Tolong Aku SuamiKu

Tolong Aku SuamiKu
Ending


__ADS_3

Alcenna kini sudah bisa kembali kerumah. Dia memilih kembali kerumah mamanya. Alcenna tahu mama Ningrum akan bolak-balik. Alcenna merasa kasihan melihat mamanya nanti. Jadi dia meminta pulang ketempat mamanya. Betapa mama Ningrum bahagia.


Kini Alcenna di banjiri ucapan selamat dari keluarga besar Eddyson. Mereka sangat takjub melihat bayi kembar yang mungil-mungil. Bayi mungil itu mampu menambah kebahagiaan keluarga Eddyson.


Terutama Eddyson dia selalu menyempatkan mencium pipi istrinya mengatakan, "Terima kasih sayang. Hanya keindahan yang kamu beri pada Mas. Mas bersyukur bertemu denganmu."


"Selamat ya Dek, kamu langsung dapat sepasang," ucap istri pertama abang Eddyson yang bernama Anggrit.


"Iya mbak, makasih ya," jawab Alcenna berbunga-bunga. Mbak Anggrit juga sering menelfonnya menanyakan keadaannya ketika suaminya sibuk bekerja. Ketika sebagian sibuk dengan rutinitas masing-masin masing. Apalagi Putri yang mulai diikuti sebagai pemegang saham. Dia kini jarang mengeluh kesepian pada Alcenna.


"Ibu nanti sampai Dek, sekarang ibu sama adikmu lagi arah kesini di jemput supir mama," ucap Anggrit kemudian.


"Serius Mbak?" Alcenna merasa suprise. Dia hanya menelfon mengabari jika ibunya memiliki dua cucu sekaligus. Alcenna tak menyangka jika ibunya langsung ke sini.


Mbak Anggrit dengan lucu mengerlingkan mata menunjuk mama. Alcenna paham pasti mamanya yang memaksa ibunya untuk langsung datang. Alcenna hanya tersenyum dan berterima kasih pada keluarga yang begitu bisa menerima dirinya.


"Siapa nama sikembar bagusnya ya Dek?"


"Mama sama papa sajalah Mbak kita minta carikan namanya," ucap Alcenna. Alcenna ingin membagi kebahagiaannya dengan mamanya yang suka ikut campur dengan urusannya walau tak suka memaksanya. Alcenna tidak pernah merasa sebagai hal yang memberatkannya.


Jika para menantu berpikir negatif mungkin akan salah sangka. Namun Alcenna berpikir positif. Dia merasa mamanya hanya memperlakukan dia seperti gadis kecil dan ingin putrinya mendapatkan yang terbaik. Alcenna tidak pernah merasa terbebani. Mendengar kata-kata Alcenna, sudah bisa dibayangkan betapa mereka senang.


Kini kebahagiaan mereka lengkap sudah. Apalagi Alcenna, dengan diterima saja awal dia mengatakan mungkin tidak bisa punya anak, merupakan awal kebahagiaan dia masuk kedalam keluarga besar Eddyson. Perjuangan mereka memang belum berakhir. Namun baru bermula. Perjuangan baru menjadi orang tua yang teladan dan bisa jadi panutan anak-anaknya kelak.


"Selamat ya sayang," ibu memelukku dengan haru tentunya setelah ibu menyegarkan diri ketika baru sampai. Begitu juga dengan Azarine.


*****


"Jadi Ibu pulang besok?" tanya Eddyson. Saat ini ibu dikamar mereka. Ibu masih ingin dekat anak-cucunya.


"Iya Nak, ibu belum liburan semester," ucap ibu.

__ADS_1


Lama Eddyson diam, lalu dia berkata, "Maaf ibu, bukannya aku mau ikut campur. Namun aku hanya memberi pandangan saja," ucapnya dengan hormat.


"Soal apa Nak?"


"Ibu dan Azarine hanya perempuan saja di sana tanpa ada laki-laki. Anak ibu sudah bisa dibilang di sini semua. Ya walau Sammy di Ternate. Namun dia lebih dekat berkunjung ke sini. Ibu bisa lihat jugakan, kami hampir tak ada pergi mengunjungi Ibu ke sana. Ibu yang kami paksa ke sini. Maksud aku, bagaimana kalau kita berkumpul di sini dan ibu tinggal bersamaku di rumah kita?"


"Kamu meminta ibu pensiun muda?"


"Iya Bu, jika ibu berkenan. Insya Allah Bu, walau pensiun ibu jadi tidak penuh karena aku meminta ibu pensiun dini, aku bisa memenuhi kebutuhan Ibu," ucap Eddyson penuh sayang.


"Mas benar Bu, Ibu sudah cukup lama juga mengabdi. Bagaimana kalau kita hidup bersama di rumah kita Bu. Beri Alcenn kesempatan untuk membahagiakan Ibu. Menebus semua kedukaan Ibu karena kelakuan Alcenn di masa lalu. Beri waktu Alcenn menebusnya Bu," ucap Alcenna bersedih, air mata menjadi saksi kesedihannya.


