
Manusia makhluk yang suka dengan kata cinta. Walau cinta itu selalu menjadi sebuah cerita, entah itu bahagia ataupun sengsara. Entah itu pahit ataupun manis. Kita hanya bisa menjalani sampai akhir, sampai batas yang ditentukan Nya. semua ketetapan Nya. Begitu juga dengan cinta Alcenna. Sang Sutradara sudah menentukan skenario dibalik kisah pilu akan ada kisah bahagia.
Pagi ini semua bangun dengan ceria. Kini mereka semua sudah dibandara. Kini mereka semua akan ke Korea. Berlibur bersama dengan orang-orang yang berarti didalam hidup Alcenna.
Bandara Soekarno-Hatta. Go to korea ....
"Senang sayang? ucap Eddyson didalam pesawat.
"Senang donk, apalagi bersama orang yang paling kucinta," rayuan maut Alcenna mulai mengudara seperti mereka yang semakin jauh meninggalkan ibu kota Jakarta.
"Dipesawat berani kamu ya goda," kata Eddyson.
"Pastinya itu."
"Banyak hal yang kita lalui dalam hidup, mas sungguh tak menyangka akan berlabuh juga dihatimu. Dulu mas sudah hampir mengubur mimpi memiliki dirimu. Namun mas lupa ibarat aktor yang berperan, semua ada sekenario dan ada sutradara," ucap Eddyson yang merasa begitu bersyukur.
"Jangan terlalu mencintai Alcenn mas, nanti takutnya begitu kecewa akan dalam rasanya. Ingat mas Allah itu bagaimanapun pencemburu. Dia tak ingin hambanya terlalu mencintai melebihi cinta pada Nya."
"Ohhh gitu ya sayang?" tanya Eddyson, entah itu serius atau hanya menanggapi kecil omongan Alcenna. Namun Alcenna tetap serius.
"Iya Mas. Cinta pada makhluk Nya suka menipu bahkan mungkin mengecewakan. Walau Alcenn kini bahagia tapi kita tidak tahu suatu saat nanti."
"Iyalah sayang, mas paham. Apalagi yang ngomong orang yang jam terbangnya tinggi," ucap Eddyson bercanda.
"Ihhh dikasih tahu malah nyindir."
"Tidurlah dulu, biar ada energi. Kamu tahukan apa yang mas lakukan nanti?" Eddyson semakin menggoda Alcenna.
"Tahu, dasar pria dewasa!"
"Kamu tapi sukakan?"
"Ssttt diamlah, malulah sedikit," Alcenna menajamkan pandangannya. Dia malu andai bisikan Eddyson didengar penumpang tetangganya. Eddyson dengan gemas memeluk Alcenna. Alcenna jalan yang aman memejamkan mata. Biar kekonyolan dan gangguan Eddyson tak berlanjut.
Dada yang hangat, pelukan yang menentramkan tidak bisa ditolak oleh respon tubuh Alcenna. Dia terlelap dalam dekapan suaminya. Dia terbang jauh tanpa tahu bahwa Eddyson masih memandang dalam wajahnya. Eddyson tidak bisa mengalihkan perhatiannya pada gadis yang dulu begitu penuh kepolosan.
Kepolosan yang mengantar dia kedalam duka nestapa. Kepolosan yang tidak diperjuangkan oleh pria yang kini jadi suaminya. Kepolosan yang diabaikan olehnya. Akhirnya mengantar gadisnya pada derai air mata. Eddyson mengecup penuh cinta puncak kepala Alcenna yang rebah dibahunya.
__ADS_1
Jika Eddyson mabuk kepayang oleh Alcenna. Robby tanpa dia sadari mulai mabuk kepayang pada wanita yang dianggapnya adik. Sekeras apaun hatinya menolak dan memberontak rasa itu semakin besar dihatinya.
Tak bisa dipungkiri waktu bersama adalah obat dari segalanya. Kini waktu bersama obat bagi hatinya yang masih kosong tanpa cinta dari wanita. Hanya ada cinta kerja yang tertata rapi di hati Robby. Kini Putri Andinni mulai mengisi relung hatinya.
Gadis yang terlihat kuat, pembawaannya yang ceria dan tingkah lakunya mulai menyita waktu Robby. Sedikit demi sedikit Robby mencari tahu siapa Putri. Kini dia paham kenapa Putri sedih saat Alcenna menikah. Dia juga paham kenapa Alcenna mengatakan tidak bisa memilih Eddyson atau Putri.
"Kenapa melamun?" tanya Robby ketika Putri hanya melihat keluar jendela pesawat.
Putri sedikit tersentak, bukan karena sapaan Robby yang tiba-tiba. Namun karena nada Robby yang berbeda. Putri hanya menganggap pendengarannya yang salah.
"Tak ada Kak," elaknya.
"Apa Kakak tidak bisa sama posisi dengan Alcenna didalam hidupmu?" tanya Robby berani.
Putri yakin pendengarannya tidak salah. Nada Robby terdengar berbeda. Putri mencoba mengabaikannya.
"Maksud Kakak?"
"Apa ada yang mengganjal hatimu? Ceritalah dengan Kakak. Setidaknya dengan cerita kita bisa mencari solusi bersama."
