Tolong Aku SuamiKu

Tolong Aku SuamiKu
Saling Marah


__ADS_3

Di bioskop ....


Mereka duduk berempat di bangku bioskop. Alcenna dan Putri diapit oleh bodyguard-bodyguard keren. Alcenna berbisik pada Putri, "Pada jadi jomblo tingkat dewi mending tuh dekati mas Robby."


"Awww ...." Alcenna terpekik tertahan karena cubitan Putri yang lumayan keras di pinggangnya.


"Ngomong lagi, aku cubit lebih keras," ancam Putri.


"Ampun, tak ulangi," olok Alcenna.


Alcenna kembali diam, sambil memperhatikan pengunjung yang masih satu-persatu memasuki bioskop. Film memang belum di mulai. Jadi lampu bioskop belum padam dan masih bisa menerangkan cuci mata Alcenna.


Sedang asyik-asyik, "Ehemm." Terdengar deheman Eddyson. Alcenna menoleh memandang heran.


"Kenapa Pak?"


"Gadis genit," ucapnya dua kata.


"Genit kenapa?" Alcenna memang bingung dikatakan genit dari mananya.


"Kamu lihat apa, asyik saja dari tadi. Cari mangsa baru," ucapnya sarkas, seolah Alcenna predator kelaparan saja.


"Dasaar pose!" Alcenna tak tersinggung dengan nada sarkas bosnya. Alcenna mulai paham sifat posesif lelaki itu.


"Pose apa?" tanya Eddyson tak paham maksud Alcenna.


"Makanya Bapak banyak bergaul sama gadis bau kencur ... biar tak kuno. Itu saja Bapak tak tahu," ucap Alcenna penuh cemooh.


"Bilang gak apa artinya!" Eddyson meremas tangan Alcenna sedikit kuat.


"Posesif!" ucap Alcenna.


"Ohhh ... biarin." Alcenna hanya bisa menarik napas, melihat kelakuan Eddyson di luar pekerjaan.


Putri dan Robby pun hanya bisa geleng-geleng kepala melihat mereka adu argumen terus.


"Diam Pak, film mau mulai dan malu tahu, orang sekeliling kita sudah ramai."


Mereka menonton Ayat-Ayat Cinta, sedang fokus nonton terdengar bisikan Eddyson, "Tu Maria saja bersedia jadi istri kedua."


"Aku bukan Maria Pak, tapi Alcenna," kata gadis itu acuh.


"Kenapa kamu tidak seperti Maria saja?" dengan nada seenaknya dia bertanya.


"Aku gak mau!"


"Keras hati kok sama orang yang salah." Eddyson menyulut emosi Alcenna. Alcenna mencubit Eddyson sepuas yang dia mau. Eddyson hanya bisa meringis. Bos pose itu pasti malu kalau dia membuat keributan, mau ditaruh di mana tampang kakunya yang rupawan itu. Alcenna memanfaatkan momen itu membalas Eddyson.


***


Selesai menonton, mereka makan malam di sebuah kafe. "Pesan saja yang mau kalian makan. Kamu pesan apa Alcenna?" Eddyson bertanya tanpa memperdulikan ekspresi iri para jomblo. Siapa lagi kalau bukan Putri dan Robby.


"Ikut Putri sajalah." tiba-tiba hati Alcenna berdebar tidak enak.


"Kenapa?" Eddyson bertanya lembut pada Alcenna. Tak ada godaan tak ada niat jahil.


"Hati Alcen berdebar, ada perasaan tak enak Pak," ungkapnya jujur.


"Sudah jangan banyak pikir. Pesan makanannya, terus kita pulang istirahat."


"Iya." Alcenna tak banyak bantahan.


Baru siap memesan menu ... ponsel Alcenna bergetar. Dia melihat id pemanggil dengan nama ' Bg.Arzon'. Alcenna berniat mengabaikan sejenak panggilan itu. Seolah pantang menyerah dia terus menelfon Alcenna.

__ADS_1


"Pak, sebentar ya Alcen angkat telfon dulu." Alcenna pamit. Dia tak enak hati mengabaikan terus panggilan telfon dari Arzon.


"Silahkan," kata Eddyson singkat.


