Tolong Aku SuamiKu

Tolong Aku SuamiKu
Azarine Bertemu Arzon


__ADS_3

Alcenna dinyatakan hanya demam biasa. Mungkin faktor stres dan kelelahan membuat imunnya berkurang. Ini hari kedua Alcenna masih di rumah sakit.


Eddyson masih setia menunggu. Robby dan Putri telah berangkat tadi pagi pulang ke Jakarta. Robby diminta mengurus apapun yang diperlukan di sana. Eddyson membatalkan rencana mereka. Alasannya cukup tidak bisa di bantah, kesehatan dan urusan sidang cerai Alcenna sendiri. Eddyson berjanji pada Putri dan Alcenna, sebelum mereka melangsungkan pernikahan mereka boleh pergi ke kota ini lagi.


Ibu dan Azarine masih di rumah sakit. Siang hari ketika Azarine hendak makan siang. Telfon genggamnya berbunyi. Dia melihat nama bang Arzon di sana. Azarine yang berada di kantin rumah sakit langsung mengangkatnya.


"Hallo Rin, apa kabar?"


"Kabar Arin baik, Abang apa kabar?" jawab Azarine santai. Dia ingin tahu apa maksud mantan abang iparnya tiba-tiba nelfon setelah sekian lama tak ada kabar.


"Ibu apa kabar?" Arzon juga menanyakan kabar ibu mertuanya.


"Alhamdulillah juga baik."


"Di mana?"


"Di ... sekolah." Azarine sempat bimbang. Akhirnya memutuskan berbohong.


"Sudah pandai berbohong sama abang sekarang ya?" ucapnya sedikit sedih. Adik ipar yang dulu sangat menghargai dia kini sudah berubah.


Azarine bingung. Dia spontan menoleh ke kanan dan ke kiri. Matanya tertumbuk pada mantan abang iparnya yang berdiri di luar kantin yang hanya di batasi dinding kaca.


Azarine salah tingkah. Namun dia bukan anak remaja lagi. Dia mematikan sambungan telfonnya ketika melihat Arzon menemui dirinya.


Arzon mendekat dan mengulurkan tangannya pada Azarine. Azarine bertemu Arzon akhirnya di kantin rumah sakit ini.


"Boleh abang duduk?"


"Silahkan Bang," Azarine berdiri dan mempersilakan Arzon duduk. Lalu Azarine ikut kembali duduk.


Arzon memanggil pelayan kantin untuk memesan minum. Lalu setelah itu dia bertanya, "Siapa yang sakit Rin? Alcenna?" tembaknya.


Azarine sudah tidak punya alasan untuk menutupi. "Iya Bang."


"Sakit apa?"


"Kecapekan dan stres yang tinggi hingga imunnya drop," ucap Azarine terus terang. Terlihat Arzon mengusap mukanya.


"Maafi abang Rin, selama ini abang terlalu ego dan tidak mau mengerti perasaannya," ucap Arzon terdengar penuh penyesalan.


"Apa lagi nak dikata Bang. Nasi bukan hanya sudah menjadi bubur namun bahkan sudah basi." Walau Azarine berkata dengan santai, namun nada menyindirnya terdengar kental. Azarine masih kecewa melihat abang ipar yang pernah begitu dia hormati.


"Abang tahu abang salah."

__ADS_1


"Sudahlah Bang, lupakan saja semuanya. Kalau mau minta maaf bukan sama Arin, tapi sama Kakak."


"Abang belum sempat, karena terakhir jumpa Alcenna pingsan." Nada Arzon semakin penuh penyesalan.


"Mungkin karena terlalu sakit hati," kata Azarine.


Arzon diam. Dia mengalihkan pembicaraan. "Sama ibu juga ke sini?"


"Iya, ibu di atas menunggu kakak."


"Abang ingin minta maaf sama ibu, tapi abang rasa waktunya tidak tepat. Abang tidak ingin membuat Alcenna tak nyaman melihat abang," ucapnya sedih. Masih membekas dalam ingatannya permohonan Alcenna yang begitu memilukan pada malam itu.


"Ya lebih baik tidak usah dulu Bang. Kakak belum pulih. Demamnya masih turun naik." Azarine langsung membatasi. Dia tak ingin menimbulkan masalah baru. Apalagi calon kakaknya juga ada di kamar dan Arzon sangat mengenalinya.


"Sampaikan sama ibu maaf abang ya Rin," ucap Arzon tulus.


"Iya, nanti Arin sampaikan. Abang siapa yang sakit kenapa ada di rumah sakit ini?" selidik Azarine.


"Teman." Singkat dia menjawab.


"Anak-anak apa kabar Bang?"


"Baik."


"Mamanya."


"Abang gak pulang ke mamanya?" sungguh mulut Azarine tidak bisa ditahannya.


"Gak ahh," ucap Arzon singkat.


"Ohhh."


"Abang duluan ya," ucap Arzon setelah dia meneguk minumnya walau tidak sampai habis.


"Iya, biar Arin saja yang bayar minum Abang sekalian. Sekali-kali Arin traktir Abang," kata Azarine.