Robby belum paham kemana maksud Putri. "Lalu apa hubungannya dengan Alcenna?"
"Aku selalu merasa bersalah pada temanku itu Kak. Ketika mengingat betapa aku jahat saat itu. Aku mengatakan aku sibuk kuliah, padahal aku terbius gemerlapnya kemewahan yang ditawarkan kota besar ini. Andai aku tidak melupakannya. Kini dia membagi kebahagiaannya padaku tapi tidak kepedihannya. Aku malu Kak mengingat itu," ujar Putri. Dia menundukkan kepalanya.
"Jangan merasa bersalah, kita manusia gudangnya kesalahan. Kamu juga sempatkan menemani dia bahkan menurut kakak justru itu masa tersulitnya. Alcenna tak akan berpikir seperti kamu pikirkan sekarang. Itu hanya perasaanmu saja. Percayalah pada kakak."
Putri merasakan ketenangan dari ucapan Robby. Apalagi nada Robby lebih lembut dari biasanya.
"Jangan pasang wajah begini, nanti Alcenna malah sedih. Dia ingin membagi bahagianya dengan kita," ucap Robby.
"Iya Kak, thanks ya."
Robby hanya mengacak lembut rambut Putri. Getar aneh hadir di hatinya.
*****
Incheon Internasional Airport ...."
__ADS_1
Kini mereka telah memijakkan kaki di bandara incheon. Bandara yang tidak hanya memiliki aristektur yang modern dan begitu mengesankan mata yang memandangnya.
Bandara ini juga di lengkapi fasilitas yang tak kalah menyenangkan. Adanya tempat ice skating, taman indor, game center dan banyak hal yang tidak bisa Alcenna bayangkan sebelumnya.
Pusat perbelanjaan yang bebas pajak akan memikat hati para ratu shoping. Namun itu tidak terjadi pada istri Eddyson. Bagi Alcenna cuci mata sudah merupakan hal yang memuaskan. Alcenna hanya suka memuaskan matanya tanpa mau merogoh kantongnya. Bukan karena dirinya pelit. Dia terbiasa membeli barang yang dia butuhkan bukan barang yang dia inginkan.
Wajah-wajah bahagia hadir disemua keluarga Eddyson. Putri, Alcenn dan Azarine telah beriringan. Apalagi kalau bukan untuk membuat keributan yang tak mengganggu orang lain. Mereka bertiga hanya cekikikan, entah apa yang ditertawakan mereka.
Orang tua mereka hanya mengulas senyum, Eddyson dan Robby jalan beriringan. Mereka sibuk dengan bahasan mereka tanpa mata yang tak lepas dari pujaan hati masing-masing.
Eddyson saat menoleh sepintas tak sengaja melihat Robby yang tak lepas memandang Putri. Eddyson memperhatikan sekali lagi jika bukan Alcenna yang jadi objek fokusnya.
"Kenapa tidak coba didekati?" pancing Eddyson mencari kepastian.
"Baru coba beberapa hari yang lalu Pak. Hidupnya seperti penuh misteri sama seperti Alcenna dulu," ucap Robby yang menenangkan hati Eddyson saat tahu bukan Alcenna yang jadi objek pandangnya.
"Ohhh, saya mendukung. Agar Alcenna dan Putri bisa bersama tanpa ada lelaki lain diantara saya dan Alcenna." Sifat posesifnya membuat Robby tersenyum.
"Saya akan usaha Pak, meraih hatinya." Robby berkata terus terang.
"Saya benarkan, tak ada yang tak mungkin. Apalagi jika kita sering bersama. Ini yang saya takut dulu jika terlalu membuka akses Alcenna kepadamu," ucap Eddyson tak kalah terus terang.
"Bisa jadi Bapak benar. Namun karena Alcenna manja saya lebih suka menjadikan adik sampai kapan pun. Saya suka tipikal seperti Putri, Pak. Dewasa dan penuh pengertian," ucap Robby jujur. Itulah yang dia rasakan.
"Baguslah setidaknya saya tidak berakhir di penjara dan kamu tidak berakhir dikuburan," ucap Eddyson dengan horor.
Robby sudah berani melemparkan tatapan tajam pada bosnya. Dia merasa bosnya kelewatan sampai punya hasrat ingin menguburnya ditanah. Kedua pria dewasa itu akhirnya malah melemparkan senyum. Apalagi saat melihat wanita yang mereka cintai tertawa-tawa.
Jika Eddyson dan Robby membahas kedua wanita itu, para orang tua sibuk membahas anak-anaknya.
"Lihat kelakuan mereka bertiga Dek, serasa kembali muda kita," ujar mama Ningrum.
"Iya Mbak, serasa membawa anak-anak ketika masih kecil kita," timpal ibunya Alcenna.
"Benar sekali, bedanya kita tidak perlu mengejar mereka kesana-kemari. Cukup melihat kelakuan Mereka saja. Lihatlah entah apa yang dibahasnya sambil berjalan begini. Bisa-bisanya cekikikan macam remaja saja." Ibu Alcenna hanya tersenyum.
**//**
__ADS_1