Tolong Aku SuamiKu

Tolong Aku SuamiKu
Menikmati Waktu Muda.


__ADS_3

Bandara Soekarno Hatta ....


"Pak ... sibuk?"


"Iya, kenapa Cen?"


"Kami sudah sampai di Jakarta, kami juga sudah di mobil jemputan yang Bapak kasih."


"Ohh ... ke hotel saja dulu, sudah saya suruh Robby carikan kalian hotel, nanti saya telfon."


"Boleh main Pak." Alcenna tetap pamit menghargai bosnya.


"Boleh, minta temani sama Robby saja ke mananya, oke Cenn."


"Ok Bos."


"Mas Robby," panggil Alcenna ramah.


"Ya Dek ...."


"Hotelnya sudah Mas carikan?"


"Sudah."


"Mas, kita main ke mall dulu bisa? Nanti saja ke hotelnya. Kata bapak tadi minta temani sama Mas ke mananya."


"Kamu ini memang cewek mall ya, dah sampai sini pun masih mall incarannya," protes Putri.


"Jadi ke manalah lagi. Perut aku ini lapar loh Put. Minta diisi," rengek Alcenna.


"Badan langsing, makan banyak," ujar Putri.


Alcenna mencubit pinggang Putri. Suara cempreng sahabatnya, membuat malu Alcenna di depan Robby, yang jelas-jelas tersenyum simpul saat mendengarnya.


Robby tidak banyak berbicara, palingan si bos Alcenna yang wanti-wanti. Alcenna jadi curiga bawaannya ke bosnya, dia yakin melihat sikap bosnya akhir-akhir ini. Posesifnya mengerikan dirasa Alcenna. Alcenna baru sadar sisi lain bosnya.


Sesampainya di sebuah mall besar di kawasan Jakarta Timur .... "Mas ayo ikut makan," ajak Alcenna.


"Gak usah Dek. Kalian berdua saja, mas bisa makan sendiri. Nanti kalau sudah mau ke hotel kabari mas. Biar mas jemput lagi," tolaknya halus.


"Put, kita berdua saja gak apa? Lagian kamu pasti biasa juga di kota besar." Jika sendiri, Alcenna sedikit ngeri kalau di daerah baru. Dulu ada Ardhan yang nemani. "Ehh kok jadi ingat Ardhan," batin Alcenna.


"Iya gak apa, enak lagi bebas kita mau gosip siapapun," ujar Putri yang membuat Robby geleng-geleng.


"Okelah Mas, kami berdua saja. Terima kasih ya Mas," ujar Alcenna sopan.


Kedua gadis itu puas memutari mall setelah makan. Tak terasa hari sudah hampir jam 2 siang saja. "Put, kita cari mushola mall ini dulu ya, shalat," ujar Alcenna.


"Yuk."


***


Selesai shalat mereka berencana mau nonton, tetapi timbang sana timbang sini nanti pas bos menghubungi sedang asyik nonton, jadi buyar. Alcenna memilih pending dulu. Nanti niatnya ajak bos saja.

__ADS_1


Akhirnya mereka cari tempat game saja. Mereka coba semua permainan yang dirasa bisa. Alcenna mencoba sebuah game dance, yang dikembangkan oleh Andamiro yang berasal dari Korea. Nama gamenya Pump It Up ( PIU).


Ada banyak versi musik dancenya. Alcenna sedang asyik bergoyang mengikuti arah panah yang muncul dilayar monitor. Sudah 30 menitan dia betah di game ini, Putri entah main apa, Alcenna tidak ambil pusing.


Alcenna sengaja memilih pakaian lebih modis-an ketika berangkat ke Jakarta. Dia memakai pakaian yang memperlihatkan kaki putih mulusnya.


Di kotanya model pakaian ini hampir tidak ada dia gunakan. Alcenna membeli ketika seminar kemarin dan itu pun Ardhan yang bayari. Hanya sekali dia pakai waktu hari minggu ke tempat wisata. Alcenna saat itu hanya ingin menggoda Ardhan, agar ada penyesalannya meninggalkan gadis seksi seperti dirinya.


