
"Marya, apa kabar?"
"Ke mana saja dikau he?" ditanya malah tanya balik.
"Ngurus hati."
"Mu di mana Mar?"
"Di mana lagi, tempat kerja."
"Mau ke sini? Teman kampusmu lama sudah tak ke sini," kata Marya
"Tak tahu juga, aku sudah lama tak jumpa sejak kuliahku selesai," terang Alcenna.
"Ke sinilah, besok aku jumping,"
"Ok, besok aku sana ya."
Alcenna ketemu kembali Marya setahun sebelum menamatkan kuliahnya. Marya tiba- tiba menghilang dan nomor ponselpun tidak aktif. Walau sejak tamat SMA mereka tidak pernah bertemu selain komunikasi lewat udara. Namun tak lama Marya hilang tak tahu rimbanya.
Alcenna masih ingat kala masih jadi mahasiswi diajak kakak tingkatnya. Walau usia mereka tetap jauh di bawah Alcenna. Namun Alcenna cukup populer dalam berteman.
"Kak, ikut ke Arrenna gak?" tanya seorang kakak tingkat Alcenna.
"Arena apa, balap?" kekeh Alcenna.
"Seriuslah, kami mau pergi jam dua siap kuliah nanti," kata kakak tingkatnya yang lain.
"Iya, tempat apa itu?" tanya Alcenna jujur tanpa sok tahu.
"Kakak benar gak tahu?" tanya Chacha, nama salah satu kakak tingkat Alcenna. Alcenna menggeleng.
"Salah satu tempat biliard terkenal di kota kita Kak."
"Trus tidak malu apa kita berhijab ke sana? Tak ahh malas kalau gitu."
"Makanya Kakak ikut biar tahu, payah pula kami bilangnya. Kakak lihat sendiri disana. Anggap saja survei untuk penelitian," ucap Chacha.
"Kakak kira tempat mesum apa?" tanya seorang lagi.
"Iya," jawab Alcenna jujur.
"Makanya Kakak ikut, biar tambah ilmu, jadi Kakak gak negatif thinking mikirnya. Jadi Kakak gak mau diajak karaoke karena mikir tempat mesum juga?" cecar mereka bergantian pada Alcenna.
"Iya," jawab Alcenna lagi. Alcenna cukup polos untuk dunia hiburan. Gadisnya dia hanya tahu bermain di mall-mall atau sekedar makan dan ngegame di timezone. Setelah menikah dia hanya banyak di dalam rumah. Keluar juga ke mall lagi.
Saat sampai di sana, Alcenna melihat Marya duduk di kasir, Alcenna menghampiri, "Apa kabar nona Marya?? "
"Alcennaaaa .... "
Tanpa memperdulikan konsumen yang rata- rata ternyata sudah mengenal Marya, dia berteriak nyaring. Keluar dari meja kasirnya dan memeluk Alcenna.
"Jadi Kakak kenal dengan Kak Marya?" tanya Chacha.
"Teman akrab kakak di SMA." Marya yang menjawab.
***
Alcenna masih diam dengan suaminya. Begitu juga suaminya. Namun makan-minum dan pakaian masih diurus sama Alcenna.
Alcenna mulai keluar dari sarangnya. Dia seperti burung yang lepas dari kandang emas. Alcenna mulai mencari kebahagiaan sendiri.
Hari ini Alcenna menemui Marya.
"Minum apa?"
__ADS_1
"Alkohol boleh?" tanya Alcenna.
"Tak ada cerita, maksud aku minuman yang tak beralkohol!" tegas Marya.
"Lemon tea dingin saja."
"Mau makan apa?"
"Tak ada."
"Apa cerita, pandai sekarang keluar tanpa lelakimu," kata Marya.
"Bosan. Carikan aku pacarlah," kata Alcenna.
"Gila, carikan istri orang pacar," umpat Marya.
"Patah hati kamu?" tanya Marya kembali.
"Yaps, benar sekali."
"Ehh apa cerita tak jadi sama Ardhan."
