Tolong Aku SuamiKu

Tolong Aku SuamiKu
Satu Sudut Hati


__ADS_3

Alcenna mulai mengerjakan yang menjadi kewajibannya, sementara bosnya sudah masuk ke ruangan manajer supermarket. Dia hendak mengajukan tawaran produk baru dari perusahaan. Alcenna sempat berpikir, apa alasan bos saja untuk selalu mengajak kunjungan ke supermarket.


Inilah hidup Alcenna, dia memilih dan menjalankan. Alcenna bisa saja memilih bos mapan dan mengabaikan rasa cinta. Hatinya tetap tidak sejalan dengan logikanya.


Ada satu sudut hatinya yang mengatakan, "Kamu jahat Alcen, jika kamu mengikuti ego. Dia lelaki beristri, kamu tahu itu. Dia mapan karena ada yang berkorban dibelakangnya, kamu tidak tahu apa-apa kesukaran yang telah dilalui istri bosmu. Kamu juga jahat mengatasnamakan dendam untuk memiliki seseorang. Apa kamu begitu dibutakan oleh rasa sakit hati, sehingga tetap meneruskan menghancurkan hidup orang lain!"


Gadis itu membatin sambil mengerjakan pekerjaannya. "Uffh apa aku harus mempertimbangkan omongan orang di sekelilingku."


"Hei, Cen sudah lama?" Sapa satu karyawan supermarket yang dikenal cukup baik oleh Alcenna, membuat Alcenna terkejut karena sambil melamun.


"Sudah Bang, sudah mau siap."


"Kenapa tak kabari abang, abang ingin curhat denganmu."


"Aku tak sama Putri, Bang. Sama bos. Tak bisa lama-lama."


"Ohhh, kirai sama Putri."


"Lain waktu saja. Nanti ketika aku pergi bersama Putri. Ok."


"Aman. Bisa diatur." Mereka tertawa kecil karena takut mengganggu pengunjung.


"Alcen ... pekerjaan kamu sudah siap?" Sapa bosnya ketika melihat Alcenna berbincang-bincang dengan salah satu karyawan supermarket tersebut.


"Siap donk Pak," katanya sambil membentuk huruf O dengan menyatukan jari telunjuk dan jempol.


"Ayo kita ke supermarket M," katanya dengan tekanan dan memberi anggukan tipis pada karyawan yang tadi berbicara dengan Alcenna.


"Aku duluan ya Bang." Alcenna pamit pada Zaldi yang selalu menyapa jika berkunjung ke sana.


"Oke Cen ... hati-hati bosmu cemburu tu." Zaldi memberikan Alcenna senyum manis.


"Sstttt ... jangan buat gosip Bang," Alcenna protes. Lalu Alcenna mengikuti langkah bosnya yang sudah meninggalkan Alcenna duluan.


"Pak ... tunggu sebentar, saya minta stempel bukti kunjungan." Alcenna terpaksa menghentikan langkah bosnya.


"Tak perlu. Nanti saya yang tanda tangan." Alcenna tak membantah dan kembali mengikuti langkah bosnya.


Di dalam mobil ....


"Kita ke supermarket M dulu, lalu ke supermarket S , setelah itu saya ajak makan siang," katanya sambil mulai mengemudikan mobilnya. Mobil hitam metalik itu mulai meninggalkan basement.


"Siip Pak. Aku ikut perintah," kata Alcenna sok kalem. Dia ingat kata Zaldi tadi. Apa begitu terlihat di mata orang-orang tertentu yang dekat dengan Alcenna bahwa terlihat bosnya mencintai bawahannya, atau hanya perasaan Zaldi saja.


"Kamu padahal gak cantik-cantik amatlah saya lihat. Kenapa banyak yang suka padamu yang gak cerdas ini." Bosnya berkomentar, terlihat tak puas dan menyerang Alcenna.


"Siapa maksud Bapak? Zaldi?"