Alcenna menuju keluar pintu mall tersebut, beruntung kafenya berada di lantai dasar. Alcenna mencari tempat yang tidak terlalu ramai. Ada sebuah bangku di taman mall tersebut. Alcenna duduk dan menekan icon hijau di layar ponselnya.


"Halo ...."


"Kamu di mana?" tak ada nada ramah dalam suaranya, tak ada juga kelembutan yang biasa.


"Di Jakarta," ucap Alcenna malas.


"Sama siapa?"


"Sama Putri," jawab Alcenna jujur.


"Ngapain kalian ke sana?"


"Main."


"Main katamu. Mau kamu apa sebenarnya!"


"Abang tahukan mau aku apa?" tak Alcenna gubris suara sarkas dari Arzon.


"Jangan jadi cewek yang gak setia, kamu kira aku gak tahu kamu pergi sama siapa!"


"Baguslah kalau sudah tahu, tak payah aku jelaskan. Tapi tarik kata 'tidak setia' yang kamu lontarkan Bang!" Kalau Arzon marah Alcenna juga marah. Alcenna marah dengan sikap Arzon yang seakan plin-plan dan terkesan lamban seolah menunda sesuatu. Apalagi dia kembali bersikap dingin.


"Apa namanya kalau bukan tak setia, pergi dengan lelaki lain?"


"Tapi ingat, aku bukan istrimu!"


"Ya tapi kamu calon istriku!"


"Jaga omongan kamu Alcenna!" Teriak Arzon lepas kontrol. Membuat Alcenna juga naik darah.


"Jaga hati aku dulu. Aku lelah dengan semua ini! Ingat aku sudah siap apapun keputusan kamu, bukan karena aku tidak mencintaimu tapi aku sudah capek bertahan. Capek!"


"Cari alasan saja kamu!" Arzon kekeh menyalahkan Alcenna.


"Jangan telfon aku jika hanya untuk memaki. Aku tak layak untuk kamu maki. Ingat, aku masih menunggu janjimu tiga bulan ke depan jika masih bersedia. Jika tidak, berarti selesai sampai di sini. Aku tutup telfon, aku muak berdebat denganmu Bang!"


Alcenna menutup teleponnya, lalu air mata meleleh. Hatinya masih sakit dengan sikap egois Arzon yang semakin hari semakin menjadi. Alcenna ingin menyelesaikan hubungannya, tetapi hatinya berkata untuk bertahan sebentar lagi.


"Apa benar keputusan aku untuk menikah dengannya." Gumam Alcenna pelan.


Alcenna merasa satu pelukan hangat meredakan aliran air matanya. Dia tahu siapa yang memeluk dari aroma parfum yang dikenalnya. Alcenna menyandarkan tubuh ke bahu kokoh itu dan masuk ke dalam pelukannya. Alcenna ingin mencari kenyamanan sejenak. Batinnya sangat lelah.


"Alcen capek Pak, harus bertengkar terus, menunggu janjinya, tapi maaf Pak, Alcen masih mencintainya," ucap Alcenna.


"Kita pulang saja atau tetap makan?" tanya Eddyson tak memaksakan.


"Alcen gak mau makan Pak. Mau pulang ke hotel saja. Boleh?"


"Baik. Tunggu sebentar." Eddyson mengeluarkan ponselnya. "Halo Robby, pesanannya sudah datang?"


"Belum Pak, baru minuman saja."


"Tanya Putri, dia mau lanjut makan atau mau ikut pulang. Alcen sedang dalam keadaan kurang baik, dia mau pulang. Kalau Putri mau makan dan jalan, temani dulu, biar saya naik taksi saja ke hotel."


.....


"Halo Pak, Putri bilang kalau Bapak gak keberatan, Putri nanti saja saya yang antarkan."

__ADS_1


"Baik, kamu pakai saja uangmu untuk bayar makan dan apa yang Putri mau, nanti saya ganti di hotel. Tolong pesanan Alcen dan saya dibungkus, Alcen belum makan."


Eddyson menarik Alcenna berdiri dan masih merangkul gadis itu, mencari pesanan taksi. "Kita pulang ya?" Alcenna hanya mengangguk.


Sesampai di hotel, Alcenna diminta duduk di kursi lobi hotel. Matanya sembab, bosnya tentu tak ingin resepsionis melihat wajah yang kacau.


Eddyson melambaikan tangan setelah kunci kamar di tangannya. Alcenna menyusul langkahnya. Tanpa sungkan Eddyson menggandeng gadis itu.


