Tolong Aku SuamiKu

Tolong Aku SuamiKu
Pertemuan Tak Berarti.


__ADS_3

"Hallo Bun, maafkan Ayu ...."


"Ada apa? Tiba-tiba minta maaf," kata Alcenna berpura tidak tahu.


"Iya Ayu sudah nyakiti hati Bunda."


"Sudah tak apa, Bunda tidak jadi soalan lagi."


"Bun, Ayu gak tahu harus kemana mengadu. Ayu sudah telfon papa, tapi papa gak ada angkat telfon."


"Ada apa sebenarnya, Yu." Alcenna tidak tahu, suaminya tidak pernah berkata Ayu ada menelfonnya.


"Mama sudah lari sama ayah___" dia terdiam.


"Lari?" tanya Alcenna heran.


"Iya Bun, ayah terjerat kasus narkoba. Sekarang lagi di cari polisi. Ayu bingung soal Alif, jika sama Ayu dia pasti tidak sekolah. Kasihan Alif, Bun," katanya terisak.


"Hmmm ... coba Bunda telfon papa dulu ya. Bunda gak mau di salahkan papa nantinya. Bunda bahas sama papa dulu. Nanti bunda telfon Ayu lagi ya," putus Alcenna.


"Iya Bun."


Alcenna pun mencoba langsung menelfon suaminya, yang memang masih di luar kota. Ketika hubungan tersambung, "Ada apa Cenn?"


"Abang sibuk?"


"Tidak juga, ada apa sayang?"


"Ayu telfon Alcenn barusan Bang," ucapnya langsung.


"Ada apa? Dia memang ada telfon tapi abang malas angkat. Capek abang dengar rengekkannya. Dia yang ambil keputusan untuk berhenti dan ikut mamanya, kemaren dia minta uang sama abang lima juta untuk kursus kue katanya. Mana punya abang duit sebanyak itu sekarang." Alcenna mendengar saja keluhan suaminya.


"Sudah ngeluhnya?" kata Alcenna tertawa kecil.


"Jadi ada apa dia nelfon?"


"Mamanya lari bersama suami barunya, karena terjerat kasus narkoba___"


Ucapan Alcenna di potong suaminya, "Lalu apa hubungannya dengan kita?"


"Dengar dulu, jangan nyelah dulu Bang. Masalahnya, Alif di tinggalnya dan Ayu bilang jika bersama dia, Alif tak akan sekolah."


"Jadi? Apa gak tambah-tambah masalah nanti? Abang gak mau nanti kita ribut lagi soal anak."


"Kapan kita pernah ribut soal anak? Ribut soal anak yang aku inginkan iya. Sejak kuliah gak ada lagi aku pikirkan. Lagian mau ke mana dia lagi?"


"Keluarga mamanya adakan?" Alcenna tak paham pemikiran suaminya.


"Abang yang lebih paham soal itu."


"Terserah Alcenn, Abang hanya gak ingin ribut."


"Iya," jawab Alcenna setengah bersungut. "Anak- anak siapa juga." Gumamnya hanya dengan senyum manis.


Alcenna telfon Ayu lagi, "Yu, kapan Ayu mau ke sini? Papa sudah setuju."


"Alhamdulillah kalau begitu Bun, besok Ayu berangkat ke sana ya Bun. "


"Oke."


***


"Ayu mau ke mana, kenapa gak tinggal di sini saja?"


"Ayu tempat keluarga mama saja Bun, Ayu gak mau ngerepoti Bunda."

__ADS_1


"Ayukan bukan anak kecil lagi yang harus bunda urus," kata Alcenna.


"Gak apalah Bun, Ayu disana saja. Adek saja yang Bunda jaga Ayu dah bersyukur. Ayu sore nanti langsung ke rumah saudara mama ya Bun."


"Ya terserah Ayu saja. mana yang baik. Apa tak tunggu papa pulang baru ke sana?" Alcenna tak mau memaksakan kehendaknya.


"Nanti saja Ayu ke sini lagi."