Alcenna sangat ingin menikmati masa muda sebentar saja. Namun rupanya kesenangannya hanya berlangsung sebentar. Di atas lantai dance game. Tiba-tiba dia merasa belakang betisnya sakit seperti dijentik seseorang.


Alcenna berhenti dan melihat bos dengan tampang dinginnya. Alcenna turun dari lantai game dan tanpa merasa bersalah datang kepada bosnya. Dia beri senyum manis tapi wajah dingin bosnya tak berubah.


"Jadi ini yang kamu bilang mau main dulu." Nada bosnya pun ikut dingin.


"Iya," kata Alcenna tanpa takut. Alcenna tahu pasti apa yang membuat bosnya dingin. Apalagi kalau bukan marah karena sifat posesifnya yang melihat Alcenna tampil sedikit berani.


"Mana Putri, ayo pulang ke hotel. Ganti bajumu itu."


Alcenna pun celingak-celinguk mencari Putri. Alcenna melihat dia tersenyum mengejek tepat di belakang si bos. Berarti Putri tahu dari awal kejadian Alcenna dijentik bosnya. Dengan sedikit kesal dikerjai Putri, Alcenna melambaikan tangan memanggil Putri. Bosnya secara otomatis memutar badannya.


Putri dengan hormat menyalami bos Alcenna dan menyapa, "Apa kabar Pak."


"Baik, ayo kita ke hotel. Kawanmu ini lagi mau cari mangsa." Masih dengan juteknya dia ngomong mengatai Alcenna mau cari mangsa.


Kami pun mengikuti, sampai di parkiran, Robby sudah menunggu. Putri dengan tahu diri duduk di bangku depan berdampingan dengan Robby.


Alcenna merasa heran. Kenapa bisa tahu bosnya tanpa menelepon terlebih dahulu, kalau mereka sedang bermain di tempat game. Alcenna jadi curiga pada Robby, tapi merasa tidak sopan kalau menuduhnya langsung di awal baru kenal.


Satu-satu makhluk yang bisa dituduh adalah bosnya. "Bapak suruh mas Robby mata-matai kamikan?" Alcenna sengaja membesarkan volume suaranya. Putri langsung menoleh, hanya sebentar. Robby melirik sedikit ke kaca spion tengah.


"Gak pa-pa sih," kata Alcenna cuek yang membuat Eddyson terlihat semakin kesal pada gadis itu. Dia tidak menyangka kalau Alcenna tidak balas menantangnya. Tetapi justru sifat Alcenna yang membangkang secara halus membuat Eddyson gemas.


"Kamu mau memancing saya melepaskan masa lajangmu!" kata-katanya terdengar berbisik di telinga Alcenna sebagai peringatan. Namun tak urung Eddyson melepaskan jasnya dan menutupi paha Alcenna yang sedikit terbuka karena pakaian pendeknya.


Alcenna geleng-geleng saja. Dia tak mau memprovokasi lebih lanjut. Alcenna juga tak niat untuk memancing kekesalan bosnya dengan pakaiannya. Tadinya niat dia cuma buat senang-senang saja bergaya seperti gadis kota metropolitan.


"Maaf Pak, janji tak buat lagi," Alcenna berbisik sambil membentuk huruf v dengan dua jarinya.


"Iya, cukup sekali ini di pakai keluar. Kalau mau pakai juga di dalam kamar berdua dengan saya," ucapnya pelan agar tak terdengar oleh Putri dan Robby.


Alcenna dengan berani mencubit pinggang bosnya. Eddyson menahan tangan gadis itu dan meremasnya pelan, lalu dia berkata, "Kamu baru siap keluar rumah sakit sudah berani memaksakan bergerak seperti di lantai games tadi. Apa kamu gak bisa sedikit saja pikir panjang Alcen. Perutmu bisa saja sakit!"


Alcenna tidak membantah lagi, yang diucapkan bosnya ada benarnya. Karena tidak ada merasakan sakit dia lupa kalau masih pasca penyembuhan tiga hari ini.