Sesampai di kamar Alcenna. Eddyson ikut masuk dan berkata, "Cuci mukamu dan ganti bajumu, lalu kamu duduk di sini dengarkan saya bicara." Nada Eddyson terdengar dingin.


Setelah selesai mengerjakan apa yang diminta, Alcenna duduk di tepi ranjang tepat di samping Eddyson.


Eddyson berdiri dan mengangkat Alcenna lalu membaringkan ditempat tidur. Tak ada perlawanan karena Alcenna terkejut. Setelah menyangga kepala gadis itu dengan dua bantal hotel. Alcenna baru bisa berkata," Bapak mau apa?" suara Alcenna gemetar.


"Kamu pikir saya mau ngapa?" ucapnya sambil menutup setengah badan Alcenna dengan selimut. Sehingga dia baru merasa tenang.


Lalu dia kembali duduk di pinggir ranjang. "Kamu harus masih banyak istirahat dan tidak perlu terlalu banyak pikir. Kamu bisa bilang tidak merasa sakit, bukan berarti tubuhmu sudah sepenuhnya fit."


"Alcen sedih, kesal dan kecewa dengan semua yang ada Pak. Dia hanya bisa menyalahkan, tanpa ada solusi darinya." Alcenna tak tahan untuk tidak mengadu.


"Beri dia waktu seperti yang kalian sepakati, tapi tak perlu menyiksa dirimu. Jalani saja dengan tenang apa yang telah kamu putuskan. Jangan seperti ini, kamu bisa merusak kesehatanmu sendiri karena beban mental dan pikiranmu yang kacau. Jika target kamu tiga bulan, ya tunggu masa itu, ngerti?"


" ya Pak."


"Kamu dengar ya ... saya hanya memberi pandangan sama kamu. Keputusannya tetap di tangan kamu. Hanya saja belum menikah saja kamu sudah begini menderita! Apa kamu yakin nanti kamu bisa bahagia?"


"Tak tahulah Pak. Jika dia bisa dalam tiga bulan ini memenuhi janjinya aku tetap akan menikah dengannya."


"Oke, gak ada masalah bagi saya. Satu yang perlu kamu ingat malam ini, jika kamu tidak bahagia setelah menjalankan rumah tanggamu kelak, saya akan selalu ada buat kamu. Menikahlah dengan saya walau harus jadi istri kedua. Kamu paham?"


"Apa Bapak masih mau?"


"Kenapa? Karena bekas orang?"


"Issss, jahatnyalah mulut, " ucap Alcenna.


"Iya kenapa juga mesti saya harus gak mau, kamu bukan bekas para pria hidung belang! Atau kamu mau ngasih ke saya saja malam ini? Biar dia yang dapat bekas, toh dia juga bekas orang," ucapnya menggoda Alcenna.


"Sama bekas orangpun! Terus saja mulut tuh pedas, padahal kita belum jadi makan ... ahhh jadi lapar gara-gara Bapak."


"Kamu bilang karena saya? Apa gak salah tuduh kamu? Siapa tadi yang nangis-nangis bodoh hanya karena pria, sampai mau tak jadi makan."


"Saya sih, sejak kapan Bapak di dekat Alcen tadi?"


"Sejak saya bilang silahkan, saya langsung ikuti kamu, saya yakin ada gak beres lihat wajah kacaumu."


"Bagaimana kalau karena waktu cinta Bapak juga pudar bahkan hilang."


"Ya nasib kamulah yang buruk."


"Bapaaak ...."


"Apa, mau dipeluk?" ucapnya tulus sambil merentangkan tangannya.


Tanpa pikir panjang, Alcenna masuk ke dalam pelukan. Eddyson memeluk erat seolah tak ingin melepaskan gadis itu. Tangannya terasa membelai lembut rambut dan punggung Alcenna.


"Terima Kasih Pak, untuk semuanya. Alcen untuk saat ini hanya bisa menyayangi Bapak."


"Itu sudah cukup bagi saya, jangan menangis. Hati saya terasa sakit jika kamu menangis, dan ingat pergilah ke pelukan saya jika kelak kamu tidak bahagia, cinta saya tak akan pudar. Percayalah pada hati saya."


**//**


__ADS_1


__ADS_2