Tolong Aku SuamiKu

Tolong Aku SuamiKu
Jalani.


__ADS_3

Tiga puluh menit lebih sedikit kemudian Arzon sampai di rumah, membawa 4 bungkus nasi goreng. Mereka makan bersama. Inilah yang membuat Alcenna suka dari Arzon. Alcenna merasa terayomi bersama adik-adiknya.


Pemandangan di mana adik-adiknya tertawa bahagia sungguh membuat hati Alcenna tersentuh. Mereka bercanda bersama. Arzon memang suka bergurau. Inilah bedanya saat dia bersama Ardhan. Saat bersama Ardhan, Alcenna seakan bahagia dengan dirinya sendiri dan bersamanya saja.


Andai dia masih sendiri tak harus ada beban di hati seperti ini. Tetapi seperti kata orang tua-tua "Dapat yang di hati tidak dapat kehendak hati." Inilah yang Alcenna rasa. Namun dia bersyukur. Akan dia jalani sampai di mana jodoh memanggil.


"Bang ... ke mana saja Abang kemaren gak ada ke sini?" tanya Azarine.


"Tuh ... kakak merajuk Dek, pada abang diusir pulang," katanya dengan pasang wajah memelas.


"Biariiin saja kakak merajuk Bang, biar kami yang bukakan pintu," kata Sammy yang dihadiahkan pandangan maut oleh kakaknya.


"Hebat kalian berdua yaaa ... mau keroyokan tampaknya ...." kata Alcenna sengit.


"Laahhkan, memang kakak yang mulutnya tajam dari silet," kata Azarine masih sama sengitnya seperti mengatakan saat Alcenna di Jakarta kemaren.


"Iyaa Bang, Abang harus maklum mulut kakak ini kalau marah, pedasnya lebih dari cabe rawit Bang." Sammy menambahkan.


"Ohhhh gitu kalian yaaa ... mentang ada dukungan, menyampaikan unek-unek hati kalian yang merasa teraniaya?" kata Alcenna pura marah. Alcenna tahu adiknya tidak akan teraniaya olehnya. Separuh kebahagiaan dia, diberikan untuk adiknya, maka dia tetap memilih Arzon yang bisa menerima adik-adiknya.


Alcenna mendengar jawaban serempak, "Iyaa ... kok kakak tahu."


Alcenna sudah siap-siap akan membalas mereka, "Sudah-sudah, jangan ganggu kakak kalian lagi. Nanti kalian benar dimakannya. Dia macam singa tidur dibangunkan" kata Arzon mengejek Alcenna.


Alcenna mengira Arzon akan jadi penengah ditengah senda gurau mereka, ternyata jadi tim pembela adik-adiknya. Alcenna tak segan memukul bahu Arzon dengan kuat.


"Aduuhhh ...."


"Issss main fisik laaa Kakak ni ...." kata Azarine protes.


"Biariiin."


"Sudah-sudah, abang bercanda dek. Gak sakit kok. Sudah ... sayang abang jangan cemberutlah, belum lepas kangen abang tar diusir pula abang pulang," katanya.


"Dek ... abang sama kakak ke ruang depan ya, ada yang mau abang bahas sedikit sama kakak."

__ADS_1


"Oke Bang, lanjutlah." Sammy yang menjawab.


Alcenna membawakan sisa kopi ke ruang tamu. Sementara Azarine merapikan meja makan dan Sammy sudah ngacir ke kamarnya, setelah Arzon pamit dan berdiri melangkah ke ruang tamu.


Alcenna duduk bersampingan kursi dengan Arzon setelah meletakan kopi di meja tamu. Arzon mengambil kedua tangan Alcenna dan menggenggam dengan dua tangannya yang besar. "Maafkan abang ya sayang ... abang sudah egois dan tanpa sadar menyakiti hatimu sekali lagi."


"Ya Bang." Alcenna melihat wajah tak berdayanya. Tak bisa dia pahami apa yang terjadi sebenarnya. Alcenna berniat tak akan membahas dulu. Biarlah dia memberi waktu untuk dia menyelesaikan semuanya.


"Mau cerita, ngapain saja di Jakarta?" tanya Arzon mengganti topik.


"Tapi gak pakai marah ya?" kata Alcenna mendongakkan wajah dengan manja. Alcenna tidak takut untuk berterus terang soal jumpa mantannya di sana, bahkan mengisi waktu kosong bersamanya.


"Iya," katanya sambil mencubit lembut dagu Alcenna.


