
Alcenna dan ibunya terkejut, saat mengetahui Arzon yang datang. Namun Alcenna menyerahkan semua pada Eddyson. Alcenna mempercayai Eddyson. Dia yakin pada apa yang dilakukan Eddyson.
Arzon melangkah mendekati ibu mertuanya yang duduk di sofa bed rumah sakit tersebut. Arzon bersimpuh. Dia meraih tangan ibu mertuanya. Kepalanya tertunduk di punggung tangan ibu mertuanya. Air matanya mengalir.
"Ibu ... maafkan aku. Aku salah telah menyia-nyiakan kepercayaan Ibu. Ampuni aku Bu, yang menyakitkan hati ibu." Hanya kalimat itu selebihnya hanya air mata yang menjadi saksi penyesalannya.
Ibu Alcenna wanita berhati emas. Dia melepas satu tangannya dari genggaman tangan Arzon. Dia memegang dan mengelus kepala Arzon. Walau dia ikut menangis.
"Iya Nak, ibu memaafkanmu. Kamu tetap anak ibu, walau Alcenna sudah bukan istrimu."
Alcenna hanya memperhatikan interaksi ibu dan mantan suaminya. Eddyson telah duduk di samping ranjang Alcenna dan membelai rambut Alcenna. Hati Alcenna terasa sangat tenang atas perlakuan Eddyson. Seakan dia mendapat dukungan untuk menerima segalanya.
"Sudah Nak. Duduk disamping ibu," ucapnya sambil menarik tangan Arzon. Arzon berdiri dan duduk disamping ibu mertuanya.
"Aku tahu aku salah Bu. Aku mencintai Alcenna tapi salahku cara. Kini aku sadar Bu. Aku hanya ingin meminta maaf pada Ibu dan Alcenna. Aku sudah bicara dengan Eddyson, Bu. Aku percaya dia bisa membahagiakan Alcenna."
Kata-kata Arzon mrmbuat Alcenna jauh lebih rileks. Alcenna memandang Eddyson. Seakan meminta penjelasan lebih. Bahwa apa yang terjadi di dalam rumah sakit ini bukan mimpi. Eddyson mengangguk dan mencubit kecil pipi gadisnya. Alcenna tersenyum indah.
"Aku sudah sembuh Mas. Aku ingin keluar dan pulang dari sini," ucap Alcenna pelan dan manja.
"Nanti Mas tanya dulu. Kamu mau pulang ke mana hmm?" jawab Eddyson juga pelan.
"Pulang sama Mas. Terserah mau pulangnya ke mana. Aku serahkan pada Mas." Ucapan Alcenna jelas membuat senyum Eddyson merekah. Dia sangat suka dengan cara Alcenna sekarang. Alcenna sangat manja padanya.
Mereka berkata pelan. Seakan takut didengar ibu dan Arzon yang masih bicara. Mereka berdua takut dikira pamer kemesraan. Tanpa mereka sadari Arzon mendengar dengan jelas. Walau ada sedikit terselip kecemburuan di hatinya. Dia yakin Alcenna bisa bahagia tanpa dia disisinya.
"Aku permisi ya Bu," ucap Arzon.
"Iya Nak, telfonlah Ibu kapan sempat. Kini ibu tetaplah ibumu. Kamu hanya putus hubungan dengan Alecnna namun tidak dengan ibu. Alcenna memang bukan muhrimmu lagi. Namun di mata agama kamu terap mahram ibu. Datanglah kapan kamu membutuhkan ibu." Arzon kembali mengalirkan air mata mendengar ketulusan ibu mertuanya.
"Iya Bu. Terima kasih. Ini hingga ke atas, aku akan menanyakan kabar ibu. Aku tidak takut lagi ibu akan marah padaku. Aku pengecut ya Bu?"
Ibu Alcenna hanya tersenyum mendengar ucapan Arzon. "Sudah tidak usah dibahas lagi. Kita pikir untuk ke depan saja," ucap ibu Alcenna dengan bijak.
"Iya Bu." Arzon berdiri menyalami ibu. Lalu dia mendekati Alcenna. "Maafi abang atas semua yang abang lakukan padamu. Abang doakan kamu bahagia dengannya."
