Tolong Aku SuamiKu

Tolong Aku SuamiKu
Perbedaan Usia Bukan Masalah


__ADS_3

Di rumah mama Ningrum ....


Setelah mengucap salam, saling sapa dan salaman. Kini mereka duduk di ruang keluarga. Papa Hans baru keluar karena beliau sedikit terlambat pulang dari urusan bisnis. Walau sudah berusia 70 tahun, papa Hans terlihat awet muda dan berenergi. Dia masih suka berbisnis walau perusahaannya sudah diserahkan ke abang tertua Eddyson.


Abang tertua Eddyson dan istri juga datang berkunjung malam ini. Niat mereka hanya berkunjung karena belum ada melihat ibunya beberapa minggu terakhir ini. Mama Ningrum pastinya jadi lebih merasa senang, beliau ingin mengenalkan calon menantu barunya.


Abangnya juga bisa melihat sikap berbeda dari Eddyson. Hanya satu yang ada dalam pikiran abangnya, "Kenapa harus dengan gadis yang jauh lebih muda dari mantan istrinya. Apakah dia bisa mengikuti jalan pikiran Eddyson yang notabenenya pemegang perusahaan," batin abangnya.


"Pa, kenalkan ini ibunya Alcenna," mama Ningrum langsung buka suara begitu suaminya datang ke ruang keluarga.


Papa Hans hanya memperhatikan dengan seksama wajah ibunya Alcenna. Semua yang di ruangan hanya diam memperhatikan. Begitu juga Eddyson.


Mama Ningrum lagi-lagi yang buka suara. "Ada apa Pa?"


Papa Hans tak menggubris pertanyaan istrinya, dia malah balik bertanya kepada ibunya Alcenna, "Anda istri Moswen bukan?"


Semua terperangah, Ibu Alcenna bukannya menjawab, namun lebih memperhatikan raut pria yang di depannya. Samar-samar ingatannya kembali ke 30 tahun silam.


"Mas Hans?" Akhirnya dia mengingat dengan jelas sosok pria di depannya.


"Iya benar." Mereka masih saling terpaku. Sampai mama Ningrum mengingat suaminya pernah menyebutkan nama moswen berpuluh tahun lalu. Saat itu keadaan rumah tangganya yang penuh kesulitan. Bermula dari restu orang tua juga. Suaminya merantau dan terdampar di desa kecil dan mengenal satu keluarga yang bernama Moswen.


"Mas, apa dia keluarga angkatmu yang telah berjasa padamu di desa kecil puluhan lalu?" Mama Ningrum tidak bisa menahan air matanya. Seakan dia melintasi ruang waktu dan kembali ke masa-masa ketika suaminya masih dihina oleh keluarga besarnya.


Butir cristal bening itu juga mengalir di sudut bola mata papa Hans, dia juga seakan melintasi ruang waktu. Papa Hans hanya menjawab, "Iya Ma, dia Sunny istrinya Moswen."


Mama Ningrum langsung menangis memeluk ibunya Alcenna, "Deek, akhirnya kita dipertemukan seperti ini. Mbak sangat ingin mengenal dirimu berpuluh tahun lalu. Saat Mas cerita banyak ditolong oleh kamu dan suamimu."


"Iya Mbak, sudah jalannya begini. Padahal aku sudah pernah bertemu anakmu Mbak bertahun lalu waktu anakku masih gadis."


"Kamu pernah ketemu Eddyson??" Papa Hans begitu merasa takjub.


"Iya Mas, bahkan ayah Alcenna pun jumpa. Waktu itu Alcenna masuk rumah sakit. Anakmu menanggung biayanya. Katanya bukan karena Alcenna bawahannya, tapi dia mengakui pada kami dia mencintai anakku dengan tulus. Aku bahkan melarang Alcenna untuk menerimanya, karena aku tak ingin anakku merusak rumah tangga anakmu."


"Kamu sudah benar Sunny, jika waktu itu mungkin hati kami tidak sepenuh ini menerima anakmu."


