
Hubungan Alcenna dengan suaminya tak kunjung baik. Semakin hari mereka semakin tidak harmonis. Suaminya tak kunjung bisa menyebutkan di mana salah Alcena, di mana kurangnya.
Perang dingin terus terjadi, tak ada kata-kata manis lagi keluar dari pasangan suami-istri ini. Tak ada yang mau mengambil langkah duluan, baik untuk menyelesaikan perang dingin ini atau menyudahi pernikahan mereka.
Alcenna sendiri sudah tidak perduli. Dia banyak menghabiskan waktunya dengan Marya. Begitu sebaliknya dengan suaminya. Tak ada lagi tanggung jawab lahir batin. Namun Alcenna tidak ada jadi masalah. Mereka pulang hanya untuk tidur. Rumah yang dulu hangat dan ramai dengan canda tawa atau sekedar obrolan atau tangisan kini berubah seperti kuburan. Tenang tanpa ada yang berteriak seperti biasa.
Walau keluar dan mau pergi ke mana saja Alcenna selalu minta izin. Suaminya tetap mengizinkan juga.
***
" Di mana Ar? Sinilah ke rumah," seorang teman Arzon yang bernama Yulis menelfonnya. Diapun pergi.
"Ngapa mukamu gitu, pusing?" ucap Yulis.
"Iya pening kepala aku, istri aku gak ada baik-baiknya kalau ngomong sekarang. Bawaannya marah terus. Kata-kata kasar. Tahu kali sekarang aku pengganguran," ucapan Arzon jelas hanya fitnah belaka. Dia memutar-balikan fakta. Jika Alcenna mendengar betapa marah dan murkanya Alcenna.
"Istri seperti itu bagusnya ditinggalkan saja, banyak wanita lain yang lebih cantik darinya dan lebih baik," ucap Yulis. Bukannya jadi salju yang mematikan api, malah menjadi bensin dan minyak tanah.
"Hmmm ...."
"Mana dia sekarang? Ngelayap?" tanya Yulis.
"Apalagi kerjanya, mana ada aku diurusnya sekarang. Sibuk dengan temannya!" katanya kesal. Betapa malang Alcenna dapat suami. Semua kesalahan tertimpa padanya.
Jika Arzon sibuk memfitnah istrinya, Alcenna sibuk dengan temannya. Tak ada lagi keluhan apapun tentang suaminya. Dia mencoba sejauh mana suami dan dirinya ingin lepas.
"Jakarta yuk," ajak Marya.
"Ngapain? Tak ada duit aku sekarang," kata Alcenna.
"Aman tu, semua aku tanggung, bawa saja uang saku jika ada yang kau ingin beli. tiket, Makan-minum jangan kau pikirkan.
"Cobaku tanya dulu ya, boleh tak sama bang Ar," ucap Alcenna yang bikin gemas Marya.
"Tanyalah, aku jamin boleh."
"Mau cari apa?" tanya Alcenna lagi.
"Cari pakaian yang mau dijual kembali, sambil jalan-jalan saja. Bosan juga kerja saja selama ini," kata Marya.
"Kawanmu yang lain tak ada, nanti aku nyusahi. Aku tak punya uang lebih sekarang," ucap Alcenna lagi.
"Ada, tapi aku malas. Kamukan tahu juga aku bagaimana, mana nyaman aku pergi sama yang lain. Di sini banyak cuma teman ketawa Cenn, teman sakit, sakit sendiri."
"Okelah, kapan mau pergi?" tanya Alcenna.
"Minggu depan ya, aku cuti," ucap Marya lagi.
Setiba malam di rumah, Alcenna dengan nada datang dan raut muka yang tak ada manis-manisnya berkata, "Aku ke Jakarta sama Marya ya?"
__ADS_1
"Ngapain? Mau nyusul bos yang kamu cintai itu?" sinisnya.
"Bisa jadi, Abang kalau mau balik sama mantan istri Abang silahkan, biar bisa kumpul sama anak-anak kalian. Aku ni apalah, istri yang tak sempurna!" Alcenna balik menyindir.
Begitulah hari-hari mereka, selalu diwarnai sindir-menyindir dan kata-kata ketus.
"Boleh apa tidak?" desak Alcenna.
"Pergi saja, selama ini tak dilarangkan?" jawab Arzon.
"Okelah, itu yang perlu," ucap Alcenna cuek dan ngeloyor ke kamar mandi. Dia berendam dalam ember yang lumayan besar dan tinggi. Bisa untuk dia masuk dan menenggelamkan hingga lehernya. Dia duduk sambil memeluk kedua lututnya.
"Ayah, aku letih dengan semua ini yah. Andai ayah masih ada, aku bisa membagi semua masalahku untuk dibahas pada ayah. Aku tidak bisa menambah beban hati ibu. Ibu cukup terpukul saat ayah pergi," air mata Alcenna luruh. Bukan bersedih karena letih dengan masalah tapi letih dengan perang batinnya. Antara mau berpisah dengan tidak.
***
Jakarta ....
"I'm coming Jakarta," Alcenna berteriak dan mengangkat kedua tangannya. Ketika menunggu bis DAMRI. Dia tak perduli beberapa pasang mata melihatnya dan menilai dia kampungan.
