
Namun hanya satu bulan, entah mengapa ada yang lain Alcenna temui pada sikap suaminya. Alcenna seakan tak mengenal sosok Arzon yang dulu. Alcenna belum bisa menemukan apa yang janggal dalam rumah tangganya. Satu yang dia tahu, jika Alcenna berbeda 180 derajat dari gadisnya, Arzon juga berubah 180 derajat dari sikap yang dikenal Alcenna.
Alcenna tidak menemukan apa yang temannya katakan. Manisnya pengantin baru tidak ada dia rasakan. Dari hari ke hari ada saja yang jadi perselisihan dalam rumah tangganya. Bermula dari sering masuknya nomor telepon ke ponsel Arzon yang tidak dia angkat.
Karena penasaran Alcenna melihat sekilas no yang tertera, ternyata tanpa nama. Alcenna tandai 3 angka dibelakangnya. Sehari dua hari Alcenna masih abaikan, namun hari ke tiga Alcenna angkat tanpa Arzon tahu. Saat itu suaminya sedang mandi bersiap untuk kerja.
Namun begitu diangkat tak ada suara terdengar walau masih tersambung. Alcenna lalu menyalin nomor tersebut dan menelfon dari ponselnya besok hari, yang ternyata seorang wanita.
"Halo," jawabnya.
"Halo, saya ___" ucapan Alcenna terputus, wanita itu mematikan sambungan telfonnya.
Namun yang membuat darah Alcenna bergejolak, wanita itu langsung menelepon ke nomor ponsel Arzon, yang jelas-jelas masih berada di kamar mereka.
"Hee perempuan! Ada urusan apa, sampai kau menolak bicara padaku?" maki Alcenna tanpa pikir dua kali.
"Saya ibu angkatnya, kemaren saya mau minta tolong sama dia ... blaa ... blaaa ...." panjang lebar dia cuap-cuap yang semuanya terasa tidak masuk akal bagi Alcenna.
Alcenna tak peduli dia siapa dan urusan apa, yang dia tidak suka kenapa suaminya tidak mau mengangkat ponsel di depannya. Lalu kenapa bisa wanita itu langsung menelepon suaminya setelah Alcenna menelepon dari nomornya.
"Siapa perempuan Ini?" tanya Alcenna to the point sambil memperlihatkan nomor ponsel wanita tersebut.
Arzon hanya diam seribu bahasa yang membuat Alcenna muak dan naik darah. "Dia katakan kalau dia ibu angkat abang, ibu angkat yang mana?" tanya Alcenna karena merasa tidak pernah tahu.
"Sudahlah biarkan saja," ucapannya yang menggantung sudah tidak bisa Alcenna terima. Namun Arzon berkeras tidak cerita, dan dia pergi tanpa pamit pada istrinya.
Rasa ingin tahu yang kuat, membuat Alcenna mencoba menghubungi lagi dari ponselnya, tetapi tidak diangkat. Beberapa kali dia mencoba hubungi. Karena tak kunjung diangkat Alcenna mengabaikan saja pada akhirnya.
__ADS_1
***
Malam setelah berada di kamar, Alcenna mulai membahas dengan suaminya. "Alcen mau tanya Bang, siapa dia?"
Arzon memberi keterangan yang tidak bisa Alcenna terima sebenarnya, namun Alcenna diamkan dengan rasa penasaran. Akhirnya malah Arzon tidur dengan mendiamkan istrinya.
Alcenna menangis diam-diam, hatinya sakit bercampur iba didiamkan. Arzon yang bersalah kenapa Alcenna yang didiaminya.
"Beginikah rasa berumah tangga. Dulu sebanyak apapun masalah dan rasa sakit tapi tidak sesakit sekarang rasanya." Pikir Alcenna. Akhirnya tanpa disadari dia tertidur.
Paginya Alcenna telat subuh dan Arzon hanya diam. Alcenna pun ikut diam, walau baju dan sarapannya tetap dia sediakan.
Mulai itu hari demi hari tak ada lagi kedamaian dia rasa. Walau suaminya kembali bersikap baik namun entah mengapa emosinya tidak bisa dikontrol. Alcenna selalu mau marah kepada suaminya hanya dengan masalah sepele.
Sampai suatu malam, dia telat pulang karena alasannya ada bertemu teman sebentar. Sementara Alcenna mendapat kabar suaminya ke rumah sakit karena anaknya yang kecil masuk rumah sakit.
"Hebat kamu ya Bang, bisa-bisanya kamu berbohong sama aku. Apa mau kamu sebenarnya Bang! Sebulan lebih aku diami semua sikap kau yang berubah!" tak ada kata santun lagi dari mulut Alcenna. Dia langsung memaki suaminya saat belum sempat istirahat. Hati Alcenna keburu dibakar amarah. Alcenna telah ikut salah dalam bersikap.