Akhirnya mereka sibuk bertanya dan bernostalgia dengan masa lalu mereka. Mereka melupakan anak-anak yang bukan bisa dikatakan anak-anak lagi. Abang dan kakak ipar Eddyson hanya banyak diam. Mereka hanya memperhatikan.


Eddyson sungguh tercengang dan masih merasa takjub. Sulit dia percaya dengan apa yang baru didengarnya. Namun itulah hidup. Hidup itu memang penuh misteri. Siapa sangka gadis yang dulu bawahan dia, ternyata anak dari teman ayahnya. Bahkan ternyata sudah dianggap saudara oleh ayahnya. Eddyson sendiri tidak tahu apa yang terjadi dulu ketika dia masih kecil-kecil. Dia hanya ingat ayahnya pernah pergi jauh karena bekerja.


Dulu komunikasi tidak selancar sekarang. Semua bisa tertelan oleh waktu. Tidak mudah untuk diabadikan, hanya ada dalam memori kenangan sesorang.

__ADS_1


"Eheeemm, bagaimana kalau kami bertiga keluar untuk makan malam Ma?" Sindir Eddyson melihat para orang tuanya hanya asyik bernostagia.


Mereka para orang tua hanya tertawa. "Bagaimana kalau kalian makan duluan. Kami belum lapar dan masih ingin banyak bertanya pada mertuamu," usul papa Hans yang terlihat asyik menceritakan kembali masa lalu mereka.


"Mas kita makan duluan, siap itu ajak mutar Jakarta bolehlah ya?" ajak Azarine.


"Iya Mas, ajak Putri sama Kak Robby," ucap Alcenna.


"Pa, stop dululah ceritanya. Makan sama dulu, kasihan abang dan kakak ipar yang sudah lama tidak ikut makan bersama. Nanti baru setelah makan, kami pergi keluar sebentar." Eddyson kekeh dengan permintaannya.


"Ohh iya, ayolah kita makan sama dulu," ujar papa Hans. Papa Hans berdiri lebih dahulu, dan mulai melangkah ke ruang makan.


Ibu tidak masalahkan temani mama-papa ngobrol?" tanya Eddyson sebelum ibu Alcenna menyusul berdiri.


"Iya tak apa, pergilah."


Mereka makan malam dengan bahagia. Eddyson asyik memandang Alcenna. Tak habis pikir dia dengan cerita papanya. Jika ayah Alcenna adalah saudara angkatnya.


"Ehemm ... apa Alcenna begitu menarik di matamu Son?" gurau papa Hans yang menangkap basah Eddyson tak lepas memandang Alcenna.


"Iya Pa, aku tak sangka gadis kecur urakan yang aku kenal sebagai bawahanku akan aku cintai sedalam ini. Jauh tak menduga gadis yang sama, anak saudara angkat Papa. Bahkan akan menjadi istriku tak lama lagi. Rasa bermimpi aku Pa. Apalagi ingat kelakuannya dulu," ungkap Eddyson panjang lebar. Dia tak bisa menyembunyikan senyum bahagianya mengingat Alcenna yang tomboy.


Alcenna sudah bersemu merah. Dia malu dikatakan di depan papa dan mama yang baru dikenalnya.


"Papa, coba lihat mukanya. Alcenna yang jadi bawahanku mana pernah melihatkan ekspresi begitu, yang ada kerjanya membantah aku saja," sindir Eddyson membuat Alcenna merengut. Mereka semua tersenyum melihat Alcenna merengut.


"Sudah Son, jangan ganggu menantu Mama. Makanlah," bela mama Ningrum. Alcenna memberikan senyum mautnya pada Eddyson dan senyum manis pada mama Ningrum. Abang dan kakak ipar Eddyson hanya bertukar pandang. Mereka seakan melihat suasana baru yang berbeda. Terutama pada adiknya, Eddyson.