Alcenna hanya mengangguk. Arzon juga telah pamit pada Eddyson. Arzon meninggalkan ruangan itu tanpa beban di hati, hanya ada luka hati. Luka yang dia buat sendiri.
Tak lama Arzon keluar, Azarine baru masuk. Alcenna bertanya, "Dari mana kamu Dek?"
Bukan Azarine yang menjawab namun Eddyson. "Adik ipar Mas baru jadi detektif sayang," ucap Eddyson tersenyum menyindir Azarine. Eddyson bukan tidak tahu keberadaan Azarine tadi.
Ibu dan Alcenna hanya tersenyum. Azarine hanya cengir-cengir. "Payah ya Kak bohongi suami Kakak ini!" ucap Azarine pakai kata suami. Eddyson masih tersenyum.
__ADS_1
"Makanya kamu jangan bohong-bohong sama Mas."
"Mas pasti tahu Arin sudah ketemu dia dari tadikan?"
"Apaaa Dek, kamu sudah duluan ketemu bang Arzon?" Alcenna yang duluan bersuara. Azarine hanya mengangkat dahinya.
"Mas tahu saat dia masuk tadi sudah ada yang ganjil di wajahnya sayang, namun mas tak sangka dia ketemu Arzon."
"Bilangi orang bakat detektif tapi Mas juga berbakat, jauh berbakat lagi," sindir Azarine. Mereka hanya tersenyum.
"Mas, cepatlah tanyai dokter. Alcenn mau pulang."
"Semalam lagi. Besok pagi baru pulang. Percayalah sama Mas. Tak akan boleh hari ini. Tadi malam kamu masih sempat panas."
"Iya Nak dengar saja kata nak Edysson. Jangan keras kepala." Walau ibunya berkata lembut, seperti biasa nadanya tidak boleh dibantah.
"Oke ibu suri sayang dan pangeran sayang, hamba patuh pada ucapan pangeran dan ibu suri," ucap Alcenna menggemaskan di mata Eddyson.
"Coba tanya dokter Nak, apa Alcenna tidak terlalu mengkhawatirkan? Maksud ibu jika tidak, ibu dan Azarine pulang dulu sore ini. Terlalu lama ibu libur tidak enak rasa hati ini."
"Baik Bu." Eddyson yang menjawab dan berdiri. Ibu padahal meminta pada Azarine. Alcenna tidak melarang, dia sangat tahu bagaimana ibunya.
"Kamu tidak apa ya Nak ibu tinggal. Ibu hanya pesan jangan macam-macam, kendalikan diri. Cepat selesaikan urusan kalian dan menikahlah secepatnya biar ibu tenang."
"Ibu percayalah. Alcenn tak akan melakukan yang menyengsarakan ayah di alam sana. Alcenn akan secepatnya menikah begitu surat cerai keluar. Alcenn-kan gak perlu lagi nunggu masa idah 3 bulan, juga sudah hampir setahun berpisahkah."
"Iya, canda Bu."
"Kak, tapi Mas kakak ngeri juga feelnya Kak. Azarine cerita dengan ringkas saja bagaimana Eddyson mengejar Arzon. Alcenna tersenyum.
Ibunya senang melihat senyum putri sulungnya. Beliau kini jauh lebih tenang melepaskan putri sulungnya hidup jauh darinya.
"Apa kata dokter Nak?" tanya ibu ketika Eddyson masuk.
"Iya Bu tidak apa-apa. Hanya dokter mau lihat semalam ini. Jika dia tidak demam lagi, pagi boleh pulang."
"Tak apalah ibu tinggal bersamamu saja ya Nak, ibu memang risau libur terlalu lama."
"Tak apa Bu, kami pagi langsung berangkat ke Jakarta ya Bu. Kami tunggu ibu dan Azarine ke sana." Eddyson meminta izin dan meminta ibu ke Jakarta secepatnya.
"Ibu percaya padamu Nak, jangan kecewakan ibu sepertia Arzon mengecewakan dan membuat hati ibu pedih. Jaga diri sampai pernikahan kalian berdua!" Ucapan ibu sangat tegas.
