Tolong Aku SuamiKu

Tolong Aku SuamiKu
Membuka Luka Lama


__ADS_3

"Sebelum Mas cerita, mas minta pengertian Alcenn yang bijak. Tidak pakai marah, tidak pakai sedih hanya pakai bahagia! Bisa!" tegas Eddyson


"Bisa Mas! siapa takut!"


"Mas serius, mau dengar atau tidak?"


"Iya," kata Alcenna.


"Kamu harus bisa, karena kamu sudah banyak melewati masa yang lebih sulit dari mas," ucap Eddyson membesarkan hati gadisnya. Padahal entah mana yang lebih sulit.


Eddyson menarik napas, seakan ingin mengisi dadanya dengan banyak oksigen. "Apa yang kamu lihat bersama Alcenna itu Put, biarkan saja. Saya sedang mengurus perceraian dengannya!"


Alcenna dan Putri jelas tersentak. Alcenna terlihat oleh Eddyson merasa bersalah. Eddyson cepat membatas, "Kamu tidak perlu merasa bersalah, semua ini tak ada sangkut pautnya sama kamu.


Eddyson lalu menceritakan semua mulai dari dia menyuruh Putri dan Putri yang bekerja di kantornya.


"Jadi kamu membohongi aku selama ini ya Put!" Alcenna terlihat sangat marah.


Putri merapalkan sepuluh jarinya yang bertaut dan mohon-mohon maaf didekat Alcenna. Robby dan Eddyson kasihan melihat Putri yang kena imbasnya.


"Mas yang salah, mas yang nyuruh Putri berbohong. Mas yang justru memanfaatkan Putri. Kamu marahnya sama mas saja ya Cenn." Eddyson ikut membela Putri.


"Mas diam saja, aku berurusan dengan Putri!"


"Jangan duduk dibawah macam itu, aku tetap marah walau kamu bersujud-sujud di kakiku! Aku cuma ingin buat perhitungan denganmu, duduk sini!" Alcenna menggeser sedikit kedekat Eddyson. Sehingga Putri bisa duduk di samping Alcenna.


Alcenna langsung memeluk Putri. "Aku tak marah sama kamu, bagaimana aku bisa marah atas sayangmu selama ini. Aku malah berterima kasih. Jika bukan karenamu dan semuanya aku masih mnderita lahir batin ... huaaaahhh ...." Alcenna malah menangis sambil memeluk Putri. Putri juga akhirnya memeluk Alcenna setelah sejenak dia merasa bersalah. Putri menyangka Alcenna benaran marah dan akan menjauh darinya.


"Sudah nangisnya baju aku basah," ucap Putri.


Alcenna mendorong Putri dan berkata, "Tapi kau tetap dapat hukuman sudah bohong." Alcenna mengelitik Putri dan Putri ingin melepaskan diri, tanpa sengaja mendorong Alcenna terlalu kuat. Alcenna terdorong ke dada Eddyson yang memang hanya memperhatikan kelakuan mereka berdua.


Melihat Alcenna jatuh kearah bosnya. Putri melarikan diri dan duduk kembali di samping Robby. Alcenna hendak bangkit mengejar, namun Eddyson menahan Alcenna dengan mengapit lembut leher dan menahan bahu Alcenna dengan tangannya yang kokoh. "Sudah kata mas, kasihan Putri."


Sekali lagi sentuhan Eddyson yang dulunya pernah memeluk Alcenna, membuat Alcenna merasa getar yang aneh. Dia berusaha melepaskan diri. Namun Eddyson bisa merasa tubuh Alcenna yang bergetar. Eddyson mengambil kesempatan. Selain untuk melepaskan rindunya dia ingin menjahili Alcenna.


"Pak muka Alcenna merah, demam dia gak Pak?" usil Putri. Alcenna menatap tajam Putri seakan ingin menelan Putri.


"Mas lepas. Dasar pria tak tahu malu kamu mas, depan bawahanmu!" ucap Alcenna beralasan.


