Tolong Aku SuamiKu

Tolong Aku SuamiKu
Bertemu Shinta


__ADS_3

Malam seperti yang dijanjikan Eddyson, "Mas jadikan siap shalat ini kita pergi?" tanya Alcenna yang sudah bersiap.


"Kalau tidak jadi mas tak tahu dunia ini seperti apa kamu lihat gadis licik," jawab Eddyson menggunakan kata gadis licik. Masih ingat betapa dulu dia sulit untuk menerima pemberian Eddyson. Kini terang-terangan dia memperdaya Eddyson untuk keinginannya.


Setelah shalat maghrib mereka langsung meluncur ke sebuah mall dan langsung menuju perlengkapan bayi. Eddyson memang mengajak Alcenna makan terlebih dahulu. Namun Alcenna bilang dia belum lapar. Dia juga tidak berlama-lama disana. Dia hanya ingin memilih sedikit pilihan dia berdua untuk buah hatinya.


"Mas, coba lihat baju ini bagus tidak?" Alcenna menunjukkan sebuah baju bayi satu set lengkap dengan topi dan kaus kakinya.


Eddyson sebenarnya tidak paham jika sudah menyangkut baju bayi. Dia dulu hanya terima bersih dari Shinta. Namun dia tidak ingin mengecewakan istrinya. Dia memanggil pramuniaga toko tersebut.


"Dek coba sini," panggilnya dengan nada ngbossy. Membuat Alcenna heran.


"Ada yang bisa di bantu Pak,Bu?" sapa manis sang pramuniaga.


"Ini menurut kami modelnya cantik, tapi saya kurang paham soal bahan baju. Apa menurut kamu ini nyaman untuk bayi?" tanyanya datar.


"Nyaman Pak, saya bisa jamin," pramuniga itu menjawab dengan pasti.


"Ok terima kasih," ucap Eddyson.


"Iya sama-sama Pak," jawab pramuniaga lalu kembali kedekat kawannya.


Alcenna dan Eddyson kembali sibuk memilih. Sementara pramuniga bergosip ria. "Apa kata bapak itu? Wajahnya datar banget ya," ucap kawan shifnya.


"Dengan kita, coba liat dengan istrinya, lembut dan hangat. Buat iri mata memandang," kata pramuniaga yang dipanggil tadi.


"Istri mudanya kali gak? coba liat suaminya lebih dewasa. Macam bos lagi gayanya." Kembali kawan shifnya berkomentar.


"Ssttt, jangan sampai kamu terkena masalah. Karena berasumsi saja tanpa ada bukti." Mereka menghentikan pembicaraan yang bisa mengancam kerja mereka.


"Oke sayang, semua sudah dapat. Ayo kita makan Mas. Anak kita sudah lapar sepertinya. Ucap Alcenna manja yang membuat karyawan toko tersentuh sendiri. Tak ada kesan wanita nakal pada wanita muda yang berjilab rapi dan berpakaian longgar tersebut. Walau perut buncitnya sedikit terlihat.


Suaminya membayar lalu Alcenna mengucapkan terima kasih kepada karyawan toko. Sikapnya yang bisa dikatakan nyonya kaya tidak ada terselip sedikitpun sifat tinggi hati. Alcenna juga pernah diposisi mereka. Alcenna tahu rasanya sakit hati jika bertemu dengan orang sombong.

__ADS_1


"Mau makan apa?" tanya suaminya.


"Terserah saja," jawab Alcenna, dia membantu suaminya menenteng belanjaan mereka, walau tidak banyak.


Sebenarnya Eddyson ingin membawa semua. Dia tak ingin memberi beban pada suaminya. Namun Alcenna mengatakan, "biar Alcenn bantu Mas, biar kamu gak dibilang suami takut istri...." Alcenn tertawa.


Mereka akan masuk di sebuah kafe yang menyediakan makanan siap saji. "Sekali-kali tak apalah makanan beginian ya Mas."


"Tak apa asal kita tidak mengkonsumsinya berlebihan," terang Eddyson.


Tak sengaja Alcenna tersenggol wanita yang juga baru masuk ke kafe itu. Alcenna langsung ditahan oleh Eddyson karena sempat terdorong. Badannya yang sedikit mungil dari wanita itu dan fisiknya yang lagi tak kuat, tak bisa menahannya.


Tanpa melihat pada wanita tersebut Eddyson melayangkan protesnya, "Bisa lebih hati-hati tidak kamu jalannya, jika istri saya kenapa-kenapa kamu bisa tanggung jawab!" tekannya dengan dingin


"Mas, sudah jangan naik darah melulu. Nanti kamu sakit loh," ucap Alcenna lembut. Selain menenangkan suaminya. Dia juga merasa tidak enak hati pada wanita yang tidak sengaja menyenggolnya.


Shinta yang menyenggol dan terburu-buru kedalam kafe pada awalnya memang tak berniat minta maaf dan bahkan tidak melihat. Namun mendengar suara yang dikenalnya dia menolehkan kepala.


Eddyson terkejut begitu juga Alcenna. "Kamu! Kamu tetap egois ya!" Eddyson malah tambah naik darah setelah tahu.