Alcenna mencoba mencari sekolah SD untuk Alif, dia seharusnya naik ke kelas dua namun karena nilainya banyak tak tuntas dan merah. Membuat dia tinggal kelas. Namun di kota ini, banyak sekolah yang ditanya,tidak bisa menerima Alif karena umurnya yang belum genap tujuh tahun.


Alcenna akhirnya cerita sama Azarine, bahwa Alif bisanya tahun depan, tapi sayang jika tahun depan Alif justru jadi terlambat. Alif hanya termakan bulan dari tahun ajaran baru.


Alcenna tak sangka besoknya Azarine nelfon dan berkata, "Kak, Arin sudah tanya, SD tempat Rhania bisa nerima Alif asal ada ijazah TK-nya. Apa Alif punya kak?"


"Ada Dek."


"Berarti bisa dia ulang saja Kak, daftar tahun ini. Dia kan tak naik kelas juga. Kakak pun sibuk kuliah, siapa yang mau antar jemput Alif nanti?" kata Azarine.


"Tak apa sama ibu, Dek?"


"Ibu yang suruh Arin tanya ke sekolah Rahnia kemarin Kak."


"Ohhh iyalah kalau gitu Dek, makasih ya Dek sudah banyak bantu kakak sejauh ini."


"Iya Kak, sama-sama. Kakak semangat kuliah ya."


"Siip Dek."


"Jadi Arin saja yang jemput Alif ke kota ya, sekalian Arin pingin jalan sebentar di kota."


"Ide bagus juga Dek," Alcenna mendukung sambil tertawa.


"Sabtu Arin berangkat ya Kak, ajak Arin jalan. Sudah lama tak jalan sama Kakak."


***


Sabtu ... Mall XX.


"Kak, coba lihat sana. itu bukannya mantan kakak si pelaut itu?" ucap Azarine menunjuk sebuah bangku di sudut kafe yang sedang Mereka tongkrongi juga bertiga dengan Alif.


Alcenna melihat arah yang ditunjuk Azarine dengan gerakan bola matanya saja. Bertepatan dengan Alcenna melihat, mantan kekasih Alcenna juga melihat. Lama dia melihat ke arah Alcenna dan Azarine. Mungkin mantan kekasihnya sedikit pangling dengan wajah Alcenna yang sudah berhijab, begitu juga dengan Azarine.


Namun dengan percaya diri, Ardhan datang ke meja mereka, "Alcenna apa kabar?" sapanya dan duduk di sebelah Azarine.


"Baik, kamu apa kabar?" ucap Alcenna santai. Bagi Alcenna pertemuan ini tidak berarti lebih.


"Baik, seperti yang kamu lihat."


"Ohh ya siapa si kecil ini?" tunjuknya ke Alif.


"Anakku, Alif. Alif salam sama oom Nak, ini teman lama Bunda."


"Alif, Om." Alif menyalami Ardhan.


Alcenna cukup bisa melihat raut wajah bingungnya Ardhan, jika pun Alcenna sudah menikah. Masa anaknya sudah sebesar ini. Alcenna acuh saja, namun rasa penasaran Ardhan yang kuat malah melontarkan pertanyaan yang aneh, untuk seusianya sekarang.


"Kamu sudah married Cenn?"


"Hehehe ... kamu pikir aku gak laku dan nunggu dudamu? gitu?" kelakar Alcenna santai. Alcenna juga gak tahu mantannya sudah menikah atau belum. Selepas pulang dari Jakarta, hanya beberapa kali kami kontak dan Ardhan kembali menghilang.


"Bukannya gitu, cuma___" perkataannya terpotong karena tiba-tiba seorang wanita yang wajahnya samar diingat Alcenna, dia datang menghampiri Alcenna dan Ardhan.


"Ayank kenapa jadi duduk di sini? Ini siapa?" katanya memeluk dan mencium pipi Ardhan dengan manja yang dibuat-buat membuat Alcenna mual.


"Santai Mbak, tak usah sok mesra sok manja, ada anak aku yang masih kecil di sini! Nanti matanya ternoda!" ucap Alcena pedas dan kasar.

__ADS_1


Selain Alcenna memang tak ingin anaknya mendapat tontonan tak pantas, dia jadi ingat cewek itu yang bersama Ardhan sehari setelah Ardhan memutuskan Alcenna.