"Makasih, biar Abang saja yang bayar makanan Arin sekalian. Anggap saja traktiran Abang terakhir kali. Sekalian permintaan maaf Abang sama Azarine, karena telah mengecewakan kalian semua." Arzon berdiri. Azarine malas berdebat.


Azarine juga balik ke kamar inap Alcenna dengan menenteng dua nasi bungkus.


"Makan dulu Mas, Bu," ucap Azarine. Dia menyembunyikan perihal ketemu sama Arzon.


"Kok lama?" tanya Eddyson sedikit merasa ada yang ganjil dengan raut Azarine. Azarine semakin grogi.

__ADS_1


"Arin kan makan sama minum dulu di bawah Mas." Dalam hatinya dia mengutuk sifat posesif calon abang ipar barunya. Dia merasa seolah calon abang iparnya tahu dia berbohong dan ada yang ditutupinya. Tanpa Azarine tahu Eddyson memang merasa ganjil dengan sikap dan ekspresi Azarine ketika baru datang tadi.


Eddyson tak mau mendesak. Dia tidak mau Alcenna terbeban. Dia melihat Alcenna memandang Azarine dengan dalam dan lama. Eddyson tidak ingin Alcenna banyak pikir. Dia ingin membawa Alcenna pulang ke Jakarta secepatnya.


"Bu, apa ibu gak ikut saja sekalian sama kami ke Jakarta?" Eddyson mengalihkan perhatian Alcenna ke Azarine.


Belum sempat ibu menjawab, Azarine komen duluan. Dia merasa protes namanya tidak disebut. "Arin gak Mas ajak?"


Eddyson tersenyum. "Ya diajak, masa ibu sendiri."


"Ibu belum libur Nak, besok saja. Sebentar lagi liburan semester."


Eddyson tak ingin memaksakan. "Iyalah Bu, kami tunggu ya. Ibu telfon saya saja biar nanti kami yang jemput."


"Benar Nak? Kamu mau jemput kami di bandara?"


"Iya Bu. Kabari satu hari sebelum berangkat. Biar saya bisa mengosongkan jadwal kantor." Eddyson berkata dengan tulus.


"Oke Nak. Terima kasih. Ibu titip jaga Alcenna ya Nak." Ibu Alcenna terharu, bola matanya berkaca-kaca.


Eddyson merengkuh bahu ibu, "Jangan sedih Bu. Alcenna sudah merasa bahagia. Ibu juga. Kita lupakan yang sudah berlalu. Anggap itu ujian kita untuk sampai di tahap ini."


Ibu justru semakin menangis. Beban hatinya yang diam-diam beliau pendam dibalik wajah teduhnya seakan hancur berkeping-keping melalui isak tangisnya. Beliau menahan kesakitan hatinya, luka hatinya. Ketika suaminya pergi dan anaknya menderita batin.


Eddyson juga tidak tahan melihat ibu dari wanita yang di cintainya. Eddyson merengkuh ibu Alcenna tanpa sungkan ke dalam pelukannya. Ibu menangis. Eddyson membiarkannya. Alcenna dan Azarine membuang muka. Mereka juga menangis.


"Jika ibu sudah lelah untuk mengabdi di sekolah. Ibu pensiun muda saja. Ibu bisa berkumpul di Jakarta bersama kami. Azarine bisa kerja di kantor saya. Azarine juga sarjana ekonomi. Saya bisa atur," ucap Eddyson masih memeluk ibu Alcenna. Eddyson merasa kerapuhan di jiwa ibu gadisnya.


Ibu melepaskan diri dari Eddyson. Ibu menghapus sisa air matanya. Beliau berkata, "Ibu hanya merasa lega. Kamu selalu ada untuk Alcenna Nak. Ibu masih suka melanjutkan tugas ibu Nak. Entah kalau Arin mau merintis kariernya selagi masih muda. Ibu tidak apa sendiri Nak."


"Arin gak mau Bu, biar Arin nunggu ibu pensiun saja. Baru sama-sama kita menyusul kakak."


"Mana kamu suka saja Nak, jangan memikirkan ibu."


"Arin tetap sama Ibu."


Tiba-tiba Eddyson seakan melihat seseorang melintas di depan pintu rawat inap Alcenna. Saat perawat membuka pintu datang memeriksa Alcenna.


"Bentar ya Bu." Eddyson berdiri dan melangkah tanpa menunggu jawaban ibu.


Alcenna melihat kepergian Eddyson dengan penasaran begitu juga Azarine. Hanya ibu yang asyik melihat perawat memeriksa anaknya. Alcenna memandang Azarine seakan memberi kode untuk mengikuti calon abang iparnya. Dua beradik yang suka penasaran itu seakan saling paham. Azarine mengikuti tanpa pamit sama ibunya.


Dia turun dengan cepat ke lantai dasar menggunakan lif. Dia masih bisa melihat sosok Eddyson bergerak cepat seperti mengejar seseorang. Azarine sambil membekap mulutnya melihat Eddyson mengejar mantan abang iparnya.

__ADS_1


**//**


__ADS_2