
Setelah selesai berbicara dengan Putri, Alcenna masih menunggu sms dari Arzon. "Ke manalah ni orang kok lama kali balas," batin gadis itu. Untuk keluar dari kamar, Alcenna merasa enggan. Dia malas bertemu orang tuanya.
Akhirnya rasa kantuk lebih besar dari penasarannya. Dia tertidur hingga sebuah getaran ponsel membangunkan tidur lelapnya. Alcenna melihat waktu menunjukan pukul 6 pagi. Dia lagi cuti shalat karena tamu bulanan yang lagi datang.
"Banguuuun sayaaang ...." Siapa lagi kalau bukan Arzon yang membangunkan si putri tidur itu. Tepatnya si tukang tidur.
Setelah mengumpulkan kesadaran penuh Alcenna cepat bangkit dari ranjang dan bergegas keluar kamar. Tak pakai cuci muka apalagi mandi. Dia penasaran apa yang terjadi, bisa-bisanya dia tidur dengan pulas di tengah kekacauan yang terjadi.
Keluar dari kamar, matanya langsung menuju ruang keluarga yang bergabung dengan ruang makan. Alcenna disuguhi pemandangan yang rasanya tidak masuk akal. Di mana ayah dan Arzon sedang duduk manis minum teh telor tanpa ada raut dingin di wajah ayahnya.
"Apa yang terjadi setelah aku meninggalkan bang Arzon dan tertidur ...." batinnya.
"Alcen sudah mandi?" Ayahnya bertanya dengan suara lembut seperti biasa. Alcenna hanya menggeleng dengan raut masih penuh keheranan dan melirik Arzon sekilas.
"Mandi sana dulu ...." Perintah Arzon juga dengan nada lembut namun penuh ketegasan.
Alcenna yang merasa tidak nyaman karena belum cuci muka dan gosok gigi ditambah tidur dengan memakai baju kemeja dan celana jeans, kembali ke kamar dan mandi.
Tak sampai 20 menit dia kembali keluar dan duduk bergabung di meja makan, di mana ibunya juga ada di sana. Tadinya di meja hanya ada dua gelas teh telor tapi kini ada segelas teh hangat dan mie goreng.
"Sarapan Nak dan minum tehnya," titah ibunya.
"Ibu tidak pergi ke sekolah? Tanya Alcenna karena melihat ibu di jam segini masih memakai baju rumah bukan baju seragam sekolahnya.
"Nanti ... pagi ini ibu izin. Kebetulan ibu juga tak ada jam mengajar di pagi ini. Ibu ingin berbicara denganmu sebelum kalian berangkat."
Mendengar ibu ingin berbicara membuat Alcenna menjadi kembali merasa tidak nyaman. Batinnya mulai mereka-reka ada apa sebenarnya.
"Ada apa Bu?" Alcenna tak bisa menahan rasa penasaran.
"Makanlah dulu." Ibunya meminta Alcenna makan terlebih dahulu dengan lembut.
"Alcen tak ingin makan Bu, sebelum Ibu berbicara ada apa." Sifat keras kepalanya mulai kumat.
__ADS_1
Ibu tahu sifat anaknya, dia tak akan makan walau dipaksa. Beliau akhirnya bicara juga. "Makanlah setidaknya minumlah teh dulu Nak ... ibu dan ayah merestui kalian."
Alcenna tak menggubris permintaan ibu. Alcenna lebih ingin menyenangkan hatinya dari pada perutnya.
"Benarkah Ibu?" Tanya Alcenna memandang ayahnya lalu Arzon. Alcenna melihat Arzon mengangguk.
"Tapi ada syaratnya dan Arzon sudah setuju," kata ibu Alcenna.
"Apa syaratnya Bu?" tanya Alcenna, dia tidak tahu apa-apa.
"Kalian boleh menikah jika surat cerai mereka telah keluar dari pengadilan agama. Ayah tak ingin nasib rumah tanggamu nanti tergantung dan terkatung-katung tak jelas." Ayahnya bersuara menjelaskan.
Alcenna kembali memandang Arzon seakan minta penjelasan lebih. Apa dia sudah tahu yang ayahnya inginkan, dan kembali melihat dia mengangguk.
Hati Alcenna terasa lega. Alcenna meminum teh dan mengambil piring berisi mie goreng tersebut lalu mulai menyuap ke mulut. Hanya beberapa sendok karena tak merasa begitu lapar.
