
Hari demi hari berlalu, Alcenna sibuk membenamkan diri dalam rutinitas kerja dan lainnya. Hingga tak terasa waktu sudah dua bulan berlalu dari sejak mimpi buruk malam itu.
Dia hanya berusaha melupakan. Ternyata benar kata kebanyakan orang, sulit untuk melupakan dari pada melepaskan. Walau berulang kali dia berniat menata hati, tapi berulang kali juga dia gagal.
Putri selalu menguatkannya. Hanya Putri satu-satunya yang tahu semua ceritanya. Adik-adik Alcenna juga menguatkan, tetapi mereka tahu kakaknya memutuskan karena LDR tidak membuat nyaman dan tiada kepastian.
Hari-hari Ardhan tak ada kabar, ada sosok Arzon dalam hidupnya. Namun sejak Alcenna mengatakan bahwa Ardhan akan menemuinya, Arzon seolah hilang ditelan bumi. Tak ada kabar, tak ada kedatangan sekalipun ke rumah Alcenna.
Tak ada lagi sapaan di pagi hari, tak ada lagi ajakan di siang dan sore harinya. Tak ada perhatian yang menanyakan, dia sudah makan ataupun hanya sekedar menanyakan Alcenna lagi apa.
Alcenna sesekali ada menyadari hal itu, akan tetapi karena terlalu sibuk merekatkan hati yang retak- retak, dia tidak terlalu memikirkan terlalu jauh. Alcenna juga tak berniat berinisiatif untuk menanyakan duluan. Baginya orang tua serta dengan adanya Putri dan adik-adik sudah cukup mengisi hari-harinya.
Langkah dan pertemuan sudah tercatat, lalu tanpa disengaja suatu hari gadis itu bertemu dengan Arzon di sebuah mall. Saat itu tanpa sengaja Alcenna menyenggol seseorang di lantai dasar mall. "Maaf ...." katanya singkat lalu terperangah saat tahu yang dia tabrak adalah Arzon.
"Alcen??" Dia sama terperanjat, lalu dia menarik Alcenna untuk duduk di bangku- bangku yang disediakan pihak mall.
"Ke mana selama ini?" tanyanya dengan sikapnya yang tenang dan dewasa.
"Sibuk ...." kata Alcenna singkat. "sibuk mengurusi hati yang berantakan," batinnya melanjutkan.
"Bagaimana kalau kita makan di cafe sana." Sembari menunjuk cafe yang tak jauh di depan mereka duduk.
Alcenna hanya menganggukkan kepala dan ikut berdiri mengikuti langkah kaki Arzon menuju cafe.
Ketika menunggu pesanan, kembali Arzon bertanya, "Sibuk apa? Sibuk sama pacarnya?"
"Sok tahu ah," kata Alcenna dengan nada malas.
Ohh ya terakhir telepon kekasih Alcen datang, apa kabarnya?" tanyanya lagi masih seputar yang malas Alcenna bahas.
"Kabarnya kabur dan tenggelam di laut lepas," katanya berkias saja.
Arzon tampaknya mengerti ke mana maksud pembicaraan Alcenna. Dia menegaskan dengan keterusterangan. "Jadi sudah selesai?"
"Sudah," katanya jujur tanpa ada niat untuk menutupi. Alcenna ingin pembicaraan tentang Ardhan cepat selesai.
"Ohhh ...."
"Jadi tak usah bahas itu lagi, buat sakit pikiran!" kata Alcenna menegaskan.
"Ok."
__ADS_1
"Ke mana saja selama ini Bang? Tumben tak ada kabar atau main ke rumah?" kata Alcenna penasaran juga jadinya setelah melihat wajah tampannya.
Alcenna melihat dia tertawa, bukan menjawab. Entah apa yang dia tertawakan, Alcenna tak ingin berpikir terlalu jauh, cukup melihat tawa yang membuat hati gadis itu sedikit menghangat.
"Abang menyepi mengobati hati," jawabnya dengan nada bercanda.
"Kenapa tidak bilang, biar dibelikan obatnya, jadi tak perlu menyepi," ucap Alcenna sedikit mulai rileks.
Arzon memperbaiki posisi badannya, dia mencondongkan badannya lebih ke arah meja. Dia jadi serius. "Maaf ya Alcen, mungkin waktunya tidak tepat. Tapi abang tak ingin membuang waktu lagi terlalu lama, boleh abang buat pengakuan?"
"Pengakuan apa? Pengakuan dosa?" kata Alcenna bercanda. Suasana yang sempat terasa asing di awal tadi sirna sudah. Kecanggungan yang dirasa saat dia menarik tangan Alcenna dengan santai tadi, sudah tak ada. Alcenna kembali merasa nyaman didekatnya sama seperti dulu.
"Iya pengakuan dosa ... dosa mencintai kekasih orang," katanya meluruskan candaan Alcenna tadi.
"Ohh yaa?? Kekasih siapa yang Abang cintai itu? Alcenna pura tak paham saja. Lagian takutnya terlalu percaya diri pula dengan maksud lelaki dewasa di depannya.
"Kekasih orang yang dihadapan abang sekarang?" Nada suaranya mulai terdengar kembali serius.
"Maksudnya ... aku?" Jari telunjuk Alcenna ikut mengarah ke badannya sendiri.
