
Alcenna akhirnya menginap di rumah mama Ningrum. Dia memaksa. Alcenna senang-senang saja. Baginya dari pada di rumah kontrakan yang sepi. Sammy sudah pindah ke Ternate.
Siap makan mereka duduk-duduk di ruang keluarga. Mama Ningrum selalu yang memancing pembicaraan.
"Alcenn sayang, mama terlalu ikut campur tidak kalau bicara soal pernikahan kalian?" tanya mama Ningrum.
"Ndaklah Ma. Mama mau bahas apa?" jawab Alcenna lembut.
"Mama mau bahas selain kapan waktunya, mama ingin tahu di mana diadakan. Biasanyakan memang di rumah mempelai wanita."
"Mama maunya di mana? di sini di rumah ini?" tanya Alcenna.
"Hmmm kalau bisa," ucap Mama Ningrum pelan.
"Mama ... Mama, Mama-kan bisa memaksa Alcenn," gurau Alcenn lembut. Mama Ningrum tersenyum.
"Ya sudah Ma, di rumah mama sini saja. Alcenn juga tak ingin menikah di kampung lagi Ma. Orang juga tidak banyak tahu soal rumah tangga Alcenn yang lama."
"Benar Nak? Di rumah sini?" tanya mama Ningrum antusias. Mama Ningrum hanya punya anak laki-laki. Jadi tidak pernah melepas anaknya menikah di atas rumahnya.
"Iya Ma."
"Mamamu Nak?"
"Ibu ngikut saja Ma. Mama pasti senang nanti jika sudah mengenal ibu."
"Jelas Nak, kenal anaknya saja mama sudah senang sekali."
"Makasih Ma. Namun sebelum menikah, kita ziarah ke makam ayah ya Mas, Alcenn ingin minta doa restu juga pada ayah," ucap Alcenna begitu sedih menahan kepedihan hatinya merindukan ayahnya.
"Iya sayang, kita ke sana sekalian jemput ibu dan Azarine saja. Kita atur prosesi nikahnya dilibur semester ibu saja." Eddyson ikut merasa kesedihan Alcenna.
"Ma, tapi kami jangan mama paksa tinggal di sini ya. Kami ingin tinggal di rumah yang kami rancang." Eddyson langsung mengalihkan perhatian Alcenna pada kesedihan.
"Lihatlah Pa, kejam sekali anakmu menghancurkan seketika rasa senangku," sungut mama Ningrum. Mama Ningrum juga bisa merasakan kerinduan calon menantunya.
"Hahaha ... kami memang punya rumah impian Ma, walau tidak sebesar rumah Mama. Namun sabtu-minggu kami akan tidur rumah Mama, ya kan Mas," ucap Alcenna menatap tajam pada Eddyson untuk menyetujui. Eddyson malah terkekeh.
"Kenapa tertawa?" tanya mama Ningrum mewakili Alcenna.
"Alcenn lucu Ma, pandangannya tajam menghunus jantungku. Dia minta baik-baik pun pasti aku setuju kalau untuk sabtu-minggu. Itu juga tadi rencanaku Ma. Namun Alcenna yang rampas jalan pikiranku," usiknya pada Alcenna. Alcenna dan mama Ningrum hanya bertukar senyum.
"Okelah, kalau gitu. Kasihlah menantu mama istirahat. Besokkan panjang waktu lagi."
"Iyalah kalau gitu, kamulah antar Alcenna ke kamar tamu. Jangan apa-apai putri Mama!"
Itu cukup buat Eddyson tertawa lepas. Kalau mau dari gadis dulu lagi Ma diapa-apai putri urakan Mama ini.
"Ayo sayang Mas antar." Eddyson tak menutupi kemesraannya. Cukup buat ayah dan ibunya geleng-geleng.
Di kamar ....
Alcenna duduk di tepi ranjang. Eddyson juga. "Makasih ya sayang, bisa buat Mama bahagia di usia senjanya," ucap Eddyson sambil membelai kepala Alcenna yang masih tertutup jilbabnya.
"Aku juga Mas. Aku senang. Aku ingin merasakan kasih sayang mertua. Alhamdulillah aku dapat kini."
__ADS_1
"Kita cepat urus ya sayang, Mas jadi gak tenang jauh darimu."
"Gaya Mas lagi. Jangan awal-awal saja. Sakit kemudian.
"Kejamnya kamu menuduhku sayang. Kamu yang lebih tahu," katanya seolah-olah paling tersakiti. Dia paham gadisnya tidak berniat menuduhnya.
"Mas keluar sana, Alcenn gak mau Mama salah sangka Mas ngapa-ngapain di dalam sini.
"Nantilah sayang, Mas gak akan khilaf. Mas masih rindu. Tadi mama yang memonopoli kamu. Besok anak kita lagi," pancing Eddyson ingin tahu tanggapan Alcenna soal anak.
"Bagaimana kalau aku tidak bisa memenuhi satu hal ini Mas?"
"Mas sudah bilang tak ada jadi permasalahan."
"Mama?"
"Mama sudah ada cucunya juga dari anaknya yang lain. Jangan dipikir."
"Iya Mas, semoga ada jalan."
"Alcenn mau?"
"Mau apa?" jalan pikirannya langsung ngblank. Hati Eddyson seperti berbulu mendengar pertanyaan singkat Alcenna.
"Mau Mas nikahi malam ini dan mas beri calon anak malam ini juga!" Akhhh Eddyson frustasi sendiri.
"Apaaan, sudahlah sana. Stres Alcenn jadinya."
Eddyson tertawa lebar. Dia pun beranjak keluar kamar setelah meminta Alcenn istirahat.
Eddyson melewati ruang tamu. Eddyson begitu suprise melihat ayah-ibunya masih duduk manis diruang keluarga.