"Obatmu ada diminum?"


Alcenna mengangguk, padahal dia juga lupa meminumnya tadi, dari pada kena marah lagi dan membuat mood bosnya tambah tidak baik, tak apalah bohong sedikit. Alcenna berniat sampai di kamar akan meminumnya.


***


Sesampainya di hotel, Eddyson bertanya pada Robby, "Kamu pulang ke mess atau mau saya ambilkan kamar di sini saja?" tanya Eddyson pada Robby.


"Ke mess saja Pak, juga gak jauh kalau nanti Bapak mau di antar jemput."

__ADS_1


"Okelah, thanks," ucapnya.


Mereka menuju lobby hotel dan dua sahabat itu menunggu ketika Eddyson meminta kunci kamar yang telah dipesan Robby.


"Ini kunci kamar kalian, bersihkan badan kalian dan pakai baju yang lebih sopan. Kalian berdua bukan mau jual paha ke sini." ucap bosnya sadis.


Bos Alcenna terlihat kesal karena dengan santai Alcenna menjulurkan lidah mengejek omongannya yang sadis, sementara Putri hanya menunduk. Putri juga mengenakan baju modis yang lebih terbuka dari Alcenna. Dia pasti salah tingkah mendengar ucapan sadis bos temannya.


"Siap mandi ke mana kita Pak?" kata Alcenna kemudian. Dia tak memikirkan bosnya lelah atau tidak. Dia tahunya badan mereka berdua masih kuat untuk mengukur jalanan kota Jakarta sekalipun.


"Mau ke mana lagi kamu, sudah seharian kelayapan. Istirahat dulu, nanti malam baru kita makan malam di luar."


***


Di kamar hotel, Alcenna langsung mencari obatnya dan mengambil sebotol air mineral yang tersedia di kamar lantai delapan ini. Dia minum obatnya. Alcenna juga tak ingin cari penyakit dan menyusahkan orang lagi.


Putri memilih merebahkan badannya di sofa yang terdapat dalam kamar hotel. Melihat Alcenna cepat meminum obatnya, Putri berkata merasa ikut bersalah, "Maafin aku ya, aku lalai mengingatkan kamu minum obat dan ngelarang kamu dance."


"Kalau ada yang harus disalahkan itu ya aku Put. Masa aku gak ingat dengan kondisiku sendiri. Sama saja aku yang cari masalah. Udah jangan dipikirkan. Lagian aku tak ada merasa sakit lagi."


"Ohh yaa. Awas jadikan aku obat nyamukmu ya Cenn! "


"Tenang aku jadikan bodyguard saja kamu ya."


"Baru aku lihat sisi lain dari pak Edysson, Cenn," ucap Putri tanpa menggubris balasanku.


"Kenapa?"


"Beda banget pembawaannya dengan orang- orang di luar sana. Papaku saja kalau aku ceritai pasti gak percaya."


"Jangan macam-macam kamu Put, sama saja buat aku terkubur di dalam bumi!"


"Hahaha ... ya gaklah say, masa aku cerita. Tenang saja rahasia kita berdua." Putri bersungguh-sungguh.


"Berdua dari mana katamu, orang keluargaku dan Arzon saja sudah tahu."


"Apaaaa ...." teriak Putri nyaring.


"Apa yang mana satu ni, keluarga apa Arzon?"


"Arzon lah!"


"Ya gitu deh mereka ketemu di rumah sakit ...." Alcenna ceritakan semuanya dan membuat Putri geleng-geleng, angguk-angguk dengar cerita sahabatnya.


"Fantastis ...." ucap Putri yang Alcenna hadiahkan pukulan kecil.


"Apaan sih," sungut Putri.


"Kamu yang apaan," balas Alcenna.


"Siapa yang mandi duluan?" tanya Putri. Dia juga bosan kalau hanya di kamar.


"Aku mandi duluan, nanti kita ajak nonton tu ayank bebeb aku," ucap Alcenna berlalu dari hadapan Putri.

__ADS_1


**//**


__ADS_2