"Di sana aku jumpa sama Ardhan, Bang. Dia ikut pelatihan juga." Alcenna sengaja mengucapkan dua kalimat itu saja dulu dan membaca reaksinya.


Walau terlihat keterkejutan yang segera dia tutupi, dia berkata, "Lalu?"


"Alcen jalan-jalan saja sama dia Bang. Bosan di kamar saja setelah siap pelatihan. Jadi setiap malam Alcen jalan-jalan saja, entah itu ke mall atau sekedar makan di warung pinggir jalan. Maafkan ya Bang," kata Alcenna baru merasa bersalah.


"Alcen tidak merasa menderita Bang, Anggap saja ini jalan untuk membuat lebih kuat dalam menjalani hidup ke depannya. Kita gak tahu masalah apa yang akan datang. Asal Abang ada bersama, Alcen yakin akan kuat."


"Ohh ya?"


"Iya, jika jiwa Alcen lemah maka ibarat pohon yang tinggi, diterpa angin kencang akan patah dan tumbang pada akhirnya. Kelak Alcen tak ingin terjadi pada kita, Selagi Abang tetap sayang dan tak berubah hati," kata Alcenna membuat Arzon menatap dengan pandangan yang sulit diartikan.


"Kenapa Abang melihat begitu?" Alcenna akhirnya memutuskan bertanya pada Arzon. Tak tahan dirundung rasa penasaran.


"Abang kadang gak mengerti lihat Alcen. Terkadang Alcen begitu dewasa, kadang kekanakan Alcen begitu berlebihan, sehingga membuat abang pusing kalau sudah merajuk."


"Bagai kepribadian ganda donk," kata Alcenna bercanda.


"Sepertinya begitu," Arzon meluruskan saja ucapan Alcenna.


Alcenna lalu pindah duduk di samping Arzon dan mencubit kuat pinggangnya. Arzon menahan sakit. "Rasain ... enak saja bilang begitu."

__ADS_1


"Abang benar minta maaf. Beri abang waktu sebentar lagi. Abang akan cari surat nikahnya, dia menyimpan entah di mana. Saat abang minta dia tidak kasih. Waktu dia kerja abang datang dan mengacak lemarinya tapi tidak ketemu."


Dia menjelaskan pokok permasalahan yang membuat dia terhambat mengajukan mengurus secara hukum. Alcenna sudah berjanji dalam hati sebelum Arzon datang, akan dia jalani dan memberikan waktu. Jika dia tak ceritakan Alcenna tak akan bertanya lagi.


"Jadi dia kerja sekarang Bang? Di mana?"


"Kabarnya di rumah makan."


"Tuh anak-anak ada abang biayai?" Alcenna sungguh tak tega membayangkan jika sampai anak-anaknya tak makan, apalagi dia barusan makan dengan senang hati bersama di sini.


"Ada, tenang saja."


"Jadi anak yang baru lahir sama siapa?" Tiba- tiba Alcenna teringat, jika dia bekerja ... siapa yang mengurus anaknya.


Dia bercerita dan sempat membuat Alcenna tak percaya. "Abang dapat kabar dari tetangga dekat rumah, dia menjual anaknya seharga 5 juta. Orang itu baru memberi 2.4 juta untuk biaya lahirannya yang memang tidak abang biayai. Dan kabarnya sisanya belum diberi orang itu."


"Kalau cerita ini benar, tega sekali dia pada anaknya."


"Biar sajalah sayang, anak dia kok bukan anak abang. Anak abang, abang tanggung jawabkan. Dia sudah ada bilang sama abang, "Jadi terserah aku ya, aku apakan anak diperut aku ini!" Saat itu abang jawab, "Terserah kau, itu anak kau!"


Alcenna diam saja. Sampai dia berkata. "Rencana akan abang gertak dia soal jual anaknya untuk mendapatkan surat nikah itu."


"Terserah Abang saja, Alcen akan tunggu dan janji tak akan ribut lagi sama Abang."


"Makasih jika Alcen memberikan tenggang waktu." Arzon terlihat lebih tenang.


"Macam debkolektor rasanya," ujar Alcenna tertawa.


"Ya, DC ... debkolektor cinta." Alcenna semakin tertawa lebar.


"Ya sudah abang pulang dulu, sudah malam, tidak enak dengan tetangga." Alcenna balas dengan mengangguk.


Alcenna mengantar Arzon keluar dan mengunci pintu setelah dia menghilang bersama motornya.


**//**

__ADS_1


__ADS_2