"Tak jodoh ... Aku ingin cerai Mar. Aku capek dengan semua yang ada." Alcenna menceritakan secara ringkas. Marya cukup terkejut karena tidak menyangka Alcenna mendapat duda anak empat.
"Pusing aku jadinya." Marya tak punya solusi. "Aku sudah bercerai, suamiku punya istri lain. Anakku satu, ikut aku. Sampai sekarang bapaknya tak ada kirim biaya. Baguslah, tak susah aku kenalkan anaknya." Marya ceritakan kisahnya. Alcenna yang kini terkejut. Siapa sangka sekian lama tak jumpa, banyak kisah sedih dibaliknya.
"Aku juga ingin, tapi banyak hal yang aku timbang Mar, salah satunya nama baik ibuku dan aku belum sanggup nyandang gelar janda."
"Itu payah aku bilangnya, cerai itu tergantung kesiapan mental kita sendiri. Kubilang cerai saja, kalau kamunya gak siap ya gak bisa juga Cenn.
"Iya, tu pusingnya. Aku ini belum yakin sebenarnya."
"Ya itu tahu. Kalau bisa diperbaiki apa salahnya. Gak enak sebenarnya sandang gelar janda, tapi dari pada di madu biarlah aku sendiri."
"Uuufhhh .... " Alcenna hanya menghembuskan napas.
"Tidak pernah sekalipun. Kalau tidak jual saja aku, ada cukong kaya tak?" ucap Alcenna ngawur.
"Hussstt, baik-baik ngomong, hari maghrib ni. Dilalukan setan ucapanmu nanti," kata Marya.
"Baguslah," jawaban Alcenna, membuat Marya geleng-geleng kepala.
"Ada kontak sama Ardhan?" Marya masih penasaran.
"Ngapa, penasaran amat nampaknya."
"Iya penasaran pakai banget aku malah Cenn."
"Alasannya?"
"Dia cinta banget sama kamu. Apa yang buat kamu gak jadi sama dia."
"Cinta dari mananya," cecar Alcenna.
"Pandangan matanya, tatapan memuja padamu. Aku masih Ingat terakhir ketemu di gerbang sekolah. Dia ngomong ke aku tapi matanya tak lepas darimu."
"Hmmm paling juga tatapan karena lama tak jumpa waktu tu," Protes Alcenna.
"Gak, aku yakin___ tar aku kekasir, ada yang mau bayar," potong Marya, karena ada konsumennya yang selesai.
Setelah Marya kembali ke meja mereka, "Aku gak yakin Cenn, aku bisa lihat cintanya dalam untukmu," sambung Marya.
"Tapi dia yang menolak aku, dia juga ada perempuan lain Mar, aku liat sendiri." Alcenna akhirnya buka cerita soal masa lalunya dengan Ardhan.
"Kamu kenapa tak coba dengar dulu penjelasannya."
__ADS_1
"Malas ah Mar."
"Kalau sudah malas, cina pun tidak punya obatnya," ucap Marya.
"Sudahlah Mar, tak usah bahas dia lagi. Cari yang lain sajalah."
"Selesaikan dulu dengan suamimu, tak usah selingkuh-selingkuh!" tegas Marya.
"Enakkan selingkuh itu, buktinya banyak pasangan yang selingkuh. Gak suami, gak istrinya. Siap selingkuh balik juga sama pasangannya." Alcenna semakin ngawur.
"Aku yang korban selingkuh, apa enaknya, sakit yang ada."
"Makanya jangan mau jadi korban, jadi pelakunya saja!"
"Kamuuu yaaa ... makin ke sini makin sakit deh, kamu kenapa frustasi karena suamimu ada yang lain?"
"Frustasi? Jauh-jauh deh, banyak yang lain kalau aku mau. Masalahnya bukan itu. Ngapa juga aku sedih buat orang yang tak cinta dan tak mau dicintai. Rugi aku, hidup di dunia ini sebentar, sekali pula. Bodoh sekali aku jadi wanita mau frustasi trus nangis-nangis darah. Emang aku pemeran utama film 'ku menangis'. Lagian aku anggap saja ini KARMA, hahahaha."