Ucapan Alcenna yang pedas dan kasar membuat malu wanita yang bersama Ardhan. Wajah Ardhan juga terlihat seperti kepiting rebus. Entah efek ciuman wanita itu, atau ucapan Alcenna yang pedas level 9.


"Permisi ya Cenn," ucap Ardhan sambil berdiri dan menarik paksa wanita yang terlihat kesal. Ardhan sepertinya membatalkan duduk di kafe ini, terbukti wanita tersebut disuruhnya menunggu di luar dan Alcenna melihat dia membayar pesanannya yang bahkan belum ada di mejanya.


"Istrinya, Kak?" tanya Azarine.


"Tak tahu Dek. Iya mungkin."


"Kenapa aneh gitu sifatnya? Apa dia kenal sama Kakak?" cecar Azarine yang pada dasarnya jadi tukang kepo sejak tamat kuliah.


"Mungkin dia ingat, pernah sekali kakak ketemu sama kak Putri, sehari setelah dia datang ke rumah kita."


"Ohhh ...." cibir Azarine lucu.


Selesai makan, Alcenna berjalan ke meja kasir, sementara Azarine dan Alif menunggu di luar.


"Berapa semuanya Bang, meja 24," ucap Alcenna sambil merogoh beberapa lembar uang lima puluh ribuan di dompet.


"Sudah dibayar oleh seseorang tadi Kak, katanya teman Kakak. Ini sisanya dan pesanan yang dimintanya disuruh berikan ke Kakak."


"Ohhh," Alcenna seperti kehabisan kata. Dia mengambil sisa duit yang masih lumayan sisa banyak dan pesanan yang dibungkus.


"Terima kasih ya, atas kejujuran Abang ngembalikan sisa uang temanku. Kalau Abang diam aku juga gak tahu," kata Alcenna tersenyum manis bahkan teramat manis.


"Iya Kak, Kakak mungkin gak tahu. Namun Tuhan tahu Kak," katanya sembari tersenyum tulus.


"Mudah murah rezeki dan sukses ya Bang," doa Alcenna sambil menyusul Azarine di luar.


"Ke mana kita lagi sayang?" tanya Alcenna pada Alif.


"Alif mau ke main ke lantai atas Kak, yang ada gamenya." Azarine yang bicara.


Alcenna melihat Alif, "Boleh Bun?" katanya dengan takut-takut.


"Kalau Bunda lagi ada duit lebih, boleh saja, ayo," ajak Alcenna. "Tapi besok belajar yang rajin ya, supaya tidak tinggal kelas lagi. Kalau nilainya bagus, bunda akan ajak Alif main ke sini pas liburan."


"Iya Bun."


Alif lagi main balapan mobil. Alcenna dan Azarine berdiri di belakangnya. "Kakak gak jadi ngsih duit ke kasir, kok malah kasirnya Arin lihat ngasih uang ke Kakak," bisiknya agar tak terdengar Alif.


"Kepo," kata Alcenna juga berbisik sambil menowel hidung Azarine.


"Mantan pelaut Kakak nitipi duit ya di kasir?" pertanyaan yang tak begitu butuh jawaban sebenarnya.


"Sepertinya begitu."


"Enak ya, dah putus masih juga di kasih," ucapnya sambil senyum mengkode. Pasti ada maunya Azarine.


"Kamu mau apa? Lumayan tuh 500 ribu uang senang. Tapi dulu kakak gak ada ya terima duitnya, mana mau kakak dikasihnya."


"Kakak yang pengertian deh, tahu saja adiknya ada maunya," puji Azarine.


"Banyak cerita, mau apa?" kata Alcenna tidak sabaran.


"Sepatu untuk pergi kerja Kak, untuk ngajar."


"Nanti kita cari ya, sekalian carikan sepatu anak sama tasnya. Besok tak payah kamu di sana lagi."


"Ok Kakak yang cantik."


Jika Alcenna menikmati waktunya dengan happy, disalah satu sudut parkir mall, sesorang berteriak, "Lepaskan aku, aku bisa jalan sendiri!"


**//**

__ADS_1


__ADS_2