"Jadi Ibu mau pulang hari ini juga? Apa tidak besok pagi saja kita sama-sama bertolak?" tanya Eddyson merasa sedikit keberatan.
__ADS_1
"Sekarang sajalah Nak, kasihan siswa ibu ditinggalkan lama-lama."
"Tahukah Ibu, dari dulu aku cemburu dengan para siswa Ibu, Ibu sanggup meninggalkan aku sakit di rumah demi siswa ibu bahkan kini juga begitu," ucap Alcenna yang membuat ibunya dan Eddyson ternganga tak percaya. Azarine tidak heran, itu yang dia rasa juga.
Ibunya tersenyum bijak. Sambil mengelus rambut putrinya, ibunya berkata, "Ibu menyayangi dan mencintai kalian. Namun itu tugas ibu, para siswa itu tanggung jawab dari kerja ibu. Ibu tidak mau dituntut di akhirat karena melalaikan tanggung jawab ibu. Kamu dan adik-adik juga ibu urus. Baru ibu pergi dan juga kecil-kecil ayahkan selalu ada didekat kalian," ucap ibu lembut.
Alcenna mengambil tangan ibunya dari kepalanya. Dia mencium dengan sayang. Alcenna berkata, "Jangan sedih lagi ibu, itu dulu sewaktu kami belum mengerti arti sebuah tanggung jawab. Kini aku sudah paham Bu. Lagian ada pangeran tampan yang siap-siap aku azab," ucap Alcenna yang mendapat tatapan dalam dari Eddyson. Muka Alcenna kembali merona.
Ibu paham apa yang terjadi dengan anaknya, beliau mencandai, "Nak Eddyson sepertinya harus sering memandang Alcenna dengan dalam, jadi putri ibu bisa lebih feminim dan kalem."
"Ibuuuu ...." Alcenna bertambah malu.
"Iya ya Bu, dulu gak pernah lihat kakak gini deh.Ngalahi masa puber gadis saja," usil Azarine.
"Kakak doakan kamu juga menemukan orang yang bisa membuka hatimu itu, hati batu!" olok kakaknya dengan kejam.
"Sudah. Ayo Arin, siap-siap," lerai ibunya.
Alcenna masih sempat melihat Azarine menjulurkan lidahnya. Alcenna gemas melihatnya, namun Eddyson lebih gemas melihat kelakuan dua beradik ini. Apalagi melihat Alcenna yang bukan gadis remaja lagi. Namun kelakuannya dan sifat manjanya sanggup membuat hati Eddyson selalu bahagia.
"Arin, ini buat ongkos dan makan ya," ucap Eddyson memberi Azarine uang tunai.
"Wow Mas, ongkos ke kampung sama makan gak akan habis sebanyak ini," ucapnya senang tanpa menghitungnya. Dia yakin satu juta tidak ke mana dikasih calon abang iparnya.
"Ya sudah, ambil saja untukmu," jawab Eddyson.
"Aku gak nolak ya Mas, sayang kalau ditolak," ucap Azarine sambil mengipas uang melihatkan ke kakaknya."
"Matree!" ucap Alcenna gemas.
"Hahahaha, aku berangkat ya Kak. Makasih Mas. Semoga rezeki Mas bertambah memberi anak yatim ini." Azarine semakin pintar berkata-kata sejak tamat kuliah. Dia tidak sependiam waktu sekolah dan kuliah.
"Ibu pulang dulu ya Nak, kamu jangan lupa shalat dan banyak bersyukur." Ibu memeluk Alcenna.
"Cepat ke sana ya Bu, Alcenn masih rindu," Alcenna kembali menangis.
"Iya, kamu jangan menangis lagi, nanti ibu ikut menangis," ibu berucap, sementara air matanya sudah keluar.
"Aku cuma menangis merindukan Ibu." Alcenna melepaskan pelukan ibunya.
"Mas antar ibu ke bawah dulu ya sayang, kamu tunggu baik-baik di sini." Mobil travel ibu sudah menunggu di parkiran rumah sakit.
Alcenna melihat mereka mulai melangkah. Berbagai perasaan hadir di hati Alcenna.
__ADS_1
"Selamat datang masa depan, selamat tinggal masa lalu," gumam Alcenna.
**//**