
Alcenna sudah bertanya pada Sammy. Sammy belum bisa membantu untuk mengelolah jika Alcenna buka usaha. Alasan Sammy karena sekarang kakaknya sudah ada orang yang tepat untuk menjaga. Sammy bisa fokus untuk karier dan dirinya.
Sammy masih ingin terbang ke sana-kemari. Sammy ternyata akan dipindahkan ke Ternate. Itu yang membuatnya dilema dan kacau saat di lihat Eddyson. Kini setelah dia merasa semuanya aman. Dia tenang memutuskan langkahnya. Sammy merasa percaya meninggalkan kakaknya di tangan Eddyson. Pria yang dia tahu bertahun lalu telah mencintai kakaknya. Pria yang tak pernah membuat kakaknya menangis.
Sebulan berlalu, gugatan cerai Alcenna sudah diurus, sementara Eddyson telah selesai. Itu karena Shinta tidak mempersulit. Dia juga ingin membangun hidup baru dengan orang yang dicintainya.
Rumah yang telah dipersiapkan Eddyson untuk hidup bersama Alcenna, sudah mulai direnovasi sedikit. Eddyson mendapatkan gambaran rumah yang diingini Alcenna. Kini dia mulai merancang kolam renang yang tidak terlalu besar dibagian tanah belakang. Dulunya bekas gudang.
Alcenna juga tidak terlalu mendesak untuk buka usaha, apalagi Sammy masih betah di tempat kerjanya. Dia masih ingin pindah sana pindah sini menikmati daerah orang. Kini dia hanya menunggu waktu akan dipindahkan. Sammy sudah tidak sabar untuk mencoba daerah baru.
Alcenna wanita yang mempunyai empati tinggi. Dia tidak ingin kehendaknya akan menyusahkan orang di masa depan. Apalagi orang itu yang dicintainya kini. Dia merasa Eddyson sudah terlalu banyak menguras dana pribadinya dalam beberapa bulan ini.
Eddyson kini sering mampir setelah pulang kerja atau ketika waktunya luang. Hanya untuk sekedar minum teh atau menemani Alcenna makan malam. Eddyson sengaja lebih banyak menghabiskan waktu berdua. Walau Alcenna harus sering mendapatkan protes Putri.
Seperti sore ini ....
"Hallo Cenn?"
"Iyaa Put."
"Apa malam ini kamu ada acara sama kekasihmu itu?" tanya Putri sinis.
"Hahahaha ....," Alcenna hanya menjawab dengan tawanya. Dia sudah sering disinisi oleh Putri karena beberapa kali Putri gagal nongkrong di rumah Alcenna dan membawa Alcenna jalan ke mall.
"Tertawa saja, ada gak?"
"Mau ngapa ke mall? Jangan bilang mau beli baju lagi. Aku bukan melarang kamu, hanya sebagai teman aku memberikan pandangan. Untuk apa kamu selalu beli baju, jika tidak terpakai apa tidak hanya menumpuk di lemarimu?"
"Akukan malu kalau hanya memakai baju-baju itu saja."
"Kamukan bisa memadu-padankan dengan yang lain. Beri sedikit modifikasi. Mubazir loh beli baju terus. Kita kan tidak tahu ke depan hidup kita seperti apa. Kita harus pandai menabung. Cobalah ubah, kita bukan remaja lagi, walau kita masih muda," ucap Alcenna pelan dan hati-hati. Tidak ada niat dia mengatur Putri.
Putri hanya diam, lalu Alcenna kembali bertanya, "Kamu marah sama aku say?"
"Tidak."
"Lalu kenapa diam dan jawabanmu singkat sekali."
"Itu karena aku sedang mencerna kata-katamu. Benar katamu, aku terlalu mengikuti gengsi sejak aku pindah ke sini dan menyandang gelar S2-ku.
"Syukurlah jika kau tidak marah sayang, sungguh aku takut kau marah dan meninggalkan aku seorang diri. Aku akan merasa kesepian di kota besar ini," ucap Alcenna serius walau nadanya terdengar dilebih-lebihkannya.
"Lebaaaay!!!" teriak Putri kesal.
"Hahahaha .... kamu benar tidak marah?"
__ADS_1
"Tidak, itu gunanya teman. Tidak salah selama ini aku menganggap kamu teman yang sebenarnya."
"Emang ada temanmu yang tidak sebenarnya?" tanya Alcenna kurang paham maksud Putri.
"Ada, teman yang tetap mendukungku ketika aku salah. Tidak berani protes aku."
"Hahaha, kamukan tahu Put, aku tidak bisa tidak protes untuk orang-orang terdekatku, tapi orang jauh aku tidak peduli!"
"Jadi kamu sekarang apa sedang merasa bosan sayang?" ucap Alcenna lagi.
"Iya, tapi kamu pasti sedang bersama mas posemu!"
"Hahaha, jangan keki gitu ah. Kamu mau ke mana? Kita bisa jalan berdua. Sudah lama jugakan kita tidak berdua? Jemput aku ya."
"Memang boleh sama masmu?"
"Sebelum aku bersamanya, aku sudah bersamamu. Dia tidak berhak mengurung aku dalam dekapannya terus. Aku punya jiwa yang bebas, aku tidak suka jika terlalu dikurung," ucap Alcenna memandang lembut pada Eddyson. Namun Eddyson cukup tahu apa maknanya. Gadisnya tidak ingin dibantah.
"Ayolah aku temani, mau ke mana. Asal tidak shoping juga. Aku stres liat pola hidupmu yang royal."
"Aku hanya ingin minum jus dan cerita denganmu."
"Jam berapa? Kamu jemput ya? Nanti aku minta izin sama mas."
