Tolong Aku SuamiKu

Tolong Aku SuamiKu
Pikirkan Sekali Lagi


__ADS_3

Setelah penjelasan malam itu, hubungan Alcenna kembali membaik. Hari-hari dijalani seperti biasa. Alcenna memutuskan mempercayakan hati pada Arzon. Walau bos dan mantannya juga selalu mengontak Alcenna.


Alcenna anggap semua itu hanya sapaan manis, tidak merusak hubungan dengan kekasihnya. Mereka berdua tahu batas-batasnya, dianggap satu sebagai teman dan satunya tetap bos.


Namun Alcenna harus menahan hati, hampir setiap berjumpa atau sekedar lewat komunikasi tentang pekerjaan, bosnya selalu mencemooh Alcenna atau sekedar memancing-mancing perasaan Alcenna.


Seperti hari ini, saat melakukan kunjungan ke supermarket bersama bosnya. "Apa kabar calonmu Cen?" tanya bos Alcenna dengan wajah sinis. Alcenna walau sudah mulai terbiasa, tetap merasa dongkol pada bosnya.


"Baik saja Pak." Alcenna menjawab malas.


"Sudah beres urusannya?"


"Urusan apa ini Pak?" Alcenna sengaja seolah-olah tidak mengerti. Alcenna menoleh sebentar lalu kembali membuang pandangannya ke jalan.


"Urusan sama Pengadilan Agama!" katanya sedikit jutek.


"Isss ... apalah Bapak ini mau tahu saja urusan anak buahnya," kata Alcenna sedikit kesal dan kembali menoleh ke bosnya dengan sengit.


"Di kantor iya kamu anak buah, di luar kantor kamu kekasih," kata bosnya dengan santai dan tak tahu malu. Senyum manis diberikan bosnya pada Alcenna.


Alcenna mendelik memandang dengan wajah sewot. Dengan ringan bosnya mengatakan kekasihnya. "Kekasih apanya ... kekasih gelapmu kali Pak. Tak sudi aku ya bos." Hati Alcenna berkata-kata sendiri. Bos Alcenna dengan santai tetap menyetir.


"Ngapain kamu diam Cen? Berarti kamu setujukah menjadi kekasih saya," katanya lebih konyol lagi terdengar di telinga Alcenna.


"Malas meladeni Bapak. Macam orang lagi mabuk," kata Alcenna acuh.


"Belum jernih juga pikiranmu?" Dia terus menyerang Alcenna dan memojokkan.


"Apaan siih Pak ...." nada Alcenna terdengar mulai tidak sabar, diam-diam hati bosnya merasa senang, bisa mengganggu Alcenna.


"Jawab saja kenapa harus marah?" pancing bosnya menambah kekesalan hati gadis itu.


"Mulai besok, saya gak mau lagi kalau diajak atau Bapak perintahkan pergi bersama." Alcenna berkata serius, namun bosnya tetap memanaskan suasana.


"Benarkan, masih balikan juga kamu sama calonmu yang melarat itu." Dengan nada santai namun membuat hati Alcenna semakin panas juga.


"Biarin melarat ... penting saya cinta! C I N T A!!" Alcenna mengeja huruf demi huruf dari kata 'cinta'.


"Hahahahaa ...." Bosnya tertawa lepas. Alcenna diam saja. Dia sudah terbiasa melihat kelakuan bosnya di luar kantor akhir-akhir ini. Apalagi sejak dia terus terang, semakin menjadi-jadi.


"Tertawa saja terus Pak ... di kantor seperti bos mafia," kata Alcenna juga mulai berani menyentil.


"Kamu tuh ya Cen ... jangan bilang cinta depan saya. Anak kemaren sore, mana masih bau kencur ya gitu. Sibuk makan cinta. Dikira bisa kenyang apa."


"Palingan pengalaman pribadi itu." Kini gantian Alcenna yang mengolok.


"Ya bedalah ... saya laki-laki. Saya yang membiayai hidup. Walau dulu saya masih bau kencur, saya cari cinta. Saya yang menanggung hidupnya. Nah kalau kamu??" Nada sombongnya tak hilang juga.

