
Di sebuah rumah, tidak terlalu besar. Minimalis namun berkelas. Kebun bunga terlihat di sudut halaman yang terbilang cukup lebar dan besar. Pagar rendah yang terbuat separoh dari beton dan separoh dari besi terlihat menambah minimalis rumah tersebut. Cat pagar beton yang berlapis batu alam berpadu dengan pagar besi yang di lapisi cat hitam dove menambah indahnya rumah tersebut.
Di ruang keluarga yang pencahayaannya tidak terlalu terang. Seseorang yang berwajah datar sedang duduk dengan hanya menggunakan piyama tidur. Terlihat tidak fokus pada sebuah acara televisi LED yang terpasang lebar di dinding. Ya dia adalah Eddyson. Dia sedang duduk di sofa santainya. Ruang keluarga yang terlihat cukup kecil untuk ukuran bos. Namun tata letak perabot dan isi perabot itu sendiri cukup berkelas di setiap ruangan dengan pas.
"Dari mana kamu, baru pulang jam segini?" tanya sinis suaminya dan mematikan televisinya.
Shinta berhenti, dia ikut menghempaskan bokongnya di sofa mahal itu dan menjawab, "Biasa, kumpul sama temen arisan aku."
"Aku, perhatikan kamu semakin menjadi, bukannya kamu menyesali sikap pembangkangmu tiga tahun lalu!"
"Apa! kamu mau masih ungkit kesalahan tiga tahun lalu. Kamu jangan lupa ya Mas, kamu ikut andil dalam kematian anak kita!"
"Kamu hanya pandai menyalahkanku, aku kerja bukan main-main. Aku merintis perusahaan mati-matian. Aku bukan tidak menyempatkan waktu untuk libur bersama kalian. Tapi kamu menuntut waktu setiap hari. Aku juga manusia biasa, mana mungkin aku sanggup mengejar kesana-kemari. Makanya aku melebihkan kamu dan anak kita dengan materi. Bukankah itu sama dengan wujud sayang dan cinta aku pada kalian?!"
"Aku tidak butuh materi saja Mas, aku butuh perhatian juga, sama seperti istri-istri temanmu!"
"Hahahaha ... betapa tidak tahu malunya kamu Shinta! kamu pikir aku tidak tahu kamu mengeluh dengan teman dekatmu dan ingin pisah ketika aku masih hanya orang suruhan! Kamu begitu egois mau meminta uang dan perhatian secara bersamaan ketika aku sedang meniti! Jangan mencari alasan kamu!" ucapan Eddyson terdengar penuh tekanan setiap berbicara.
"Terserahlah!" Shinta meninggalkan ruang tamu dan pergi ke kamarnya.
Eddyson hanya menghembuskan napas dengan kasar. Dia menyandarkan kepalanya di kepala sofa. Eddyson masih begitu ingat kejadian tiga tahun lalu.
"Mas kita jalan-jalan ke puncak ya minggu ini?"
"Jangan sekarang Shin, mas minggu ini tidak bisa. Masih banyak yang harus mas kerjakan. Mas juga ada janji dengan seseorang investor untuk investasi di perusahaan kita."
"Selalu ada saja alasannya, ditunggu minggu depan ada juga!"
"Kamu pahami mas dulu, setidaknya saat mas merintis. Besok kalau sudah stabil bisa mas titip dengan direktur dan jajarannya. Kamu pahamkan, bagaimana dulu uang kamu terbatas. Kamu tidak bisa mengikuti mode dan teman-temanmu yang bagi mas gak ada gunanya."
"Tapi aku tetap mau pergi ada atau tidaknya mas, lagian anak kita sudah jenuh di rumah saja."
"Anak kita atau kamu sendiri, hampir setiap hari ada saja alasan kalian keluar, mulai dari tempat teman sampai ke mall! "
"Sudahlah tak usah bahas lagi."
Eddyson masih ingat Shinta mendiamkan dia. Di akhir minggu pun Eddyson tidak bisa menemani karena memang sudah ada janji.
Eddyson tidak bisa lupa, saat sebelum meeting dia menelfon Shinta ....
"Shinta kamu jadi juga mau pergi? Mas benar gak bisa. Sebentar lagi mas mau meeting dengan investor."
__ADS_1
"Jadi! "
"Apa tidak bisa di tunda Shin, hari hujan sudah dua hari ini. Mas takut jalanan licin."
"Sudahlah tak usah banyak alasan, aku capek dengarnya. Aku tetap pergi titik!"
Bagai petir di siang bolong, sore hari saat akan kembali ke rumah, Eddyson mendapat telfon dari pihak polisi. Anak dan istrinya kecelakaan dan menabrak mobil lain.
Eddyson diminta ke rumah sakit di Bogor, bahwa anaknya kritis begitu juga istrinya. Setiba di sana Eddyson hanya sempat melihat anaknya membuka mata sebentar lalu pergi untuk selamanya.
Eddyson merasa dunianya runtuh ketika ditinggal anak semata wayangnya. Namun hatinya bukanlah terbuat dari tanah hitam ataupun tanah sengketa yang orang katakan di kata mutiara. Dia berlapang hati tidak menyalahkan istrinya. Dia bisa bersabar dan sudah jalan anaknya seperti itu.
Dia membawa mayat anaknya pulang ke Jakarta dan meninggalkan istrinya bersama keluarganya. Dia akan mengebumikan anaknya dahulu, baru kembali ke Bogor.
Eddyson menemani istrinya yang telah lewat dari masa kritisnya. Setelah ada kemajuan, Eddyson minta istrinya dipindahkan ke rumah sakit Jakarta. Eddyson tidak mungkin meninggalkan perusahaan lama-lama.
Dengan diangkut ambulance Shinta ditemani suaminya di dalam ambulance pergi ke rumah sakit Jakarta.