"Berubah apanya, Abang lagi pusing."
"Apa yang kamu pusingkan? Anakmu atau wanita yang tak jelas itu yang mengaku sebagai ibu angkatmu!"
Entah apa lagi yang Alcenna ucapkan, semua yang dia pendam beberapa hari belakangan ini dia keluarkan. Arzon diam saja, dan hendak memasang sepatunya kembali. Dia hendak pergi.
Batin Alcenna tidak terima suaminya pergi tanpa menyelesaikan masalah. Walau niat suaminya mungkin menghindari keributan namun Alcenna tak bisa terima.
Belum sempat Arzon memasang sepatunya. Alcenna menarik suaminya berdiri, entah kekuatan dari mana, dia mendorong suaminya ke dinding dan berkata, "Jangan pernah kau perlakukan aku sama dengan mantan istrimu! Kalau dengan dia kau ribut lalu pergi dan setelah itu kau kembali tanpa seperti ada masalah, jangan kau buat dengan aku!" ucap Alcenna kasar walau dengan berurai air mata.
__ADS_1
Dia hanya menyandarkan badan ke dinding tanpa ada perlawanan, hanya matanya yang menatap tajam pada istrinya. Tanpa Alcenna tahu itu marah atau apa.
Perasaan kasihan dan marah yang berpadu membuat Alcenna semakin tidak kontrol dalam berucap, "Kalau kau mau keluar dari rumah ini, selesaikan dulu! Jangan kau gantung aku seperti ini. Jika kau melangkah juga Bang, aku anggap rumah tangga kita sampai di sini!!"
Fantastis ... baru sebulan istrinya berani minta berpisah. Alcenna terduduk dengan air mata mengucur deras, bukan takut berpisah, namun hatinya memberontak dengan semua yang terjadi.
Arzon merengkuh istrinya dalam pelukannya. Menenangkan. Namun badan Alcenna terasa lemas, seakan dia menghabiskan semua energi di badannya. Matanya tertutup walau dia sadar dengan sekelilingnya.
"Dek, tolong ambil air putih," terdengar suara tenang suaminya meminta tolong pada Azarine. Sammy belum pulang.
Arzon membacakan Basmalah dan menuangkan sedikit demi sedikit ke mulut istrinya. Alcenna tak menolak dan menelan semua air putih yang diberi dengan perlahan. Lalu Arzon mengangkat istrinya ke tempat tidur dan menyelimuti.
Alcenna memejamkan mata walau tidak tidur. Air matanya sesekali masih mengalir. Arzon mengusap air mata istrinya dengan handuk kecil. Dia juga mengusap bahu istrinya. Alcenna bersyukur Arzon tidak berkata apapun walau hanya sekedar meminta maaf. Alcenna tidak menginginkan kata maaf suaminya.
Alcenna mendengar langkah keluar kamar. Mungkin Arzon lapar. Alcenna ada merasa bersalah langsung main emosi. Padahal sebaiknya dia menahan sehingga penatnya hilang. Namun dia dikuasai amarah.
Alcenna lebih senang suaminya meninggalkan dia sejenak seperti ini. Hatinya akan semakin sedih jika dalam keadaan begini diajak bicara, itu akan membuat air matanya kembali mengalir.
Dalam mata terpejam hatinya mencari-cari, setelah semua yang terjadi. Di mana salahnya, di mana kejanggalannya. Kini dia sadari bukan sikap suaminya yang berubah namun emosi Alcenna yang berubah. Dia yang dulu memang pemarah dan sedikit acuh, kini jadi perasa dan mudah sedih walau sifat tidak sabarannya tak hilang.
Alcenna menangis ternyata bukan karena dia sakit hati dibohongi, ataupun karena marah dengannya, namun yang lebih parah tangisan Alcenna karena penyesalan. Setiap dia kecewa dengan suaminya, dia menyesali Pernikahannya. Itu masalah terbesar yang terjadi.
Alcenna akhirnya menyesal menikah dengan Arzon. Seakan hari yang dia lalui akan lebih banyak penderitaan. Alcenna terlambat menyadari perkataan orang di sekelilingnya.
Namun dia tak bisa menyalahkan siapapun, jika ada yang bersalah, itu dirinya sendiri. Dia menikah dengan kesadarannya sendiri tanpa paksaan dari pihak manapun.
"Ya Allah akankah aku kuat menjalani masalah yang akan datang ke depannya. Hal seperti ini saja sudah membuat hatiku lemah. Pernikahanku yang baru, bahkan seumur jagung pun belum bisa dikatakan," batin Alcenna berperang. Air mata kembali mengalir mengingat dia ingin berpisah sampai di sini saja.
__ADS_1
**//**