"Kamu jangan sampai gila ya Cenn, bilangi karma pakai ketawa. Batinmu menangis kali ya?"
"Iya, karena rasa makan buah simalakama aku. Bertahan sakit melepaskan lebih sakit. Bercerai ibu yang menderita, tak cerai aku yang makan hati ulam jantung."
"Kok ibu?"
"Ibu sayang kali sama mantunya itu. Ada sekali aku bilang, kata ibu coba bertahan. Belum tentu yang kedua lebih baik. Aku yakin bukan itu, paling ibu malu sama teman seprofesinya, anaknya jadi jendes kembang," Alcenna sempat-sempatnya bergurau.
"Aku sudah capek Mar, aku sudah berusaha jadi istri yang setia aku juga sudah berusaha jadi ibu untuk anak-anaknya, sementara aku saja tak punya darah daging sendiri. Tapi kenapa aku diperlakukan seperti ini," kata Alcenna bersedih hati.
"Aku tidak pernah ribut soal uang dengannya Mar, aku tak pernah memberatkan dia soal itu. Namun aku juga yang salah di matanya. Aku capek anak ke anak yang jadi masalah oleh dia dan keluarganya. Mereka seperti tak menginginkan anak dariku. Aku juga ingin merasa jadi wanita hamil dan jadi ibu dari darah dagingku sendiri. Tapi tak ada yang peduli denganku Mar." Nada Alcenna semakin sedih namun tak ada tanda-tanda buliran bening akan keluar dari matanya.
"Kamu bosan ya dengar ceritaku," tanya Alcenna merasa sendiri pada Marya.
"Bukan bosan, aku gak komen karenamu butuh tempat curhat bukan butuh solusi. Solusinya ada samamu sendiri," ucap Marya begitu pengertian.
"Fin ... kamu dah siap makankan, gantian, kakak yang isirahat lagi ya," ucap Marya pada Fina, kawan shifnya.
"Oke kak," jawab Fina.
Marya memesan dua porsi mie goreng basah dan dua jus pokat pada bartender. Lalu dia lanjut ngobrol dengan Alcenna.
"Jadi apa rencanamu ke depannya?" tanya Marya.
"Aku gak tahu, kadang aku ingin lari saja dari semua ini. Tapi, aku takut malaikat melaknat aku karena pergi tanpa izin suami. Walau mungkin suamiku juga bersalah, tapi aku akan lebih salah jika pergi tanpa izin. Ke sini saja aku minta izin. Intinya aku juga tak sanggup ninggalin suamiku." Alcenna kembali menghembuskan nafasnya, seakan beban hatinya berkurang.
"Bukan gak sanggup, kamu itu tepatnya takut menyesalkan?" tembak Marya.
"Iya, aku takut menyesal, banyak mantan yang menyesal setelah meninggalkan pasangannya. Aku tak mau jadi orang gila karena merindukan mantan setiap hari."
"Tapi aku gak, sampai kini tak ada kata sesal yang ada aku bersyukur sudah bisa ninggali dia."
"Itu karena hatimu sudah penuh luka, gak ada tempat untuk di iris lagi," ucap Alcenna dengan lucu.
"Tunggu saja lukamu penuh, siap itu kamu akan menyesal, mengapa tidak dari dulu aku ninggali dia ya," ucap Marya dengan nada sedikit miris.
Makanlah dulu, minum jusmu. Lihatlah badanmu dah tambah kurus. Macam kurang gizi." Canda Marya.
"Enak saja kurang gizi, kurang money iya nya." Balas Alcenna.
"Jadi aku kembali tanya Ardhan lah," kata Marya. Seakan penasarannya mengunung.
"Ngapa, mau buat aku bernostalgiLa dengan dia?" kata Alcenna.
"Iya gak apalah bernostalgiLa ma si tampan dingin itu, aku penasaran loh, aku kiramu nikah sama dialah."
**//**
__ADS_1
Besoklah aku ceritakan dalam Curhatan Hati Alcenna. 😂😂🙏🙏😘😍