"Jangan tertekan gitu donk, masku hanya posesif sama orang baru. Dia juga tahu aku tidak punya teman selain kamu dan Marya."
"Okelah, siap shalat magrib kita pergi ya. Makasih Alcennaaa sayang." Dia pun memutuskan sambungan telfonnya.
Alcenna kembali fokus pada Eddyson yang duduk di sampingnya. Dia masih menatap dalam Alcenna. Walau Alcenna merasa jengah namun bibirnya tetap mengucapkan kata, "Kenapa Mas?"
"Mas salut sama kamu. Kamu benar-benar teman yang baik. Sebagai temannya saja kamu bisa sesetia ini, apalagi sebagai istri."
"Asal jangan sakiti hatiku lagi Mas, jika aku tersakiti lagi aku tidak pernah berpikir untuk setia seperti dulu. Aku tak ingin mengulangi kebodohan aku. Namun aku sangat percaya Mas tidak akan seperti itu," ucap Alcenna.
"Makasih sayang, kamu mempercayai mas. Jadi kamu ingin pergi berdua dengan Putri?"
"Iya, boleh ya Mas. Aku tidak bisa mengabaikannya. Dia juga selalu ada untukku Mas. Mas tidak tahukan betapa kesepian dia. Dia juga hanya punya aku. Sekarang aku ada kak Robby dan Mas sendiri."
"Maksudmu?"
"Mas jangan cerita macam-macam ya sama dia atau kak Robby. Aku cerita sama Mas biar tahu, dan tidak melarang aku sampai kapanpun. Aku tak bisa memilih antara Mas sama dia jika Mas suruh pilih," ucap Alcenna.
"Iya, ada apa?"
"Dia anak tunggal Mas tahukan?"
__ADS_1
"Tidak, mas tidak pernah terlalu mengenal ayahnya selain urusan bisnis."
"Ohhh, dia anak tunggal. Ayah-ibunya hanya sibuk dengan dunianya sendiri. Dari segi materi apa yang tidak dia dapat Mas, makanya dia hobby shoping. Mas tahukan rasanya."
"Iya, maaf mas baru tahu. Kenapa tidak cerita dari kemarin?"
"Awalnya bingung mau nyampaikan gimana, lagian kemaren nadanya tak terdengar segalau ini."
"Pergilah, biar mas suruh Rooby mantau kalian saja. Mas hanya risau takut kamu kenapa-kenapa saja."
"Aku paham, aku juga tidak seberani dulu Mas. Dulu aku tidak pernah takut dengan orang selain dengan orang-orangan. Kini aku takut keduanya. Jika kak Robby tidak capek, itu jauh lebih baik."
"Kamu aneh, seharusnya takut ketika masih perawan."
"Alcenn dulu gak berpikir akan dijahati orang, selain main dan main serta menikamti masa muda. Siapa sangka itu bisa menjahati diri sendiri. Maka sekarang takuuut."
"Okelah. Mas tanya nanti soal Robby, tapi mas yakin dia bersedia."
"Makasih ya Mas. Sudah ada untuk Alcenn."
"Mas yang terima kasih sayang, penderitaanmu malah menghantarkan kamu untuk kebahagiaan mas." Eddyson merasa suaranya sedikit bergetar. Dia merasa bersalah sekaligus bersyukur dengan derita Alcenna.
Alcenna paham apa yang dirasa Eddyson. Dia tak ingin Eddyson larut merasa bersalah. "Mas sudah jangan merasa bersalah terus. Mas harus ingat, ini jalan yang diberi oleh Tuhan. Dibalik semua itu ada hikmahnya. Jika dulu Mas egois dan memaksa seperti bang Arzon. Mungkin kini kita juga tidak bersama lagi," ucap Alcenna bijaksana. Alcenna sudah sanggup seperti biasa mengucapkan abang dalam menyebut panggilan pada Arzon.
"Kamu banyak berubah ya sayang, kamu jauh lebih bijak, oke mas akan ingat selalu kata-katamu ini."
"Jauh lebih cantik jugakan?" katanya penuh percaya diri.
"Percaya dirimu yang tidak berubah, mas masih ingat waktu kamu jadi bawahan mas," ucap Eddyson tersenyum.
"Dulu, kini dan selamanya Alenna tetap jadi bawah-an Mas," ucapnya dengan maksud ganda.
Bukan Eddyson namanya kalau tidak cepat paham ke mana gadisnya bermaksud. "Sekali-kali mas suka kamu jadi atas-an mas sayang," ucapnya penuh perasaan.
"Hahaaa, sekarang saatnya Mas pulang. Aku ingin siap-siap jangan lupa pesankan sama kak Robby jangan sampai terlihat Putri."
"Tega kamu sayang, mengusir setelah memancing mas," ucap Eddyson lemah. Alcenna hanya tertawa. Hidup itu terasa lebih indah jika bisa berdamai dengan masa lalu.
Alcenna sudah berdamai dengan masa lalunya. Dia berhasil keluar dari itu tanpa teori-teori yang dipelajarinya saat kuliah. Dia cukup memperkuat iman dan keyakinannya. Bahwa apa yang terjadi dan dijalaninya karena Allah sudah mengaturnya. Tak ada penyesalan lagi di hatinya.
Dia harus terus melanjutkan apa yang telah diskenario oleh Tuhan-nya. Jika itu derita, dia harus kuat dan tabah. Jika itu bahagia dia harus banyak bersyukur.
**//**
Yey... siap-siap ketemu mantan. Bisa berjuta rasa, mulai canggung sampai tangan gemetar jantung jangan ditanya... dag... dig... dug dhuaaarr 😂
__ADS_1