Tolong Aku SuamiKu

Tolong Aku SuamiKu
Air Mata Alcenna Kering Sudah.


__ADS_3

Alcenna kembali ke nerakanya setelah seminggu bersama Marya. Alcenna mulai memasukkan lamaran kerja. Niat awal hanya ingin jadi ibu rumah biasa, setelah banyak hal yang Alcenna lalui. Dia memutuskan mencoba menjadi wanita karier.


Latar belakang pendidikan dan usia yang masih terbilang masih muda, menjadi motivasinya untuk bangkit.


Namun untuk bangkit tentu tidak semudah seperti film drama, yang hanya jual kue keliling kampung lalu tiga tahun menjadi sukses dan bisa membeli rumah. Hahaha sukses tentu tidak semudah itu.


Alcenna mulai membuat lamaran, "Mau kerja kamu?" tanya sinis suaminya, saat melihat Alcenna membuat lamaran.


"Iya, kenapa?"


"Tak pakai minta izin lagi?" nada mengejek terdengar dari suaminya.


"Tidak, buat apa. Hidupku bukan hidupmu kini," ucap Alcenna.


"Ini yang kamu dapat pulang dari Jakrta bersama temanmu?" sindirnya lagi.


"Tak perlu menyudutkan temanku atas ketidak mampuanmu, jika kini aku tidak minta cerai padamu itu bukan berarti aku ingin bertahan hidup denganmu!"


"Lalu untuk apa?"


"Untuk menjaga nama ibuku semata!"


Suaminya diam dan langsung pergi. Hati Alcenna kembali menyesali pernikahannya. Walau Alcenna tidak merasa salah namun jalan yang dia pilih tetap salah.


Luka yang dalam akan tetap bisa sembuh, begitu juga luka hati Alcenna. Namun luka yang dalam tetap akan meninggalkan bekas, begitu juga luka hati Alcenna.


***


Suatu senja ....


"Papaku meninggal, kau mau ikut pulang apa tidak. Asal kau tahu anak-anak berdua itu ikut, Ayu dan Allya. Kalau kau tidak terima kau boleh tidak ikut!" Begitu sinis nada yang di lontarkannya.


Alcenna hanya diam, Alcenna menelfon ibunya. "Bu, ayah abang meninggal, apakah aku harus ikut Bu?" Alcenna masih menutupi kata kasar suaminya.

__ADS_1


"Apapun masalahmu dengan suamimu Nak, jika soal musibah pergilah. Ibu dan Azarine tidak bisa pergi, mendadak begini tidak sempat untuk ibu ke kota," ucap ibu Alcenna.


"Baiklah Bu," jawab Alcenna. Dia berkemas.


Di mobil setelah menjemput Ayu dan Allya, mereka menuju ke kampung. Alcenna lebih banyak diam. Mereka hanya berbincang bertiga. Alcenna seolah orang asing dan merasa asing.


Jika dulu hati Alcenna pasti terenyuh dan membuat air matanya mengalir kini seakan air mata Alcenna kering sudah. Hatinya seakan kebas.


Sesampai di kampung, Alcenna pun tak bisa menitikkan air mata saat melihat mayat ayah mertua yang menyayangi dirinya semasa hidup, terbujur kaku. Dia hanya memanjatkan doa di dalam hati dan berucap dalam hati juga, "Selamat jalan pa. Selama ini di keluarga suamiku hanya papa yang tak pernah melukai hatiku."


ALcenna tetap seakan tidak ada bagi keluarga mereka, Alcenna bertahan dengan sabar dan mungkin seakan bodoh.


Tiga hari sudah Alcenna di kampung suaminya. Apapun yang Alcenna lakukan tidak ada harga di mata mereka.


Alcenna mencuci piring untuk kali ke tiga di hari yang sama. "Duhh bisa rusak nanti ya tangan halus yang tak pernah nyuci piring di kota," sindir salah satu keluarga suaminya.


Alcenna benar tidak bisa mentolerir sikap mereka. Alcenna berdiri membanting satu piring yang di tangannya. Alcenna sudah tidak sudi dipijak-pijak.


Alcenna tidak ada berbicara sepatah pun, dia meninggalkan puing-puing kaca piring yang dibantingnya. Dia ke kamar dan berganti baju. Lalu mengemaskan baju yang tak seberapa.


"Kau tanya sama keluarga kau yang pecundang itu jangan sama aku, aku mau pulang sekarang dengan atau tanpa kau sekalipun!"


"Kau bisa tidak kalau ngomong baik-baik?"


