Tolong Aku SuamiKu

Tolong Aku SuamiKu
Kau Anggap Aku Siapa?


__ADS_3

Mereka pun melanjutkan pekerjaan dan selesai tepat jam 16.30 WIB. Urusan pekerjaan selesai, mereka memutuskan pulang.


"Cen ... see you tomorrow," katanya sambil melambaikan tangan setelah mengambil kendaraan mereka di parkiran toko.


Setiba di rumah, Alcenna melihat adiknya sedang bercanda di ruang tamu. Badannya begitu letih. "Dek ... kakak langsung ke kamar ya, hari ini kakak capek sekali. Kalian sudah pada makan?" Mereka berdua mengangguk hampir bersamaan. Alcenna menuju kamar.


Dia keluarkan handphone dari tas. Alcenna memang tak pernah membiasakan mengangkat handphone di atas kendaraan. Akan banyak hal dan resiko yang akan ditimbulkan ulah mengangkat handphone di motor dan dia sangat menyayangi dirinya untuk itu.


Dia memutuskan berbaring sejenak sambil mengecek Handphone. Tertera di sana beberapa panggilan tak terjawab dan beberapa sms.


Yang menarik ada panggilan dan sms dari laki- laki pengecut. Itulah setidaknya gelar yang cocok untuknya kini diberikan oleh Alcenna.


"Di mana? Jangan salah paham dengan semua tadi!"


Dia membuka pesan berikutnya. "Kenapa tidak angkat panggilan dariku? Biar aku jelaskan."


Tak dia gubris sms maupun panggilannya. "Huuh ... kau anggap aku siapamu kini! Aku tak butuh penjelasan dan kini tak butuh tahu apa pun tentangmu!" Alcenna berteriak kesal di dalam hati.


"Ardhan Barra ... bagiku kau sekarang bukan siapapun, aku lebih baik melupakanmu dari pada harus selalu mengharapkan cintamu yang tidak pernah aku pahami," batinnya lagi.


Malam harinya tak di sangka, Ardhan datang ke rumah Alcenna. Alcenna tak menyangka, sehingga tidak menitipkan pesan apapun pada adiknya. Bahkan dia belum sempat bercerita pada adiknya. Alcenna hanya mengurung diri sejak pulang. Bukan karena menangis, hanya untuk melepas lelah.


Tok ... tok ... tok ....


"Masuk Dek, tidak kakak kunci," kata Alcenna masih berbaring malas.


Ceklek ... Azarine hanya berdiri di pintu dan berkata, "Kak ... ada Popeye di depan."


"Haaa." Mulut Alcenna terbuka lebar, dahi berkerut. Membuat Azarine terheran-heran dengan reaksi yang kakaknya suguhi.


"Kenapa heran begitu Kak, kalau Popeye Kakak datang lagi??" Pada akhirnya Azarine tak tahan untuk bertanya.


"Tidak apa-apa Dek, kembali sana ke kamarmu," usir kakaknya halus.


Alcenna menyisir rambut yang sedikit acak-acakan. Tanpa mengganti baju tidur, dia temui Ardhan ke ruang tamu.

__ADS_1


"Ada apa lagi!" katanya dengan dingin setelah menghempaskan diri duduk dihadapan Ardhan.


"Aku mau menjelaskan apa yang kamu lihat tadi siang, aku tak ingin kamu selamanya salah paham dan berpikir aku bukan pria yang setia saat menjalin hubungan denganmu. Dia ada___"


Alcenna menyela ucapannya, "Cukup!! tak perlu dijelaskan, saat kamu sudah memutuskan semalam, aku sudah memikirkan untuk melupakan dirimu selamanya!" Hampir sepanjang mengenalnya, Alcenna tak pernah berkata kasar padanya seperti malam ini. Walau hati Alcenna juga terasa perih berlaku kasar, namun dia tak ingin melanjutkan apapun tentang Ardhan.


"Dengarkan aku sekali lagi ...." pintanya penuh permohonan pada Alcenna. Namun gadis itu tidak bisa lemah lagi. Dia harus kuat agar semuanya benar selesai.


