
Di satu kota lain, "Bagaimana Kak?" tanya Tiara.
"Dia tidak di sana lagi Dek, benar kata Ara, rumah tangganya berantakan," ucap Ardhan.
"Kakak dapat info dari mana?"
"Dari tetangganya."
"Kakak gak waras ya nanya Alcenna sama tetangganya!"
"Kakak karena terlalu acuh pada sekeliling Alcenna dulu, tidak terlalu tahu teman Alcenna. Sepanjang kakak kenal dia hanya punya dua teman. Itupun di waktu yang berbeda. Jadi gak ada yang bisa kakak tanya selain tetangganya."
"Kakak emang gak waras, apa nanti kata tetangganya, dia di cari pria lain." Omelan Tiara masih terdengar.
"Untungnya dia tidak di sana lagi Dek, kata abang warung di depannya, Alcenna telah berpisah. Alcenna minggat sudah 3 bulan lalu."
"Sudah tiga bulan baru Kakak mencari. Keburu nikahlah tu janda cantik." Olok Tiara.
"Jangan doa gitu, kakak sibuk ngurus proyek dulu Dek. Kakak juga bingung mau cari info ke mana. Makanya coba tanya tetangga jalan paling cepat. Hmmm, apa yang terjadi ternyata tetangga gak tahu pasti. Alcenna tertutup sejak nikah. Dia juga tidak pernah terdengar ribut oleh tetangga. Abang depan rumahnya justru terkejut ketika tiba-tiba Alcenna lari dari rumah 5 hari setelah kematian ayah mertuanya. itu cuma yang Kakak dapat Dek."
"Gak minta nomor ponselnya gitu Kak?"
"Sudah, itu juga nomor lama kok. Tapi sudah tidak bisa dihubungi. Sepertinya dia memblokir semua panggilan masuk."
"Terus Kakak patah hati, karena dia hilang?"
"Sedikit, tapi setidaknya harapan kakak untuk mendapatkan dia jadi ada. Jika dia pisah besar kemungkinan kakak bisa merebut hatinya lagi." Walau merasa berdosa di atas penderitaan Alcenna, Ardhan merasa bahagia.
"Kakak harus lebih gigih dalam kerja, biaya mencari orang hilang tidak sedikit. Apalagi mencari dan mendapatkan cinta yang hilang," ucap Tiara bergurau. Namun ada betulnya terbersit di pikiran Ardhan.
"Iya, tenang. Kakak gak akan terpuruk. Kakak harus mencari dia sampai dapat."
"Carilah dulu orang terdekatnya, menurut aku sich Kak."
"Kamu benar, coba Kakak cari yang paling bagus, di kampungnya."
"Baguslah, kalau sudah ada rencana."
"Ya nanti. Kakak urus dulu proyek pembangunan jembatan ini." Ardhan merasa mantap untuk mengejar cintanya.
"Gak tambah lama?"
__ADS_1
"Kakak pastikan dulu semua berjalan baik, nanti kakak akan pergi ke kampungnya dua harian. Kakak tidak mau nyuruh orang Dek, biar pasti."
"Ya, bagus cari sendiri. Kita bukan mafia atau CEO kaya yang punya jaringan. Kakak cuma punya jaring ikan atau bahkan hanya jaring laba-laba. Hahaaa." Tawa Tiara terdengar renyah.
"Tawa terus, ada masanya kamu juga akan merasa sakit karena cinta!" rutuk Ardhan.
"Tega Kakak nyumpahi Ara???"
"Maaf Dek, bukan itu maksudnya kakak," Ardhan merasa bersalah.
Tiara merasa puas buat kakaknya merasa bersalah. "Hahaaa kena kamu Kak, aku tidak plin-plan dan bodoh seperti Kakak. Aku tahu pasti perasaanku saat mencintai dia!"
"Keluar sana, kakak mau mandi dan coba cari tahu, di mana adek Akcenna, kalau temannya kakak sudah tak mungkin tahu," Ardhan mengusir Tiara.
Ardhan cukup merasa menyesal tidak pernah ke kampung Alcenna, tidak pernah tahu di mana kawan Alceena. Namun Ardhan bertekad untuk mendapatkan Alcenna.
***
Bekasi ....
Alceena mendapatkan rumah yang tidak terlalu jauh dari pabriknya. Tiga bulan sudah dia memutus masa lalunya. Terkadang terbersit rindu pada Putri dan Marya. Dia yakin mereka akan mencarinya.
Alcenna seakan memasang tembok tinggi untuk pribadinya. Omongan miring yang tidak menyukai dirinya yang dingin, tak sekalipun Alcenna gubris.