"Apa Ma?" Eddyson duduk di samping mamanya.
"Jumpa di mana dulu dengannya?" tanya mamanya semangat.
"Anak buah Eddyson waktu di kota P," ucap Eddyson santai.
"Apaaa???" teriak mamanya terkejut.
"Iya, kenapa Ma?"
"Gak ada, mama ingin tahu aja. Jadi dulu kalian pernah selingkuh waktu kamu masih sama Shinta?"
"Selingkuh gimana Ma, ditolak terus waktu nyatakan cinta. Bahkan dia lebih milih pria yang gak ada apa-apanya dibanding aku."
"Sombong," kata ibunya.
"Sombong apa Ma, walau bukan belum bos besar, kaya aku pada mantan suaminya." Ada nada kesal masih mengingatkan kisah lalu.
"Tak usah bahaslah Ma, bahas masa depan saja."
"Ya mama setuju. Resepsinya adakan ya?"
"Iya Mama lah yang omongi sama menantu Mama tu. Mama pikir dia selembut wajahnya? keras hati keras kepala dan pemarah tu aslinya," ucap Eddyson tak ingin menutupi sifat lain Alcenna.
__ADS_1
"Hahaha, kamu tidak berdaya ya olehnya. Oke tenang mama yang minta."
"Udah puas Ma? Biarkan Eddyson istirahat. Besok dia harus kerja," ucap ayahnya Eddyson mencegah istrinya menggoda anaknya lebih jauh.
***
Pagi hari ... 05.30 wib.
Alcenna sudah bergabung dengan seseorang bibi yang membuat sarapan.
"Bi, Alcenn bantu ya?"
"Jangan Non, nanti tuan marah."
"Tuan yang mana Bi? Mas Eddyson atau papa?"
"Tuan Eddyson sama Tuan Hans Non."
"Alcenn, kamu sudah bangun sayang?" tiba-tiba terdengar suara mama Ningrum.
"Sudah Ma. Alcenn mau bantu tapi bibi takut kasih. Takut dimarah tuannya Ma."
"Biar saja Bi, nanti saya yang tanggung jawab sama Eddyson," mama Ningrum memberi pembelaan.
Mama Ningrum ingin tahu sampai sejauh mana Alcenna pandai di dapur. Baginya walau sekaya apapun suami. Dia lebih suka istri yang pandai di dapur. Jadi suami bisa diikat hatinya dari hal yang ringan dulu.
Alcenna mulai bergerak dengan cekatan. Pagi ini bibi mengatakan menu nasi goreng. Menu yang paling Alcenna suka, karena dia juga pencinta nasi goreng.
Alcenna membuat bumbunya sendiri. Singkat cerita nasi gorengnya sudah terhidang. Eddyson dan papanya telah di meja makan. Eddyson tahu gadisnya ikut masak. Mamanya sudah memberi tahu tanpa boleh menegur Alcenna.
"Hmmm enak, seperti buatan tanganmu sayang," ucap Eddyson yang membuat mamanya melotot tajam. Eddyson tak perduli. Pagi ini dia harus bisa menggoda gadisnya untuk menambah semangatnya. Namun Alcenna tak menggubris. Dia takut malah menjadi-jadi nanti.
"Hmmm enak ya Ma, masakan menantu kita. Pantas Eddyson mabuk kepayang," papa Hans pun ikut-ikut menggoda anak dan calon menantunya. Alcenna hanya tersenyum menanggapi ucapan ayah Eddyson.
Diam-diam mama Ningrum tambah mengakui Alcenna. Gadis itu walau cantik dan terlihat manja. Namun juga bisa mandiri. Ningrum semakin suka pada calon menantunya.
"Apa acara hari ini sayang?" tanya mama Ningrum pada Alcenna.
"Ndak ada Ma. Mau kerja dilarang, jual kue gak boleh dan buka usaha pun belum diluluskan," Alcenna akhirnya kesal sendiri mengingat ini-itu gak boleh.
"Sabarlah sayang, besok ngurus mas dan buah hati kita habis waktumu, dan kamu bersyukur tidak melakukan apapun selain memperhatikan mas," ucap Eddyson dengan semangat.
"Bagaimana kalau mama ajak kamu survei dari gaun pengantin?"
"Gaun pengantin Ma?"
"Iya, Mama ingin kamu adakan resepsi. Tidak usah terlalu besar kalau kamu gak ingin. Mama ingin mengundang teman-teman dan relasi bisnis papamu," Mama Ningrum mulai melancarkan jurusnya.
"Apa ndak malu Ma usia segini pakai resepsi?"
"Kamu juga baru 30-an, masih muda. Eddyson laki-laki sayang. Mana ada tuanya," rayu mama Ningrum lebih jauh.
Alcenna melihat betapa besar keinginan mama Ningrum untuk mengadakan resepsi. Alcenna juga sebenarnya ingin. Dulu dia harus menguburkan keinginannya demi tidak ingin menyusahi ibu dan mantan suaminya. Kini mama Ningrum begitu berharap. Alcenna mana mungkin menolaknya. Apalagi tanpa anak di antara mereka berdua. Alcenna hanya merasa masih seperti seorang gadis saja.
"Oke Ma, Alcenna mau." Eddyson melihat senyum bahagia Mamanya. Eddyson lagi-lagi mengucapkan syukur setelah sekian banyak yang dilewatinya. Rasa cintanya pada Alcenna makin besar. Kehadiran Alcenna seperti berkah tersendiri baginya.
__ADS_1
"Ya sudah, nanti sore mas jemput." Alcenna mengangguk. Eddyson dan Hans pergi ke kantor masing-masing. Alcenna dan mama Ningrum telah bersiap pergi survei untuk persiapan pernikahan. Di mulai dari gaun pengantin.
**//**