"Tidak ada penjelasan apa pun, aku tidak butuh lagi. Apapun yang kau jelaskan, tidak akan bisa merubah apapun yang telah kita putuskan semalam. Aku minta kamu pulanglah dan pergilah sejauh mungkin dari kota ini. Mari kita saling melupakan bahwa kita saling mengenal." Suara Alcenna terdengar semakin dingin dan tak bersahabat. Alcenna harus bisa mematikan hati untuknya.


Walau Alcenna melihat dia meremas rambutnya, menunjukkan wajah frustasi tapi Alcenna sudah tak perduli. Ibarat luka yang dalam, walau sembuh sekalipun bekasnya tak bisa hilang. Ibarat dinding yang telah ditempel paku, jika pakunya dicabut, dinding tetap berbekas. Sekarang itu yang dirasakan hati gadis tersebut.



"Mari kita menikah," ucap Ardhan. Pelan namun pasti. Entah karena terlalu frustasi atau dia masih belum puas memainkan kehidupan Alcenna, sehingga kata-kata itu terdengar penuh ejekan di telinga Alcenna sendiri.


Mendengar ajakan menikah darinya sungguh membuat hati gadis itu geli, sehingga dengan terang- terangan dia melepaskan tawa mengejek.


"Kamu kira aku siapamu?? Kemaren kamu putuskan sekarang kamu ajak menikah!! Menggelikan sekali leluconmu," ucap Alcenna tanpa perasaan sedikitpun.


"Aku serius!" katanya dengan tegas namun terdengar hanya permainan di panca indera Alcenna. Sekali lagi Alcenna memberikan senyum mengejek.


"Dengarkan aku, kamu salah paham!" Ardhan masih gigih ingin menjelaskan. Sayangnya hati gadis itu benar-benar sudah tak ingin ada hubungan apapun lagi. Hatinya bagaikan bunga yang telah layu. Bagaikan kumbang yang kehilangan sengatnya. Tak ada keinginan apapun lagi tentangnya selain keinginan melupakan dan jauh darinya.


"Tak perlu, aku benar tak ingin tahu apapun tentangmu. Bagiku semua sudah selesai tadi malam. Tak ada yang tersisa dari itu semua. Baik itu rasa cinta, mau pun rasa luka yang kau buat," Alcenna berkata dengan pelan dan teratur. Namun jika dia bisa menyelami hati Alcenna, hatinya sangat terasa sakit dan sesak.


Alcenna bisa saja berteriak dengan suara menggelegar seperti petir mengamuk untuk mengusirnya dari dalam rumah. Akan tetapi ibu dan ayahnya tak pernah mengajarkan anaknya untuk berteriak-teriak dalam menyelesaikan sebuah masalah, sehingga dia tak terbiasa untuk melakukannya.


Apalagi Ardhan hanya tamu saat ini, walau apapun yang terjadi statusnya tetap tamu terlepas dari dia pernah menyakiti. Tak baik mengusir tamu dengan kasar, walau itu tamu tak diundang. Alcenna pernah menumpangkan kasih pada tamu ini.


Keterdiamannya terpaksa membuat Alcenna kembali buka suara, "Jadi sekali lagi aku minta kepadamu, tak perlu untuk menjelaskan apapun. Sungguh aku tak ingin tahu, please mengertilah untuk sekali ini," katanya dengan suara yang mulai bergetar.


"Baiklah kalau itu keinginanmu, mungkin sekarang kamu masih tersulut emosi. Satu yang kamu ingat, aku bukan memutuskan karena ingin dengan yang lain, apalagi karena wanita yang kau lihat bersamaku tadi siang. Aku tak ingin menggantungkan harapanmu dengan membuat waktumu jadi sia-sia," ucapnya masih saja terdengar seperti sebuah alasan menutupi kesalahannya.


"Aku sekarang tidak tersulut emosi. Kamu juga harus tahu satu hal, sejak kita membahas dan memutuskan masalah diantara kita semalam bagiku semua sudah usai," kata Alcenna pasti.

__ADS_1


"Tapi ...." Dia masih ingin menjelaskan sesuatu namun Alcenna memotong.