"Duhh senangnya," ucap Marya.
"Iya, kamu yang tak senang kali, uangmu habis oleh aku," ucap Alcenna santai.
"Ngomong gitu lagi, aku jitak kepalamu nanti!" Marya beneran kesal karena ucapan Alcenna.
"Aku punya teman di sini, coba aku hubungi ya. Mana tahu nanti malam dia ngajak kita jalan, hehee," kekeh Alcenna seakan menghilangkan bebannya.
"Ke Bandung juga kita ni? Bukannya bilang mau belanja?" Alcenna tak tahu
"Jalan kita dulu besok sudah mau pulang baru kita belanja."
"Hallooo Putriiii ...." teriak Alcenna ketika Putri mengangkat telfonnya.
"Sakit kupingku dengar teriakan tarzanmu!" omel Putri.
"Hahahah ...." Alcenna hanya tertawa lepas.
"Ada apa?" tanya Putri lagi.
"Kalau aku ke Jakarta, ajak aku jalan ya?"
"Sinilah lebih dari jalan aku ajak, tidur rumahku saja. Kapan mau ke sini?" tanya Putri beruntun.
"Aku mau tidur hotel saja, namanya mau jalan-jalan, tak enaklah kalau di rumahmu, ada nyokap-bokap lo," ucap Alcenna sok ke gaul-gaulan.
"Gaya ngomongmu lagi, sama suami sini?" tanya Putri.
"Tidak donk, aku mau menggadis saja, cari suami baru ...." Alcenna masih saja mencandai sahabatnya.
__ADS_1
"Sembarangan kalau ngomong! Kapan rencana ke sini?"
"Aku lagi di Bandara Soekarno-Hatta, hahahaha," Alcenna sekali lagi tertawa bahagia. Tawa yang pernah Alcenna punya. Tawa yang terlupakan.
Marya merasa bahagia melihat tawa sahabatnya. Marya ingin Alcenna kembali seperti dulu saat masih berseragam putih-abu. Alcenna yang tak pernah terlihat kacau namun hanya tawa yang selalu menghias bibir indahnya.
"Kamu serius? Coba vc dulu," pinta Putri tidak yakin.
"Taraaaa ...." katanya sambil menjadikan bandara backgroundnya. "Benarkan? Aku di bandaraaa ...." teriak Alcenna kembali terdengar. Marya hanya diam saja, dia tidak malu dengan kelakuan temannya itu. Marya juga lebih suka berteriak dan suaranya melengking nyaring.
"Kamu yaaa, untung aku pakai handsfree, kalau gak sudah kemana-mana teriakanmu," ucap Putri.
"Aku sama kawan lama aku, Marya. Kamu ingatkan aku pernah cerita punya sahabat SMA yang juga semata wayang," ucap Alcenna sambil menarik Marya untuk menyapa Putri. Mereka hanya saling melambaikan tangan.
"Tidur rumah sajalah," ajak Putri.
"Malas, mau bobok cantik di hotel saja," tolak Alcenna terang-terangan.
"Kalian Jakarta mana ni rencananya?"
"Jakarta Selatan."
"sudah pesan hotelnya?"
"Belum, nanti saja sudah sampai sana. Gampang," ucap Alcenn.
"Di JS Luwansa saja, tar aku yang bayari kamar," kata Putri memberikan tawaran hotel bintang lima.
"Pemborosan ahh, hotel biasa sajalah. Cuma untuk istirahat juga.
"Gak apa, hitung-hitung service buat orang patah hati," ucap Putri, entah dia feeling atau menduga-duga.
"Bayarin yang biasa sajalah, pada royal-royal," Alcenna berkeras menolak.
"Serah kamulah Cenn, keras hati!" Putri terdengar kesal.
"Iiihhh jangan kesal-kesal gitu," rayu Alcenna dengan mimik wajah lucu. Dia memajukan bibirnya dan mengerutkan dahinya serta matanya yang di juling-julingkan.
"Gak lucu! Orang mau nyenangi ditolak terus!" sifat Putri tidak banyak berubah. Selalu maksa kalau mau ngasih.
Alcenna melihat Marya. Marya mengangguk, "Okelah sayang, aku mau dan tidak menolak tuan Putri yang pemaksa," ujarku sambil tersenyum dan Putri tersenyum. Betapa tulus hati Putri dengan persahabatan mereka.
"Marya makasih ya, kamu tahan dan bisa nakluki gadis keras kepala ini!" Putri mencibir Alcenna. Marya hanya tersenyum dan mengangguk dengan 'jaim' awal jumpa. Aslinya Marya lebih gokil.
"Alcenna, aku mau lanjut kerja. Pulang kerja aku kontakmu lagi, bye sayang," Putri langsung mematikan sambungan. Kebiasaan memutuskan sepihak pun tidak hilang.
"Kita naik taksi saja kalau gitu, kan hotel kawanmu yang nanggung, jadi kita punya budget lebih," saran Marya.
"Boleh juga, jom kita cari taksi," kata Alceena.
__ADS_1
**//**