Setelah sembuh, Eddyson bukan melihat penyesalan di mata istrinya. Entah dia begitu pandai menutupinya. Hanya saja sikap dan perilaku Shinta yang menjadi-jadi membuat Eddyson merasa Shinta merasa bersalah namun tidak mau mengakui.
Awalnya Eddyson membiarkan dan menuruti kemaun Shinta. Namun lambat laun Eddyson mulai tidak sabaran melihat Shinta yang selalu pulang malam.
Kini di tengah berkecamuknya hati Eddyson yang sekian lama menahan tidak harmonisnya hubungan dia dengan istrinya datang kembali gadis yang dia puja sepenuh hati.
Gadis yang sanggup menolak dia yang punya perhatian dan materi. Gadis yang sempat terpuruk karena dia hanya menawarkan jadi istri kedua, ditengah rumah tangganya yang tidak harmonis.
Eddyson masih termenung, dia ingin menyelesaikan rumah tangganya. Dia juga ingin mengejar kebahagiaannya. Namun yang bisa dia tawarkan untuk gadisnya hanya rasa aman. Dia tidak berani untuk saat ini maju lebih dari cinta seorang kakak pada adiknya. Alcenna juga sedang terpuruk.
Alcenna akan menolak. Eddyson hanya bisa berharap waktu yang merubah hati Alcenna untuk menerima dia sebagai pasangan bukan hanya sebagai kakak di hatinya.
Untuk itu Eddyson hanya bisa berusaha, jalan yang utama dia harus menyelesaikan konflik rumah tangganya. Jangan sampai Alceena kembali ke titik di mana dia bersalah di mata orang banyak karena kepengecutan Arzon.
Eddyson tidak mau itu terjadi pada gadisnya. Dia menarik napas dan memantapkan hatinya. Tak ada yang perlu di pertahankan dalam rumah tangganya. Dia tidak boleh egois lagi. Mengejar Alcenna tanpa berani mengambil sikap.
Eddyson pergi menyusul istrinya ke kamarnya. Bagaimana mau harmonis jika tidur saja mereka sudah pisah kamar. Itu terjadi sudah 6 bulan ini.
"Buka pintu, aku mau bicara!"
Tak lama Shinta membuka pintu, "Ada apa?"
Eddyson masuk dan duduk pada bangku meja rias istrinya. Istrinya duduk di tepi ranjangnya.
__ADS_1
"Ada apa?"
"Aku sudah berpikir masak-masak sejak tiga bulan lalu, kini aku mau tanya terakhir kalinya, apa kau bahagia dengan hidup begini?"
"Maksudnya?"
"Apa kamu tidak ingin rumah tangga kita berjalan normal?" Eddyson ingin menyerahkan keputusan di tangan istrinya sebelum dia yang memutuskan. Jika istrinya mau mengalah, dia siap mengorbankan perasaannya sekali lagi pada Alcenna. Sebab Alcenna belum mempunyai perasaan lebih padanya. Dia akan mensuport sebagai adik, seperti mau wanita itu.
"Rumah tangga kita juga sudah tidak normal jauh sebelum anak kita pergi!" desis istrinya tajam. Siapa sangka rahasia rumah tangga mereka begitu tertutup rapat dari dunia luar.
"Di mana tidak normalnya?"
"Kau tidak koreksi diri! kau dingin dan suka mengabaikan aku. Kau lebih suka kumpul dengan temanmu!"
"Apa kau kau juga sudah koreksi diri?" tanya Eddyson menahan emosi karena dikatakan tidak koreksi diri.
"Apa yang harus aku koreksi, aku tidak pernah selingkuh dan aku setia padamu. Walau aku sempat ingin bercerai tapi aku tidak macam-macam."
"Itu aku tahu, tapi apa kamu tahu, aku juga ingin kau layani pagi hari dan pulang kerja. Ketika beban kerjaku meningkat dan aku lelah apa kau ada untukku. Kau hanya sibuk dengan ponselmu, bahkan anakpun tidak kau gubris saat aku ingin istirahat sebentar___"
"Tapi kau juga berhak mengurus anak, kau pikir kau saja yang capek. Aku juga capek, bahkan aku bosan di dalam rumah!" ucap Shinta kasar.
"Aku cuma minta waktu sebentarkan, menjelang aku mandi dan bisa menyegarkan diri, tapi sudah aku tidak ingin membahas yang sudah lalu. Cukup ke depannya."
"Kenapa? Apa kau ingin kita bercerai?" tantang Shinta.
"Apa itu yang kau inginkan? Apa tak ingin kau berubah dan mempertahankan rumah tangga ini?" Eddyson masih bersabar dan memberikan solusi.
"Aku tak akan berubah, tak ada juga yang harus aku ubah. Kau harus bisa menerima aku apa adanya seperti aku yang apa adanya menerima kau," ketus istrinya.
"Aku tak bisa menerima kau yang sekarang, aku ingin kau jadi istri yang penurut!" tegas Eddyson mulai mengambil sikap.
"Kalau kau berharap istri yang begitu, bukan aku. Tak ada juga yang mesti aku pertahankan sejak anak aku tidak ada! Semuanya tetap kesalahan kau!"
"Jadi kau sepakat kita bercerai?"
"Jika itu mau kau, tapi jika kau menceraikan aku, aku ingin kau yang keluar dari rumah ini. Aku tak ingin kau menjualnya. Bagiku di sini kenangan bersama anakku. Jika kau setuju tinggalkan aku!"
"Oke jika itu keputusanmu, nanti jangan kau masuk dalam hidupku lagi dan menyesal!"
"Aku tidak menyesal, kau kasih aku modal 200juta selain dari mobil dan rumah ini!"
__ADS_1
**//**