"Ohh Zaldi namanya," katanya datar.


"Emang kenapa dengan dia Pak? Jangan Bapak bilang pula dia suka!" kata Alcenna tegas.


"Saya juga laki-laki, saya tahu bagaimana cara dia memandangi walaupun sepintas."


"Bagaimana menurut pandangan Bapak? Dia suka?" Alcenna asal-asalan saja bertanya. Dia sebenarnya malas membahas hal beginian.

__ADS_1


"Ya, begitulah."


"Sudah deh Pak, biarin sajalah. Kita mana bisa melarang orang suka sama kita. Melarang suami orang cinta saja saya tak bisa." Alcenna menyindir.


"Menyindir kamu."


"Tuh sadar kalau disindir," kata Alcenna tersenyum puas pada bosnya yang kelihatan tiba-tiba sedikit jutek.


"Pak ...."


"Alcen ...."


Mereka berbarengan memanggil dan pria itu menyuruh Alcenna lebih dahulu mengatakan apa yang mau disampaikan.


"Mau bilang apa?"


"Bapak cemburu?" Alcenna menanyakan dari pada penasaran sama omongan Zaldi tadi.


"Sedikit ... karena saya berpikir pada akhirnya masih layak saya ketimbang dia jika kamu memilih," ucapan penuh percaya diri.


Alcenna menghela nafas mendengarkan bosnya selalu membahas materi untuk ukuran dalam cinta. "Apa memang materi segitu pentingnya dalam membangun rumah tangga?" batinnya. "Materi bukankah bisa di cari?" dirinya diam-diam bertanya pada hati kecilnya.


"Iyakan?" katanya meminta penjelasan juga walau, Alcenna merasa bosnya tahu jawaban darinya.


"Pak ... dengar ya, jika memang tak ada jodoh dan tak jadi bersama Arzon, ya mungkin pilihan terbaik Bapak," kata Alcenna ragu-ragu.


"Tapi kamu seperti separuh yakin," tebak bosnya.


"Status Bapak di level bahaya. Lagian Alcenna suka karena Bapak terakhir ini selalu menghantui hari-hari saya, itupun suka ya Pak. Bukan cinta. Ada Bapak sedikit cerah hari-hari kerja yang penuh tekanan, " ucap Alcenna setengah bercanda mencairkan suasana saja.


Bosnya tidak memperdulikan ucapan Alcenna. Dia bertanya terus terang, "Jadi kamu gak suka tu sama karyawan ganteng tadi?" Sudah seperti pacar posesif saja bos Alcenna.


"Lalu?" tanya bosnya mendesak Alcenna.


"Lalu ... ya tak mungkinkan Pak, setiap orang suka sama saya. Lagian saya hanya suka berteman saja dengannya. Emang bisa menyukai banyak lelaki. Sama Bapak saja ...." Alcenna memutuskan tidak meneruskan ucapannya, pada bosnya menjadi badmood.


"Kenapa sama saya?" Bosnya ngotot ingin tahu.


"Tak jadi." Alcenna membatalkan sesuka hati apa yang mau dia omongin.


"Bilang gak, kenapa dengan saya?" Bosnya masih ngotot.


"Tak pakai julid Bapak ya??" Alcenna memastikan.


"Iya."


"Sama Bapak saja yang sudah banyak kasih perhatian sulit saya mau suka apalagi mau cinta, dan pada Zaldi hanya saat ke sana saja kami berbicara, kapan sempatnya punya perasaan lebih, " kata Alcenna.


"Iya juga ... lama-lama cinta buta juga saya akhirnya sama kamu."


"Hahaha ... kenapa begitu Pak?"


"Bisa pula saya cemburu sama tu karyawan gak jelas," katanya masih dengan sengit.


"Enak saja Bapak bilang orang tak jelas. Bapak tu yang tak jelas!" kata Alcenna kemudian. Dia terkikik sambil membekap mulutnya.