__ADS_1


"Pusing saya mendengar pembelaan Bapak. Bapak saja kalau begitu menanggung hidup saya. Sekarang Bapak juga suka royal sama saya. Hahaha ...." Kini, Alcenna yang tertawa.


"Mau saya ... tapi jadi istri kedua saya," katanya serius.


"Malaas ahhh ...." jawab Alcenna acuh.


"Kamu ini aneh ... sama dia juga jadi istri kedu___"


Alcenna memotong ucapannya, "Tunggu-tunggu Pak ... sepertinya ada yang salah dengan pandangan Bapak. Beda yaa Paaak, jauh bedaa."


"Ya jauh beda ... saya kaya dia melarat," katanya dengan nada mencemooh yang jelas.


Tanpa sadar karena kekesalan hati Alcenna menggunung kekasihnya dikata-katai, satu cubitan diberikan Alcenna di pinggang bosnya. Alcenna sungguh sakit hati melihat cara bosnya mengatakan 'dia kaya kekasihnya melarat'.


Masih dengan meringis dia berkata santai, "Sudah berani main sentuh-sentuh saya."


"Habisnya ... Bapak mengesalkan. Sombong banget dan jahat banget kata-katanya."


"Ohh ya, apa bedanya?" Dia teringat menanyakan kembali.


"Kalau sama dia, saya bukan istri kedua ya Pak. Cuma jadi yang kedua dalam hidupnya."


"Sama sajalah itu, mending jadi istri kedua saya, bisa bahagia," katanya dengan percaya diri.


"Bahagia dari mananya coba, dari harta?? Alcenna iseng coba-coba menanyakannya.


"Bukannya itu tidak bertanggung jawab namanya Pak?" Alcenna mulai serius membahas apa itu cinta, komitmen dan tanggung jawab.


Mendengar nada serius dari Alcenna, si bos juga membahas dengan serius. "Tidak bertanggung jawab dari mana maksud kamu Alcenna?" tanyanya terlebih dahulu.


"Dulu Bapak yang minta dia jadi istri Bapak, Bapak pastinya bilang cinta waktu itu. Lalu seiring waktu Bapak jatuh cinta lagi. Cinta Bapak dulu berubah jadi komitmen. Nah ... itukan Bapak tidak tanggung jawab sama keputusan Bapak."


"Alcen ... Alcen ... kamu ini memang masih harus banyak belajar ya, bukan tahunya tentang pekerjaan saja."


Dia melanjutkan, "Hati mana ada yang tahu ... saya juga tidak tahu akan jatuh hati padamu. Selama ini banyak gadis yang lebih cantik darimu, tapi saya tidak pernah ada perasaan apapun. Saya juga tidak bisa mencegah datangnya rasa itu. Namun sayakan tidak meninggalkan istri begitu saja karena jatuh cinta lagi padamu. Cinta saya ke istri tetap saya pertanggung-jawabkan yaitu dengan tidak menceraikan dia dan tetap menafkahinya. Nah dari mana saya tidak bertanggung jawabnya." Bosnya menjelaskan.


"Lalu menurut Bapak, apa Arzon termasuk lelaki tidak bertanggung jawab karena meninggalkan istrinya?" Alcenna mencoba meminta pendapat, dia tidak sepenuhnya paham, benar apa tidak kata-kata bosnya.


"Sebenarnya belum tentu juga begitu, kita tidak tahu apa yang terjadi dalam rumah tangga dia. Terkadang dalam suatu hubungan jika memang banyak tidak baiknya dalam menjalaninya, perpisahan merupakan jalan keluar terakhir kalinya."


"Lalu Bapak sendiri?"


Bosnya dengan sabar menjelaskan, tidak ada gurauan yang dia berikan. "Saya sudah bilang dari awal sama kamu, istri saya tidak bersalah apapun pada saya, tak ada alasan saya untuk menceraikannya."


"Jadi Bapak yang bersalah?" Alcenna menuntut penjelasan.


"Saya juga tidak bisa dan tidak mau dikatakan salah."

__ADS_1


"Egois ...." kata Alcenna.