Jamuan makan malam sederhana ini begitu mempunyai arti tersendiri bagi mereka. Hati Alcenna tidak henti mengucapkan rasa syukur. Penderitaan yang dilaluinya menjadi begitu tidak ada arti apa-apa dengan kebahagiaan yang sedang diterimanya.


Selesai makan, mereka para orang tua kembali ke ruang keluarga. Sedangkan anak-menantu, Alcenna dan Azarine kembali ke ruang tamu. Alcenna tidak enak untuk meninggalkan calon abang ipar dan istrinya yang baru dikenal.


"Ed, ada yang mas mau bincangkan soal kerjaan dikit selagi kita santai gini, bisa?" tanya abangnya.


"Bisa."


"Tak apa kami tinggal sebentar ya?" ucap abang Eddyson datar. Sepertinya muka kaku dan datar turunan dari papa Hans.


"Bolehkan sayang?" tanya Eddyson mesra pada Alcenna. Abangnya melengos melihat ucapan adik bungsunya yang tak tahu malu. Kakak ipar Eddyson hanya tersenyum, begitu juga Azarine. Azarine sudah kebas dengan kelakuan mereka berdua.


Alcenna hanya mengangguk. Dia juga merasa jengah melihat kelakuan Eddyson di depan abang dan istrinya.

__ADS_1


***


Di taman depan, mereka duduk di pinggir kolam ikan yang tersedia bangku-bangku taman dari batu yang berbentuk potongan bulat pohon kayu yang telah kering.


"Ed, maaf. Bukan mas mau ikut campur. Mas hanya ingin tahu, apa kamu sudah sebegitu yakin dia bisa mendampingi hidupmu?"


"Yakin. Maksud Mas, Mas dari segimana tidak yakin dengan dia?" tanya Eddyson santai.


"Usianya jauh di bawah mantan istrimu dan tipikal dia terlihat jauh beda dari mantan istrimu. Dia terlihat manja walau bawaannya kalem."


"Mas, perbedaan usia bukan masalah bagi kami. Apalagi sekarang dia juga sudah jauh lebih dewasa. Aku yang tahu dia Mas. Aku mengenal dia bukan setahun-dua ini. Jangan risau. Soal membangun usaha saja dia punya bakat."


"Ohh ya?"


"Iya, tapi aku tak mengizinkannya. Cukup dia fokus padaku dan keluarga kecil kami saja."


"Bagaimana nanti kalau ada jamuan dari relasi bisnismu? Atau ada pesta perusahaan?" ujar abangnya ragu.


"Mas meragui gadisku? Karena dia hanya dari desa?" ucap Eddyson tanpa menutupi nada tak senangnya.


"Bukan itu maks___" ucapan abangnya terpotong.


"Mas tak usah ragu! Gadisku penuh kejutan. Dia mudah beradaptasi dan pandai bersikap. Dia juga cantik, jauh dari semua itu hatinya yang paling aku sukai. Dia jauh lebih cantik dari dalam. Aku butuh istri bukan partner kerja Mas!" tekan Eddyson akhirnya.


"Santai Ed, mas bukan tak suka dengan dia."


"Mas yang buat aku emosi."


"Mas hanya ingin tahu pandanganmu tentang dia. Sekarang mas sudah tahu," ucap abangnya santai.


"Sudahlah kalau gak ada yang dibahas mending kita gabung sama mereka," ajak Eddyson.


"Mas pulang dululah, mbakmu ingin diajak nongkrong berdua. Biar tetap merasa pacaran katanya."


"Tuhkan, wanita tuh kalau sama suami tak ada yang tak manja!" Eddyson masih sedikit kesal.


"Ada, mantan istrimu! olok abangnya. Lalu meninggalkan Eddyson yang mendongkol.


**//**


Minta jejak πŸ‘£πŸ‘£indahnya donk... like and vote . Hadiah cantik juga πŸ˜‰πŸ˜‡πŸ™πŸ™

__ADS_1


__ADS_2