"Mereka di sini adik-adik mas, saudara mas. Di kantor mereka benar bawahan mas." Eddyson dari dulu mana tahu malu kalau sama Robby dan Putri. Bahkan di depan keluarga Alcenna dia dengan gentleman mengakui perasaannya.

__ADS_1


"Ihhh apaan Mas ini, awas ndak?"


"Kamu ingat, kamu bilang kamu tertekan kerja sama mas dulukan? Sekarang mas balas kamu, dengan tidak mas lepaskan sampai puas."


"Alcenn emang tertekan, Mas kan arogant jadi bos, coba saja tanya tuh ... tuh, pasti tertekankan punya bos model gini," ucap Alcenna sengit. Robby dan Putri hanya melotot. Mereka takut jika benar ditanya. Karena apa yang dibilang Alcenna benar adanya.


"Biarin, mas gak peduli mau dibilang arogant atau diktator!" jawab Eddyson gak mau kalah. Putri dan Robby menarik napas lega, tidak harus ditanya.


"Lepas ndak, Alcenn mau bahas soal surat cerai Alcenn ha sama Mas. Lepas ndak, atau Alcenn bahas sama Kak Robby saja!"


Mendengar itu Eddyson melepaskan Alcenna, dia ingat ada satu lagi yang harus dibahas. Alcenna.


"Maaf mas lupa. Tujuan utama kita di sini ya mau bahas itu. Jadi bagaimana maksud Alcenn?"


"Iya, Alcenna ingin mengurus surat cerai itu. Alcenna mau menikah lagi!" ucap Alcenna yakin.


Mereka terperangah. Putri bahkan berpikir sama siapa Alcenna berhubungan sehingga tiba-tiba mau mengurus surat cerainya. Apa sama Eddyson atau Ardhan. Putri tahu persis bagaimana cerita cinta mereka.


"Kamu mau menikah? Sama siapa?" Eddyson yang langsung mengutarakan rasa penasarannya.


"Kepoooo ah Mas!"


"Sama siapa? Jujur gak?"


"Sama siapa kata mas!" desak Eddyson.


"Sama Mas boleh?"


Eddyson baru akan menjawab dengan semangat mengatakan boleh, Alcenna sudah terpingkal. Eddyson sadar Alcenna mengerjai dia.


"Alcenn tanya serius, Alcenn mau ngurus surat cerai. Alcenna tak ingin pulang ke kampung. Apa bisa di sini saja mengurusnya?"


"Bisa, nanti kita pakai pengacara saja. Biar pengacara yang ngurus. Alcenn hanya cukup ceritakan semua masalahnya. Alceen sanggupkan membuka bekas luka itu lagi, sekali saja untuk terakhir kalinya?" tanya Eddyson penuh selidik.


Sepintas Eddyson sempat melihat luka di mata indah Alcenn. Namun dia menguatkan hatinya. Eddyson berkata lagi, "Kalau Alcenn tidak sanggup nanti pengacara kesulitan dengan jalannya sidang. Sidang pertama Alcenn akan datang bersama pengacara. Sidang kedua tidak perlu. Sidang ketiga saksi dari pihak suami akan didatangkan. Jika dia tidak mempersulit jalannya sidang maka 3 atau 4 bulan akta cerai sudah bisa ditangan Alcenn."


"Kalau dia mempersulit Mas?" tanya Alcenn cemas.


"Akan memakan waktu lebih lama, bisa sampai 6 bulan."


"Hmmm ...."

__ADS_1


"Kenapa?"


"Alcenn tidak mau Mas, ketemu dia lagi, begitu sakit rasanya perlakuan dia Mas. Alcenn tidak menyangka waktu pacaran dia sangat manis, nyatanya pahit dalam berumah tangga. Alcenn bukan menyesal menikah dengannya Mas, hanya saja Alcenn menyesali sikap manisnya. Jika dari pacaran dia sejahat dalam berumah tangga, mungkin Alcenn tak perlu mengingat sikap manisnya."


Walau sudah hampir 9 bulan Alcenn pergi dari hidupnya. Tidak bisa dipungkiri, mengingat dirinya masih menimbulkan sedih di hati Alcenna.