"Bisa jadi begitu, namun rasa cinta itu tidak pernah salah. Kitakan tidak dapat memaksa kapan dia hadir, kapan dia pudar, bahkan hilang.Waktunya saja tidak tepat. Saya jatuh cinta begitu saja padamu, tanpa saya minta-minta."


"Kenapa jadi waktu yang salah." Alcenna protes, ditanggapi bosnya hanya dengan tersenyum.


"Jadi sebagai yang sudah dewasa dan berpengalaman saya pakai logika, tidak mungkin saya memaksakan cinta saja begitu saja ke kamu. Begitu juga dengan calonmu itu mungkin dia sudah tidak bisa mencintai istrinya dan tak ingin lagi hidup bersama."


"Tumben Bapak membela?"


"Saya bukannya membela dia, cuma saya memberikan gambaran saja soal kamu tadi bertanya apa dia termasuk lelaki tidak bertanggung jawab. Saya tidak mau pula menyesatkan kamu. Cinta saya tulus sama kamu. Saya hanya tidak mau kamu menderita suatu hari nanti."


"Menderita kenapa Pak?"


"Menderita dalam berumah tangga. Anaknya banyak. Dia tidak mempunyai tabungan yang cukup. Kerja juga tidak mapan. Seiring waktu pengeluaran untuk anaknya dan kebutuhan rumah tangga semakin besar, dan kamu tidak mungkin akan kerja selamanya. Pikiran sekali lagi" Bos Alcenna berbicara serius dan hati-hati.


Pikiran Alcenna bisa mengerti dengan penjelasan bosnya, tetapi hatinya seolah tidak mau mengerti.


"Tapi aku cinta sama dia Pak," katanya lesu, karena otak dan hati Alcenna tidak sinkron.


"Kamu menyakiti hati saya ...." kata bos Alcenna dengan nada datar.


"Ihhh macam iya saja. Bapak apa tak pikir menyakiti hati ibuk." Alcenna membalikkan ucapan bosnya.


"Sayakan belum katakan mau menikah lagi padanya. Jadi ya dia tidak sakit hatilah. Sementara saya mendengar kamu mengatakan cinta untuk orang lain." Masih serius setiap ucapan bosnya.


"Maafkan aku Pak, bukan niatku begitu." Alcenna memilih mengalah.


"Apa tak ada rasa sedikitpun untuk saya?" katanya dengan nada yang sulit Alcenna artikan.


Alcenna diam saja. Alcenna mungkin tak memahami rasa sakit di hati bosnya. Dia selama ini tidak pernah menganggap serius setiap perkataan bosnya.


Namun mendengar dia bertanya seperti itu membuat Alcenna bungkam seribu bahasa. Alcenna menyadari dengan semua yang bosnya lakukan, semua tanpa pamrih.


"Aku jadi merasa bersalah Pak," kata Alcenna.


"Sudah jangan merasa bersalah begitu, sayakan hanya tanya. Saya tidak bisa memaksakan. Saya juga sadar, tidak bisa mencari cara selain menjadikan kamu istri kedua. Saya paham kamu tidak mau. Biarkan saja perasaan ini pada tempatnya. Mungkin nanti seiring waktu akan hilang."


"Maafkan sekali lagi ya Pak," kata Alcenna kembali. Dia benar tak bisa membalas perasaan bosnya. Dia mencintai Arzon, apapun yang dikatakan orang. Dia tetap mempercayai hati untuk Arzon.


Alcenna menunggu kesiapan lelaki itu. Sampai batas yang dia targetkan di dalam hatinya. Dia tidak akan menunggu lelaki itu sampai lima tahun seperti bersama Ardhan. Hanya setahun waktu di hati yang dia janjikan. Jika Arzon tidak bisa, dia akan tegas memutuskan.


"Sudah tidak apa-apa. Ayo kita kerja dulu, nanti saya ajak kamu makan, supaya duitmu tak habis," katanya dengan bergurau mencairkan rasa bersalah gadis itu. Alcenna hanya tersenyum kecut. Bosnya tersenyum manis.


**//**


Bos Gantengku ini.

__ADS_1



__ADS_2