"Arzon mengatakan kalian berangkat pagi ini, karena Arzon hanya diberi izin sehari ini." Ibunya kembali menjelaskan sementara Alcenna mendengarkan saja.
"Mungkin sudah jodoh kalian, yang penting selesaikan dulu syarat yang ibu katakan tadi baru kalian boleh menikah." Ibunya menegaskan kembali.
***
Mobil travel datang menjemput dan ibu sudah pergi ke sekolah. Kami pamit pada ayah, "Ayah Alcen berangkat ya. Terima kasih masih mau percaya kepada Alcen." Alcenna mencium sayang pipi ayahnya yang sudah mulai terlihat sedikit keriput.
"Ayah ... Arzon pamit, terima kasih juga Ayah sudah mau menerima Arzon. Arzon janji akan menjaga putri Ayah." Arzon juga menyalami ayah Alcenna dan mencium punggung tangan ayahnya.
Mereka masuk ke mobil dan melambaikan tangan kepada ayahnya. Alcenna tahu ayahnya masih separoh hati menerima keputusan mereka berdua untuk tetap melanjutkan hubungan ini.
Alcenna melihat raut sedih ayahnya. "Maafkan aku ayah telah membuat dirimu sedih. Tetapi aku telah yakin dengan keputusan ini yah. Akan aku bahagiakan dirimu ayah setelah aku menikah nanti." Alcenna berjanji di dalam hati.
"Bang, apa yang terjadi sebenarnya? Semalam aku mendengar ibu menentang kita kenapa kini ayah dan ibu mengalah?" Di dalam mobil akhirnya Alcenna mempertanyakan rasa penasarannya.
"Jadi kamu menguping hmm?" Arzon menjewer lembut telinga Alcenna.
__ADS_1
"Iya ... penasaran sih habisnya. Ceritalah Bang." Alcenna memaksanya.
"Semalam pesanmu masuk dan abang membacanya, karena tepat saat itu kami lagi saling berdiam diri dengan ibu. Abang berpikir apakah mengikuti rencanamu atau tidak. Sampai ibu bertanya sms dari siapa malam-malam begini. Karena abang masih memegang ponsel dan memandangi dengan bingung ponsel abang melihat sms darimu."
"Lalu?" tanya Alcenna sedikit tidak sabar.
"Awalnya, abang hanya diam, dan memandang ibu saja. Tetapi ibu menyangka itu sms dari istri abang. Abang tak punya pilihan lain."
"Abang memberi tahu ibu?"
"Ya, abang katakan ini sms darimu dan abang memutuskan melihatkan isi smsmu. Akan lebih baik jika abang menghadapi dan berusaha juga mendapat restu dari ibu," kata Arzon sambil tersenyum kecil. Kontan membuat Alcenna melotot. Bisa-bisanya memberitahukan pada ibunya.
"Dasaaaar ya Abang mengkhianati rencana kita!" Alcenna pura-pura marah karena semua justru berjalan baik, hanya saja dia kesal karena jadi malu pada ibu dengan kelakuannya yang terlihat kekanakan.
Dia memeluk bahu Alcenna lalu mengusap ubun kepalanya." Tetapi penghianatan abang berbuah manis sayang."
"Apa kata ibu setelah melihat itu Bang?" Cecar Alcenna kemudian, karena belum puas dengan urutan ceritanya.
"Abang melihat ibu termenung membaca smsmu, lalu abang ambil kesempatan mengatakan pada ibu bahwa tidak pun jadi denganmu abang akan bercerai dengan dia secara hukum. Karena secara agama sudah jatuh talak."
Lalu abang katakan juga pada ibu, "Sekarang Alcen yang harus kita pikir bu, andai Ar tolakpun apa ibu yakin dia tidak akan melakukan yang aneh-aneh, ibukan tahu bagaimana sifat keras Alcen. Ar juga cinta padanya bu dari pandangan pertama. Jika sampai di kota dia mengajak Ar seperti isi smsnya, terus terang bu Ar takkan sanggup menolaknya, karena Ar tak mau kehilangan dia bu, lain cerita kalau dia yang menolak Ar bu, seperti awal dia mengetahui." Arzon mengeluarkan jurus terakhirnya untuk mengantongi restu ibu Alcenna.
"Hmm pintar bicara, harusnya jadi pengacara saja Abang itu." Alcenna tersenyum.
"Tetapi abang serius, jika Alcen ajakpun, abang memang tak sanggup menolak."
"Ialah itu."
"Iya." Mereka saling tersenyum.
**//**
__ADS_1