"Jangan menangis Nak, ibu juga sudah ada terpikir begitu. Ibu kasihan pada Arin, dia tidak akan berkembang di sana Nak. Mau sampai kapan dia nerima gaji 400ribu. Bukan kita tak bersyukur, namun kebutuhan dia juga meningkat. Dia juga punya latar belakang pendidikan untuk mencari penghasilan yang lebih besar. Sementara dia tidak mau melepaskan ibu sendiri," ucap ibu.


"Jadi ibu setuju? Aku bisa memasukkan Azarine ke perusahaan, sesuai basic dia Bu," desak Eddyson.


"Iyalah Nak, kalau sudah bulat keputusan kalian meminta ibu pensiun dini. Ibu akan urus secepatnya."


"Iya," senyum lembut di wajah teduh ibu tercipta, menenangkan hati Alcenna yang selalu merindukan ibunya.


"Makasih ya Bu," ucap Alcenna memeluk erat ibunya.


"Ibu menemui mamamu dulu ya," ucap ibunya sembari meninggalkan kamar Alcenna. Alcenna memang tidak boleh terlalu banyak aktifitas baik oleh mamanya maupun ibunya, alasan kedua wanita tersayang itu agar tubuh Alcenna tidak rentan dan cepat tua nantinya.


Saat ibu menutup pintu. Istri manja Eddyson berteriak pelan, "Mas peluuuk."


Eddyson hanya geleng kepala. Namun inilah yang membuat hidupnya berarti. Alcenna selalu membutuhkan dia. Eddyson tak perlu pengakuan dari luar, diluar dia sudah banyak diakui. Dia hanya butuh pengakuan dari istrinya. Bahwa dia dibutuhkan, dihargai dan dia dengan suka rela memberi hatinya sepenuhnya. Dia mendekat dan memeluk istrinya, "Senangkan dengan semuanya?" bisik Eddyson mesra.


"Iya, makasih Mas. Kamu memang pangeran dalam negeri dongengku sewaktu kecil. Dari kecil Alcenn menghayal ingin menikahi pangeran tampan." Eddyson tergelak.


"Tak terasa buah hati kita juga akan menghayal seperti ibunya yang manja ini," gurau Eddyson masih memelu istrinya.

__ADS_1


"Asal Mas selalu ada dan tidak berubah___" Eddyson sekali lagi menahan bibir Alcenna, jika dulu dengan telunjuknya, kini dengan bibirnya.


"Sudah mas katakan, tidak akan berubah. Dimana mas mau cari istri seperti ini...."


"Iya mana ada, Alcenna bukan anak kembar. Mana ada lagi bentuk ini," ucapnya juga bercanda.


"Makanya mas minta, jika ada yang mengganjal di hati. Kamu katakan saja terus terang sayang. Jangan simpan apapun, sebab duri dalam daging akan semakin sakit jika tidak dikeluarkan," ucap Eddyson lembut.


"Iya Alcenna paham."


"Kadang kami lelaki ini tidak paham dengan bahasa tubuh kalian, dengan sindiran jika kalian kaum wanita tidak mengatakan dengan jelas," lanjut Eddyson lagi.


"Siap Bos," Alcenna memeluk suaminya.


*****


Ibu dan Azarine telah kembali ke desa. Ibu akan berjanji secepatnya mengurus pensiun dininya. Sammy belum bisa berjumpa dengan keponakannya. Dia berjanji cuti diakhir tahunnya baru ke Jakarta.


Perusahaan Eddyson telah kembali normal, bekat bantuan keluarga besarnya. Putri dan Robby terlihat semakin dekat. Walau ketika Alcenna bertanya Putri menganggap Robby kakaknya saja.


Semua mempunyai tanggung jawab masing-masing. Sama seperti Eddyson dan Alcenna. Mereka bertambah satu tanggung jawab, tanggung jawab sebagai orang tua.


Mama Ningrum memberi nama cucunya, Azzam Eddyson dan Azharra Eddyson. Semua menerima dengan sukacita.


Itulah roda kehidupan yang dilalui oleh anak manusia, termasuk Alcenna dan Eddyson. Roda terus berputar selagi nyawa masih dikandung badan. Susah senang dalam rumah tangga pasti ada. Mempertahankan sesuatu memang tidak semuda mendapatkannya.


Hanya saja satu yang pasangan Alcenna-Eddyson janjikan, seperti kata Eddyson pada suatu malam, "*Berjanjilah berjuang sekuat tenaga bersama mas ya sayang. Mas juga manusia biasa. Penuh salah dan khilaf. Jangan diam jika mas salah. Sabar jika suatu hari mas juga mungkin khilaf dengan ada membentakmu dan anak kita. Jangan masukkan hati, mungkin mas hanya lelah karena urusan kantor. Mas tidak pernah lelah dan bosan tentang apapun jika menyangkut urusanmu begitu juga nanti soal anak kita. Percaya kalian hadiah terindah yang mas punya."


"Iya Mas, Alcenna juga akan berjuang denganmu dan tak akan ada kata ingin berpisah lagi denganmu selain maut yang memisahkan kita. Alcenna sangat mencintaimu. Hanya satu mintaku sayang, tolong cintai aku atas nama Tuhan mu sayang*."


///**///

__ADS_1


__ADS_2