernah merasa grogi di dekat pria lain?" Robby ingin menyebut mantan suami Alcenna, tapi Robby tidak berani ambil resiko.


"Ada Kak, tapi tidak seperti ini rasanya. Rasanya hati ini berdebar terus Kak. Susah untuk menetralkannya. Dulu tidak pernah seperti ini, iyakan Put?" tanyanya seolah mencari pembelaan dari Putri.


Putri ingin terpingkal, karena dia mana tahu perasaan Alcenna. Alcenna hanya selalu tertawa saja kalau cerita lagi dekat dengan mantannya dan dengan si pelaut. Ini kali pertama Alcenna seperti ini. "Iya Kak, dulu Alcenn cuek deh Kak," putus Putri membela Alcenna.


"Kak Robby juga tahu, Alcenna dekat sama mas dari dulu, tapi tak gini amat hati ini. Mana tatapan mas tu beda Kak," Alcenna mengadu pada Robby.


Alceena teringat dia diminta buat teh hangat. "Alcenn diminta buat teh Kak," ucapnya dengan muka makin merah.


"Parahlah nampaknya bucin pasangan ni bentar lagi Kak," kata Putri menyadari sesuatu.


"Maksudmu Put?" tanya Robby tak mengerti.


"Lihat tuh Kak, dulu aku gak pernah melihat mukanya merah hanya karena membayangkan orangnya," olok Putri.


"Apaan sih Put!" tekan Alcenna sambil membuat teh hangat.


"Iya Cenn, mukamu merah. Kamu demam?" Robby meraba muka Alcenna. Terasa hawa panas menempel di telapak tangan Robby.


Putri mendekati Robby dan menarik Robby sedikit menjauh, dia berbisik, "Hati-hati Kakak, kalau nampak sama bos pose itu, kelar hidupmu Kak," cekikik Putri.


"Eheeem, apa yang kalian tertawakan," kata Alcenna. "Kak, ayo kita ke depan aku tak nyaman sendiri." Alcenna mengajak.


"Aku gak diajak?" tanya Putri dengan lucu.


"Tidak, kamu tinggal di sini," kata Alcenna pura-pura marah.

__ADS_1


"Cepaaatlah Kak, nanti kelamaan nyusul pula, tuh berkumpul pula di dapur ini lagi," Alcenna mendesak Robby.


"Kak, Kakak yang bawa tehnya ya, tak lucu kalau nanti jatuh dari tanganku Kak." Robby mengangguk dan mengambil alih. Robby merasakan tangan Alcenna yang dingin. Robby membatin, "Apa segitu grogi Alcenna yang dulu sangat rileks mencandai bosnya."


"Kenapa lama?" tanya Eddyson menilik Alcenna. Alcenna seakan buang muka tak acuh. Eddyson lagi-lagi tersenyum.


"Itu Pak, Putri asyik godai Alcenna," kata Robby memberikan gambaran sama Eddyson apa kerja mereka di belakang. Alcenna jelas mendelik tajam pada Robby.


Eddyson menyeruput teh hangatnya dan memakan kue yang dibuat Alcenna tadi siang. "Hmmm enak kuenya, walau sederhana rasanya pas sekali di lidah," ucap Eddyson mencairkan suasana.


"Alcenna yang buat itu Pak, kata Putri," Alcenna mendelik. Mengkode jangan sampai mereka tahu Alcenna mengisi waktu dengan mengantarkan kue ke warung-warung. Robby dan Eddyson memang tidak pernah tahu.


"Serius? Kamu juga pandai buat kue sayang?" tanya Eddyson.


Bukannya menjawab Alcenna malah membekap mulut Putri sambil tersenyum aneh. Putri paham. Namun Eddyson langsung curiga.


"Ada apa?" katanya serius meminta penjelasan.


Ucapannya yang serius membuat Putri serba salah juga Alcenna. Robby hanya kebingungan ada apa gara-gara kue.


"Bagus kalian berdua jujur ada apa. Dari pada saya yang cari tahu!" tegasnya. Memakai kata 'saya' berarti merujuk ke Putri yang ditanya. Alcenna melihat Putri kebingungan. Alcenna tak mau sahabatnya terpojok kebingungan.


Dengan muka memelas dan garuk-garuk pelipisnya, Alcenna berkata, "Alcenn buat kue dan Alcenn antar ke warung-warung sekitar komplek.


Eddyson sebenarnya terkejut dan ingin marah. Seolah yang diberinya tidak cukup. Namun dia berpikir dari sudut pandang lain. Dia justru merasa salut lihat kegigihan sikap Alcenna.


Alcenna dan Putri menunduk, hanya Robby yang memperhatikan interaksi mereka bertiga.


"Kenapa menunduk, kamu kira mas akan marah sama kamu?" kata Eddyson lembut.


Alcenna dan Putri saling pandang sambil masih menunduk lalu baru mendongak memandang Eddyson. Kelakuan mereka berdua yang seperti anak kecil akan kena marah sungguh membuat Robby dan Eddyson tertawa renyah.


"Mas tak marah?"


"Kenapa harus marah?"


"Karena seakan yang Mas kasih tak cukup," ucap Alcenna. Alcenna tahu sepintas tadi Eddyson sempat mau marah. Namun hilang begitu saja sebelum sempat dikeluarkan.


"Tadi awalnya mas berpikir begitu, tapi mas gak boleh ego."


"Jadi kenapa Mas suruh kami ke sini?" tanya Alcenna.


"Ada yang mau mas ceritakan, mas takut lama-lama kamu salah paham."


"Soalan?"


"Kamu pindah duduk dekat Mas dulu, biar Robby dekat Putri. Mana enak jeruk makan jeruk," ucapan tidak tahu malunya mulai kumat.

__ADS_1


Robby cepat berdiri dari samping bosnya, dari pada kena usir, mending dia tahu diri. Alcenna juga akhirnya berdiri, dan menghempaskan duduk di samping Eddyson.


**//**


__ADS_2