Putri dan Robby terenyu melihat sikap Alcenna. Namun Eddyson kembali didera rasa penyesalan yang dalam. Andai dia lebih tegas dari awal. Alcenna tidak akan melalui hal yang buruk.


"Mas, Robby dan pengacara berusaha tidak mendatangkan dia hanya cukup surat yang di tanda-tanganinya. Kamu tenang saja dulu. Kasihkan saja nanti dokumen yang diperlukan pada mas atau Robby. Nanti biar Robby yang bantu ngurus surat domisilinya. Agar kamu bisa menuntut di pengadilan agama sini saja."


"Kamu harus kuat ya, kakak dan Putri akan selalu ada buat Alcenn," ucap Robby menguatkan. Dia tidak peduli bos posenya akan membakarnya hidup-hidup.


"Harus Kak, ibu pun sudah meminta."


"Oke berarti masalah sudah berangsur kurangkan?" tanya Eddyson lebih berucap untuk dirinya sendiri. Alcenna tidak menjawab. Dia hanya merenung. Mereka membiarkan Alcenna. Mereka berpikir mungkin Alcenna sedang menimbang-nimbang sesuatu.


"Rob, bisa pesan makan malam kita, sekalian coba kamu pantau keadaan si tua itu, ada di sekitar kantor kita. Maaf kalau kamu harus lembur lagi," ucap Eddyson tulus.


"Oke Pak, biar Putri saja yang pesan melalui aplikasi," ucap Robby meminta secara tak langsung pada Putri.


"Ya Kak, biar Putri saja," jawab Putri menyahuti permintaan Robby.


Alcenna terasa tulang-belulangnya menjadi sakit. Mungkin karena fikirannya yang terfosir untuk bercerita membuka masa lalu demi mendapatkan masa depan yang lebih cerah. Mukanya terlihat pucat.


"Alcenn kenapa?" Eddyson yang menyadari pertama kali.


"Tiba-tiba seluruh sendi Alcenn sakit Mas, lemas, rasanya seperti tak punya tulang."


"Kamu berbaring dulu Cenn, mukamu tambah Pucat," kata Eddyson khawatir. Begitu juga dengan Robby dan Putri. Eddyson menarik Alcenna berbaring dengan berbantalkan bantalan sofa.


Alcenn memilih meringkuk, dia merasa lebih nyaman begitu. Robby pamit melihat situasi kantor dan ingin mengambil mobilnya. Putri sedang memesan makanan.


Alcenna meringkuk di sofa. Eddyson masih duduk di dekat kepala Alcenna. Alcenna merasa dadanya tiba-tiba sesak. Dia menahan dan tetap memejamkan mata.


Putri yang sudah siap memesan makanan, menoleh melihat bosnya yang sedang memejamkan mata. Putri tahu bosnya tidak tidur. Hanya sekedar melepaskan lelahnya. Namun ketika melirik Alcenna, Putri melihat bulir air mata mengalir di pipinya dan dahi Alcenna seakan banyak titik peluh di sana.


Putri mau tidak mau bergerak kearah bosnya dan menyenggol pelan bahu bosnya. Eddyson membuka mata dan dengan menggerakkan dahi, seolah dia bertanya ada apa.


Putri juga hanya memberi kode ke Eddyson dengan menunjuk Alcenna. Eddyson tidak perlu diragukan kalau untuk Alcenna dia begitu peka. Dengan perlahan dia bangkit dan memutar kehadapan Alcenna.


Eddyson melihat apa yang Putri lihat. Titik Peluh didahi Alcenna semakin banyak. Seakan ruangan itu membuat Alcenna gerah. Alcenna masih terlihat menutup mata namun bulir air mata seakan berpacu untuk keluar.

__ADS_1


Eddyson mulai menangkap ada yang tidak beres pada gadisnya. Dengan menyapu keringat di dahi Alcenn dia meminta Alcenn, "Buka matanya Sayang. Alcenn ... kenapa?"


**//**


__ADS_2