"Kalau aku mau tersulut emosi harusnya kejadian semalam, tapi kamu lihat?? Aku menerima dengan lapang dada. Bukan tipeku harus cemburu dengan wanita lain di saat statusmu hanya MANTAN dan lebih tepat hanya teman biasa!" Jadi buat apa aku harus emosi melihatmu kemaren? Sekarang aku mau istirahat." Lanjut Alcenna untuk memangkas waktu dengannya.


"Baiklah kalau itu keinginanmu, aku tidak akan mengganggumu lagi." Dia mengalah lalu berdiri dan melangkahkan kakinya ke pintu.


Alcenna mengantarkannya sampai ke pintu dan melepaskan kepergiannya. "Selamat tinggal Ardhan Barra. Aku akan melupakan dirimu dan menjalani hari-hariku tanpa dirimu lagi bahkan tanpa bayangan dirimu sekalipun!" Alcenna telah bertekad dalam hati sambil memandangi sosok punggungnya sebelum dia menghilang dari pandangan.


Gadis itu kembali ke kamar, dan membaringkan diri. Sebenarnya ada sedikit rasa yang bergejolak ketika dia mengucapkan "Mari kita menikah." Perasaan senang di hatinya dengan kalimat yang telah dia tunggu untuk membangun sebuah keluarga kecil.


Tapi perasaan itu tak boleh dia pupuk semenjak keputusan final di malam itu. Alih-Alih untuk menenangkan hati yang sedikit resah, dia memutuskan menelpon ibunya.


"Halo Bu ... Assalamu'alaikum." Alcenna memberi salam ketika mendengar teleponnya diangkat.


"Wa'alaikumussalam Nak."


"Apa kabar hari ini Bu? Sehat?" tanyanya. Mereka selalu tetap memberi kabar dalam sehari-hari. kadang adiknya yang menelepon ibu, terkadang ibu yang menghubungi mereka.


"Sehat Nak, ibu dan ayah baik-baik saja."


"Alhamdulillah kalau begitu Bu." Sejak kepulangan Alcenna dulu, hubungan ibu dan ayah sudah baik. Walau tak tahu apa masalah pastinya, tetapi ibu dan ayah sudah menyelesaikannya.


"Kamu lagi sedih ya Nak?" tanya ibunya. Degh ... jantung Alcenna sejenak seperti diremas. Ternyata walau dia sudah berusaha sebaik mungkin menutupi, namun perasaan ibu tak bisa dibohongi.


"Sedikit Ibu tapi bukan masalah besar, Alcen masih bisa mencari jalan keluarnya. Ibu tenang saja, anak Ibu ini bukan anak yang mudah putus asa Bu," sahutnya meyakinkan sang ibu.


Ya itulah Alcenna Moswen. Dia tak terbiasa membebani orang tua dengan masalah-masalahnya. Bukan hanya dia dan adik-adiknya pun juga begitu. Ibu dan ayah juga sosok yang bijaksana, mereka tak pernah mendesak mereka untuk menceritakan masalah.


"Ohhh syukurlah kalau begitu, ingat ya Nak jika sedih mengadu pada Rabb mu. Hanya Dia pemberi jalan, pemberi pertolongan, jangan tinggalkan shalat, itu saja minta ibu padamu dan adik-adik," ucap ibunya lembut.


"Baik Bu, Alcenna ingat selalu kok Bu." Bagaimana tak ingat, asal menelepon yang ditanya sudah makan? Sudah shalat? Lainnya menunggu cerita anak-anaknya mengalir.


"Ya sudah, istirahatlah besok bekerja, ibu dan ayah belum bisa ke kota," kata ibunya kemudian. Ibunya hanya saat anak-anak didik libur baru mau ke kota. Ibu tak mau izin jika sesuatu itu bukan hal yang urgent. Kata ibunya, "Kita tak boleh makan gaji buta."


"Iya deh Bu, salam sayang sama ayah ya Bu ... I Love you Mom."

__ADS_1


"Love u too Nak." Lalu Alcenna memutuskan percakapan.


**//**


__ADS_2