"Mas, sudah ... malu ribut ditempat ramai," kata Alcenna pelan.


Shinta mendengar dan melihat tentengan belanjaan mereka. Dia melihat merk toko pakaian bayi. Matanya lalu berpindah dan memindai perut Alcenna. Belum sempat lama dia melihat, Eddyson buka suara, "Iya istriku sedang hamil dan aku tak ingin kehilangan anakku lagi," sindirnya pedas pada Shinta.


Suasana pengunjung mall dan kafe yang sepi seakan bisa jadi ajang tempat perseteruan mantan suami istri tersebut. Namun Alcenna tidak mau itu terjadi, dia menarik Eddyson. Niatnya ingin menjauh dari kafe namun suara Shinta memberhentikan sepasang suami istri itu, "Kamu Alcenna yang anak buah mantan suami saya dulu bukan?" tanya Shinta ragu.


Dia hanya dua kali berjumpa Alcenna. Namun dia mengingat baik nama gadis itu. Ketika dia mendengar Eddyson telah menikah lagi, dia tidak menyangka nama itu adalah gadis yang sama yang dia kenal. Lebih tak menyangka lagi dia gadis yang ditemui saat-saat sidang perceraiannya disebuah rumah makan.


Alcenna yang di tanya hanya melihat kepada suaminya. Dia bingung tidak tahu harus menjawab apa. Jika dia tanpa Eddyson maka akan dijawabnya terus terang Namun Alcenna menimbang perasaan suaminya.


Eddyson akhirnya menjawab dengan bijak, "kamu hanya mantan saya. Antara kita juga tidak punya ikatan apapun karena anak kita sudah meninggal. Jika tidak kamu masih bisa berstatus mama anakku. Kini tidak ada hubungan apapun antara kita. Kamu juga tak ada hak ikut campur urusan saya!" tekan Eddyson dengan dingin.


"Ayo sayang, kita cari tempat lain. Mas keburu tidak selera makan di sini!"

__ADS_1


Shinta hanya terpaku melihat interaksi Eddyson yang jauh berbeda saat bersama dirinya. Eddyson tak pernah memanggilnya dengan kata sayang sepanjang pernikahan dengannya.Tiba-tiba hati kecilnya menjadi tidak terima. Apalagi dia tahu gadis yang nikahi mantan suaminya adalah anak buahnya dulu. Dia mulai berpikir jika Eddyson yang telah menyelingkuhkannya duluan.


Shinta meneruskan masuk menjumpai suaminya yang telah menunggu dia disuatu meja. Dia tadi tiba-tiba menjawab panggilan alam untuk ke toilet. Tidak disangka ketika masuk bertemu dengan mantan suaminya.


Dia duduk dengan hati yang panas mengingat kejadian barusan. Suaminya bertanya, "Ada apa mukanya seperti kebakaran jenggot gitu?" Suaminya memang tidak tahu karena terhalang oleh dinding pembatas ruangan.


"Tak ada apa-apa Mas," ucapnya dengan malas.


"Pulang kita lagi?" tanya suaminya dengan lembut.


"Boleh juga," kelembutan nada suaminya tak dapat memadamkan api cemburunya yang tiba-tiba menyala.


Jika Shinta terbakar api cemburunya, Eddyson dan Alcenna malah asyik memadu kasih. "Kamu tidak marahkan sayang Mas tidak menjawab pertanyaannya?" tanya Eddyson lembut. Eddyson sempat dilema tadi. Dia takut Alcenna salah paham.


"Gak kok Mas, malah menurut Alcenn mantap jawabannya."


"Benar? gak pakai rahasia hati lagikan?" selidik Eddyson.


"Benar. Andai Alcenn sendiri tadi Alcenn jawab saja iya." Cengiran manjanya muncul.


"Mas mau jawab juga, tapi malas mau ngomong panjang lebar dengan dia. Mas jawab iya pasti pikirnya kamu dari dulu selingkuh dengan Mas."


"Ah masa bodohlah Mas. Pastinya sekarang kamu milikku. Tak ada yang boleh ganggu, kecuali yang punya badan mau!" ucap Alcenna diakhiri kaliamt horor. Eddyson baru melihat sisi lain istrinya. Ternyata diam-diam Alcenna cukup posesif. Dia menyangka hanya dirinya yang posesif. Namun sifat posesif Alcenna tersembunyi dengan sifatnya yang kalem dan suka menahan hati.


"Enak saja, tak ada lagi pemilik hati ini. Hanya Alcenna Moswen. Dulu, kini dan besok," ucapnya yakin.


"Akuuu sayaaang sama Mas," ucap Alcenna mempraktekan sebuah artikel yang mengatakan jangan malu untuk ungkapkan rasa sayang dan cintamu pada pasangan. Agar rumah tangga kamu serasa pacaran. Maka kamu selalu dirindukan pasanganmu. Walau pengucapan Alcenna jadi berbeda.


"Mas juga sayang sama kamu. Sekarang ayo kita pulang sayang. Kamu juga pasti sudah lelahkan?" ucap Eddyson benar adanya.


"Ya Mas. Jom kita pulang," ajak Alcenna bersenang hati berpuas diri.


**//**

__ADS_1


__ADS_2