__ADS_1


"Kenapa pula saya yang gak jelas?"


"Ya tak jelas pakai cemburu buta, sampai mall yang mau dituju terlewat," kata Alcenna akhirnya terpingkal-pingkal. Dia sengaja mengerjai bosnya sekali-kali. Alcenna hanya diam saja ketika bosnya tanpa sadar sudah melewati mall yang dituju.


"Siapa suruh mengatai bang Arzon melarat melulu."


"Sengaja kamu mengerjai saya Alcenna?"


Alcenna hanya mengatakan, "iya." Sambil masih tertawa senang dan menghapus air mata yang lolos sangking tertawa lepas.


"Puas kamu balas saya?"


"Puas donk Pak," katanya tersenyum simpul menahan tawa yang masih ingin menyembur.


"Sekarang puaskan saya?" katanya berbisik di telinga gadis itu. Mereka sudah sampai di parkiran, setelah memutar sedikit dibelokkan yang terlewati.


Alcenna mana mampu tergoda dengan gurauan bosnya. Dengan berani dia melihat sebelum menggeser sedikit kepalanya, karena jika Alcenna langsung melihat bosnya, bisa-bisa terjadi yang bosnya inginkan.


Alcenna mencubit tangan bosnya yang berada di sandaran jok mobil. "Dah puaskan Pak?" kata Alcenna penuh kemenangan.


Bosnya masih berhadapan wajah dengan Alcenna. Dia menatap Alcenna dengan intens. Mencari tahu sesuatu. Namun Alcenna tidak grogi sedikitpun, karena bukan Arzon pelakunya. Alcenna pasti sudah grogi dan meleleh, jika Arzon pelakunya.


"Kenapa bapak liat-liat begitu? Nanti tidak tahu jalan pulang loh!" kata Alcenna merasa menang.



"Huh .... gak ada feminim-feminim dan grogi kamu." Alcenna tahu bosnya malah jadi menahan hasrat karena posisi tubuh yang berdekatan. Namun Alcenna tak tergoda sedikitpun.


Terlihat bosnya meluruskan kembali posisi tubuhnya, dan sudah kembali ke posisi berjauhan seperti semula.


"Cepatlah turun, lama-lama dekatmu khilaf juga jadinya."


Alcenna menanggapi dengan senyum manis. "Deritamu pak bukan deritaku," batinnya tanpa perasaan.


Saat baru memasuki pintu mall, ponsel Alcenna berbunyi. Alcenna lagi-lagi tanpa perasaan melihatkan ke bosnya siapa yang menelepon. Jelas membuat bosnya cemberut.


"Halo," kata Alcenna mengangkat ponselnya.


"Di mana Cenn?"


"Di mall, mau ke supermarket X. Ada apa Bang?"


"Nanya saja, sama siapa kamu sayang? Putri?" Sudah bertanya malah kasih jawaban sendiri.


"Tidak ... sama bos," kata Alcenna ringan sambil memandang bosnya. Terlihat senyum tipis di bibir bos tampannya.


"Ohhh ya sudah, lanjutlah."


Arzon tak cemburu karena Alcenna tak cerita apapun padanya. Bukan gadis itu tak mau jujur padanya, hanya saja tidak semua harus dia katakan selagi masih bisa mengatasinya dan belum ada ikatan sah.


Alcenna hanya tak ingin urusan kerja menjadi rumit, karena perasaan sepihak bosnya. Alcenna juga berpikir, Arzon hanya baru calon belum menjadi suami yang harus dipatuhi.


"Gak cemburu dia?" Bos Alcenna bertanya ingin tahu setelah Alcenna menyimpan ponsel genggamnya.


"Dia bukan Bapak yang sekarang pandai cemburu buta, " kata Alcenna mengelak supaya tidak memperpanjang masalah.

__ADS_1


Alcenna hanya mendapat jewer kecil. "Makin punya nyali kamu menyindir saya, hm."


**//**


__ADS_2