"Kau didik dulu omongan keluarga kau, baru kau didik aku istrimu! Aku bisa mati kalau lama-lama di sini!" Alcenna berkata ketus.


"Kalau kau mau mati, ya mati saja!" jawab suaminya tak kalah ketus.


ALcenna langsung pergi keluar kamar dengan menentang tas ranselnya yang tidak terlalu besar. Di ruang tamu, ibu mertuanya menahan Alcenna. "Ada apa? Mau ke mana?" Pertanyaan yang sama seperti suami Alcenna tanyakan.


"Aku mau pulang duluan Ibu, maaf." Alcenna menepis dengan pelan tangan ibu mertua yang menahan tangannya.


"Ada apa ini?" Ibu mertua Alcenna bertanya pada anaknya.

__ADS_1


"Biarkan saja dia Ibu, jika dia mau pulang sekarang." Nada Arzon yang dingin membekukan hati Alcenna yang sedang terluka dan pedih.


Alcenna tanpa menoleh keluar dari rumah mertuanya. Tidak dia perdulikan apapun lagi. Alcenna memberhentikan angkot yang lewat menuju pusat kota. "Pak, bisa saya di antar ke travel untuk ke kota D, saya kurang paham dengan kota ini Pak," tanya Alcenna dengan hormat namun dingin. Hatinya seakan jadi es batu. Dia mulai berprinsip tak ada gunanya baik-baik ke orang. Baikpun dia selama ini tak baik juga dia dimata orang. Di kota suaminya dia mematikan hatinya untuk cinta.


Supir angkot yang bapak-bapak berwajah teduh seakan tidak terpengaruh dengan suara dingin Alcenna. Dia seolah paham apa yang dirasa Alcenna. Dia tetap menjawab dengan ramah dan hangat, "Baik Nak nanti bapak antar ke travel yang anak mau."


Namun berbeda dengan ibu-ibu yang di depan Alcenna. Dia juga mendengar suara dingin Alcenna, "Sudah minta tolong tapi tak ada ramah-ramah, nada dingin seperti mayat saja."


"Apa hak anda menilai aku!! Aku tak perlu minta tolong, jika aku bayar di sini!!" Nada dan pandangan Alcenna semakin dingin ke ibu-ibu di depannya.


Pandangan Alcenna yang tajam dan dingin mampu menusuk relung hati sang ibu kepoh. Seakan hawa dingin menyerap di tubuhnya dan menggerogoti hati ibu kepoh. Dia terdiam dan bungkam begitu juga dengan beberapa sewa yang lain.


Alcenna telah sampai di kantor agen travelnya, "Di sini Nak, travel ke kotamu."


"Terima kasih Pak," ucap Alcenna datar. Dia bukan wanita yang tidak tahu sopan santun.


Alceena pulang ke kotanya. Sesampai di rumahnya, Alcenna mengemaskan pakaiannya dan surat penting lainnya.


Lama Alcenna merenung setelah semua beres. Dia sudah menumpuk barangnya di suatu tempat dan menjualnya. Semua peralatan rumah tangga dan isi rumahnya dijualnya. Dia mengembalikan kunci rumah pada pemiliknya dan menitip pesan jika suaminya pulang tolong berikan agar dia bisa mengambil pakaiannya yang telah dikemas Alcenna.


Alcenna sudah memutuskan berpisah tanpa memberi tahu terlebih dahulu ibunya. Hanya pada Azarine dan Sammy, Alcenna ceritakan.


Alcenna meminta Sammy mencarikan pekerjaan untuknya. Bukan suatu kebetulan namun semua sudah rencana Tuhan. Sammy mengatakan temannya ada memerlukan staff Admin di sebuah garment. Namun di tempatkan di Bekasi. Alcenna menerima.


Alcenna mengganti nomor kartunya, dia juga tak ada memberi tahu dua sahabatnya. Alcenna ingin sendiri dan cukup Azarine dan Sammy yang tahu dan jadi tempat bersandar selain pada Tuhannya.


Alcenna telah sampai di bandara Soekarno-Hatta. Sammy yang sudah di pindahkan dari Kalimantan ke Cengkareng setengah tahun yang lalu, menjemput Alcenna di bandara dan mengantarkan ke Bekasi.


"Hai Dek, maaf Kakak, akhirnya merepotkanmu juga dengan masalah Kakak."


"Sudah Kak, jangan dipikirkan. Bangun saja hidup Kakak. Jika suatu masalah tidak bisa kita selesaikan, abaikan saja. Ingat itu, biar waktu yang nyelesaikan," ucap Sammy bijak.


"Iya Dek," ucap Alcenna.

__ADS_1


**//**


__ADS_2