Walau detak jantung Alcenna menjadi tidak normal, tetapi bola matanya berani menatap bola mata lelaki didepannya, mencari kebenaran di dalam sana. Bukankah ada yang bilang matamu adalah jendela jiwamu.
Mereka saling bertatap mata, dan Alcenna tidak menemukan candaan dalam ucapannya. Dia menatap serius tepat di manik mata Alcenna. yang pada akhirnya membuat gadis itu jengah sendiri dipandang tak berkedip.
Sebelum wajah berubah menjadi memerah, Alcenna mengalihkan pandangan ke arah beberapa pelayan cafe yang sedang lalu lalang menghantar pesanan pelanggannya.
"Alcen ... liat abang ... kenapa liat yang lain? Apa abang kurang menarik di mata Alcen?" katanya dengan suara lembut yang menggoda merasuk ke jiwa muda Alcenna.
"Mulai ... kumatlah usilnya lagi." Alcenna membatin dalam hati. Alcenna tetap memberikan dia senyuman manis. Alcenna malas meladeninya, jika diladeni bisa bertambah-tambah perangainya.
Beruntung di tengah suasana itu, pesanan datang. Lalu Alcenna meneguk minuman coklat panasnya begitu pun Arzon meneguk minuman kopi hitamnya.
Baru seteguk minuman coklat panas, melewati kerongkongan gadis tersebut, tiba-tiba jari-jari kirinya seperti tersengat aliran listrik karena remasan tangan. Alcenna menaruh cangkir coklat tersebut dan menarik pelan tangan dari genggaman tangan tersebut.
Bias semu merah tercetak sepintas di wajah gadis itu. Jangan ditanya lagi, dia sudah merasa hawa panas menjalar di wajahnya.
"Hemm Alcen demam ya?" tanyanya malah bercanda.
"Iya demam. Demam hati," kata Alcenna.
__ADS_1
"Jadi bagaimana Cen dengan pengakuan abang tadi? Abang mencintai Alcen dari pertama kita bertemu," ucapnya.
"Kenapa tiba-tiba sekarang Abang mengakui perasaan Abang? Setelah dua bulan lebih Abang tak ada kabar? Bagaimana kalau kita tidak bertemu seperti tadi, apa Abang akan menghilang selamanya?" kata Alcenna memastikan. Dia takut dengan hal-hal berbau menghilang lalu tiba-tiba muncul dihadapannya.
"Sebenarnya abang ingin bilang dari awal sejak abang ke rumah, tapi rasanya tidak mungkin selain kita baru kenal, Alcen juga sedang ada yang punya ... mungkin ini jalannya, jika kita tidak bertemu, abang memang ingin mundur dan beranggapan hubungan Alcen dengannya baik-baik saja," akunya jujur.
"Ohhh ...." Alcenna hanya bisa ber-oh-ria.
"Terakhir abang telepon, niatnya ingin memastikan hati Alcen dan mengungkapkan perasaan pada Alcen. Abang tahu Alcen ada yang punya. Abang menelepon terakhir kali hanya ingin membuat pengakuan pada Alcen, karena abang tidak bisa akhirnya menahan perasaan abang." Dia diam sejenak dan Alcenna juga tak ingin bersuara.
Lalu terdengar dia meneruskan kalimatnya, "Tapi abang merasa kecewa dengar penyataan Alcen waktu terakhir abang telepon. Abang memutuskan mundur, apa lagi beberapa hari abang tunggu tak ada kabar dari Alcen."
"Hmmm ... bukankah selama ini Abang yang selalu menelepon Alcen duluan?" Bukan pembelaan tetapi memang itu kenyataannya.
"Masak iya?" katanya dengan nada yang jenaka.
"Masak nasi ... jadi bubur."
Mendengar Alcenna menjawab suka asal, membuat dia tak tahan mengacak lembut pucuk kepala gadis itu. "Kamu bisa saja menjawabnya." Alcenna hanya diam.
"Kita cuma minum saja? Tidak pakai makan?" Arzon kembali menanyai ketika melihat coklat panas gadis itu hampir habis.
"Iya, Alcen lagi tak ingin makan Bang."
"Jadi gimana Cen? Mau jadi kekasih abang tidak?" Setelah berputar-putar pembicaraan mereka, akhirnya kembali lagi pertanyaan yang meminta jawaban gadis itu.
"Apa tidak terlalu cepat Bang?"
"Apa menurut Alcen terlalu cepat?" Dia malah balik bertanya.
"Iya! Alcen baru saja putus, takutnya Abang nanti hanya jadi pelarian saja," katanya. Gadis itu bukannya ingin menolak, tapi dia sendiri tidak paham. Apa dia menyukai atau hanya sekadar merasa nyaman didekat lelaki itu.
"Ya ... kalau bagi Alcen terlalu cepat, kita jalani saja dulu bagaimana? Yang jelas sekarang Alcen tak ada kekasih, dan sudah tahu abang menyukai Alcen. Ada yang menanti Alcen."
"Ya Bang, Alcen setuju. Baik begitu saja dulu."
Itulah hal yang salah satu membuat gadis muda itu nyaman dengan dia. Dia tak memaksakan kehendaknya pada Alcenna.
Setelah mereka berbincang dan mengobrol yang lainnya, mereka memutuskan keluar dari cafe dan meneruskan kerja yang tertunda. Tentunya dia berjanji malam ke rumah dan mengajak Alcenna dan Azarine keluar.
**//**
__ADS_1