Dia pergi ke pabrik dan pulang ke rumahnya tanpa pernah bermain dan berkumpul seperti dulu. Jika waktu Sammy off, Sammy akan menjenguk kakaknya dan tidur di rumah kakaknya. Jika Alcenna libur. Dia memilih tidur dan hanya bersantai di dalam rumah atau keluar sendiri ke mall mencari perlengkapan bulanannya.
"Lagi apa Kak?" sapa Azarine. Azarine hampir setiap malam bertukar kabar dengan Alcenna.
"Biasa Dek, baca komik saja menjelang ngantuk."
"Kok baca komik Nak, baca Al Quran yang benarnya," sambar ibu ketika kami lagi vc.
"Sudah Ibu, kalau akhirat kita cari dunia juga boleh donk Ibu," bela Alcenna.
"Iya, pokoknya asal selesai shalat bawa mengaji dulu biar tenang."
"Iya Bu, aman."
Ibu Alcenna sudah tahu apa yang terjadi begitu Alcenna sudah diterima kerja di Bekasi. Azarine yang cerita atas permintaan Sammy. Alcenna malas mau membahas apapun. Dia menunggu hatinya tenang dan baru mengurus ke pengadilan. Baginya sudah cukup syarat untuk dia menggugat suaminya.
Alcenna tak pernah bertanya sekalipun soal suaminya pada ibu dan adiknya, apakah dia mencari atau bertanya soal Alcenna. Alcenna sudah tidak mau tahu sejak suaminya mengatakan, "Kalau mau mati ya mati saja!" Kata-kata itu membekas di dalam jantung hati Alcenna.
__ADS_1
Kini tanpa terasa waktu sudah berjalan 7 bulan. Alcenna di kunjungi ibu dan adiknya. Alcenna memang belum ingin pulang ke kampung halamannya. Sammy berjanji akan ke Bekasi mengunjungi ibu dan Azarine yang lagi berlibur. Namun yang mengejutkan Alcenna, Putri datang bersama Sammy.
Putri tidak banyak cerita, dia sudah mendengar sepintas selama perjalanan ke Bekasi nasib rumah tangga Alcenna dari Sammy. Tanpa bicara apapun, Putri langsung menangis dan memeluk Alcenna. Alcenna yang hampir tujuh bulan tidak tahu cara menangis kini justru di pelukan Putri dia menangis.
"Maafkan aku, bukan aku tidak menganggapmu, aku hanya ingin sendiri," ucap Alcenna masih menangis.
"Sudah, aku tak butuh penjelasan apapun. Aku paham. Aku hanya senang bisa jumpa kembali." Putri berkata, sambil masih memeluk erat Alcenna. Sungguh Putri merindukan temannya.
Malam hari ....
Di rumah Alcenna yang sempit mereka makan malam dengan senda gurau. Putri tidak mau menyudutkan apapun pada Alcenna soal Alcenna memutuskan hubungan.
Putri bukan tidak bertanya pada Marya. Marya juga tidak tahu menahu. Dia hanya tahu dia tidak bisa menelfon Alcenna.
"Kok bisa kalian barengan?" tanya Alcenna pada Putri.
"Aku lagi main ke mall C, aku melihat seperti Sammy. Aku coba dekati dan manggil namanya, dia menoleh dan melihat aku, dia pun menyapa."
"Iya Dek?" tanyaku yang dibalas Sammy dengan anggukan.
"Dihh tega kamu gak percaya sama aku sekarang?" katanya dengan raut muka sok sedih.
"Iya Kak, aku gak ada minta kak Putri ke sini. Kakak pahamkan kalau kak Putri pemaksa," Sammy mencibir Putri. Putri hanya nyengir.
"Kamu tak kerja besok Put? Besok bukan hari libur loh. Kalau Sammy dia bekerja di mall, hari offnya asal tak hari sabtu-minggu.
"Izin," nada Putri sedikit ragu.
"Jangan katakan, lo kerja tempat bokap lo lagi?!"
"Gak, tempat kawan bokap tepatnya." Putri merasa tidak enak sendiri membohongi Alcenna.
"Dasar bos sialan, nyusahi aku saja buat cinta terpendamnya. Aku jadi tidak enak pada Alcenna.m," umpat batin Putri.
"Ngapainmu Put? Kok wajahmu seperti wajib lapor? Hahaha," Alceena tertawa.
"Emang wajib lapor aku asal kau tahu Cenn, tapi bukan ke wc. Aku harus lapor pada ayank bebeb bengak lo itu. Itupun karena aku tak tega liat dia uring-uringan kau ilang lagi," rutuk hati Putri lagi.
"Sambet setan tar Put? melamun terus!"
**//**
__ADS_1